Ngomongin Ebook Reader

Jadi udah sebulan ini nyobain pake tablet pc. Ya beli punya si adik yang udah nggak dipake lagi sih jadi itung-itung murah meriah.

Karena merupakan pengalaman baru, jadi memang saya nya masih dalam tahap adaptasi. Biasanya mau ngapa-ngapain pake gadget android dan sekarang mengandalkan tablet pc. Beberapa aplikasi yang tadinya saya gunakan di android, ternyata ketika aplikasi itu diterapkan di tablet pc jadinya malah jelek banget hasilnya.

Mau nggak mau saya harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan ini, suka nggak suka, karena saya sudah menetapkan hati bahwa memang tablet pc lebih bisa mengakomodir segala kebutuhan saya daripada gadget android.

Yang paling kerasa adalah ebook reader. Memang udah lama ya secara umum diketahui aplikasi pdf reader yang paling cocok untuk pc itu ya Adobe Reader. Tapi karena saya suka nyoba-nyoba, saya download lah beberapa ebook/pdf reader lain yang saya lihat banyak direkomedasikan di Google.

Saya nyobain calibre, icecream, Sumatra pdf, sampe foxit reader. I gotta say that nothing suits me better than Adobe Reader. Huft..

Udah nyobain semuanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, buat saya ternyata masih Adobe Reader juaranya.

Sebenarnya saya sih nggak muluk-muluk kebutuhannya. Yang paling utama adalah bisa dibaca dengan layout portrait. Supaya bisa lebih leluasa bacanya. Dan juga ada fitur highlight nya jadi bisa nandain kata-kata yang penting atau yang saya suka. Karena hampir semua buku yang udah saya baca pasti saya tandain pake spidol atau stabillo. Itu juga bikin bacaan bisa nempel di kepala.

Harapannya sih di aplikasinya juga ada fitur bookmark ya jadi bisa nandain halaman yang penting. Juga bisa dibuka ke samping kanan dan kiri, layaknya buku fisik aja. Tapi dua kriteria ini sih masih bisa dinegosiasi ya. Yang paling penting di paragraf sebelumnya.

Adobe Reader sendiri hanya bisa mengakomodir dua kriteria paling utama yang saya butuhkan. Di aplikasi ini nggak ada library-nya (ya karena dia reader aja) jadi kalau kita buka lagi buku yang sedang kita baca, maka halamannya ngulang lagi dari awal. Nggak ada bookmark pula jadi nggak bisa ditandai langsung. Tapi ini masih bisa diakalin sama comment kali ya. Kalau dibuka juga harus scroll. Tapi nggak papa sih. Bukan hal yang krusial buat saya.

Secara keseluruhan memang aplikasi ini masih tetap yang terbaik dalam mendukung segala kebutuhan saya. Jadi ya suka nggak suka, saya harus menerima app ini dan menggunakannya tanpa mengeluhkan kekurangannya.

Jadi, setelah sekian kuota dihabiskan untuk mengunduh aplikasi-aplikasi yang ukurannya gede-gede itu, pada akhirnya ya saya kembali lagi ke Adobe Reader. Ya memang begitulah sifat perempuan. Udah ada pilihan pertama yang bagus, masih ingin lihat-lihat yang lain. Tapi ujung-ujungnya kembali ke yang pertama juga. πŸ˜€

Balikpapan dan Ketegasan

Udah sebulan kayaknya saya di Balikpapan bareng ortu, berkunjung ke adik saya yang kerja dan tinggal di sini.

Saya selalu suka kota ini. Rapi, teratur, cenderung bersih. Saya baca, 18 kali kota ini meraih penghargaan Adipura atas kebersihannya. Belum lagi penghargaan-penghargaan lainnya. Saya juga suka tata kota Balikpapan. Rapi aja gitu.

Dan, Balikpapan juga tegas dalam menegakkan aturan. Pengendara di sini cenderung tertib karena aturannya ditegakkan dengan sangat tegas oleh aparat. Dan nggak cuma masalah lalu lintas aja, sederet aturan pemerintah daerah di sini juga dijalankan penuh tertib sama warganya.

Yang saya rasakan aja selama di sini, pengambilan sampah dari rumah-rumah warga itu sudah ditetapkan jadwalnya. Kalau di Eropa kan ada hari-harinya ya, hari apa dan apa untuk sampah apa. Kalau di Balikpapan sih memang belum terjadwal sedemikian rupa seperti di Eropa, tapi yang pasti sudah ada jadwal tetapnya.

Di rumah adik saya ini contohnya, sampah hanya diangkut dari hari Senin-Jumat jam 7-9 pagi. Di luar jam dan hari yang disebutkan, tidak boleh ada sampah yang diletakkan di tong sampah umum yang disediakan. Jadi kalau ada sampah di rumah kita di luar waktu pengangkutan, ya udah simpan aja dulu di rumah. Tong sampah umumnya nggak akan dibuka πŸ˜€

Kemudian, Balikpapan ini sangat tegas mengenai aturan diet kantong plastiknya. Di berbagai swalayan dan mall, udah nggak akan bisa kita temukan kantong plastik untuk pembeli. Kita harus bawa tas atau kantong plastik sendiri. Saya kira ini berlaku di swalayan besar atau mall-mall aja. Ternyata di swalayan deket rumah juga nggak ada lagi kantong plastik.

Sangsinya cukup serius. Ijin usaha bisa dicabut kalau aturan ini dilanggar. Pantesan pada patuh.

Salut sih saya sama pemda di sini. I mean, diet kantong plastik ini kan emang akhir-akhir ini lumayan kenceng digaungkan ya. Tapi sejauh yang saya tahu di daerah lain aturannya masih longgar. Paling ketat cuma bayar Rp.200. Karena memang kesadaran akan kelestarian lingkungan juga masih bisa dibilang rendah.

Nah ini di Balikpapan malah udah nggak boleh sama sekali menggunakan kantong plastik. Artinya ada kesadaran lingkungan yang sangat tinggi dari pemdanya. Ibarat kata yang lain masih merangkak, Balikpapan mah udah lari jauh. Salut!

Memang harus saya akui saya sendiri masih susah untuk menerapkan diet plastik ini. Paling susah kalau urusannya sama sampah. Wadah buat nampung sampah-sampah ini yang masih belum bisa saya temukan gantinya selain plastik. Bisa sih kardus ya, tapi kan tetep baunya bisa ke mana-mana.

Ya apa yang bisa saya gantikan dengan wadah lain selain plastik sih saya usahakan. Yang belum bisa, maka dengan terpaksa saya masih mengandalkan plastik πŸ˜€

Tapi intinya sih, saya jadi belajar juga selama di Balikpapan ini. Semoga nanti ada solusi untuk pengganti plastik dalam keseharian kita. Dan pemda-pemda lainnya bisa belajar dari kota ini dalam hal ketegasan dan keluasan wawasan sehingga aturan bisa ditegakkan dengan sebaik-baiknya. Karena ini semua supaya warganya bisa hidup nyaman, aman, dan bisa saling menghargai.

Sering Posting

Oiya, di postingan kali ini cuma mau cerita kenapa bulan ini lumayan sering posting tulisan πŸ˜€

Jadi karena sekarang lagi pulang kampung, Alhamdulillah banyak bantuan untuk menjaga dan mengurus si kecil. Ada orangtua sama adik yang bisa dan bahkan senang dimintai tolong. Ya soalnya kan mengasuh cucu pertama ini kan momen yang jarang ya buat mereka πŸ˜€ Jadi pada nggak keberatan. Walau sering kewalahan juga menghadapi super aktifnya si cucu ini. Hehe..

Makanya momen ini dimanfaatkan banget sama bundanya untuk sering-sering posting. Ya walau postingnya seringnya suka malam karena nunggu si anak bayi tidur, tapi nulisnya mah bisa nyicil dari pagi, siang, atau sorenya.

Kalau udah tinggal sama ayahnya di tempat tugas, ngurus si anak super duper aktif ini hanya berdua sama ayahnya. Mau nulis aja susah nyari waktunya, karena yang nunggu dikerjain ketika si anak bayi tidur itu nggak cuma nulis aja, tapi juga setumpuk pekerjaan lain πŸ˜€ Jadi ya buat posting aja udah nggak kepikiran. Heu.

Tapi kalau lihat ibu-ibu lain yang bisa manage waktu antara ngurus anak, ngurus rumah dan ngurus blog nya, sebenarnya sih no excuse ya. Iya sih emang time-management saya aja nih yang berantakan. Dan niatnya kurang kenceng :)))

Ya mudah-mudahan nanti kalau udah balik ke tempat tugas, bisa tetep posting walau nggak yakin bakal sesering seperti ketika di sini πŸ˜€

Buku Anak Bikin Happy

Sejak usia 5 bulan, saya udah belikan buku buat anak bayi saya. Niat saya sudah pasti adalah mengenalkan cinta buku dan membaca pada anak saya. Mungkin buat orang lain, masih terlalu kecil untuk anak bayi. Tapi buat saya sih buku itu investasi. Jadi nggak masalah kita nabung buku dari sekarang,Β  dan mengenalkannya sama dia.

Buku pertama yang saya belikan buat dia bukan buku cerita. Hanya sebuah buku yang isinya gambar-gambar hewan berikut namanya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tadinya saya mau belikan kartu. Tapi takut tercecer, saya belikan dalam bentuk buku.

Tentu saja di usianya yang kini baru 10 bulan, dia belum begitu paham isi bukunya. Cuma yang menarik, setiap dia lihat buku, dia buka lembarannya, dia pegang kertasnya, dan dia bersuara. Seperti membaca :))))

Minggu lalu saya belikan dua buku baru buat dia. Kali ini buku cerita yang isinya mengajarkan untuk bilang β€˜Maaf’ dan β€˜Terima Kasih’. Seperti buku-buku buat anak-anak lainnya, buku yang saya belikan ini bentuknya kecil tapi kertasnya tebal. Ya supaya nggak mudah sobek atau rusak.

Cuma saya baru sadar kalau ternyata buku cerita anak-anak ini ternyata nggak cuma bikin happy anak-anak aja. Saya yang orang dewasa juga masih seneng dibuatnya πŸ˜€

Ceritanya sih ringan dan singkat banget. Tapi saya seneng lihat buku-buku ini karena ada gambarnya dan lucu-lucu, juga warna-warna cerah yang bikin seger mata. Saya juga suka kertasnya yang tebal. Enak aja gitu dirabanya.

Mungkin saking udah lamanya nggak pernah beli buku anak-anak lagi, jadi baru nyadar kalau orang dewasa juga seneng sama buku anak-anak. Pantesan Ika Natassa, yang notabene udah jadi penulis dewasa yang terkenal aja masih suka sama buku anak-anak. Sempet bingung saya pas lihat story-nya. Dia masih suka beli buku anak-anak buat dia sendiri.

Ternyata emang menyenangkan sih πŸ˜€

Ngomongin SkinCare

Saya termasuk orang yang suka dan nggak takut coba-coba. Termasuk soal skincare. Sejak kuliah sampai sekarang, saya masih berani coba-coba skincare apa yang cocok untuk kulit saya. Yang bikin saya nggak mau coba-coba adalah kalau skincare nya nggak ada BPOM nya. Itu bikin takut sih. Takut kalau efeknya ke kesehatan kulit di masa depan. Jadi skincare yang saya coba biasanya udah terdaftar di BPOM.

Alhamdulillah kebanyakan yang saya coba sih cocok sama kulit. Hanya beberapa merk saja yang nggak cocok. Efeknya paling parah adalah timbulnya jerawat besar seperti bisul di pipi. Agak bikin malu sih :))) Selebihnya paling cuma wajah jadi lebih berminyak aja.

Krim siang, krim malam lengkap dengan serum dan sabun wajah dari berbagai merk yang iklannya suka nongol di tipi (masih korban iklan sih :D) sudah saya coba. Memang efeknya nggak langsung kelihatan ya, dan katanya merk yang sehat dan bagus mah memang tidak memberikan hasil instan. Tapi kerasa enak memang di kulit. Kulit jadi terasa kenyal dan lembut.

Hanya saja, saya tuh punya hubungan yang buruk sama konsistensi πŸ˜€ Awal-awal aja rajin, semangat pakai skincare. Lama-lama mah males. Habis pergi-pergi kadang malah nggak cuci muka sama sekali sebelum tidur πŸ˜€

Jarang ada skincare yang bisa bertahan sampe itungan tahunan. Paling sering mah itungannya bulanan. Terus ganti ke yang lain. Ya selain emang pengen efek yang cepet tapi sehat gitu πŸ˜€

Ketika saya hamil, saya agak picky. Sebenarnya nggak butuh-butuh amat, apalagi saat itu saya sedang mengandung anak perempuan yang efeknya ke kulit malah jadi glowing (pendapat orang-orang lho ya :D). Tapi nggak tahu kenapa kok tetap pengen merawat wajah. Ya akhirnya saya beli skincare racikan yang bahannya dari madu. Krimnya satu aja, bisa dipakai jadi krim siang dan krim malam, plus sabun wajahnya.

Oiya ini masalah lainnya. Saya tuh nggak (atau mungkin belum?) pernah cocok sama sabun wajah yang produknya hasil racikan. Nggak tahu kenapa sabun wajah racikan itu di muka saya hasilnya nggak keset di wajah dan malah menambahnya jumlah komedo. Akhirnya saya harus beli sabun wajah yang ada scrub-nya untuk mengatasi komedo-komedo ini.

(Atau memang begitu ya? Maksudnya memang kita diharuskan untuk tetep nge-scrub wajah tiap berapa kali seminggu atau sebulan? :D)

Saya pun akhirnya nggak bertahan juga sama skincare racikan ini πŸ˜€

Di usia kehamilan 8 bulan, saya melihat sebuah akun Twitter yang mempromosikan Extra Virgin Olive Oil. Minyak zaitun. Lihat wajah penjualnya yang glowing dan berbagai testimoni keberhasilan yang dipostingnya, saya pun jadi tergoda juga. Dia bilang sih EVOO yang dia jual beda dengan EVOO untuk makanan yang banyak ditemukan di swalayan. Jadi aja saya makin tergiur.

Dan saya pun memesannya. Harganya 100ribu untuk 250ml.

Ternyataaaaaaaa, besoknya di swalayan dekat rumah, saya menemukan minyak zaitun dengan merk yang sama, yang harganya jauuuuuh lebih murah. Setengahnya! Bahkan lebih murah lagi, cuma 90ribuan untuk 500ml. Murah banget! Ditambah lagi di swalayan itu dijual dengan berbagai jenis botol dan ukuran. Ada ukuran terkecil, 40 ml. Cuma 15ribu pula harganya.

Karena kebetulan pesanan saya masih akan lama datangnya, saya putuskan beli yang botol terkecil di swalayan dekat rumah itu. Itung-itung tester.

Setiap malam sebelum tidur, setelah wajah dibersihkan dengan sabun muka, saya oleskan minyak zaitun di wajah. Ya Alhamdulillah sih kali ini saya bisa agak lebih rajin. Sampai melahirkan saya rutin setiap malam sebelum tidur pakai minyak zaitun di wajah.

Dan memang menurut saya hasilnya bikin wajah kenyal, menurut orang-orang juga wajah saya lebih bersih. Bintik-bintik hitam yang dulu lumayan kelihatan di wajah saya juga mulai berkurang. Bedak juga jadi lebih mudah nempel di wajah.

Selepas melahirkan saya mulai nggak rutin pakai setiap malam. Ya kesibukan jadi seorang ibu baru, membuat saya sudah terlalu lelah bahkan hanya untuk sekedar ingat pakai minyak zaitun ini. Tapi ternyata alhamdulillah kulit saya tetap bagus aja sih.

Hingga kini, saya masih bertahan dengan minyak zaitun ini. Pemakaiannya simpel, murah dan sehat juga. Untuk sabun wajah sih saya bebas aja. Yang penting ada scrub-nya dan bisa dengan mudah dibeli di swalayan.

Satu lagi keuntungan minyak zaitun ini buat saya. Anak bayik saya lagi seneng banget nyium wajah bundanya. Ya β€˜nyium’-nya sih bukan nyium ala orang dewasa ya, β€˜nyium’ versi dia sih lebih dekat ke gigit :’)))) Tapi untungnya skincare saya cuma minyak zaitun yang aman dimakan dia. Nggak kebayang kalau dia β€˜nyium’ saya ketika skincare saya bahannya bukan yang aman dikonsumsi.

Mudah-mudahan kali ini saya bisa bertahan dengan minyak zaitun ini. Simpel, ramah lingkungan, dan ramah di kantong juga. Hehe πŸ˜€

Tips Packing ala Lisa

Semakin kesini, saya tuh makin familiar sama yang namanya packing. Dari jaman kuliah di Bandung yang mana setiap setahun sekali mudik lebaran, sampai sekarang ketika sudah menikah dan punya anak, saya malah makin akrab sama yang namanya kegiatan packing. Seringnya sih packing untuk mudik ke rumah orangtua atau mertua, tapi tetep aja harus packing kan.

Tips packing ini nggak akan se-fancy bloggers lain (yang sering atau bahkan mungkin emang udah profesional) untuk traveling ke berbagai kota atau negara. Tapi ya sekali lagi, ini akan jadi catatan kenangan pribadi di masa depan.

Pertama, as I already found the Konmari method, maka baju pun saya susun ala Konmari di koper. Dilipat ala Konmari dan disusun vertikal ala Konmari. Kalau bisa, tinggi baju yang disusun disesuaikan dengan tinggi koper ketika dibuka. Tapi kalau nggak sesuai juga nggak papa sih, yang penting bajunya rapi aja ketika disusun vertikal.

Dulu saya pikir, menggulung baju adalah cara yang paling efektif untuk menghemat space di koper. Memang jadi lebih hemat space tapi baju jadi kusut dan juga sulit untuk mengambil baju-baju tertentu aja dari koper. Ujung-ujungnya baju jadi berantakan di koper dan melihatnya saya jadi malas beberes. Dengan menyusun baju ala Konmari, selain sangat menghemat space, juga membuat baju tetap rapi, dan memudahkan kita ketika mau ambil baju-baju tertentu aja dari koper.

(Ini baju-baju yang sudah saya susun vertikal ala Konmari. Baris paling kiri adalah baju-baju saya. Baris-baris selanjutnya adalah baju anak saya. Rapi dan bisa muat baju lebih banyak.)

Kedua, susun barang-barang kecil dalam pouches. Pakaian dalam, daleman (inner/ciput) kerudung, dan cadar saya masukkan dalam pouches yang berbeda. Juga pouches untuk skin care, make up, peralatan mandi, dan chargers. Pouches ini sangat membantu untuk meng-organize barang-barang kecil ini, jadi lebih rapi dan nggak berserakan.

(Ini jaket si anak bayik dan beberapa pouches untuk item-item kecil. Pouch sebelah kanan atas itu untuk daleman kerudung, sebelah kiri bawah itu pouch cadar, dan sebelah kanan bawah adalah pouch pakaian dalam.)

(Ini hasil akhirnya. Baju-baju yang dilipat dan disusun tadi tingginya nggak setinggi koper sehingga pouches ini bisa ditaruh di atasnya.)

Ketiga (sebenarnya ini lebih ke tips traveling sih tapi yaudah sekalian aja :D), ganti handuk dengan kanebo πŸ˜€ Saya kan nggak selalu nginep di hotel ya jadi harus bawa handuk dan peralatan mandi sendiri. Nah repotnya kalau bawa handuk adalah harus dijemur supaya kering. Kalau kita mau pergi setelah mandi, berarti handuknya masih basah. Padahal di tujuan selanjutnya handuk masih akan kita pakai. Kan jadi ribet. Nah kanebo ini adalah solusi cerdas untuk mengeleminir keribetan ketika traveling πŸ˜€ Pakai kanebo yang ada tempatnya jadi setelah mandi, diperas, terus masukkan ke tempatnya. Udah deh. Tetep hemat space and more less-problem.

Sejauh ini sih itu aja sih tips packing dari saya. Sederhana kan? πŸ˜€ Ya ini kan tips packing ya, bukan tips traveling. Kalau packing mah jangan ribet-ribet, yang simpel-simpel aja. Hehe πŸ˜€

Semoga bermanfaat! πŸ˜€

Pilah-Pilih Gadget

Beberapa hari ini lagi males banget buka hape. Alasan pertama sih karena hape lagi error. Nggak tau kenapa suka banget klik sana sini sendiri. Lagi nulis pesan di whatsapp, eh tiba-tiba si hape nge-klik video call. Akhirnya kalau mau nulis pesan yang seharusnya cepat jadi lama.

Kedua, sekarang lagi pulang kampung juga sih. Jadi sedang sangat menikmati momen-momen sama keluarga. Apalagi anak bayik lagi super aktif. Perhatiannya harus ekstra ke dia. Kalau nggak acuh sebentar aja, entah apa yang sudah dipegang atau dimasukkan ke mulutnya.

Ketiga, mau ngurang-ngurangin pemakaian hape juga. Niatnya pengen mengalokasikan waktu buat main hape itu, ke baca buku atau nonton yang bermanfaat. Karena waktu ME-time tambah sedikit ya, jadinya harus pintar-pintar manage waktu antara pekerjaan domestik, mengurus kebutuhan anak bayik dan keluarga, pengkhidmatan pada agama, juga waktu untuk refreshing dan upgrade kualitas diri.

Keempat, sejak belum punya anak, memang sudah diniatin untuk mengurangi aktivitas di dunia maya. Terutama medsos. Karena terus terang saya ingin anak-anak saya nggak kecanduan main hape. Untuk bisa mewujudkan keinginan ini, ya harus dimulai dari saya dulu sebagai orangtuanya. Saya harus bisa memberi mereka contoh.

Kalau sudah kayak gini, kerasa sekali kalau saya lebih butuh tablet daripada smartphone. Alasannya:

  1. Tablet layarnya besar. Jadi sangat nyaman untuk baca dan nonton. Tablet layar 7 atau 8 inch juga masih bisa nyaman untuk nulis. Sedangkan hape 5 sampe 6 inch masih terlalu kecil untuk bisa baca dan nonton dengan nyaman. IMHO sih.
  2. Karena ukurannya besar, penggunanya nggak bisa dengan bebas membuka tablet kapan aja di mana aja. Jadi ketergantungan akan gadget masih bisa diperkecil. Kalau hape kan lebih ringkes ya. Makanya orang jadi mudah sekali kecanduan sama hape. Ini sejalan banget sama niat saya untuk mengurangi penggunaan hape. Hehe.
  3. Lagi-lagi karena ukurannya besar, IMHO sih, persepsi orang terhadap mereka yang suka pegang tablet nggak senegatif ke mereka yang terus-terusan pegang hape. Karena kalau tablet itu terkesan untuk mereka yang ingin bisa baca dengan lebih nyaman, jadi persepsinya, orang yang pegang tablet terus ya berarti lagi baca. Bukan main medsos terus. IMHO sih. Kalau nggak setuju, gapapa πŸ˜€

Terus sekarang jadi mikir lagi, karena dana juga terbatas, kayaknya tablet Windows itu yang paling ideal buat saya. Bagus kalau ada dual OS Windows sama Android di tabletnya. Tapi kalau nggak ada, Windows yang jadi pilihan utama. Alasannya: ya supaya bisa dipake sekalian buat kerja juga. Buat saya mah nggak rumit sih, yang penting bisa untuk nulis laporan dan artikel aja. Tapi di Android agak ribet dan kurang nyaman urusan tulis menulis ini, masih tetap Windows juaranya.

Daripada saya harus punya smartphone buat komunikasi, tablet untuk baca, dan laptop untuk tulis menulis, kan mending sekalian aja satu tablet Windows yang bisa mengakomodir semuanya. Kalaupun ada uang berlebih, ya boleh lah beli smartphone murah untuk sekedar WA, telepon, dan sms. Dan dana lebihnya untuk beli tablet Windows yang bagus untuk semua kebutuhan saya. Hehe.

Gadget untuk saya memang bukan barang primer, tapi di jaman sekarang memang gadget jadi alternatif yang lumayan penting untuk belajar dan mengupgrade kualitas diri. Karena dana juga nggak banyak untuk dialokasikan ke barang ini, saya harus bisa lebih selektif dalam memilih gadget apa dan bagaimana yang saya butuhkan. Maka muncullah tulisan ini untuk catatan saya sendiri, supaya nanti bisa membantu saya keluar dari labirin pilihan gadget yang makin bervariasi.

Semoga juga bermanfaat bagi yang baca ya. πŸ˜€