Diary 2011
January 4th, 2012 § 1 Comment
Orang-orang pada rame nulis resolusi 2012. Kayaknya asik juga nih merekam jejak tahun lalu, apa saja yang terjadi, apa saja pembelajaran yang aku dapat. Dan untuk mengawali tulisan di tahun 2012 ini, aku pikir momennya pas.
Aku bukan orang yang pandai dalam mengingat suatu hal. Yang paling bisa kuingat adalah rasa yang diberikan setiap momen yang terjadi dalam hidupku. Aku ingat di tahun kemarin, aku merasa ‘agak jauh’ dengan teman-teman terdekatku. Aku menjadi orang yang ‘sendiri’, tak punya banyak kesempatan untuk kumpul dengan teman-teman yang selalu aku banggakan. Dan tanpa aku sadari, aku terseret menjadi pribadi yang tidak aku suka: mudah menilai orang lain. Betapa mudahnya terpengaruh! Aku merasa ‘jauh’ dari teman-teman yang selama ini aku banggakan sebagai sahabat. Momen kebersamaan kami begitu terbatas, ditambah dengan sifat burukku yang mungkin saja juga menjadi salah satu faktor mereka ‘agak menjauh’ dariku. Aku tak mendapat banyak kesempatan untuk mendengar curhatan mereka, cerita mereka, dan hal-hal yang biasanya kami bagi bersama. Tapi menjelang di akhir tahun 2011, semua membaik. Semua kembali. Aku kembali dekat dengan mereka. Alhamdulillah aku bisa pelan-pelan kembali menjadi diriku yang dulu, yang aku suka, yang aku rasa lebih bermanfaat bagiku dan bagi siapapun yang hadir dalam hidupku.
Di tahun kemarin pula aku dihadapkan pada sebuah masalah yang baru pertama kali ini aku harus hadapi dan selesaikan. Masalah pertemanan. Seperti postingan sebelumnya, kadang kita baru sadar kita ngga cocok berteman dengan seseorang setelah sekian lama mengenalnya. Jadi ketika kita memutuskan untuk berteman dan mengenal seseorang, selalu ada resiko untuk tidak cocok dan kita harus siap dengan jalan penyelesaian yang kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Memang sedih ketika sebuah pertemanan harus berakhir dengan tidak baik, tapi akhir pertemanan bukan akhir silaturahmi. Silaturahmi kan harus tetap dijaga bahkan dengan musuh sekalipun. Aku bersyukur diberi masalah ini, karena masalah ini telah memperkaya aku dengan keluasan wawasan tentang bagaimana menyelesaikan persoalan.
Selain itu di tahun kemarin aku mendapat pukulan berat. Aku ingin menjadi orang yang bisa memberikan kebahagiaan kepada salah satu sahabatku. Tapi ternyata niat baikku berubah menjadi masalah yang menjatuhkanku ke dalam jurang perasaan bersalah setiap kali mengingatnya kini. Aku tidak tahu kenapa harus aku yang turut serta dalam membawa penderitaan untuk sahabat yang begitu kucintai dan kubanggakan. Padahal niatku hanya satu, ingin membantu temanku sembuh dari rasa sakitnya. Tapi yang terjadi justru aku telah menggiring manusia lain yang menorehkan luka yang lebih dalam dan perih ke hati sahabatku. Sakit. Bukan hanya diderita sahabatku, tapi aku juga. Dan kemudian aku belajar satu hal, mungkin aku begitu yakin aku bisa memberikan kebahagiaan bagi temanku dengan membawa orang lain dalam hidupnya. Tapi sebenarnya mungkin bukan itu yang dia butuhkan. Yang terjadi justru bukan kebahagiaan yang aku berikan, tapi tambahan luka yang dalam.
Di antara sekian warna gelap yang menaungiku di tahun 2011 kemarin, ada secercah warna cerah yang mempengaruhi cara pandangku bahkan pada diriku sendiri. Di tahun ini aku diberi kesadaran bahwa masih ada laki-laki baik di Indonesia ini. Heu. Kedengeran lebay tapi memang itu yang aku pikirkan ketika seorang laki-laki yang tak pernah aku tahu dan duga sebelumnya, menyatakan bahwa dia ingin serius denganku. Sebelumnya, pengalaman yang aku dapatkan mengenai laki-laki di Indonesia begitu mengecewakan. Dan akhirnya aku berkesimpulan bahwa hampir semua laki-laki di Indonesia memiliki kualitas yang tak bisa aku harapkan. Tapi ketika dia datang, ternyata semua jadi berbeda. Dia bisa melihat sisi terbaikku ketika hampir semua orang hanya bisa melihat sisi terburukku. Dia bisa menghargai kualitas pribadiku, ketika hampir semua orang hanya bisa menilai kualitas penampilan luarku. Aku kemudian belajar, ketika kondisi di sekitar kita tidak sesuai dengan yang kita harapkan, penyelesaiannya bukan dengan menghakimi kemudian lari dari tempat kita berdiri saat ini. Tapi kita bisa mengubah keadaan dengan menciptakan kondisi yang kita inginkan/harapkan. Dan aku harap, aku bisa melahirkan manusia-manusia dengan akhlak dan kualitas yang lebih baik, sesuai dengan yang aku harapkan ada pada diri manusia-manusia di Indonesia yang sayangnya jarang aku temukan. Aamiin. Allah telah mempertemukanku dengan seseorang yang entah kenapa aku yakin bisa mendukungku mencapai apa yang aku harapkan. Kini, aku hanya perlu konsisten untuk meraih harapanku.
Di tahun 2012 ini, aku sudah punya berbagai rencana. Yang pasti aku ingin lulus tepat waktu di tahun ini. Itu resolusi dengan skala prioritas saat ini. Ketika surat kelulusan sudah di tangan, aku bisa bergerak ke rencana lainnya. Menikah insya Allah. Aamiin allahumma aamiin. Hehe.
Setelah itu, aku ingin mengalir saja. Apa yang Allah rencanakan dalam hidupku, aku ingin menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Karena Dia adalah sebaik-baik Perencana.
Hmm.. Ok