Eppie si Tablet
February 7th, 2012 § Leave a Comment
Kalau ngomongin teknologi, dan juga berusaha untuk terus mengikuti trennya, ngga akan pernah ada kata habis. Dan kayaknya, kalau kita ngga bisa mengendalikan diri dengan rasa syukur, kita pasti akan terbawa arus. Atau, kalau ngga bisa terbawa arus, kitanya yang stres.
Itu sempat aku rasakan banget.
Bulan lalu ketika ke Jakarta, aku dibelikan tablet murah sama Papa. Ngga ada rencana saat itu dan aku ngga minta sama sekali. Memang sih beli tablet adalah rencana yang udah aku pikirkan, tapi nanti. Aku juga ngga menyangka kalau proses pembeliannya akan sangat cepat. Tanpa mencari tahu kemana-mana, tanpa bertanya ke temen-temen yang punya wawasan tentang IT, dan nekat berbekal alasan ‘mumpung di Jakarta’. Akhirnya aku dan Papaku yang sebenarnya minim banget pengetahuannya tentang gadget, asal memilih toko dan akhirnya berujung pada asal membeli tablet. Yang murah-murah aja tentunya (pastinya merk Cina), mengingat kebutuhanku ngga begitu banyak.
Baru 5 hari pakai, si tablet mulai rewel. Entah karena memang kualitasnya yang ngga sebagus Samsung apalagi Apple, atau memang akunya juga yang kurang paham gimana menggunakannya. Tepatnya sih di akhir bulan aku ke Jakarta lagi dan si tablet diganti dengan yang baru oleh distributornya. Yak, distributor yang merangkap sebagai service centre ini tempatnya juga lebih mencerminkan toko grosiran dengan penuh kardus berisi gadget-gadget murah. Well, ngga masalah sih. Yang penting mereka mau ganti baru tanpa birokrasi yang ribet. Itu udah aku apresiasi banget.
Tadinya, mengingat emosi yang ditimbulkan si tablet di awal pemakaian, aku udah berniat banget untuk menjual saja si tablet dan mengganti dengan yang lebih bagus kualitasnya walaupun akan lebih mahal. Tapi setelah browsing, harganya jatuh banget. Dan setelah diskusi panjang sama adik dan temen, akhirnya aku putuskan untuk ‘berdamai’ saja dengan si tablet. Aku percaya kalau kita sehati sama barang kita, biasanya hubungannya langgeng dan awet. Dan aku berharap yang sama dengan si tablet. Hehe
Tapi kemudian, datanglah hari kemarin.
Aku nemenin adikku keliling-keliling BEC. Dan ternyata ada banyak banget tablet yang harganya jauh lebih murah dengan kejelasan garansi yang lebih nyata daripada tabletku. Udah gitu, harga gadget Samsung ternyata ngga semua diluar jangkauan aku. Masih ada yang terjangkau. Dan itu memenjarakan aku dalam dilema dan rasa penyesalan yang luar biasa selama kurang lebih satu jam.
Aku dihantam perasaan kurang bersyukur karena kesalahanku sendiri.
Yah, sejam yang menyiksa lah kemarin itu. Setiap toko menawarkan gadget dengan harga yang bersaing. Dan aku cuma bisa memandangi mereka tanpa daya, dengan begitu banyaknya kata ‘seandainya’ yang berseliweran di kepala. Aku bilang ke adikku, “Ayo pulang aja. Lama-lama di sini ngga sehat. Semakin menjauhkan aku dari rasa bersyukur.”
Tapi kemudian, setelah sejam berlalu, tiba-tiba pikiranku jadi tenang aja. Ngga tahu kenapa. Ya mungkin capek juga kali berperang dengan stres melihat ada begitu banyaknya gadget yang ternyata lebih baik dan bisa dijangkau. Aku jadi ngga bernafsu aja melihat gadget-gadget yang berseliweran itu, yang tadinya membuatku diaduk-aduk perasaan ngga keruan selama sejam. Pada akhirnya, ketika aku lihat lagi tabletku, menyentuhnya dan menggunakannya, aku tiba-tiba jadi merasa cukup. Aku merasa aku cukup puas dengan tabletku. Dan sekarang juga aku udah tahu gimana mengatasinya kalau dia nge-hang. Dan selama dia ngga bermasalah, kayaknya aku ngga akan merasa menyesal lagi karena sudah membelinya.
Lucu juga sih kalau dipikir-pikir. Kayaknya untuk bisa merasa cukup, kadang aku perlu dibuat lelah dulu, tersiksa dulu. Baru deh aku sadar bahwa apa yang aku miliki udah cukup kok. Yang perlu aku lakukan cuma bersyukur aja. Kalau udah bersyukur, segalanya jadi ngga begitu berpengaruh. Jadi ngga diperbudak keinginan-keinginan yang makin tak terbatas. Tenang dan damai. Hehe