Dua Hari Untuk Selamanya :D
January 12th, 2012 § 1 Comment
Datar. Itu yang aku rasakan ketika pertama kali sampai di Parung, Jumat 6 Januari 2012. Aku kesana dalam rangka untuk mengikuti pelatihan Early Warning System keesokan harinya, Sabtu 7 Januari 2012 sampai hari Minggu, 8 Januari 2012.
Ketika aku dipilih untuk mengikuti pelatihan tersebut, aku bingung. Aku ditunjuk untuk mewakili cabang Bandung Tengah, dimana aku sebenarnya bukan orang Bandung asli dan rencananya insya Allah akan segera meninggalkan Bandung di tahun ini juga. Tapi belakangan aku baru merasakan, ini sebuah karunia besar. Ilmunya sungguh tak bisa dibayar dengan uang. Dan aku terus menerus mengucap syukur untuk semua ini.
Sampai di gedung pelatihan, aku lihat persiapan sudah cukup matang. Meja dan kursi sudah disusun membentuk huruf U dengan tambahan beberapa meja dan kursi yang tersusun di belakang huruf U ini, namun besoknya susunan kursi dan meja berbentuk U ini disusun ulang, menjadi susunan meja dan kursi layaknya di sekolahan. Kamar-kamar juga sudah dilengkapi dengan kasur-kasur lipat yang telah tersusun rapi. Makan pun telah tersedia untuk peserta yang datang menginap di gedung pelatihan sehari sebelumnya. Intinya panitia terlihat benar-benar siap dengan acara tersebut.
Malam harinya, peserta dari berbagai daerah mulai ramai berdatangan. Aku juga senang bertemu dengan kawan-kawan lama dan kawan-kawan baru. Sayangnya pelatihan hanya berlangsung selama dua hari. Tak cukup banyak waktu untuk kami berinteraksi. Tapi tak apa. Sebuah komunitas akan lahir dari pelatihan ini. Waktu dan intensitas komunikasi akan mengakrabkan kami juga nanti. Insya Allah.
Sabtu 7 Januari 2012, pelatihan dimulai. Puri Kencana Putri, aktivis KontraS memberi pemaparan mengenai HAM. Menarik. Wawasan Puri, yang kami panggil dengan Mbak Puri, betul-betul luas. Tak hanya soal kasus-kasus pelanggaran HAM yang sudah jadi makanannya sehari-hari, tetapi juga mengenai apa-apa saja yang bisa dan harus kami lakukan ketika pelanggaran HAM itu sudah memperlihatkan tanda-tanda akan terjadi, entah pada diri kita atau di sekitar kita. Selain itu gaya bicara dan pembawaannya yang santai membuat kelas menjadi seru. Dan walaupun materi tampak begitu berat, tapi Mbak Puri bisa menjadikannya terasa lebih sederhana dan mudah untuk dicerna otak. Dan aku adalah penggemar berat mereka yang bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana. Mbak Puri salah satunya.
Sore harinya sekitar pukul 3 sore sampai pukul 6, giliran Firdaus Mubarik yang memberikan pemaparan mengenai dokumentasi. Dia seorang kawan yang aku kenal baik. Kami sama-sama mendapatkan beasiswa pelatihan Jurnalisme Sastrawi di tahun 2009. Bang Daus mengajarkan peserta pelatihan untuk peka dengan tindakan-tindakan, sekecil apapun, yang mengusik rasa aman kita. Lebih jauh dia juga mengajarkan bagaimana membuat dokumentasi yang baik, apa saja yang perlu kita lakukan untuk bisa membuat dokumentasi yang baik. Kuncinya adalah ketenangan. Ketika kita tenang, maka kita bisa membuat dokumentasi atas apa yang terjadi pada diri kita dengan baik.
Malam hari dilanjutkan dengan membuat tugas kelompok berupa menulis laporan untuk dikirimkan ke kantor PBB yang mengurusi soal HAM. Ada begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab sesuai dengan format laporan yang ditentukan oleh PBB. Dan ternyata mengisinya bukanlah hal mudah. Detil adalah kuncinya. Semakin detil semakin baik.
Aku kebagian kelompok wilayah Serang. Kasus yang kami laporkan adalah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah Serang. Mengandalkan sisa-sisa ilmu menulis yang aku ingat, aku berusaha mengisi laporan tersebut dengan detil-detil yang aku rasa perlu. Walaupun sebenarnya aku adalah orang yang bermasalah dengan detil, tapi aku dan teman-teman satu kelompok berusaha mengerjakan laporan tersebut sebaik mungkin.
Keesokan harinya, Minggu 8 Januari 2012, tugas kami dievaluasi oleh Mbak Puri. Karena baru pertama kali mengisi laporan untuk PBB, maka ada banyak kekurangan. Tapi koreksi dan komentar dari Mbak Puri sangat membantu dalam memahami bagaimana menulis laporan yang baik supaya laporan kita benar-benar bisa dipercaya oleh PBB dan ditindaklanjuti. Benar-benar pengalaman yang unik dan menarik. Bahkan menulis laporan 3 lembar saja, yang bahkan sudah ada format di dalamnya, tidak mudah. Perlu dua hari pelatihan, kata Bang Daus. Hehe.
Pukul 3 siang, Mas Lexy Rambadeta yang sudah sangat berpengalaman sebagai jurnalis multimedia memberi pelatihan bagaimana membuat video yang baik. Jauh-jauh dia datang dari Jogjakarta dan menyetir sendiri pula, demi pelatihan ini. Luar biasa. Sebagai seorang jurnalis, Mas Lexy adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi independensi. Dan memang independensi inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh para jurnalis.
Mas Lexy menjelaskan bagaimana membuat video dengan peralatan yang sederhana, bagaimana menyiasatinya. Kami juga berlatih membuat video dengan durasi pendek 1-2 menit. Hasil rekaman kami diputar dan diperlihatkan di kelas. Menurut Mas Lexy, wajar kalau video yang kami buat masih banyak kekurangan. Tips-tips standar dalam membuat video pun belum bisa diterapkan sepenuhnya oleh peserta. Wajar, baru pertama kali. Perlu banyak latihan, katanya. Di sesi ini, saking asyiknya belajar, kami tidak ingat dengan waktu rehat kopi. Sampai akhir, kami masih asyik belajar.
Berakhirnya sesi ini, juga menandakan berakhirnya keseluruhan pelatihan selama dua hari itu. Sedih. Aku belum kenal dengan semua peserta, 41 perempuan pilihan dengan latar belakang beragam dan semuanya hebat. Dua hari tidak cukup untuk saling mengenal semuanya. Namun panitia berjanji akan diadakan pelatihan lagi setelah ini. Entah kapan. Dan entah bagaimana bentuknya nanti. Aku harap bentuknya sama dengan pelatihan ini, agar aku bisa mengenal lebih dalam semua peserta.
Dua hari di Parung kemarin adalah betul-betul karunia bagiku. Ada banyak ilmu, ada banyak wawasan baru, dan ada segudang pengalaman tak ternilai yang aku dapat. Bertemu orang-orang hebat, cerita-cerita kehidupan yang membuatku merasa cerita hidupku tidak ada apa-apanya dibanding mereka-mereka yang kuat ditempa ujian berat. Semoga dua hari kemarin tak hanya memperkaya pengalaman hidupku, tetapi juga menjadikanku pribadi yang lebih bijaksana. Aamiin.
Diary 2011
January 4th, 2012 § 1 Comment
Orang-orang pada rame nulis resolusi 2012. Kayaknya asik juga nih merekam jejak tahun lalu, apa saja yang terjadi, apa saja pembelajaran yang aku dapat. Dan untuk mengawali tulisan di tahun 2012 ini, aku pikir momennya pas.
Aku bukan orang yang pandai dalam mengingat suatu hal. Yang paling bisa kuingat adalah rasa yang diberikan setiap momen yang terjadi dalam hidupku. Aku ingat di tahun kemarin, aku merasa ‘agak jauh’ dengan teman-teman terdekatku. Aku menjadi orang yang ‘sendiri’, tak punya banyak kesempatan untuk kumpul dengan teman-teman yang selalu aku banggakan. Dan tanpa aku sadari, aku terseret menjadi pribadi yang tidak aku suka: mudah menilai orang lain. Betapa mudahnya terpengaruh! Aku merasa ‘jauh’ dari teman-teman yang selama ini aku banggakan sebagai sahabat. Momen kebersamaan kami begitu terbatas, ditambah dengan sifat burukku yang mungkin saja juga menjadi salah satu faktor mereka ‘agak menjauh’ dariku. Aku tak mendapat banyak kesempatan untuk mendengar curhatan mereka, cerita mereka, dan hal-hal yang biasanya kami bagi bersama. Tapi menjelang di akhir tahun 2011, semua membaik. Semua kembali. Aku kembali dekat dengan mereka. Alhamdulillah aku bisa pelan-pelan kembali menjadi diriku yang dulu, yang aku suka, yang aku rasa lebih bermanfaat bagiku dan bagi siapapun yang hadir dalam hidupku.
Di tahun kemarin pula aku dihadapkan pada sebuah masalah yang baru pertama kali ini aku harus hadapi dan selesaikan. Masalah pertemanan. Seperti postingan sebelumnya, kadang kita baru sadar kita ngga cocok berteman dengan seseorang setelah sekian lama mengenalnya. Jadi ketika kita memutuskan untuk berteman dan mengenal seseorang, selalu ada resiko untuk tidak cocok dan kita harus siap dengan jalan penyelesaian yang kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Memang sedih ketika sebuah pertemanan harus berakhir dengan tidak baik, tapi akhir pertemanan bukan akhir silaturahmi. Silaturahmi kan harus tetap dijaga bahkan dengan musuh sekalipun. Aku bersyukur diberi masalah ini, karena masalah ini telah memperkaya aku dengan keluasan wawasan tentang bagaimana menyelesaikan persoalan.
Selain itu di tahun kemarin aku mendapat pukulan berat. Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan kebahagiaan kepada salah satu sahabatku. Tapi ternyata niat baikku berubah menjadi masalah yang menjatuhkanku ke dalam jurang perasaan bersalah setiap kali mengingatnya kini. Aku tidak tahu kenapa harus aku yang turut serta dalam membawa penderitaan untuk sahabat yang begitu kucintai dan kubanggakan. Padahal niatku hanya satu, ingin membantu temanku sembuh dari rasa sakitnya. Tapi yang terjadi justru aku telah menggiring manusia lain yang menorehkan luka yang lebih dalam dan perih ke hati sahabatku. Sakit. Bukan hanya diderita sahabatku, tapi aku juga. Dan kemudian aku belajar satu hal, mungkin aku begitu yakin aku bisa memberikan kebahagiaan bagi temanku dengan membawa orang lain dalam hidupnya. Tapi sebenarnya mungkin bukan itu yang dia butuhkan. Yang terjadi justru bukan kebahagiaan yang aku berikan, tapi tambahan luka yang dalam.
Di antara sekian warna gelap yang menaungiku di tahun 2011 kemarin, ada secercah warna cerah yang mempengaruhi cara pandangku bahkan pada diriku sendiri. Di tahun ini aku diberi kesadaran bahwa masih ada laki-laki baik di Indonesia ini. Heu. Kedengeran lebay tapi memang itu yang aku pikirkan ketika seorang laki-laki yang tak pernah aku tahu dan duga sebelumnya, menyatakan bahwa dia ingin serius denganku. Sebelumnya, pengalaman yang aku dapatkan mengenai laki-laki di Indonesia begitu mengecewakan. Dan akhirnya aku berkesimpulan bahwa hampir semua laki-laki di Indonesia memiliki kualitas yang tak bisa aku harapkan. Tapi ketika dia datang, ternyata semua jadi berbeda. Dia bisa melihat sisi terbaikku ketika hampir semua orang hanya bisa melihat sisi terburukku. Dia bisa menghargai kualitas pribadiku, ketika hampir semua orang hanya bisa menilai kualitas penampilan luarku. Aku kemudian belajar, ketika kondisi di sekitar kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, penyelesaiannya bukan dengan menghakimi kemudian lari dari tempat kita berdiri saat ini. Tapi kita bisa mengubah keadaan dengan menciptakan kondisi yang kita inginkan/harapkan. Dan aku harap, aku bisa melahirkan manusia-manusia dengan akhlak dan kualitas yang lebih baik, sesuai dengan yang aku harapkan ada pada diri manusia-manusia di Indonesia yang sayangnya jarang aku temukan. Aamiin. Allah telah mempertemukanku dengan seseorang yang entah kenapa aku yakin bisa mendukungku mencapai apa yang aku harapkan. Kini, aku hanya perlu konsisten untuk meraih harapanku.
Di tahun 2012 ini, aku sudah punya berbagai rencana. Yang pasti aku ingin lulus tepat waktu di tahun ini. Itu resolusi dengan skala prioritas saat ini. Ketika surat kelulusan sudah di tangan, aku bisa bergerak ke rencana lainnya. Menikah insya Allah. Aamiin allahumma aamiin. Hehe.
Setelah itu, aku ingin mengalir saja. Apa yang Allah rencanakan dalam hidupku, aku ingin menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Karena Dia adalah sebaik-baik Perencana.
Ketika Kita Akhirnya Mengerti Bahwa Kita Tak Bisa Berteman Lagi
December 12th, 2011 § Leave a Comment
Di suatu hari di masa SMA, seorang teman bercerita “Lis, si D aneh banget deh. Masa dia bilang ke P kalo dia udah ngga bisa berteman lagi. D bilang, dia ngerasa ngga cocok berteman dengan P. Ada ya orang kayak gitu? Aneh banget.” “Hoo.. Pantes D ngga pernah jalan berdua lagi sama P..” jawabku.
Dulu, D dan P, keduanya perempuan, berkawan sangat baik. Mereka suka jalan-jalan berempat dengan dua orang teman laki-laki lainnya. Ke sekolah bersama, pulang bersama, pokoknya keempatnya nyaris selalu bersama seolah tak terpisahkan. Tapi tiba-tiba di suatu hari D terlihat berjalan sendiri, tanpa P dan kedua teman laki-lakinya. Ke sekolah sendiri, di kantin dan di kelas pun menyendiri saja. Namun dia seperti tidak terganggu atau sedih dengan kesendiriannya. Tanpa ragu dia juga suka bergabung dengan teman-teman yang lain.
Aku dan teman-teman dekatku bertanya-tanya kenapa. Ada masalah, itu pasti. Tapi masalah apa sih yang akhirnya membuat mereka tak dekat lagi? Aku terus penasaran sampai hari itu, ketika salah satu temanku menceritakan hal tersebut yang aku lupa dia tahu dari siapa. Tapi aku percaya berita itu, karena bertahun-tahun setelahnya, aku mengkonfirmasi hal itu ke D dan dia membenarkan.
Pada saat itu, aku pun terpengaruh. Konsep ketidak-cocokan dalam berkawan setelah menjalani hari-hari bersama, buatku aneh. Terlebih lagi, keberanian D mengungkapkan hal tersebut. Terlalu serius untuk seorang anak SMA. Dan pendapatku pun sejalan dengan teman-temanku, D terlalu serius dalam menyikapi pertemanan untuk seorang anak SMA.
Dan dia terlalu berani bagiku. Karena aku tak pernah punya keberanian macam itu. Ketika ketidak-nyamanan itu datang dalam pertemananku dengan seseorang, aku memilih untuk diam dan membiarkan saja perasaanku tersiksa. Aku pikir, aku tidak perlu berkata apapun. Aku pikir dalam pertemanan, semua harus diterima, termasuk ketidak-nyamanan yang dirasakan setelah berkawan beberapa lama.
Namun setelah kupikir kini, prinsip itu tidak selalu benar.
Bertahun-tahun setelahnya, ketika aku malah semakin dekat dengan D, semakin mengenal kepribadiannya yang luar biasa, aku berbalik arah. Aku mengagumi keputusannya kala itu. Ya, pertemanan memang hal yang serius. Bagi D, dia tak bisa nyaman berteman dengan orang yang dianggapnya tidak memberikan manfaat atau pengaruh baik baginya. Dan keputusannya untuk mengakhiri pertemanan dengan seseorang, setelah beberapa bulan dekat dan menjalani hari-hari bersama, bukanlah sesuatu yang mudah tapi memang harus diambil. D tidak merasakan kenyamanan sama sekali dalam berteman dengan P. Jadi, buat apa diperpanjang kalau nantinya efeknya tidak akan baik bagi keduanya? Mungkin terdengar ekstrim tapi pada saat itu, mungkin keputusan itulah yang terbaik.
Dan kini, bertahun-tahun setelah masa SMA itu, aku ternyata mengalami apa yang dialami D.
Aku tidak sampai memutuskan pertemanan. Aku tidak bilang bahwa aku tidak lagi merasa cocok dengan seseorang yang tadinya dekat. Tapi hubungan kami diputuskan oleh satu masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik kalau memang dia adalah orang yang bisa diajak bicara. Tapi aku cukup tahu masalah ini tak bisa diselesaikan dengan baik, apapun cara yang aku pilih. Hubungan yang buruk sudah aku bayangkan sebelumnya, pasti akan terjadi. Dan aku tidak keberatan sama sekali. Karena memang, aku tidak ingin lagi memiliki hubungan yang dekat dengannya seperti sebelumnya, kecuali kalau dia memang sudah berubah.
Secara drastis, kami yang tadinya begitu dekat, menjadi sepasang manusia yang jauh dan seperti saling menyakiti. Di mata dia, aku sudah menyakitinya. Dan di mataku, dia pun menyakiti aku. Tak apa. Akhirnya memang harus begini. Dan bagiku, ini pertama kalinya aku bermasalah dengan seorang teman (kalau masih bisa dikatakan teman), sampai hubungan kami putus. Dan aku mengerti, ini karena aku memang tak bisa lagi berteman dengannya, tak merasa cocok dengan kepribadiannya.
Mungkin dia tidak salah, mungkin aku yang salah. Atau sebaliknya. Tapi ketika kita akhirnya mengerti bahwa kita tak bisa berteman lagi dengan seseorang, aku tidak tahu apakah ada cara untuk mengakhiri pertemanan tersebut dengan baik-baik. Apalagi perasaan itu hanya berasal dari satu pihak, dan dalam kasusku, aku lah yang merasakan ketidak-cocokan. Aku rasa, apapun cara yang akan diambil, pada akhirnya akan selalu menyakiti.
Kini aku mengerti, bahwa ada hubungan-hubungan dimana perpisahan adalah satu-satunya jalan yang harus diambil demi kebaikan bersama. Apalagi ketika salah satu pihak tak bisa diajak bicara, maka tak ada jalan lain.
Untuk dia yang merasa tersakiti dengan caraku menyelesaikan masalah, aku minta maaf. Aku tahu itu sulit. Sekali lagi, maaf.
Lambat Tapi Selamat
November 29th, 2011 § Leave a Comment
Semester terakhir kuliah, semester depan khusus untuk tesis. Saat ini sedang bergulat dengan judul tesis. Itupun masih ada utang jurnal yang sampai hari ini belum juga ditulis apalagi dikirim ke satu lembaga terakreditasi. Padahal jurnal yang sudah diterbitkan di sebuah lembaga terakreditasi adalah syarat untuk bisa sidang. Belum apa-apa, stress dan jenuh sudah menguasai pikiran. Tapi perjuangan ngga bisa berhenti sampai di sini. Sudah sejauh ini. Dan apapun hasil akhirnya nanti, yang penting semua harus dilalui. Ngga mau menambah pusing pikiran dengan bayangan masa depan. Yang namanya ilmu pasti akan terpakai. Tergantung kita mau pakai ilmu kita apa ngga untuk sesuatu yang bermanfaat.
Sekarang, masalah mau nulis apa di tesis nanti, masih bisa dikompromikan. Minimal waktunya masih lebih panjang daripada tahun depan. Dan aku belajar satu hal penting.
Di antara teman-teman sekelas, baru satu orang yang aku anggap sudah siap maju buat sidang. Aku kasih inisial namanya NK. Dulu aku suka kesel sama dia karena dia paling lambat dalam mencerna obrolan apapun. Pasti nanya lagi dan nanya lagi. Dan kelemotan dia itu kadang agak mengganggu.
Bagi beberapa orang, NK dipandang kurang pintar. Aku pun sempat berpikir seperti itu, ya mungkin karena kesal juga dengan keterlambatannya dalam mencerna. Tapi setelah bergaul dengan dia dan merasakan kebaikannya, aku mengubah pandanganku. Dia juga terlihat berusaha mengejar setiap ketertinggalannya. Dan walaupun dia lambat, tapi dia rajin mengerjakan tugas.
Dan ternyata ketika harus mempresentasikan judul tesis yang ingin dia ajukan, dia yang paling kelihatan siap. Dia tahu apa yang dia mau tulis, dia tahu dia mau ambil data dari mana dan kenapa dia memilih data tersebut, dia juga tahu teori-teori apa saja yang akan dia pakai dan bisa mendukung penelitian dia. Dan satu lagi, dia mendapat dosen-dosen pembimbing yang sangat bisa diandalkan. Terutama pembimbing kedua dia yang terkenal perfeksionis dan tidak ragu untuk tidak meluluskan mahasiswa yang penelitiannya memang dianggap tidak layak menurut pandangannya. Mendapat dosen pembimbing seperti itu pastinya akan sangat membantu dia nantinya di sidang. Dan terbukti hampir semua mahasiswa bimbingan si dosen ini, penelitiannya memang bagus, valid, dan nyaris tak mendapat masalah berarti di sidang oleh dosen-dosen penguji. Beruntung banget deh pokoknya NK ini.
Belum lagi dengan jurnal yang ternyata sudah dia tulis, dia kirim dan bahkan sudah akan diterbitkan oleh Balai Bahasa. Dia sudah ngga perlu lagi pusing dengan persyaratan sidang.
Aku kemudian berpikir. Dulu aku mencibir dia. Sekarang dia membuktikan bahwa cibiran itu tak pantas dialamatkan ke dia. Oleh siapapun. Termasuk oleh beberapa temanku yang sampai sekarang masih juga memandang remeh dia. Tanpa NK sadari, dia memberiku inspirasi. Walaupun dia lambat mencerna, tampak seperti tidak serius dan kurang bisa mensejajarkan langkah dalam belajar dengan teman-teman yang lain, tapi dia rajin. Dan dia membuktikan dia bisa lebih siap di antara yang lain. Salut.
Memakai Cincin Kawin Bagi Mempelai Pria
October 5th, 2011 § Leave a Comment
Bulan puasa kemarin, ada perbincangan yang cukup menarik antara aku dan teman-teman sebaya di kota halamanku. Salah seorang teman yang akan menikah menanyakan sebaiknya calon mempelai pria menggunakan cincin yang terbuat dari apa karena emas tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Aku lantas menjawab, “Perak boleh kok.” Tapi teman-teman yang lain sontak membantah bahwa perak pun tidak diperbolehkan. Alasannya seperti emas, perak pun berharga. Padahal sejauh yang aku tahu nilai perak selalu turun kalau dijual lagi, berbeda dengan emas. Dan selama ini yang diajarkan dalam keluargaku, perak dibolehkan dipakai oleh pria.
Teman-temanku berpendapat bahwa yang dibolehkan hanyalah platina. Aku berusaha menyampaikan argumenku tapi teman-temanku juga kekeh dengan argumen mereka. Oke, aku pikir sebaiknya aku diam dan mencari tahu.
Sekarang akan aku sampaikan sebuah tanya jawab antara seorang perempuan bernama Eno dengan Bapak M. Quraish Shihab mengenai hal ini.
“Awal tahun depan saya akan menikah. Saat ini saya dan calon suami sering mendiskusikan masalah cincin kawin. Menurut calon suami saya, nantinya dia tidak mau memakai cincin kawin karena laki-laki tidak boleh mengenakan logam mulia. Sementara saya tidak setuju karena dengan tidak memakai cincin kawin, maka ia tidak bisa menunjukkan kepada khalayak bahwa ia telah berkomitmen dalam sebuah pernikahan. Apakah betul Islam melarang laki-laki mengenakan cincin kawin? Apakah benar jika bukan logam mulia maka tidak haram?
Eno
Pegawai Negeri Sipil (PNS)
Kebayoran Baru, Jakarta
Kalau alasan calon suami Anda enggan memakai cincin kawin karena menganggap emas adalah haram buat pria, maka memang demikian pendapat sementara ulama berdasar hadits Nabi saw. melalui Sayyidina Ali kw. yang menyatakan bahwa beliau melihat Nabi saw. memegang sutra dengan tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu bersabda: “Kedua ini haram buat pria umatku” (HR. Abu Daud dan an-Nasaiy). Tetapi sisi ini bukanlah alasan yang tepat untuk enggan memakai cincin kawin, karena bisa saja cincin tersebut terbuat dari perak, atau besi, atau bahkan platina. Di samping itu, ada juga ulama yang membolehkan pria memakai emas dan sutra. Larangan di atas menurut mereka bukan berarti haram, tetapi dia adalah petunjuk umum, atau itu ditujukan kepada orang-orang tertentu.
Kalau alasan keengganan itu adalah bahwa cincin kawin tidak dikenal pada masa Rasul saw., lalu itu diartikan bahwa itu terlarang, maka itu pun kurang tepat, karena sekian banyak hal yang belum dikenal pada masa Rasul, namun tidak terlarang dalam Islam. Hemat saya cincin kawin adalah produk budaya, yang tidak harus dipertentangkan dalam ajaran Islam, bahkan ia dapat merupakan “tanda” bagi yang memakainya sehingga pemakainya tidak diduga lain sebagai gadis/lajang sekaligus menjadi perisai buat mereka sehingga tidak diganggu atau mengganggu. Dalam pandangan Hukum Islam, ada rumus yang menyatakan: “Dalam konteks ibadah, semua tidak boleh selama tidak ada izin dari Allah atau Rasul-Nya, sedang dalam konteks non-ibadah, semua boleh selama tidak ada larangan agama.” Memakai cincin untuk hiasan dianjurkan, atau sedikitnya tidak terlarang dan cincin kawin dapat menjadi hiasan, sekaligus sebagai tanda telah terikatnya sang pemakai dalam ikatan perkawinan. Demikian, wa Allah A’lam.” 1
Aku harap cuplikan tulisan ini bisa membuka wawasan baru bagi mereka yang masih berpendapat bahwa perak tidak diperbolehkan untuk dijadikan cincin kawin bagi mempelai pria.
1 M.Quraish Shihab Menjawab 101 Soal Perempuan Yang Patut Anda Ketahui. 2010. Halaman 70.
Lebaran dan Toleransi Internal
September 2nd, 2011 § Leave a Comment
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla
Untuk kesekian kalinya, umat Islam diharu-biru oleh kontroversi soal lebaran. Dan untuk kesekian kalinya umat dibuat pusing tujuh keliling, mungkin bahkan delapan atau sembilan keliling. Tahun ini (2011), ada dua pendapat yang saling bersaing keras: lebaran tiba pada hari Selasa; ini pendapat Muhammadiyah, ormas kedua terbesar Islam di Indonesia. Pendapat lain: lebaran jatuh pada hari Rabu. Ini adalah keputusan pemerintah (dhi. Kementerian Agama) berdasarkan masukan dari sebagian besar ormas Islam, selain Muhammadiyah. Di sana ada NU, Al-Washliyah, Mathla’ul Anwar, Perti, Persis, dll.
Senin malam (29/8) kemaren, melalui siaran langsung oleh sejumlah televisi swasta, publik menikmati adu argumentasi yang cerdas di antara wakil-wakil ormas Islam itu dalam sidang istbat (penetapan awal bulan) yang digelar di kantor kementerian agama. Walau sebentar, adu argumentasi itu sangat baik dipertontonkan kepada publik luas. Mereka bisa belajar tentang hujjah atau dalil masing-masing pihak. Ini pendidikan publik yang sangat berfaedah, hal yang hanya bisa kita nikmati setelah adanya rezim keterbukaan informasi saat ini.
Intinya, yang berlebaran hari Selasa punya sandaran yang kokoh. Begitu juga yang berlebaran hari Rabu. Kedua pihak punya hujjah masing-masing. Kedua pihak sama-sama berporos pada hadis, tapi toh tetap berbeda. Ini bukti bawa berpegang pada hadis tidaklah menjamin kesatuan pandangan umat Islam. Masalahnya sederhana. Hadis yang dipegangi oleh masing-masing pihak berkaitan dengan penentuan awal bulan, semuanya sama. Yang berbeda adalah cara menafsirkannya. Hadis sama, cara menafsirnya yang beda. Ini lazim dalam semua isu yang diperdebatkan oleh kelompok-kelompok Islam, sejak dahulu kala hingga sekarang. Hanya mereka yang tak mengerti sejarah intelektual Islam saja yang punya anggapan keliru (delusi?) bahwa kembali kepada Quran atau hadis akan mempersatukan umat.
Singkat cerita, akhirnya pemerintah mengambil keputusan berdasarkan suara mayoritas ormas Islam yang hadir dalam sidang istbat malam kemaren itu: lebaran jatuh hari Rabu.
Yang menarik bukan soal lebaran Rabu itu, tetapi sikap pemerintah yang secara terbuka dan lapang dada menjamin kebebasan Muhammadiyah untuk berlebaran hari Selasa. Penampilan Fatah Wibisono, wakil dari Muhammadiyah, dalam sidang itsbat kemaren malam itu sangatlah simpatik. Dengan gaya yang njawani dan santun, ia pamit kepada Menteri Agama untuk berbeda dengan keputusan pemerintah, yakni berlebaran hari Selasa. Gaya yang elegan. Patut diapresiasi.
Demikianlah, pemerintah memutuskan awal bulan Syawal jatuh pada hari Rabu. Tetapi pada saat yang sama, pemerintah juga memberikan keleluasaan pada Muhammadiyah untuk berlebaran hari Selasa. Ormas-ormas Islam yang lain juga bersikap yang sama: menghargai keputusan Muhammadiyah. Bahkan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, ormas kepemudaan yang menjadi onderbouw-nya NU, dengan terang-terangan akan menjaga warga Muhammadiyah yang hendak melaksanakan salat ‘ied pada Selasa pagi. Sudah tentu tak akan terjadi hal apapun pada warga Muhammadiyah, namun sikap GP Ansor itu tetaplah layak dihargai sebagai “social gesture” atau isyarat akan pentingnya menghargai perbedaan.
Dalam pandangan saya, sikap toleran yang diperagakan pemerintah ini seharusnya juga berlaku untuk perbedaan-perbedaan internal apapun yang terjadi dalam tubuh umat Islam. Pemerintah bisa menjadi fasilitator untuk mengkoordinasikan sidang itsbat yang melibatkan sejumlah ormas Islam di Indonesia. Tetapi pemerintah tak berhak untuk memaksakan keseragaman. Yang percaya lebaran jatuh hari Selasa, tak bisa dipaksa pemerintah untuk ikut keputusannya. Tidak bisa. Jika itu dilakukan, pemerintah sudah melakukan intervensi terhadap forum internum atau ruang keyakinan terdalam dari umat beragama. Masalah-masalah keagamaan selalu menyangkut keyakinan. Kita tahu, keyakinan tak bisa dipaksakan. Yang bisa kita lakukan hanyalah menghormati keyakinan pihak lain yang berbeda itu, walau kita tak sependapat dengannya.
Campur tangan pemerintah dalam soal penentuan awal bulan itu hanyalah campur tangan administratif. Itu masih bisa ditolerir, tak bertentangan dengan konstitusi kita. Yang tak diperbolehkan adalah campur tangan substantif, yakni mencampuri isi keyakinan atau pendapat suatu golongan keagamaan. Memaksakan keseragaman awal bulan Ramadan atau Syawal adalah campur tangan substantif. Itu tak bisa ditolerir. Sikap pemerintah yang memberikan kebebasan kepada Muhammadiyah untuk berlebaran pada hari yang berbeda sudah tepat dan layak dipujikan. Sikap ini, seperti sudah saya katakan tadi, mestinya menjadi “paradigma”, cetakan atau contoh dalam melihat kasus-kasus lain menyangkut perbedaan-perbedaan internal dalam tubuh umat Islam.
Saya akan ambil kasus Ahmadiyah yang menjadi perdebatan sengit beberapa waktu lalu. Kita tahu, sebagian besar golongan dalam Islam berpendapat bahwa Ahmadiyah adalah sekte yang sesat. Perkaranya sederhana: mereka percaya ada nabi baru. Dalam kepercayaan mayoritas umat Islam, Nabi Muhammad adalah nabi terakhir. Yang percaya ada nabi lain setelahnya, sesat, menyimpang dari ortodoksi, meleset dari doxa atau ajaran yang benar. Menanggapi desakan dari berbagai pihak, pada 9 Juni 2008, akhirnya pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditekan oleh Menag, Mendagri dan Kejaksaan Agung. Substansi SKB itu tergambar dalam poin kedua. Saya kutip selengkapnya:
Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran agama Islam pada umumnya, seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
Poin ini memang sangat ambigu, tapi satu hal jelaslah di sana: kecenderungan untuk membatasi aktivitas Ahmadiyah. Ini memang jalan tengah yang terpaksa diambil oleh pemerintah untuk menengahi dua kubu: mereka yang menuntut pembubaran Ahmadiyah di satu pihak, dan mereka yang menuntut kebebasan penuh bagi golongan itu di pihak lain. Ini adalah jalan politis yang terpaksa diambil sebagai solusi pragmatis, meski, menurut saya, tidaklah ideal. Solusi ini jelas bertentangan dengan konstitusi kita yang menjamin kebebasan agama dan keyakinan, tanpa pandang bulu. Dalam konteks konstitusi kita, istilah “keyakinan yang sesat” sama sekali tak dikenal, dan tak diperbolehkan. Istilah itu hanya relevan dalam konteks rumah tangga internal suatu umat, bukanlah konteks kenegaraan.
Solusi yang ideal adalah seperti diperagakan pemerintah dalam menangani kasus perbedaan lebaran saat ini. Pemerintah mengambil keputusan A, tetapi memberi kelonggaran pada kelompok lain yang berpendapat B. Mestinya, pemerintah memberikan kelonggaran kepada Ahmadiyah dan melindungi kebebasan mereka untuk menganut kepercayaan yang berbeda tentang kenabian (nubuwwah). Perkara apakah keyakinan Ahmadiyah itu sesat atau tidak, bukanlah urusan pemerintah. Ingat, pemerintah tidak bisa melakukan campur tangan substantif dalam soal keyakinan dan kepercayaan suatu golongan.
Saya sudah langsung bisa membayangkan sanggahan berikut ini: bagaimana saudara bisa menyamakan perkara lebaran dengan soal keyakinan mengenai kenabian? Yang satu menyangkut perkara furu’iyyah (cabang agama), yang lain perkara ushuliyyah (pokok agama). Yang satu soal fikih, yang satunya lagi soal akidah. Anda tak bisa menyamakan keduanya. Jika menyamakan keduanya, anda melakukan apa yang dalam ilmu fikih (hukum Islam) disebut qiyas ma’a al-fariq, menyamakan dua hal yang berbeda. Dalam argumentasi, analogi atau penyamaan semacam itu bisa disebut sebagai cacat dalam ber-hujjah.
Jawaban saya adalah sebagai berikut. Di mata konstituasi negara, pembedaan semacam itu tak relevan. Tugas negara adalah menjamin kebebasan perorangan atau kelompok untuk memiliki keyakinan atau pendapat, tak peduli apakah pendapat itu menyangkut soal fikih atau akidah, furu’iyyah atau ushuliyyah. Perdebatan apakah suatu pendapat masuk dalam kawasan furu’iyyah atau ushuliyyah, biarlah menjadi urusan “dapur” di dalam rumah tangga umat Islam sendiri. Sekali lagi, prinsip konstitusional yang kita anut adalah negara tak bisa melakukan campur tangan subtantif dalam keyakinan umat beragama. Sebab negara kita bukanlah negara agama. Tetapi negara kita juga bukan negara sekuler yang memusuhi agama; melainkan negara Pancasila yang menjamin semua pihak, perorangan atau kelompok, untuk memeluk keyakinan serta memiliki pendapat yang mereka anggap benar. Freedom of conscience. Hurriyyat al-i’tiqad wa al-ra’y.
Sementara itu, toleransi internal yang dipertunjukkan ormas-ormas Islam terhadap sikap Muhammadiyah yang berbeda dalam lebaran tahun ini bisa juga dikembangkan lebih luas lagi sehingga mencakup hal-hal yang lebih mendasar, seperti soal keyakinan. Dalam pandangan saya, toleransi dalam soal akidah bukanlah hal yang tercela, bahkan sangat baik. Toleransi bukanlah mengakui kebenaran pendapat atau keyakinan golongan yang lain; sekedar memberinya hak untuk “exist”.
Saat NU dan ormas-ormas Islam lain menolerir pendapat Muhammadiyah soal lebaran yang berbeda, bukan berarti mereka mengakui kebenaran pendapat kelompok yang terakhir itu. Dalam pendapat NU, prinsip Muhammadiyah dalam hisab (perhitungan tanggal dalam kalender Hijriyah) yang bersandar pada kaidah wujud al-hilal (adanya rembulan di ufuk atau cakrawala) jelas dianggap salah oleh NU yang berpegang pada kaidah lain, yakni imkan al-ru’yah (kemungkinan rembulan bisa dilihat).
Sekedar intermezzo untuk menjelaskan dua istilah teknis di atas bagi mereka yang tak akrab dengan ilmu penanggalan dalam kalender Hijriyah, saya akan memberikan keterangan selingan berikut. Kalender Hijriyah menganut sistem lunar, yakni, ditentukan berdasarkan posisi rembulan terhadap bumi. Ini beda dengan kalender Masehi/Gregorian yang memakai sistem solar, yaitu berpatokan pada posisi bumi terhadap matahari. Awal bulan Hijriyah ditentukan berdasar prinsip sederhana: jika rembulan sudah muncul di ufuk saat matahari tenggelam, maka bulan yang baru dimulai. Karena itu, sidang itsbat tidak bisa dimulai kecuali setelah Maghrib, usai mendapat laporan dari tim-tim yang ditugasi untuk memindai atau mengawasi rembulan di ufuk.
Muhammadiyah berpandangat, tak diperlukan kegiatan melihat rembulan secara langsung; asal secara teoretis berdasarkan perhitungan sistem penanggalan (hisab), rembulan sudah dimungkinkan untuk muncul di ufuk, maka bulan yang baru sudah bisa dimulai. Itulah yang disebut dengan kaidah wujud al-hilal.
Sementara NU dan ormas Islam yang lain menganut dua prinsip pokok yang berbeda. Pertama, bulan tak bisa dilihat kecuali jika menurut perhitungan ilmu falak (ilmu astronomi Islam yang diadopsi dari, antara lain, Yunani) berada di atas ufuk setinggi minimal dua derajat atau lebih. Kedua, tak cukup dengan perhitungan ilmu falak saja; perhitungan falakiyyah harus dilengkapi dengan verifikasi dengan melakukan kegiatan “moon sighting” atau melihat bulan.
Masing-masing punya hujjahnya sendiri-sendiri. NU mendukung pendapatnya dengan sebuah hadis, begitu juga dengan Muhammadiyah. Baik hadis yang dipakai NU atau Muhammadiyah, keduanya adalah hadis yang valid alias sahih. Saya tak akan menjelaskan secara detil hadis-hadis yang dijadikan hujjah oleh kedua kelompok itu, karena akan membuat tulisan ini berkepanjangan.
Kembali ke pokok soal semula: jika ormas-ormas Islam bisa mengambil sikap toleran dalam soal lebaran terhadap Muhammadiyah, mestinya sikap serupa bisa dikembangkan oleh ormas-ormas itu terhadap sekte Islam yang kebetulan memiliki penafsiran dan keyakinan yang berbeda. Menurut saya, toleransi internal dalam soal akidah justru jauh lebih urgen ketimbang toleransi dalam soal-soal furu’iyyah atau fikih. Perbedaan dalam soal furu’iyyah, biasanya tak mengandung potensi kericuhan, cekcok, dan konflik yang mengancam stabilitas dan kohesi sosial.
Sebaliknya, perbedaan dalam soal akidah justru secara potensial mengandung ancaman-ancaman seperti itu. Oleh karena itu, toleransi internal dalam tubuh umat Islam justru jauh lebih urgen dan niscaya untuk menghindarkan sikap-sikap absolutisme doktrinal yang bisa mengancam kohesi dan stabilitas sosial.
Harus saya tegaskan kembali, menolerir kelompok lain bukan berarti mengakui kebenaran keyakinan atau pendapat kelompok itu. Jika NU atau ormas lain menolerir Muhammadiyah dalam soal lebaran, bukan berarti mereka mengakui pendapat kelompok yang terakhir itu. Begitu pula, menoleri keyakinan kelompok Ahmadiyah bukan serta-merta mengakui kebenaran keyakinan mereka. Kita tetap bisa memiliki keyakinan bahwa pendapat kelompok Ahmadiyah dalam soal kenabian adalah sesat, seraya menolerir hak mereka untuk memiliki keyakinan yang berbeda.
Toleransi dalam soal lebaran, sudah semestinya dijadikan oleh umat sebagai paradigma untuk menentukan sikap terhadap hal-hal lain yang lebih luas dan lebih mendasar, misalnya soal keyakinan. Dengan kata lain, toleransi internal –istilah yang dulu diperkenalkan oleh almarhum Nurcholish Madjid alias Cak Nur—perlu menjadi sikap umat saat ini. Hanya dengan sikap semacam inilah, kleim bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluas mungkin umat manusia (rahmatan li ‘l-‘alamin) benar adanya – bukan bualan belaka.
Selamat merayakan Idul Fitri, mohon maaf atas segala khilaf. Kulla ‘am wa antum bi khair.
*artikel diambil dari sini.
I Love Syahrini! :D
August 28th, 2011 § 2 Comments
Ngga tahu kenapa tapi aku suka aja lihat perempuan satu ini. Sebagian orang boleh ngga suka sama dia karena:
- Dandanannya berlebihan.
Buat aku, dandanan Syahrini memang lebih daripada yang lain, tapi ngga tahu kenapa pantes-pantes aja di muka dia. Kesan ‘lebih’ nya itu ngga nyakitin mata. Jadi tetep enak dilihat mata kalo buat aku sih.
- Cara ngomongnya yang manja (atau dimanja-manjain, menurut mereka yang ngga suka).
Buat aku, gaya bicara Syahrini yang manja juga masih pantes-pantes aja. Ngga nyakitin kuping aku. Manjanya Syahrini bukan manja yang dibuat-buat dan ngeselin sih kalo buat aku mah ya. Ngga tau kalo buat orang lain.
- Glamour.
Orang boleh ngga suka dengan keglamouran Syahrini. Aku juga sering mikir berapa biaya yang dibutuhkan seorang Syahrini untuk hidup glamour. Tapi aku rasa, dengan status dia sebagai entertainer, sebagai perempuan, yang suka keindahan, yang suka bila dirinya tampil cantik, selama tidak memaksakan (dalam arti finansial dan kepantasan), ya sah-sah aja sih. Duit duit dia juga. Dan lagi-lagi, keglamouran yang ditampilkan Syahrini masih juga pantes-pantes aja buat aku, keglamourannya ngga bikin yang lihat (terutama aku) sesak napas.
- Mulai terkenal setelah duet sama Anang.
Sebenarnya pas Syahrini ngeluarin album untuk pertama kalinya, aku udah suka sama suaranya. Sayangnya dia ngga bisa milih lagu yang bagus. Menurutku sih itu yang bikin nama dia kurang terkenal. Mungkin memang waktunya Syahrini buat terkenal ya pas bareng Anang. Bukan berarti Syahrini ngga punya kualitas. Buktinya setelah lepas dari Anang, Syahrini tetap eksis. Yang penting sih Syahrini bisa milih lagu. Itu aja kuncinya. Percuma suara bagus tapi ngga bisa milih lagu, sia-sia. Suaranya BCL sebenarnya juga ngga bagus-bagus amat, kalo live sering banget fals. Tapi dia pinter banget pilih lagu yang bagus. Itu yang bikin dia keren di mata penikmat musik Indonesia.
Yang paling aku seneng dari Syahrini adalah cara ngomongnya yang ngga pernah sinis sama orang. Mungkin sindir-sindir sedikit ya pernah aja dia lakukan. Tapi menanggapi komentar jelek orang lain, bahkan menanggapi hubungannya yang kurang baik dengan Anang, Syahrini ngga memperlihatkan kesinisannya. Sampai sekarang aku juga ngga ngerti kenapa Anang terlihat seperti sebel banget sama Syahrini. Tapi ya bukan urusanku juga sih. Itu urusan mereka dan aku ngga punya hak untuk menilai siapa yang salah siapa yang benar. Nikmati aja karya mereka, baik karya-karya Anang maupun Syahrini.
Kata adikku, aku kayak ibu-ibu aja karena suka sama Syahrini. Bodo amat sih. Syahrini memang manusia biasa yang pasti punya kekurangan. Tapi aku menikmati kelebihannya dan bisa belajar juga dari seorang Syahrini. Jadi ya kenapa harus sinis?
*Gambar diambil dari sini.
Ada yang Mau Beliin Saya Kindle? :D
July 16th, 2011 § Leave a Comment
Apa itu Kindle? Orang-orang di Tumblr pada rame ngomongin ini. Sementara seumur hidup saya bergaul di dunia maya, saya belum pernah denger ada gadget namanya Kindle. Kuper!
Bisa dibilang, Kindle ini nenek moyangnya iPad. Ya ngga nenek moyang juga sih ya. Soalnya sampe sekarang juga Kindle ini masih ‘hidup’. Cikal bakal mungkin lebih tepat.

Amazon bikin Kindle untuk memfasilitasi orang-orang yang suka baca, supaya bisa bawa buku kemana-mana tanpa harus merasa keberatan dengan banyaknya buku yang harus atau pengen dibawa. Dan fungsinya cuma itu, buat baca e-book.
Kayaknya orang Indonesia jarang yang kenal sama Kindle karena memang barang ini juga tidak dipasarkan di Indonesia. Kenapa ya? Apa karena kebanyakan orang Indonesia dinilai kurang suka membaca sehingga diyakini bahwa pasaran Kindle tidak akan menggembirakan di Indonesia? Dan kalau sekarang Amazon berpikir untuk memasarkan Kindle di Indonesia, penerawangan saya sih mereka bakal lebih parah lagi ‘dicuekin’ pasar. Secara disini iPad menjadi idola. Walau mahal, iPad menawarkan lebih banyak fungsi dan aplikasi dibanding Kindle.
Tapi tetep sih, saya masih jatuh cinta sama Kindle. Alasannya:
- Harganya yang jauuuuuuuuuuuuh lebih murah dibanding iPad
Belinya memang harus pesan ke Amazon. Dengan pajak dan pengiriman, total bisa 2 juta lebih. Masih terhitung murah. Hehe. Sayangnya Amazon belum bisa/mau kirim produknya ke Indonesia. Kayaknya musti diakalin sih pengirimannya ke mana dulu baru ke Indonesia, lewat temen aja. Hehe
- Bentuknya yang ngga touch-screen (atau layar sentuh). Saya memang ngga terlalu suka dengan layar sentuh. Ngga tahu kenapa tapi buat saya, tombol lebih nyaman.
- Tadinya saya berpikir kalau dibandingkan dengan iPad, Kindle kalah. iPad memfasilitasi banyak fungsi. Bisa browsing atau main game contohnya. Tapi setelah baca satu postingan di blog ini yang khusus ngomongin Kindle, saya jadi tergugah juga. Banyaknya aplikasi di iPad bisa memecah konsentrasi dan kebutuhan utama saya, yaitu membaca. Jadi dalam hal ini, saya harus fokus sama tujuan saya tertarik sama gadget e-book reader: supaya lebih mudah membaca dan lebih ringan membawa banyak bacaan (gaya
).
Semoga Amazon masih memproduksi Kindle beberapa tahun mendatang. Ngga harus beberapa tahun juga sih. Intinya ketika tabungan saya cukup dan saya punya kesempatan untuk beli, Kindle masih ada.
*Gambar diambil dari sini.
UPDATE!
Ternyata di Indonesia ada yang jualan Kindle dan jenis e-book reader lainnya! Asik! Bisa lihat di sini.
Seorang Pengelana, Bukan Pengkhianat
June 24th, 2011 § Leave a Comment
Kemarin, 23 Juni 2011 di Facebook, seorang teman memberitahukan berita yang menyedihkan buatku. Dia menyatakan meninggalkan keyakinannya yang sama denganku. Ini pertama kalinya aku merasa sedih mendengar seorang teman baik, yang aku kenal karena kami memiliki keyakinan yang sama, memilih untuk meninggalkan keyakinannya dan memilih keyakinan baru. Buatku perasaan sedih ini manusiawi. Dan sialnya, perasaan sedih ini masih bersemayam sampai hari ini.
Kalau bisa aku jabarkan, mungkin rasanya seperti patah hati. Aneh ya? Mungkin itu sih yang lebih tepat untuk menggambarkan peristiwa ini. Kesedihan yang aku rasakan, ketika dia mengutarakan bahwa dia tak lagi meyakini kebenaran yang aku yakini, bisa dibilang seperti seseorang yang bilang, “Aku sudah tak mencintaimu lagi.” Sakit sekali. Dan sampai hari ini ternyata aku masih bisa menangis hanya karena teringat alasan-alasan yang dia ungkapkan padaku kemarin. Ternyata paru-paruku seperti langsung menyempit, membuat dada sesak kekurangan udara, bahkan dengan hanya mengingat namanya.
Aku jadi mengerti. Inilah yang dirasakan sebuah keluarga ketika mengetahui dari anggotanya ada yang berpindah agama atau keyakinan. Mengetahui seorang teman berpindah keyakinan saja sudah bisa membuat dada sakit, apalagi keluarga dekat. Namun keluasan hati untuk mau menerima keputusan orang yang kita sayangi, itu jauh lebih berarti.
Apapun pilihan dia, aku tetap akan mendukungnya dan menyayanginya apa adanya. Karena bagiku, apapun keyakinannya, dia masih orang yang sama. Dia tetap teman baikku.
***
Meninggalkan suatu agama untuk memilih agama yang lain, atau meninggalkan suatu keyakinan untuk memiliki keyakinan yang lain; adalah suatu perjalanan, bukan pengkhianatan. Bagiku, pelajaran yang aku dapat ketika kecil bahwa seseorang yang meninggalkan Islam adalah pengkhianat, merupakan pelajaran usang dan tak manusiawi. Bagiku, adalah keji menilai orang lain pengkhianat sementara yang dia jalani sebenarnya hanyalah proses pencarian kebenaran.
Tujuan kita hidup di dunia adalah menuju Tuhan. Jalannya ada banyak sekali. Dan Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Itulah mengapa setiap Rasul tidak diperkenankan memaksa umatnya untuk mengikuti kebenaran yang dia sampaikan, apalagi melalui cara-cara kekerasan. Rasul hanya diperkenankan untuk menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan kebenaran. Karena dengan kuasa Tuhan, jika Tuhan mau, maka benarlah seluruh umat manusia di dunia ini.
Berangkat dari kesadaran itulah, aku meyakini bahwa siapapun yang berpindah agama, bahkan memilih untuk tak beragama sekalipun, hanyalah seorang pengelana. Dia tak lebih dari seseorang yang sedang dalam perjalanan untuk mencari kebenaran. Pun, kalau dia tidak merasa ingin dan atau butuh dengan kebenaran, itu pilihannya. Kita, manusia, tak berhak sama sekali untuk mencapnya sebagai pengkhianat Tuhan. Sama sekali tidak berhak. Bagaimana bisa kita menyebutnya pengkhianat sementara yang dia lakukan justru adalah mencari Tuhan? Bagaimana bisa kita menganggapnya pengkhianat sementara yang dia cari adalah jalan yang Tuhan ridhoi? Atau bagaimana bisa kita menganggapnya pengkhianat Tuhan sementara dia bahkan tak yakin Tuhan itu ada?
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Itulah kenapa Tuhan hanya memberi kuasa manusia untuk saling mengingatkan satu sama lain, bukan memaksakan. Apalagi masalah keyakinan, yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun kecuali Dia Yang Maha Kuasa.
Karena itu bagiku, walaupun temanku itu sudah tak lagi meyakini kebenaran yang kuyakini, rasa sayangku tak bisa berkurang. Karena dia hanya pengelana, bukan pengkhianat. Sama seperti aku, dan kita semua, umat manusia.
*Gambar diambil dari sini.
Cuma Ingin Belajar
June 22nd, 2011 § Leave a Comment
Oleh: Lisa Aviatun Nahar
“Kalau pasanganmu punya pendidikan lebih tinggi, emang kamu ngga suka?”
“Iyalah, Cha! Dimana pride gue? Susah nanti ngejarnya.”
Ini pembicaraan saya dan seorang teman kampus berjenis kelamin laki-laki, yang terjadi di Ciwalk kemarin, Selasa 21 Juni 2011.
“Pa, kayaknya Teteh lebih realistis kalo ambil S2-nya di kampus ini, kampus ini, kampus ini.”
“Boleh boleh. Tapi Teteh ngga akan langsung ambil S2 kan setelah lulus nanti?”
Ini pembicaraan salah seorang teman perempuan saya dengan ayahnya yang dia ceritakan pada saya kemarin juga, Selasa 21 Juni 2011.
“Iya Teh. Mereka bilang saya terlalu pintar untuk mereka.”
Ini pernyataan seorang teman perempuan saya ketika kami saling bertukar pengalaman mengenai mental laki-laki Indonesia. Terjadi pada hari Sabtu malam, 18 Juni 2011, di tempat tinggal saya.
***
Masalah perempuan yang punya gelar pendidikan lebih tinggi, pernah saya coba buka di sebuah forum. Hasilnya lumayan melegakan. Sebagian besar laki-laki yang memberi komentar, tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi tidak dipungkiri bahwa ada juga laki-laki yang tidak bisa mentolerir gelar pendidikan pasangannya yang lebih tinggi darinya. Alasan klise, masalah gengsi, takut mereka tidak dihormati pasangan. Tapi itu pilihan. Sama halnya dengan kita, perempuan, yang tetap punya pilihan untuk mau meneruskan keinginan belajar kita, atau memilih untuk berhenti sejenak atau bahkan berhenti sama sekali, hanya karena tekanan stigma masyarakat bahwa perempuan dengan gelar pendidikan lebih tinggi akan susah mendapatkan pasangan.
Saya punya pengalaman lucu. Sekitar 3 hari lalu, pemilik kontrakan mendatangi saya untuk memberitahukan masalah perpanjangan kontrakan. Selesai dengan urusannya, dia bertanya pada saya, “Udah lulus, Neng?” Saya menjawab, “Alhamdulillah sudah, Pak. Tapi sekarang sedang lanjut lagi sekolahnya.” Dia terdiam sedetik. “Kapan nikah, Neng?” Saya kaget, benar-benar kaget. Saya ngga nyangka aja kalau si Bapak akan menanyakan masalah nikah. Agak tergagap saya jawab, “Ya kapan aja kalau sudah ada calonnya.” Dalam hati tertawa juga sih, kenapa ngga nyambung ya? Tapi kemudian saya berpikir lagi
Saya akui dan saya mengalami, belajar S2 ketika masih lajang begini, pikiran akan tekanan untuk menikah itu benar-benar teralihkan. Saya tidak lagi fokus mencari pasangan. Fokus saya saat ini, saya cuma ingin belajar, segera lulus, dan mencari kesempatan untuk belajar di luar negeri insya Allah. Saya ketagihan. Saya ingin melanjutkan pendidikan saya di S3 nanti.
Bukan berarti saya tidak mau menikah. Saya masih mau, alhamdulillah. Karena saya tahu, pernikahan bukan beban, ia adalah media pembelajaran baru. Seorang teman laki-laki pernah berkata pada saya, “Menikah mengajarkan saya banyak hal yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Saya belajar menjadi pemimpin, karena tanggung-jawab saya adalah mengantarkan keluarga saya ke surga.” Itu sebagian kecil di antara banyak pelajaran lain yang saya dapat dari beberapa teman yang sudah menikah dan punya anak. Menikah memang sebuah tanggung jawab, tapi bukan berarti saya tidak mau diserahi tanggung-jawab itu.
Yang saya tolak adalah halangan dari siapapun terhadap keinginan saya untuk terus belajar hanya karena khawatir saya tidak mendapat pasangan karena gelar pendidikan saya terlalu tinggi. Saya tidak terima stigma ini menghalangi jalan saya yang ingin terus belajar. Saya tidak akan pernah ikhlas pendapat ini menghalangi kaki saya yang ingin terus berlari untuk meningkatkan kualitas diri saya, seperti amanat almarhum Mbah Kakung saya.
Buat saya, yang namanya jodoh, itu akan datang dengan sendirinya ketika kita sudah dipandang siap oleh Allah. Yang saya perlukan cuma membuka diri kok. Saya membuka diri pada siapapun yang ingin membangun istana pernikahan dengan saya, dengan jalur yang benar tentu saja. Saya tidak menutup pintu sama sekali. Tapi buat saya, saya akan terus belajar. Dan saya harap, perempuan lain juga tidak membiarkan dirinya terjebak dalam stigma semacam ini, yang akhirnya akan menghentikan langkahnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya.
Tidak boleh. Karena Allah sudah menjanjikan, Dia memasangkan manusia yang kualitasnya sama tingkatannya. Ketika kita berbicara masalah kualitas diri, itu tidak menyangkut masalah pendidikan akademik semata, tapi juga pendidikan akhlak. Pendeknya, kalau ingin mendapatkan pasangan dengan kualitas yang terbaik, tingkatkan juga kualitas diri kita. Dalam segala hal: jasmani dan rohani. Insya Allah, sesuai janji-Nya, dan beriringan dengan keikhlasan serta ketakwaan, kita akan mendapatkan pasangan terbaik yang akan melengkapi perjalanan kita menuju Allah Ta’ala. Aamiin.

