Salahkah Menikahi ‘Mantan’ dari Sahabat Sendiri?

Luna Maya, Reino Barack, dan Syahrini lagi jadi topik hangat ya. Satu sisi saya sedih juga kalau jadi Luna Maya. Tapi di sisi lain Reino dan Syahrini juga nggak bisa disalahkan.

Kenapa? Ya karena logikanya mereka nggak salah.

Secara logika, kita tak bisa menyalahkan sahabat kita dan ‘mantan calon pasangan’ kita bila mereka menikah.

Memang dalam persahabatan ada etika. Tetapi dalam hal jodoh, tak bisa kita paksakan sepenuhnya. Karena dalam hal jodoh, ada campur tangan Allah SWT.

Kalau kemudian kita minta sahabat kita untuk menghargai perasaan kita dengan tidak menikahi ‘mantan calon pasangan’ kita, sementara kalau ternyata si ‘mantan calon pasangan’ kita itu adalah jodoh terbaik yang sudah ditakdirkan Allah untuk sahabat kita, apakah itu bukan berarti kita sudah meminta sahabat kita untuk menolak jodoh terbaik yang sudah dipilihkan Tuhan untuknya?

Bukankah itu tidak adil baginya?

Betul perasaan kita akan terluka. Tapi kita pun tak boleh ‘zalim’.

Karena sejujurnya, tak ada larangan syariat mengenai menikah dengan mantan dari sahabat kita (atau orang dekat lainnya). Karena tak ada larangan syariat, ya berarti tidak ada dosa atau karmanya.

Dulu ada satu kisah di jaman Rasulullah Saw. Kisah Salman Al-Farisi ra. dan sahabatnya Abu Darda’ ra. Ada banyak kisah ini dituliskan di internet, silakan dicari lebih rincinya seperti apa.

Salman Al-Farisi ra. meminta Abu Darda’ untuk menemaninya melamar seorang perempuan. Mahar pun telah disiapkannya.

Ketika sudah di rumah perempuan tersebut dan menyatakan maksudnya ke orangtua si perempuan, orangtua si perempuan menyatakan rasa senangnya akan lamaran tersebut. Tapi mereka memberikan hak jawab sepenuhnya kepada anaknya.

Ternyata, jawaban yang diberikan sang perempuan sungguh di luar dugaan.

Sang perempuan menolak lamaran Salman Al-Farisi ra. Tetapi dikatakan oleh perempuan tersebut melalui ibunya, bila Abu Darda’ yang melamar, maka lamaran akan diterima.

Bagaimana rasanya jadi Salman Al-Farisi ra.? Ditolak di depan orang, dan yang dilamar malah maunya sama orang yang mengantarkannya.

Tapi beliau ra. berbesar hati. Beliau menyatakan akan memberikan maharnya kepada Abu Darda’ dan bersedia menjadi saksi nikahnya.

Sebuah perilaku yang begitu luhur yang ditunjukkan oleh Salman Al-Farisi. Beliau sadar selama belum ada ijab kabul berarti beliau tak ada hak atas diri sang wanita tersebut. Dan beliaupun menjunjung tinggi nilai persahabatannya dengan Abu Darda’ sehingga hal sebesar inipun tak sampai menggoyahkan hatinya dan persahabatan mereka.

Ini menjadi bukti bahwa tak ada dosa dan karma ketika sahabat kita menikahi orang yang tadinya kita ingin nikahi. Sehingga kita tak bisa menyalahkan mereka. Pun kita juga tak bisa menganggap mereka menyalahi etika persahabatan. Karena seharusnya persahabatan yang tulus itu dilandasi perasaan bahagia apabila sahabatnya bahagia, bukan?

Jadi, kita tak bisa menyalahkan sahabat kita yang menikah dengan ‘mantan’ kita. Karena hal tersebut bukan pelanggaran syariat, pun bukan pula pelanggaran etika persahabatan.

Sulit memang untuk menerima kenyataan bahwa kita tak bisa menikah dengan orang yang (mungkin sudah sekian lama) kita cintai dan ingin kita nikahi. Menjadi tambah sulit ketika kita tahu ternyata hanya butuh waktu sebentar bagi ‘mantan’ kita move on dan yakin untuk menikahi orang lain yang bahkan adalah sahabat kita sendiri.

Tapi, seperti layaknya jatuh cinta, patah hatipun memerlukan logika untuk tetap berpikir dengan benar. Dan bertindak dengan benar.

Karena terkadang memang alasan tidak jadinya kita dengan orang tersebut adalah sesederhana ‘bukan jodoh yang terbaik’ untuk kita. Dan jadinya dia dengan sahabat kita sesederhana alasan ‘sudah jodoh yang terbaik’.

Nggak perlu menyalahkan siapa-siapa, termasuk diri sendiri. Cukup terima dan move on in the best way.

Baby on the Plane: Duduk Sendiri

Tanggal 1 Januari kemarin saya dan si anak bayi kembali ke Sulawesi Selatan setelah menghabiskan waktu 2 bulan di Kalimantan. Pas lagi nunggu di bandara sebelum ke lobi, si anak bayi tidur nyenyak. Saya udah lega dan berdoa semoga dia tidur nyenyak sampai Makassar.

Tapi ternyata doa saya nggak dikabulkan. Si anak bayi bangun pas kita mau naik pesawat. Hmm.. Doanya diganti deh, mudah-mudahan dia nggak rewel selama di pesawat.

Kebetulan saya dapat seat di tengah. Saya minta ke pramugari supaya saya bisa duduk di dekat lorong. Dan Alhamdulillah dikabulkan.

Sampai pintu pesawat ditutup, seat tengah itu ternyata kosong. Tapi si anak bayi masih saya pangku. Dia juga Alhamdulillah masih tenang, nggak rewel.

Di tengah perjalanan saya baru kepikiran, apa saya taruh aja nih anak bayi di seat tengah? Seat belt nya tetap dipakai.

Ternyata pas saya taruh dia di kursi, dia happy banget. Lihat-lihat petunjuk keamanan, makan minum, main sama mainannya, anteng banget. Saya videokan juga senyum-senyum seneng.

Sepertinya dia seneng bisa duduk di kursi sendiri. Nyaman duduk sendiri, bukan di pangkuan saya lagi.

Terus saya jadi nggak sabar lihat dia lagi di pesawat dengan kursinya sendiri. Walau harus bayar tiketnya full, tapi kayaknya seneng aja gitu bayangin dia bisa anteng, nyaman, dan happy di pesawat karena duduk di kursinya sendiri.

Kalau mikir harus bayar full, emang jadi kurang menyenangkan ya. Makanya banyak orangtua yang suka sedih kalo mau traveling di saat anaknya udah usia 2 tahun. Karena sebelumnya mereka hanya bayar paling cuma 10%, kemudian harus full. Apalagi sekarang harga tiket udah meroket.

Tapi ya ambil positifnya aja. Anak bakalan seneng kalo duduk sendiri di kursinya. Dan lihat anak ngerasa nyaman dan seneng, itu bikin orangtuanya happy juga 😁

Patuh/Takut?

Kalau harus dibandingkan, si balita ini ternyata lebih patuh sama saya, Bundanya, dibanding ke Ayahnya. Ya soalnya Bundanya galak. Hehe

Misalnya dia pegang sesuatu, terus kami minta karena entah kotor atau berbahaya. Ketika ayahnya yang minta, dia nggak segan menolak. Begitu saya yang minta, dia langsung kasih.

Ada kalanya dia nggak mau kasih tapi kalau dibandingkan sering mana dia nurut ke saya atau ke ayahnya, seringnya ke saya. Kayaknya. 😁

Nggak tahu ya, susah banget ya mau jadi ibu yang lembut tuh. Emang dasarnya karakter lembut itu nggak mengalir dalam darah ya, jadinya susah. Perlu usaha.

Usaha buat lembut jadi tambah susah saat udah punya anak yang semakin besar. Semakin lincah kesana kemari. Yang pengen tahu segalanya. Pengen pegang apapun yang menarik perhatiannya.

Sementara sebagai ibu yang apa-apa dikerjain sendiri (tanpa bantuan ART atau babysitter), saya juga punya pekerjaan yang juga harus diselesaikan.

Jadinya, ketika lagi ngerjain sesuatu dan anak lagi ketahuan pegang sesuatu yang nggak berkenan di hati, kepanikan spontan akhirnya membuat saya nggak sadar memanggilnya dengan nada agak tinggi.

Atau misalnya ketika si balita mau melangkah ke dapur atau keluar rumah, saya suka larang dengan kata “eeeh” agak panjang dan agak keras. Biasanya dia suka nangis kalau saya panggil dengan nada begitu. Dia nggak mau dilarang.

Dengan kebiasaan ini, ya akhirnya memang citra saya di benak si balita adalah ibu yang galak. Jadinya kalau saya minta dia serahkan barang yang sedang dia pegang, dia patuh (atau takut?) saja.

Atau kalau saya larang dia ke dapur atau keluar, ya dia nangis, tapi tetep nurut.

Padahal kalo soal takut, Alhamdulillah sih hampir nggak ada ketakutan yang pernah ditunjukkan sama si balita ini. Pegang binatang dia oke-oke aja. Ke tempat gelap juga berani aja. Karena memang kami nggak pernah menanamkan ketakutan di benaknya.

Kayaknya yang dia takutkan cuma satu. Saya. Kalau lagi marah. Hehe.

Posting Tulisan

Inget banget dulu saking gabutnya di kosan di masa-masa skripsi, posting di blog sampe 4-7 tulisan. Sehari. Ckckck bener-bener gabut.

Postingannya ya nggak jelas ya. Cuma sekedar cuap-cuap nggak penting. Unfaedah lah pokoknya.

Padahal saat itu, ngeblog hanya bisa dari laptop. Tapi saking gabut dan over confidence sama tulisan sendiri, posting 4-7 tulisan juga hayuk aja walau nggak berfaedah.

Tapi sekarang, ketika teknologi semakin maju, ngeblog bahkan tinggal buka hape beberapa detik, posting tulisan malah makin jarang.

Bukan hanya karena sudah ada anak dll, tapi memang sekarang tuh kalau mau posting tulisan, banyak yang dipikirin.

Tulisannya bagus nggak, bermanfaat nggak, penting nggak, dan lain sebagainya.

Kalau baca postingan blogger-blogger lain yang saya follow, kayaknya mereka asik aja gitu nulisnya. Apa aja jadi menarik untuk dibaca. Padahal cuma cerita iseng sehari-hari. Tapi seneng aja bacanya.

Pengen juga kayak gitu sih. Makanya di postingan sebelum ini, tulisannya pendek banget. Isinya cuma cerita soal si anak balita yang minta cuddling sama Bundanya.

Ya ceritanya saya pengen juga kayak blogger lain yang bisa posting tulisan ringan tapi menyenangkan untuk dibaca.

Mudah-mudahan menarik sih ya. Kalau nggak, yaudah gapapa. 😁

Cuddling with Me, Bun

Tadi pagi, si anak balita kan tidur jam setengah 10. Saya juga ikutan tidur. Dia membuat kita terbangun jam 10:10.

Saya sedang rendam cucian. Begitu bangun, saya langsung bilas sekalian ngeringin cucian di mesin cuci. Eh si balita nangis karena saya bangkit dari kasur.

Saya balik lagi ke kasur, ternyata dia minta kita cuddling gitu. Pengen manja-manjaan sama bundanya. Nyiumin dan megangin wajah bundanya.

Beberapa kali tiap saya bangkit dari kasur mau bilas dan ngeringin cucian, dia pasti nangis.

Tumben banget ini dia so sweet gitu. Padahal emaknya ini galak banget 😁😁

Cinta Kasih Anak

Sebagai ibu, dan sebagai pribadi, saya bukan termasuk orang yang sabar. Saya tergolong orang yang emosional. Walau saya terus berusaha dan belajar untuk menahan emosi, terutama ketika menghadapi perkembangan anak, ada kalanya saya kelepasan juga.

Setelah beberapa menit saya dikuasai marah atau kesal, di beberapa menit berikutnya saya pasti dihantam perasaan bersalah dan menyesal karena gagal menahan diri. Merutuki diri sendiri karena merasa gagal menjadi ibu yang baik.

Tapi kemudian saya (harus) bangkit lagi. Belajar lagi dan lagi, terus menerus, menjadi ibu yang sabar menghadapi anak dengan segala perkembangannya.

Anak adalah guru. Lewat tingkah laku nya, kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih pintar, lebih berwawasan, dan masih banyak lagi.

Tapi, ada satu hal berkesan yang saya pelajari dari anak-anak, termasuk anak saya. Seberapapun emosinya saya di saat-saat tertentu ketika menghadapinya, dia selalu dan selalu kembali ke saya dengan perasaan penuh cinta.

Kalau dia butuh makan, minum atau kenyamanan, yang dia cari saya. Setiap hari tak pernah lewat begitu saja tanpa dia mendekati saya, menciumi dan memeluk saya.

Membuat saya sadar bahwa anak-anak memang hatinya begitu bersih, putih, murni. Mereka terlahir dengan perasaan cinta yang berlimpah. Tak ada kebencian dan dendam di hati mereka.

Ini juga menjadikan saya sadar, malu, dan kemudian belajar untuk membalas cinta dan rasa sayangnya. Saya sadar saya harus bisa dan mau bersabar menghadapi tingkah lakunya.

Tips yang saya baca, kalau ibu emosi, harus berdiam diri atau pergi sejenak dari hadapan sang anak. Tenangkan diri hingga emosi reda. Baru kembali lagi ke anak.

Insyaallah saya akan terus belajar.

Tingkah laku anak-anak memang bergantian antara menggemaskan dan menguji kesabaran. Tapi satu yang pasti, mereka hadir untuk memberi kebahagiaan. Sebagaimana mereka senantiasa menghadirkan cinta dari hatinya, begitupula mereka menginginkan cinta dari orang-orang di sekelilingnya.

Dan sebagai orangtua, seharusnya menjadi yang terdepan dalam menyediakan cinta yang diinginkan anak-anaknya.

Memilih Belanja Online

Setelah punya anak, yang namanya keliling-keliling untuk belanja tuh menjadi kegiatan yang melelahkan. Nggak tahu apa karena faktor usia juga kali ya. Tapi memang setelah punya anak, kegiatan ini tuh memang sangat melelahkan.

Ya capek aja rasanya kalau keliling-keliling nyari barang sambil gendong anak. Karena kan nggak semua tempat belanja itu stroller friendly ya. Tapi pake stroller pun tetep aja capek lho. Walaupun belanjanya ke mall yang tempatnya terbilang nyaman, adem, luas, stroller friendly, tetep aja bikin males.

Makanya sekarang saya lebih memilih belanja online. Lebih hemat tenaga dan waktu. Yang jadi masalah paling besar hanya mahalnya ongkir aja. Hehe.

Bulan lalu saya mudik ke Garut, tempat mertua. Tadinya saya niat mau belanja di berbagai pusat perbelanjaan di Garut. Tapi kemudian saya mikir lagi, lebih enak belanja online aja. Harganya sering lebih murah atau nggak beda jauh. Dan mumpung di Garut, ongkirnya juga akan jauh lebih murah. Jadinya niat belanja offline saya batalkan, saya memilih belanja online saja.

Lucu juga sih, jauh-jauh ke Garut tetep aja belanjanya online juga. Sekarang mah mikirnya, mumpung di Pulau Jawa, belanja online yang banyak karena ongkirnya nggak mahal. Kalau sudah ke Sulawesi atau Kalimantan, ongkirnya bisa 2-3 kali lipat. Lebih mahal ongkir daripada barang yang mau dibeli. Hehe.

Alhamdulillah ya teknologi memang sangat memudahkan kita untuk melakukan apapun, termasuk belanja. Ya walau memang selalu ada resiko kecewa barangnya nggak sesuai harapan. Tapi namanya belanja offline maupun online ya sama aja resikonya menurut saya.

Saya juga dulu sebelum menikah, tergolong orang yang doyan belanja. Dan udah nggak terhitung juga berapa kali saya kecewa sama barang yang saya beli. Padahal saya udah lihat fisiknya, sudah penuh pertimbangan juga beli apa nggak. Toh tetap saja dilanda kecewa. Jadi mau belanja offline ataupun online, sama aja sih resiko kekecewaannya.

Memang sih ketika belanja online, kita harus ekstra hati-hati karena kita nggak bertatap langsung sama penjual dan barangnya. Makanya saya sendiri butuh pertimbangan matang untuk membeli sebuah barang, dan online shop yang saya pilih untuk saya beli barangnya. Bisa berbulan-bulan saya mengamati sebuah online shop, apakah barangnya berkualitas dan penjualnya bisa dipercaya.

Tapi sekarang, dengan adanya mobile marketplace, belanja online jadi lebih aman. Paling nggak, kita nggak perlu kecewa ditipu. Kekecewaan kita akan berkurang jadi hanya berkutat di kualitas barang dan pelayanan penjualnya aja.

Jadi lebih nyaman, kan?! Hehe