Berjuang Sendiri

Kemarin, Bunda melihatmu untuk pertama kalinya. Dalam rahim Bunda, melalui monitor USG. Ayah dan Bunda kira, kamu masih berupa seonggok daging. Ternyata, kamu sudah besar. Sudah terlihat bentuk kepalamu, kakimu, tulang punggungmu, bahkan jantungmu. Kata dokter, kamu sudah berusia 16 minggu. Sudah 4 bulan!

Ya Allah.. Bunda rasanya ingin menangis, bahagia lihat kamu bergerak. Keajaiban dalam tubuh Bunda. Kamu ada di rahim Bunda. Sehat. Aktif. Rasanya Bunda nggak mau berhenti lihatin kamu di USG. Kalau bisa, inginnya tiap detik bisa lihat kamu bergerak di rahim Bunda. 

Tapi, Bunda merasa bersalah.. Selama 4 bulan ini, ternyata kamu berjuang sendirian ya Nak. 😭 Berjuang bertahan dari segala goncangan dalam perjalanan jauh yang Bunda lakukan bersama Ayah. Berjuang bertahan menangkis serangan makanan dan jajanan tak sehat yang Bunda makan. Berjuang bertahan membentengi diri dari tekanan ketika Bunda dengan santainya berbaring tengkurep ketika nonton tipi.

Duh, maafkan Bunda ya Nak.. Kali ini Ayah dan Bunda akan sekuat tenaga menjagamu. Bunda akan benar-benar menjaga kesehatan Bunda dan juga kesehatanmu. Tetap kuat dan sehat ya, Sayangku. Cintaku. ❤❤❤

Tiba di Stasiun ‘H’

Alhamdulillah.. Setelah dua kali kecewa melihat test pack yang hanya menunjukkan satu garis, Kamis 30 Maret 2017, bibir saya dibuatnya tersenyum bahagia ketika melihat dua garis di lembar test pack. Kebahagiaan yang begitu membuncah sampai rasanya ingin melompat tapi langsung teringat ada janin yang kini berkembang di rahim saya.

Suami yang tengah terlelap karena memang saya melakukan test pack ini jam 3 pagi, saya bangunkan karena terlalu gembira. Kami tersenyum bahagia. 

Tapi suami masih belum terlalu yakin sebelum memastikannya ke dokter. Sementara saya sudah agak lebih yakin mengingat ada beberapa perubahan tubuh yang saya rasakan.

Sekitar pukul 10 pagi kami berangkat ke rumah sakit. Sayangnya dokter kandungannya baru ada tanggal 4 April, maka kami melakukan test lab saja.

Dan Alhamdulillah.. Lagi-lagi hasilnya positif. Kebahagiaan kami menjadi pasti. Dan saya langsung spontan melambatkan jalan saya, berhati-hati dalam melangkah demi menjaga janin dalam rahim saya. 😁

Kabar kehamilan ini, yang sudah kami tunggu kurang lebih 2,5 tahun semenjak saya lulus kuliah dan mendampingi suami (walau kami sudah menikah 5 tahun), menjadi berita yang tidak hanya membahagiakan saya dan suami, tetapi juga keluarga besar dan orang-orang terdekat kami. Semua merasakan haru seperti yang saya dan suami rasakan. 

Saya sempat merasa ‘jatuh’ dan mempersiapkan diri bila Allah SWT. tak mempercayakan kami keturunan. Walau harapan tak pernah pudar, doa tak pernah henti, dan usaha tak pernah mengendur. 

Setelah surat dari Sang Khalifah tiba, saya merasa itulah wujud kepastian terkabulnya doa beliau. Allah SWT. mempercayai saya dan suami, menitipkan karunia-Nya pada kami. Alhamdulillah.. 

Tak cukup kata-kata dan tindakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih pada Allah Ta’ala. Betapa Dia tak pernah berhenti menyayangi hamba-hambaNya, bagaimanapun keadaannya.

Alhamdulillah kini saya tiba di sebuah stasiun kehidupan yang bernama kehamilan. Merasakan senangnya dipanggil bumil, ikhlas melepaskan dulu makanan-makanan kesukaan yang tak baik bagi janin, juga mengkonsumsi segala makanan terbaik untuk gizi sang janin walau rasanya tidak enak, dan terlebih lagi menjalani segala rasa sakit dan ketidaknyamanan yang sedang dan akan dirasakan selama proses kehamilan ini.

Insya Allah saya siap. Mungkin kehamilan ini yang membuat saya siap menjalani semuanya. Insya Allah..

Semoga engkau senantiasa sehat dan kuat, Nak. Ayah dan Bunda selalu bangga dan mencintaimu. Kita berjuang bersama ya.. Untuk terus sehat, hingga nanti kamu melihat dunia dengan selamat.. 😘😘😘

Percakapan Imajinasi: Cadar

​Hari ini ada pengalaman yang sebenarnya nggak unik juga untuk seorang niqabi seperti saya, tetapi cukup membuat saya tergelitik aja untuk mengabadikannya di blog.

Jadi hari ini saya berpapasan dengan seorang tetangga lelaki usia paruh baya. Kebetulan saya mau belanja keluar rumah dan beliau baru datang naik motor bersama seorang perempuan, kemungkinan istrinya (maklum saya warga baru dan belum kenal banyak tetangga). Perempuan yang dibonceng tersebut sudah masuk ke dalam rumah. Tetapi si Bapak ini sengaja turun dari motor pelan-pelan dan seperti menunggu kami berpapasan.

Ketika kami akhirnya berpapasan, beliau menatap saya tanpa henti. Tatapan tajam, serius, dan penuh curiga. Saya memutuskan untuk menganggukkan kepala tanda menyapanya. Dia menggoreskan senyum sangat tipis di bibirnya.

Sebenarnya kejadian semacam ini sudah sering terjadi ya. Maksudnya tatapan serius dan keheranan sudah sering ditujukan ke saya dan saya sudah terbiasa. Saking terbiasanya saya tidak menganggapnya istimewa sehingga layak saya beri perhatian penuh.

Tetapi kemudian, yang membuat saya tergelitik dengan tatapan si Bapak hari ini adalah tiba-tiba dalam benak saya ada semacam percakapan imajinasi dengan diri saya sendiri. Saya mengandaikan kalau saya mengikuti orang-orang yang menginginkan saya melepas cadar dan berpakaian biasa layaknya mereka. Kemungkinan mereka akan berkata, “Ya, biasa aja gini pakaiannya. Nggak usah pake cadar-cadar segala. Kayak teroris aja.”

Apakah saya akan merasa nyaman dan bahagia dengan komentar itu? Apakah komentar itu kemudian membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, paling tidak, lebih baik dalam pandangan saya sendiri?

Ternyata saya bisa jawab sendiri dengan begitu yakinnya. Dan jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah tidak, tidak dan tidak.

Saya kemudian berkata dalam benak saya, “Kenapa saya harus mengikuti perkataan orang lain apa yang baik dan nyaman untuk saya pakai sendiri? Kenapa saya harus mengikuti keinginan orang lain? Saya pribadi yang bebas dalam menemukan dan menentukan apa yang baik, nyaman, dan pantas untuk diri saya sendiri. Dan cadar sendiri bukanlah sesuatu yang begitu saja saya ikuti tanpa saya temukan makna dan tujuannya. Saya mencari tahu sendiri apa itu cadar dan segala seluk beluknya, hingga tiba pada keyakinan bahwa saya sebaiknya pakai cadar.”

Saya sadar bahwa kondisi sekarang sedang memanas, seiring dengan seringnya berita densus 88 menemukan teroris menjelang Natal dan Tahun Baru. Merupakan hal yang wajar sih kalau kemudian saya dijadikan sasaran kecurigaan, walaupun itu hanya karena pakaian saya. Karena ya citra niqabi sudah terlanjur lekat dengan terorisme. Dan ini citra yang sudah global.

Tetapi, orang-orang yang merasa aneh, heran, atau bahkan takut dengan selembar kain yang menutupi wajah saya, sebenarnya hanya belum tahu. Mereka perlu diberikan cakrawala baru, pemahaman baru, wawasan baru mengenai cadar. Kalau mereka hanya terbiasa dengan penampilan yang ada di sekitar mereka, pandangan mereka tidak akan luas. Wawasan mereka hanya berkisar itu-itu saja.

Begitupula, bila mereka hanya terbiasa dengan citra niqabi yang sudah melekat, yang misterius, kaku, nggak mau bergaul sama tetangga, yang pemahamannya keras cenderung radikal, maka tidak akan ada perbaikan dan kemajuan bagi setiap individu. Prasangka-prasangka semacam ini harus dikikis dan dihilangkan. Meskipun harus dengan merayap perlahan.

Masyarakat harus bisa dan mulai terbiasa dengan adanya wawasan baru mengenai penampilan dan keilmuan mereka sendiri dalam beragama. Dan saya dengan sangat senang hati menjadi salah satu orang yang memperbaharui wawasan, pemahaman, dan pandangan masyarakat.

(Gambar: http://www.deviantart.com/browse/all/?q=niqab&offset=10)

​BENARKAH PELECEHAN PEREMPUAN DALAM ISLAM?

(Foto: https://twitter.com/TogaMD/status/809695590082711552)

Salah satu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai perempuan di Indonesia adalah adanya pandangan bahkan dari kaum Muslim di negeri ini bahwa tidak masalah melakukan pelecehan –baik verbal maupun fisik– terhadap perempuan-perempuan yang dianggap tidak menutup auratnya dengan benar.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Beberapa perempuan melaporkan adanya pelecehan seksual berupa kekerasan verbal yang dilakukan oknum-oknum peserta aksi 212. Perempuan yang mendapat pelecehan verbal ini ada yang berhijab dan ada yang tidak.

Dalam salah satu akun Twitter perempuan yang melaporkan pelecehan ini, ada perdebatan yang muncul. Ada laki-laki yang mengatakan bahwa oknum yang melakukan pelecehan tersebut mungkin bermaksud memberikan efek jera pada perempuan tersebut yang tidak berhijab.

Benarkah perilaku ini dalam Islam?

Pertama, yang selama ini disalah-pahami oleh kaum lelaki adalah anggapan bahwa hijabnya perempuan diperintahkan Allah Ta’ala untuk membantu lelaki agar tak liar pandangannya. Sehingga secara tidak langsung, kaum laki-laki ini berasumsi bahwa hijabnya perempuan ini untuk laki-laki. Oleh karenanya, kalau ada perempuan tidak berhijab dan digoda laki-laki, maka itu kesalahan perempuannya karena dia tidak berhijab. Sedangkan kalau perempuannya berhijab dan masih juga digoda, maka pasti hijabnya bukan hijab syar’i.

Padahal, Al-Qur’an tak pernah menyatakan bahwa perempuan berhijab itu untuk laki-laki. Walaupun memang hijab bisa memberi rasa aman dan terlindungi bagi perempuan dari pandangan laki-laki berakhlak buruk, tetapi tujuan utama hijab bukan untuk laki-laki. 

Al-Qur’an menyatakan bahwa:

Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin wanita, bahwa mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali kepada suaminya, atau kepada bapaknya, atau bapak suaminya, atau anak lelakinya atau anak lelaki suaminya atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan teman mereka atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengetahui tentang bagian-bagian aurat wanita. Dan janganlah mereka itu menghentakkan kaki mereka, sehingga dapat diketahui apa yang mereka sembunyikan dari kecantikan mereka. Dan kembalilah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu mendapat kebahagiaan. (QS. An-Nur 24: 32)

Tidak ada Al-Qur’an menyatakan bahwa perempuan harus menutup auratnya untuk laki-laki, atau untuk membantu laki-laki agar tak terpancing nafsunya. Tidak ada. 

Betul bahwa kemudian dijelaskan dalam tafsirnya bahwa perintah atau anjuran ini turun agar perempuan merasa aman dan dijauhkan dari perasaan risih dilihat oleh laki-laki yang akhlaknya meragukan. Tetapi di akhir ayat, Allah menyatakan bahwa, “Dan kembalilah kamu sekalian kepada Allah.” Artinya, hijabnya perempuan adalah untuk menjadikan hati dan pikiran perempuan fokus kepada Allah Ta’ala. Agar perempuan bisa suci baik lahir maupun batin sehingga ia bisa fokus mengerjakan amalan-amalan yang mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala.

Dengan kata lain, perempuan berhijab untuk Allah Ta’ala. Selain sebagai wujud ketaatannya pada perintah Allah, hijab adalah sarana bagi perempuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. 

Sedangkan laki-laki memiliki tugasnya sendiri, yaitu menundukkan pandangannya. Bahkan perintah untuk menundukkan pandangan ini LEBIH DULU diperintahkan kepada laki-laki daripada perempuan. Bisa dilihat dalam QS. An-Nur 24: 31. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa laki-laki lah yang seharusnya lebih dulu menghijabi dirinya.

Dengan demikian, laki-laki tidak punya hak untuk memaksa perempuan berhijab, apalagi dengan alasan bahwa hijab perempuan itu semata-mata untuk menjaga perempuan dari mereka. Jelas ini salah karena:

  1. Laki-laki tersebut tidak melaksanakan tugasnya dalam Al-Qur’an, yaitu gadhdhu bashar –menundukkan pandangan mereka.
  2. Bila mereka tidak melakukan, berarti mereka sendiri tidak taat pada perintah Allah Ta’ala. Bila mereka sendiri tidak taat pada Allah Ta’ala, atas dasar apa mereka menuntut dan memaksa perempuan untuk taat pada perintah mereka yang bahkan bukan siapa-siapa?
  3. Bila taat pada perintah Al-Qur’an saja tidak, bagaimana mereka paham dengan alasan di balik perintah tersebut? Bila mereka tidak paham, jelas mereka juga tidak akan paham bahwa perintah perempuan untuk berhijab itu bukan untuk mereka.

Yang lebih parahnya, sudah jelas kaum laki-laki ini tidak paham alasan diperintahkannya berhijab bagi perempuan, mereka merasa berhak untuk melecehkan. Gilanya lagi, pelecehan ini didasarkan atas alasan “untuk memberi efek jera.”

Alasan ini jelas tidak bisa dibenarkan dalam Islam.

Pertama, Rasulullah SAW. sangat mengutuk pelecehan terhadap perempuan. Hal ini tergambar dalam sebuah kisah di mana ada seorang penyair ternama, Kaab bin Zuhair, yang sambil menyerang kehormatan perempuan-perempuan Islam dia suka menggubah syair-syair yang sangat jorok. Rasulullah saw. pun menjatuhkan hukuman mati kepadanya. (As-Siratul Halabiyyah, jilid 3, hlm. 214-215, Cetakan Beirut.)

Kedua, “efek jera” hanya berlaku dalam bentuk hukuman. Dan Islam memerintahkan hanya pihak berwenanglah yang berhak menghukum. Bukan sembarang orang. Hal ini disampaikan dalam tafsir Al-Qur’an bahwa Islam tidak membenarkan pemberian hukuman dilakukan perseorangan. Pemberian hukuman hanya boleh dilakukan oleh pihak yang berwenang atau pemerintah. (Tafsir QS. Al-Maidah 5: 34 nomor 741 halaman 435, Al-Quran terbitan Yayasan Wisma Damai tahun 2006) 

Ketiga, apabila hijab memang benar-benar bisa menyelamatkan perempuan dari pelecehan, mengapa negara Islam tidak masuk 10 besar negara yang aman bagi perempuan?(http://m.escapehere.com/inspiration/the-10-safest-and-coolest-cities-for-women-to-travel-alone/1) Lebih parahnya lagi, kenapa jumlah kasus perkosaan di negara Islam tetap tinggi?(http://beritajogja.co.id/2013/01/16/kasus-perkosaan-di-arab-saudi-kerap-dirahasiakan/)

Sudah jelas bahwa laki-laki tidak punya hak untuk melecehkan perempuan dengan alasan apapun. Pelecehan justru hanyalah refleksi dari ketidaktaatan mereka sendiri dalam menjalankan perintah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an. Mereka tidak taat pada Allah yang memerintahkan mereka untuk menundukkan pandangan mereka. Mereka juga tidak taat pada Allah yang telah memerintahkan mereka untuk menghargai perempuan, yang telah dihargai begitu tinggi dalam Islam sehingga surga diletakkan di telapak kakinya.

MEREKONSTRUKSI KONSEP HIJAB

(Foto: http://inayatshah.deviantart.com/art/Fashionable-Niqab-356173846)

Selama ini saya berpikir bahwa pardahnya perempuan (yang berupa hijab) memiliki fungsi utama untuk melindungi dirinya dari pandangan liar laki-laki. Secara tidak langsung saya [sebelumnya] mengakui bahwa hijab bagi perempuan itu untuk laki-laki. Tapi ternyata saya salah.

Pertama kali saya tahu kalau saya salah, setelah saya membaca kutipan berikut:

Men should remember that they have not been given powers to police others and should restrain themselves. It is not for them to cover the heads of women from outside. Men are commanded to restrain their eyes; they should fulfil their own obligations. There is not even any commandment to forcibly cover the heads of Muslim women let alone non-Muslim women. It is men like these who have hard-line ideas. [Hazrat Khalifatul Masih al-khamis Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba.][1]

Ungkapan ini membuat saya senang, sekaligus merenung dan berusaha merekontruksi konsep hijab dalam benak saya.

Dalam Al-Qur’an dikatakan:

Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin wanita, bahwa mereka hendaknya menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka, dan janganlah mereka menampakkan kecantikan mereka, kecuali kepada suaminya, atau kepada bapaknya, atau bapak suaminya, atau anak lelakinya atau anak lelaki suaminya atau saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara lelaki mereka, atau anak lelaki saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan teman mereka atau apa yang dimiliki oleh tangan kanan mereka, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengetahui tentang bagian-bagian aurat wanita. Dan janganlah mereka itu menghentakkan kaki mereka, sehingga dapat diketahui apa yang mereka sembunyikan dari kecantikan mereka. Dan kembalilah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu mendapat kebahagiaan.[2]

Dari ayat ini berikut tafsirnya, saya memahami bahwa hijab memiliki fungsi internal dan eksternal. Fungsi internal yang juga merupakan fungsi paling utama adalah untuk menjaga hati, pikiran, dan perilaku si pemakainya agar senantiasa terfokus mencapai tujuan akhirat.

Hijab bagi perempuan berupa kain kerudung yang menutupi kepala dan menjuntai hingga dada dan baju yang longgar, sebenarnya bertujuan agar perempuan bisa terjaga, terutama dalam menjaga niatnya. Dengan menutup seluruh anggota tubuhnya dan seluruh kecantikannya, perempuan diberikan sarana untuk menjaga hati, pikiran, sekaligus fisiknya dari segala ketidaksucian.

Perempuan sangat memuja kecantikan. Setiap jengkal tubuh sangat diperhatikan kebersihan dan keindahannya. Prinsip dasar dalam mempercantik diri adalah untuk kesenangan diri sendiri. Tetapi selalu ada godaan untuk memamerkan kecantikan kepada orang lain.

Godaan-godaan semacam inilah yang ingin dieliminir oleh Islam melalui perintah berhijab bagi perempuan.

Hijab pada akhirnya hanya akan membatasi perilaku perempuan untuk melaksanakan hanya satu niatnya yaitu ‘mempercantik dirinya’ demi kesenangan pribadi. Sementara niat lainnya yaitu ‘menunjukkan atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain’ tidak akan bisa terwujud dengan bebas karena hijab menutupinya.

Dengan terbatasinya perilaku mereka untuk menunjukkan kecantikannya, pada akhirnya keinginan untuk hal tersebut akan terkikis. Ini akan menuntun perempuan untuk mengerucutkan niatnya dan memusatkan perhatiannya hanya pada tujuan-tujuan spiritual.

Hijab dimaksudkan agar perhatian perempuan hanya terfokus kepada amalan-amalan untuk meraih kedekatan dengan-Nya, beribadah kepada-Nya. Karena tujuan diciptakannya manusia di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.[3]

Itulah mengapa bahkan ketika shalat, perempuan diperintahkan untuk menutup auratnya. Padahal ketika shalat, perempuan ditempatkan terpisah dari laki-laki yang otomatis tak membebaskan laki-laki untuk bisa memandang perempuan. Ini semua agar perempuan betul-betul bersih dari segala niat untuk menunjukkan kecantikannya pada orang lain dan memusatkan hati dan pikirannya kepada Allah Ta’ala.

Di sisi lain, hijab juga memiliki tujuan eksternal. Hijab membatasi pandangan laki-laki terhadap kecantikannya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir QS. An-Nur 24: 32 yaitu, 

Memakai kain luar dimaksudkan menyelamatkan seorang wanita Muslim ketika ia keluar rumah untuk keperluannya dari siksaan batin, bila ia ditatap dengan tidak sopan atau diganggu atau diberi kesusahan dengan jalan lain apapun oleh orang-orang yang akhlaknya meragukan. [4]

Hijab bagi perempuan juga akan membuat laki-laki merasa segan untuk bergaul dengan perempuan secara bebas. Sehingga kesucian masing-masing pihak bisa terjaga sebagaimana yang begitu ditekankan dalam ajaran Islam.

Setelah merenungkan ayat-ayat tersebut, saya menyimpulkan bahwa fungsi utama hijab adalah untuk melindungi perempuan dari niat-niat yang akan menjauhkannya dari perilaku yang diridhoi Allah Ta’ala. Perempuan memakai hijab untuk Allah Ta’ala. Memakai hijab tidak saja membuktikan ketaatan pemakainya, tetapi juga membuktikan niatnya untuk melakukan amalan yang akan mendekatkan dirinya dengan Allah Ta’ala.

Lantas bagaimana bila ada kritik terhadap perempuan berhijab tapi perilakunya buruk? Ya jawabannya sama dengan orang-orang yang rajin shalat tapi perilakunya masih buruk.

Pertama, kemungkinan dia belum betul-betul memahami konsep hijab yang disampaikan dalam Al-Qur’an. Dia hanya sekedar memakai hijab tetapi belum memahami tujuan hijab sesungguhnya. Dan bila dia belum memahami konsep hijab, maka dia pun belum memahami Al-Qur’an dengan baik sehingga dia juga salah sangka dalam bersikap.

Kedua, manusia berproses. Perilaku buruk akan menghilang seiring dengan semakin dekatnya seseorang kepada Tuhannya. Memakai hijab hanya salah satu sarana atau unsur pembantu dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Memakai hijab bukan jaminan atau jalan pintas untuk menjadikan seseorang otomatis berakhlak baik. Semua ada prosesnya.

Bila melihat perempuan berhijab berperilaku buruk, maka janganlah melihat hijabnya. Tapi fokus pada si pemakainya.

Seperti banyak kelakuan orang-orang beragama lainnya yang malah tak sesuai dengan ajaran agamanya sendiri. Agama tak bersalah, tapi umatnya lah yang salah karena tidak betul-betul memahami ajaran agama seutuhnya atau bahkan salah dalam memahami ajaran agamanya sendiri.

 

 

*Referensi:

[1] Spiritual Benefits Jalsa Salana UK 2014 https://www.alislam.org/friday-sermon/printer-friendly-summary-2014-09-05.html

[2] QS. An-Nur 24: 32

[3] “Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” – QS. Adz-Dzariyat 51: 57

[4] Tafsir QS. An-Nur 24: 32 Halaman 1236, Diterbitkan Yayasan Wisma Damai tahun 2006

Menikmati Momen

Kemarin Reza berangkat ke Bandung dari Jakarta, sama anak-anak yang baru diterima KPPU. Di Bandung mereka ada pelatihan kedisplinan di kompleks TNI.

Jadi mulai semalam, dia udah nggak bisa dihubungi sama sekali. Dia kasih nomor dua orang yang bisa dihubungi kalau ada apa-apa.

Nggak nyangka sekarang dia akan meninggalkan Jogja. Setelah bertahun-tahun dia menetap di sana, dan yakin akan menetap di sana sampai tua.

Tapi Allah Ta’ala memberinya kesempatan untuk hijrah. Meninggalkan Jogja yang dia cintai dengan bekerja di tempat yang memang sudah lama dia inginkan.

Dan dia ambil kesempatan hijrah itu.

Ternyata tahun kemarin adalah momen terakhir jalan-jalan bareng suami, adik iparku Amatul, dan adikku Reza. Bener-bener nggak nyangka. Aku kira aku masih akan bisa mengulangi lagi momen berkesan itu.

Tapi ternyata semesta sudah berkata lain.

Tahun ini Amatul sudah menikah. Dan Reza keterima kerja di KPPU dan akan ditempatkan di Batam.

Bener-bener, kita nggak bisa menduga apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa depan. Akan selalu ada pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan lain yang dibuka Allah Ta’ala untuk kita tentukan.

Jadi, ketika ada kesempatan dan momen untuk dinikmati, ya bener-bener harus dimanfaatkan. Jangan sampe ada emosi negatif yang merusak momen kebersamaan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Karena mungkin kesempatan dan momen itu nggak akan datang dua kali.

​MENGAPA RASULULLAH SAW. BERPERANG?

Beberapa hari ini saya lagi intens banget baca buku Riwayat Hidup Rasulullah SAW. karangan Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. Tentu saja ada banyak kisah menarik dalam buku ini. Tetapi khusus dalam tulisan ini, saya ingin membahas mengenai seluk beluk peperangan yang dihadapi Rasulullah SAW. dalam membela agama Islam.

(Gambar: koleksi pribadi)

Membaca buku ini saya jadi paham perang apa saja yang dihadapi Baginda Nabi SAW. Bagaimana kronologisnya, apa saja yang terjadi dalam perang tersebut secara rinci, semua bisa terbayang dalam benak saya.

Membaca buku ini saya mengalami adrenalin rush, deg-degan, dan berbagai macam emosi lainnya layaknya sedang menonton film perang produksi Hollywood. Banyak emosi yang muncul dan saling bertumpuk satu sama lain ketika membaca kisah-kisah di buku ini. Saya kagum dengan cara Khalifah II ra. bertutur. Beliau seorang pencerita yang baik. Sangat detail dan mampu memancing berbagai emosi yang membacanya.

Dalam buku ini digambarkan bahwa Rasulullah SAW. harus menghadapi beberapa peperangan: Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan Perang Hunain. Dalam Perang Badar, kaum Muslimin meraih kemenangan atas kaum Mekah. Dalam Perang Uhud, kaum Muslimin sempat meraih kemenangan dan memukul mundur kaum Mekah. Tetapi karena kelengahan mereka, musuh akhirnya mengepung dan meraih kemenangan. Dalam Perang Khandak, atau yang dijuluki Perang Parit, kaum Muslimin juga berhasil membuat musuh mundur, walau keadaan mereka sudah sangat terseok-seok karena lemahnya dari segi jumlah pasukan dan persenjataan. Sementara dalam Perang Hunain yang menjadi perang terakhir yang dihadapi Rasulullah SAW., kaum Muslimin meraih kemenangan.

Secara detail dan mencerdaskan, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. menjelaskan dalam buku ini mengenai kenapa Rasulullah SAW. berperang. Di buku ini saya baru paham bahwa perang bisa menjadi salah satu jalan -jalan paling terakhir tentu saja- untuk mencapai perdamaian. Dan itulah yang dilakukan Rasulullah SAW. Perang diniatkan untuk membela kebebasan beragama dan juga untuk meraih perdamaian.

Islam melarang agresi, tetapi mengajarkan kepada kita untuk berperang. Seandainya berperang tidak ditempuh maka akan membahayakan keamanan dan menggalakkan peperangan. Jika mengabaikan peperangan berarti lenyapnya kebebasan beragama dan usaha mencari kebenaran, maka telah menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk berperang. Itulah ajaran yang di atas landasan ajaran itu akhirnya perdamaian dapat dibina, dan inilah ajaran yang di atasnya Rasulullah s.a.w. meletakkan dasar siasat dan amal beliau. [hlm. 117]

Dalam perang antara kaum Muslimin dan bangsa Arab, bangsa Arab memulai agresi lebih dulu. Dan itu terjadi tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali. Untuk menghentikan peperangan atau perselisihan, maka ada dua jalan: damai atau menyerah. Kesepakatan damai harus diajukan oleh pihak yang kuat karena kalau diutarakan oleh pihak yang lemah, maka bukan damai namanya, tetapi menyerah. Memang dalam segi jumlah pasukan dan kekuatan persenjataan, kaum Muslimin berada di pihak yang lemah.

Tetapi, kaum Muslimin menolak untuk menyerah karena kalau mereka menyerah artinya mereka harus menuruti keinginan dari bangsa Arab, yaitu menghentikan segala aktivitas keagamaan mereka, yang meliputi ibadah dan menyebarkan ajaran Islam. Kalau mereka menyerah artinya mereka membunuh ajaran Islam itu sendiri dan kebebasan dalam beragama untuk mati di tangan bangsa Arab. Maka menyerah tidak akan menjadi pilihan kaum Muslimin.

Sementara dari pihak bangsa Arab sendiri tidak terlihat tanda-tanda bahwa mereka menawarkan perdamaian. Bangsa Arab merasa bahwa kaum Muslimin adalah pihak yang lemah, terlihat dari jumlah pasukan dan persenjataan mereka. Belum lagi mereka juga pernah menang melawan kaum Muslimin dalam perang Uhud. Sehingga perdamaian tentu saja tidak dalam pilihan dari bangsa Arab karena mereka merasa di atas angin dan perdamaian tidak menguntungkan buat mereka.

Karena itulah akhirnya Rasulullah SAW. memutuskan untuk memaksa bangsa Arab untuk menyerah atau mengambil langkah perdamaian. Dengan apa? Dengan berbalik memerangi mereka. Karena hanya dengan cara itulah kaum Muslimin bisa menunjukkan kekuatan dan kepercayaan diri mereka untuk membuat bangsa Arab merasa ragu dan akhirnya tidak yakin dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan begitu, jalan perdamaian akan menjadi pilihan satu-satunya yang harus diambil dan ditawarkan bangsa Arab terhadap kaum Muslimin. Sebagaimana yang dikutip dalam buku ini:

Hanya ada satu jalan bagi kaum Muslimin jika mereka hendak mengakhiri perselisihan. Mereka tidak bersedia menyerahkan kata hati mereka kepada bangsa Arab, yaitu, melepaskan hak mereka untuk menyatakan, mengamalkan, dan mentablighkan apa yang mereka sukai; dan tidak ada langkah menuju perdamaian dari pihak kaum kufar. Oleh karena itu, mereka itulah sekarang yang berkewajiban memaksa kaum Arab menyerah atau menerima perdamaian. Rasulullah s.a.w. mengambil keputusan untuk berbuat hal seperti itu. [hlm 113-114]

Jika Rasulullah SAW. memilih diam, maka perang saudara yang mencengkeram Arabia tidak akan berakhir. Apalagi jika Rasulullah SAW. memilih diam dan mundur, maka bangsa Arab akan kembali melakukan agresi terhadap kaum Muslimin. Lagi-lagi peperangan tidak akan berakhir.

Tentu saja Rasulullah SAW. tidak lupa mengajarkan etika dalam berperang. Sesuai dengan ajaran dalam Islam, tidak dibolehkan menyerang kaum wanita, anak-anak, dan kaum lansia. Jangankan mereka, pepohonan dan bangunan-bangunan pun dilarang untuk dihancurkan. Termasuk bangunan-bangunan agama lain juga masuk dalam hal-hal yang dilarang untuk dihancurkan.

Selain itu, masalah tawanan dan harta rampasan perang juga sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Saya kutip agak panjang mengenai masalah ini:

(8) Tentang tawanan perang Al-Quran mengajarkan:

Tidak layak bagi seorang Nabi bahwa ia mempunyai tawanan sebelum ia menumpahkan darah di waktu perang di bumi. Kamu menginginkan harta dunia, padahal Allah menghendaki akhirat bagimu; dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (8:68).

Berarti bahwa tidak layak bagi seorang nabi membuat musuhnya jadi tawanan-tawanan, kecuali sebagai akibat perang yang membawa banyak pertumpahan darah. Cara kebiasaan menawan (menyandera) suku-suku musuh tanpa perang dan pertumpahan darah yang berlaku sampai – dan bahkan sesudah – Islam lahir, diharamkan dalam ayat ini. Yang boleh dijadikan tawanan-tawanan ialah prajurit-prajurit dan setelah pertempuran usai.

(9) Peraturan membebaskan tawanan-tawanan juga ditetapkan. Kita jumpai demikian:

Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar, maka pukullah leher-leher mereka; hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka perkuatlah belenggu mereka, kemudian sesudah itu melepaskan mereka sebagai suatu kebaikan atau dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. Demikianlah berlaku segala peraturan menurut keadaan. Dan andaikata Allah menghendaki, tentu Dia mengambil balasan dari mereka, tetapi supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, Dia sekali-kali tidak menyia-nyiakan amal-amal mereka (47:5).

Amal terbaik, menurut Islam, ialah membebaskan tawanan-tawanan tanpa meminta uang tebusan. Karena hal itu tidak selamanya mungkin, maka pembebasan dengan uang tebusan pun dibolehkan. [hlm. 124-125]

Keluhuran ajaran Islam terpancar sangat kuat dari penjelasan ini. Islam memuliakan manusia tanpa melihat status sosialnya. Sama sekali. Islam sangat memanusiakan manusia. Dan Islam sangat tegas dalam sikapnya ini. Islam tidak membiarkan sedikitpun celah bagi emosi untuk menguasai manusia sehingga bisa bersikap sewenang-wenang terhadap manusia lainnya, meskipun manusia tersebut sudah jelas-jelas bersalah dengan bertindak sewenang-wenang terhadap manusia lainnya, bahkan agama Islam itu sendiri.

Rasanya belum ada tulisan yang bisa menjelaskan dengan sedemikian masuk akalnya mengenai mengapa Rasulullah SAW. berperang, seperti yang ditulis Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. dalam buku ini. Tidak hanya detail dalam bertutur, beliau juga dengan sangat cerdasnya bisa menjelaskan dengan sangat baik mengenai apa, kenapa, dan bagaimana Rasulullah SAW. berperang. Sungguh sangat dalam penuturan dan keilmuan yang beliau miliki.

Salah satu buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca agar lebih memahami kisah hidup Rasulullah SAW. yang sungguh luar biasa hebatnya.

 

*Tulisan juga telah dimuat di qureta.com.