Menikmati Momen

Kemarin Reza berangkat ke Bandung dari Jakarta, sama anak-anak yang baru diterima KPPU. Di Bandung mereka ada pelatihan kedisplinan di kompleks TNI.

Jadi mulai semalam, dia udah nggak bisa dihubungi sama sekali. Dia kasih nomor dua orang yang bisa dihubungi kalau ada apa-apa.

Nggak nyangka sekarang dia akan meninggalkan Jogja. Setelah bertahun-tahun dia menetap di sana, dan yakin akan menetap di sana sampai tua.

Tapi Allah Ta’ala memberinya kesempatan untuk hijrah. Meninggalkan Jogja yang dia cintai dengan bekerja di tempat yang memang sudah lama dia inginkan.

Dan dia ambil kesempatan hijrah itu.

Ternyata tahun kemarin adalah momen terakhir jalan-jalan bareng suami, adik iparku Amatul, dan adikku Reza. Bener-bener nggak nyangka. Aku kira aku masih akan bisa mengulangi lagi momen berkesan itu.

Tapi ternyata semesta sudah berkata lain.

Tahun ini Amatul sudah menikah. Dan Reza keterima kerja di KPPU dan akan ditempatkan di Batam.

Bener-bener, kita nggak bisa menduga apa yang akan terjadi dalam hidup kita di masa depan. Akan selalu ada pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan lain yang dibuka Allah Ta’ala untuk kita tentukan.

Jadi, ketika ada kesempatan dan momen untuk dinikmati, ya bener-bener harus dimanfaatkan. Jangan sampe ada emosi negatif yang merusak momen kebersamaan kita dengan orang-orang yang kita cintai.

Karena mungkin kesempatan dan momen itu nggak akan datang dua kali.

โ€‹MENGAPA RASULULLAH SAW. BERPERANG?

Beberapa hari ini saya lagi intens banget baca buku Riwayat Hidup Rasulullah SAW. karangan Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. Tentu saja ada banyak kisah menarik dalam buku ini. Tetapi khusus dalam tulisan ini, saya ingin membahas mengenai seluk beluk peperangan yang dihadapi Rasulullah SAW. dalam membela agama Islam.

(Gambar: koleksi pribadi)

Membaca buku ini saya jadi paham perang apa saja yang dihadapi Baginda Nabi SAW. Bagaimana kronologisnya, apa saja yang terjadi dalam perang tersebut secara rinci, semua bisa terbayang dalam benak saya.

Membaca buku ini saya mengalami adrenalin rush, deg-degan, dan berbagai macam emosi lainnya layaknya sedang menonton film perang produksi Hollywood. Banyak emosi yang muncul dan saling bertumpuk satu sama lain ketika membaca kisah-kisah di buku ini. Saya kagum dengan cara Khalifah II ra. bertutur. Beliau seorang pencerita yang baik. Sangat detail dan mampu memancing berbagai emosi yang membacanya.

Dalam buku ini digambarkan bahwa Rasulullah SAW. harus menghadapi beberapa peperangan: Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandak, dan Perang Hunain. Dalam Perang Badar, kaum Muslimin meraih kemenangan atas kaum Mekah. Dalam Perang Uhud, kaum Muslimin sempat meraih kemenangan dan memukul mundur kaum Mekah. Tetapi karena kelengahan mereka, musuh akhirnya mengepung dan meraih kemenangan. Dalam Perang Khandak, atau yang dijuluki Perang Parit, kaum Muslimin juga berhasil membuat musuh mundur, walau keadaan mereka sudah sangat terseok-seok karena lemahnya dari segi jumlah pasukan dan persenjataan. Sementara dalam Perang Hunain yang menjadi perang terakhir yang dihadapi Rasulullah SAW., kaum Muslimin meraih kemenangan.

Secara detail dan mencerdaskan, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. menjelaskan dalam buku ini mengenai kenapa Rasulullah SAW. berperang. Di buku ini saya baru paham bahwa perang bisa menjadi salah satu jalan -jalan paling terakhir tentu saja- untuk mencapai perdamaian. Dan itulah yang dilakukan Rasulullah SAW. Perang diniatkan untuk membela kebebasan beragama dan juga untuk meraih perdamaian.

Islam melarang agresi, tetapi mengajarkan kepada kita untuk berperang. Seandainya berperang tidak ditempuh maka akan membahayakan keamanan dan menggalakkan peperangan. Jika mengabaikan peperangan berarti lenyapnya kebebasan beragama dan usaha mencari kebenaran, maka telah menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk berperang. Itulah ajaran yang di atas landasan ajaran itu akhirnya perdamaian dapat dibina, dan inilah ajaran yang di atasnya Rasulullah s.a.w. meletakkan dasar siasat dan amal beliau. [hlm. 117]

Dalam perang antara kaum Muslimin dan bangsa Arab, bangsa Arab memulai agresi lebih dulu. Dan itu terjadi tidak hanya satu kali tetapi berkali-kali. Untuk menghentikan peperangan atau perselisihan, maka ada dua jalan: damai atau menyerah. Kesepakatan damai harus diajukan oleh pihak yang kuat karena kalau diutarakan oleh pihak yang lemah, maka bukan damai namanya, tetapi menyerah. Memang dalam segi jumlah pasukan dan kekuatan persenjataan, kaum Muslimin berada di pihak yang lemah.

Tetapi, kaum Muslimin menolak untuk menyerah karena kalau mereka menyerah artinya mereka harus menuruti keinginan dari bangsa Arab, yaitu menghentikan segala aktivitas keagamaan mereka, yang meliputi ibadah dan menyebarkan ajaran Islam. Kalau mereka menyerah artinya mereka membunuh ajaran Islam itu sendiri dan kebebasan dalam beragama untuk mati di tangan bangsa Arab. Maka menyerah tidak akan menjadi pilihan kaum Muslimin.

Sementara dari pihak bangsa Arab sendiri tidak terlihat tanda-tanda bahwa mereka menawarkan perdamaian. Bangsa Arab merasa bahwa kaum Muslimin adalah pihak yang lemah, terlihat dari jumlah pasukan dan persenjataan mereka. Belum lagi mereka juga pernah menang melawan kaum Muslimin dalam perang Uhud. Sehingga perdamaian tentu saja tidak dalam pilihan dari bangsa Arab karena mereka merasa di atas angin dan perdamaian tidak menguntungkan buat mereka.

Karena itulah akhirnya Rasulullah SAW. memutuskan untuk memaksa bangsa Arab untuk menyerah atau mengambil langkah perdamaian. Dengan apa? Dengan berbalik memerangi mereka. Karena hanya dengan cara itulah kaum Muslimin bisa menunjukkan kekuatan dan kepercayaan diri mereka untuk membuat bangsa Arab merasa ragu dan akhirnya tidak yakin dengan kekuatan mereka sendiri. Dengan begitu, jalan perdamaian akan menjadi pilihan satu-satunya yang harus diambil dan ditawarkan bangsa Arab terhadap kaum Muslimin. Sebagaimana yang dikutip dalam buku ini:

Hanya ada satu jalan bagi kaum Muslimin jika mereka hendak mengakhiri perselisihan. Mereka tidak bersedia menyerahkan kata hati mereka kepada bangsa Arab, yaitu, melepaskan hak mereka untuk menyatakan, mengamalkan, dan mentablighkan apa yang mereka sukai; dan tidak ada langkah menuju perdamaian dari pihak kaum kufar. Oleh karena itu, mereka itulah sekarang yang berkewajiban memaksa kaum Arab menyerah atau menerima perdamaian. Rasulullah s.a.w. mengambil keputusan untuk berbuat hal seperti itu. [hlm 113-114]

Jika Rasulullah SAW. memilih diam, maka perang saudara yang mencengkeram Arabia tidak akan berakhir. Apalagi jika Rasulullah SAW. memilih diam dan mundur, maka bangsa Arab akan kembali melakukan agresi terhadap kaum Muslimin. Lagi-lagi peperangan tidak akan berakhir.

Tentu saja Rasulullah SAW. tidak lupa mengajarkan etika dalam berperang. Sesuai dengan ajaran dalam Islam, tidak dibolehkan menyerang kaum wanita, anak-anak, dan kaum lansia. Jangankan mereka, pepohonan dan bangunan-bangunan pun dilarang untuk dihancurkan. Termasuk bangunan-bangunan agama lain juga masuk dalam hal-hal yang dilarang untuk dihancurkan.

Selain itu, masalah tawanan dan harta rampasan perang juga sangat diperhatikan oleh Rasulullah SAW. Saya kutip agak panjang mengenai masalah ini:

(8) Tentang tawanan perang Al-Quran mengajarkan:

Tidak layak bagi seorang Nabi bahwa ia mempunyai tawanan sebelum ia menumpahkan darah di waktu perang di bumi. Kamu menginginkan harta dunia, padahal Allah menghendaki akhirat bagimu; dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (8:68).

Berarti bahwa tidak layak bagi seorang nabi membuat musuhnya jadi tawanan-tawanan, kecuali sebagai akibat perang yang membawa banyak pertumpahan darah. Cara kebiasaan menawan (menyandera) suku-suku musuh tanpa perang dan pertumpahan darah yang berlaku sampai – dan bahkan sesudah – Islam lahir, diharamkan dalam ayat ini. Yang boleh dijadikan tawanan-tawanan ialah prajurit-prajurit dan setelah pertempuran usai.

(9) Peraturan membebaskan tawanan-tawanan juga ditetapkan. Kita jumpai demikian:

Dan apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang ingkar, maka pukullah leher-leher mereka; hingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka perkuatlah belenggu mereka, kemudian sesudah itu melepaskan mereka sebagai suatu kebaikan atau dengan tebusan hingga perang meletakkan senjatanya. Demikianlah berlaku segala peraturan menurut keadaan. Dan andaikata Allah menghendaki, tentu Dia mengambil balasan dari mereka, tetapi supaya Dia menguji sebagian dari kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, Dia sekali-kali tidak menyia-nyiakan amal-amal mereka (47:5).

Amal terbaik, menurut Islam, ialah membebaskan tawanan-tawanan tanpa meminta uang tebusan. Karena hal itu tidak selamanya mungkin, maka pembebasan dengan uang tebusan pun dibolehkan. [hlm. 124-125]

Keluhuran ajaran Islam terpancar sangat kuat dari penjelasan ini. Islam memuliakan manusia tanpa melihat status sosialnya. Sama sekali. Islam sangat memanusiakan manusia. Dan Islam sangat tegas dalam sikapnya ini. Islam tidak membiarkan sedikitpun celah bagi emosi untuk menguasai manusia sehingga bisa bersikap sewenang-wenang terhadap manusia lainnya, meskipun manusia tersebut sudah jelas-jelas bersalah dengan bertindak sewenang-wenang terhadap manusia lainnya, bahkan agama Islam itu sendiri.

Rasanya belum ada tulisan yang bisa menjelaskan dengan sedemikian masuk akalnya mengenai mengapa Rasulullah SAW. berperang, seperti yang ditulis Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra. dalam buku ini. Tidak hanya detail dalam bertutur, beliau juga dengan sangat cerdasnya bisa menjelaskan dengan sangat baik mengenai apa, kenapa, dan bagaimana Rasulullah SAW. berperang. Sungguh sangat dalam penuturan dan keilmuan yang beliau miliki.

Salah satu buku yang sangat saya rekomendasikan untuk dibaca agar lebih memahami kisah hidup Rasulullah SAW. yang sungguh luar biasa hebatnya.

 

*Tulisan juga telah dimuat di qureta.com.

Spotlight

โ€‹Beberapa hari ini, saya lagi suka banget nonton film Spotlight. Untuk yang belum familiar, Spotlight adalah sebuah film yang bercerita mengenai sebuah tim jurnalis yang khusus menginvestigasi sebuah kasus yang nantinya akan mereka publikasikan secara berkala dalam sebuah koran bernama Boston Globe. 

(Gambar diambil dari https://play.google.com)

Dalam film ini, kasus yang menjadi topik investigasi mereka adalah kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh kurang lebih 90 pendeta (di akhir film dijelaskan bahwa jumlahnya tidak hanya 90 orang). 

Sebuah kasus yang tidak hanya mengguncang nalar tetapi juga iman, khususnya di Boston yang warganya cukup relijius dan pembaca Boston Globe yang sekitar 53% nya adalah penganut Katolik yang taat.

Soal kasus pelecehan seksual ini sih saya tentu tidak punya kapabilitas untuk membahasnya. Walaupun ya kasus semacam ini sudah lama saya dengar, dan film ini membuat saya sadar bahwa ternyata permasalahan yang dihadapi dunia dalam hal ini tidak sesederhana yang disangka. Saya sih hanya ingin membahas mengenai apa yang saya suka dalam film ini.

Secara pribadi, saya suka dengan dialog-dialog dalam film ini, konfliknya yang nggak terlalu menguras emosi, dan juga interaksi berbagai karakter di dalamnya.

Selain saya jadi paham bagaimana kinerja para wartawan, saya juga paham bagaimana perjuangan mereka dalam menaklukan hati narasumber agar mau bersuara dalam kasus yang tengah mereka investigasi.

Membuka wawasan banget sih.

Saya juga suka banget dengan akting para pemain di film ini yang natural. Interaksi setiap karakternya sangat menggambarkan perilaku yang memang secara alami sering dilakukan manusia pada umumnya.

Menonton film ini seperti disuguhkan sebuah akting yang seolah (atau mungkin saja memang begitu adanya) diimprovisasi oleh para pemainnya tanpa batasan dari sutradara. Karena kesan alaminya dapet banget.

Menonton film ini membuat profesi wartawan, khususnya wartawan laporan khusus atau investigatif, tampak menantang dan menarik bagi saya. Rasanya film ini bisa menjadi inspirasi bagi siapapun untuk menjadi wartawan yang punya dedikasi.

Saya juga kagum dengan kegigihan para jurnalis ini (yang sepertinya memang sangat harus dimiliki, terutama mereka yang tengah menginvestigasi sebuah kasus sensitif) dalam menemui para narasumber, bagaimanapun mereka ditolak dan dicaci maki. Tapi nggak ada keterkejutan atau marah, sedih, kecewa ketika berhadapan dengan penolakan-penolakan dari mereka yang nggak mau bersuara. Sesuatu yang rasanya sulit untuk saya bayangkan akan bisa saya lakukan. ๐Ÿ˜

Dan menonton film ini mengingatkan saya bahwa kunci sebuah tulisan yang kuat adalah banyaknya data dan referensi yang kita miliki. Menulis, pada akhirnya, hanya sebuah proses terakhir dalam menyuguhkan sebuah fakta. Tetapi untuk menjadikannya sebuah tulisan yang memiliki ketajaman bak belati adalah ketersediaan data yang banyak dan kuat yang dalam proses pengumpulannya itu sendiri, memakan waktu paling banyak daripada proses menuliskannya.

Karena saya nggak begitu mengikuti perkembangan film dunia, saya juga baru tahu bahwa film Spotlight ini berhasil meraih dua penghargaan Oscar. Kategori yang bergengsi pula: Best Motion Picture dan Best Screenplay. Sebuah kepantasan saya kira mengingat kualitas film ini yang tidak saja menambah wawasan dari kasus yang menjadi tema utama film ini, tetapi juga menambah wawasan salah satunya dalam hal akting para pemainnya.

Sepertinya, film ini membuat siapa saja yang menontonnya bisa belajar banyak hal dan dari berbagai sudut. Salah satu film keren yang sudah pasti masuk daftar film favorit saya. ๐Ÿ˜Š

Membela Buta

Sebenarnya agak malas juga membahas aksi 411 kemarin. Tapi entah kenapa merasa harus meluruskan beberapa hal.

Ada yang bilang bahwa seharusnya Ahok tidak membahas kitab agama lain. Bahkan ada yang bilang orang Kristen pun akan marah kalau kitabnya diobrak-abrik orang lain.

Ini kesalahan sih. Orang-orang yang mengatakan hal ini memposisikan orang-orang Kristen seperti dirinya. Tapi faktanya nggak seperti itu.

Agama Kristen (dan Katholik), sepengelihatan saya yang jelas sangat awam saja, sudah lama diobrak-abrik kitab dan ajarannya. Oleh banyak orang.

Contoh paling mudah aja deh. Kalau pada suka baca novelnya Dan Brown yang Da Vinci’s Code, itu kurang mengobrak-abrik apa coba terhadap ajaran Kristen (dan Katholik). Tapi apa kemudian umat Kristen (dan Katholik) sedunia marah sampai bikin kerusuhan? Nggak ada. Sama sekali.

Jadi tolong, kalau mau membandingkan, jangan pakai perbandingan diri sendiri yang faktanya amat sangat bertentangan. Karena akan kelihatan kurang bacanya.

Kedua, ada yang mengatakan bahwa aksi 411 kemarin adalah momentum untuk menyaring lingkaran pertemanan. Bahwa yang menentang aksi ini pun harus dilemparkan dari lingkaran pertemanan.

Ya boleh-boleh aja sih. Cuma di sini bisa dilihat kedangkalan tolak ukur yang dipakai dalam menyusun lingkaran pertemanan. Ini malah menunjukkan ketidak-siapan dan ketidak-inginan untuk membuka hati dan pikiran dalam menerima perbedaan.

Sebenarnya sih nggak papa juga. Yang rugi toh yang memilih menutup diri. Cuma saya ingin mengingatkan aja, sayang lho benak sama hatinya kalau nggak dibiasakan dengan perbedaan. Sangat memungkinkan di masa depan akan ada kebenaran yang ditolak karena kekakuan benak dan hati dalam menerima perbedaan.

Sekedar mengingatkan bahwa semua nabi datang dengan perbedaan. Apa yang mereka ajarkan sangat jauh berbeda dengan apa yang diyakini umat-umatnya sebelumnya. Makanya nabi senantiasa ditentang dan ditolak. Karena apa? Karena umat yang mereka peringatkan sudah beku hatinya untuk menerima kebenaran yang ternyata berbeda dengan keyakinannya selama ini.

Jadi, jangan bangga dengan diri sendiri dan merasa ‘terlalu mulia’ untuk mau menerima lingkaran pertemanan yang berbeda selama pertemanan itu bukan menjerumuskan pada keburukan.

Yang ketiga, bahwa kita butuh membela Al-Qur’an itu saya setuju. Yang saya sangat tidak setuju adalah cara yang digunakan. Anda ingin membela Al-Qur’an artinya ingin menunjukkan kebenaran dan kemuliaan Al-Qur’an. Ada banyak caranya. Misalnya dengan tulisan yang berlandaskan keilmuan.

Aksi 411 kemarin harus diakui berdasarkan alasan yang salah. Ahok bukan ‘menyerang’ Al-Qur’an, apalagi Islam. Yang dia ‘serang’ adalah orang-orang yang menggunakan Al-Qur’an untuk niat politis. Perhatikan bedanya.

Siapa bilang Al-Qur’an nggak bisa digunakan untuk sebuah kebohongan. Yang dilakulan ISIS itu diyakini oleh mereka berdasarkan ajaran Al-Qur’an. Apakah yang dilakukan ISIS itu benar?

Benar bahwa Al-Qur’an itu mulia, semua isinya adalah kebenaran. Tapi jangan menafikkan bahwa kita manusia, adalah makhluk lemah. Kita manusia, walau dikasih akal, masih nggak bisa lepas dari kelemahan dalam memahami isi Al-Qur’an yang kedalaman ilmunya melebihi semua samudera di jagat raya ini.

Jadi terlalu naif kalau bilang “Isi Al-Qur’an adalah kebenaran sehingga tak mungkin bisa dipakai untuk sebuah kebohongan.” Yang melakukan kebohongan itu manusianya, bukan Al-Qur’an. Atas dasar apa? Atas dasar kelemahan manusia tersebut untuk memahami Al-Qur’an lebih dalam, dan kelemahan imannya sehingga bersedia melakukan kebohongan. Kebohongan dan Al-Qur’an jelas dua hal yang berbeda. Pahami dulu itu.

Buat saya, aksi 411 kemarin bukan aksi membela Al-Qur’an karena dasar permasalahannya sudah salah dipahami oleh mereka yang demo.

Kalau mau membela Al-Qur’an dan Islam, tunjukkan dengan akhlak. Tunjukkan bahwa akhlak kita sudah mencerminkan apa yang Islam ajarkan melalui Al-Qur’an. Itu adalah pembelaan terhadap Al-Qur’an yang paling mulia. Bukankah action speaks louder than words?

Membela boleh, tapi jangan buta. Allah Ta’ala kan memerintahkan kita untuk berpikir. Aplikasikan metode penelitian yang sudah kita pelajari bertahun-tahun di sekolah sampai di universitas dalam kehidupan juga. Verifikasi sebanyak-banyaknya sebelum mengambil kesimpulan. Kan gitu.

Menulis Digital

Udah lama banget nggak nulis di laptop. Sebulanan ini mengisi blog kebanyakan dari smartphone karena kebetulan memang sedang sangat menikmati menulis di smartphone dan kefleksibelannya untuk bisa posting kapan aja.

Jadi kemarin itu ada semacam pikiran iseng tapi kayaknya lumayan juga buat diabadikan di blog. Menurut saya ๐Ÿ˜

Saya tuh suka banget menulis diary sebulanan ini. Dalam sehari bisa lebih dari 10 hal yang saya tulis panjang lebar di diary. Dan diary-nya di smartphone tentu saja ๐Ÿ˜

Menulis digital atau menulis di gadget tuh kalau menurut saya punya banyak banget kelebihan dibandingkan dengan menulis manual menggunakan pulpen dan kertas.

Pertama, menulis digital itu nggak butuh banyak tempat dan menghemat kertas. Bayangkan berapa jumlah kertas yang bisa kita hemat dengan menulis di gadget. Dan berapa banyak buku catatan yang bisa kita bawa hanya dengan membawa satu buah gadget.

Kedua, menulis digital itu sangat efektif ketika kecepatan dan keindahan menjadi tuntutan. Kita tetap bisa menulis dengan cepat dan tulisan kita tetap bisa dibaca dengan sempurna bila kita melakukannya di gadget. Kalau di kertas dengan pulpen, ya sangat nggak mungkin.

Ketiga, menulis di kertas untuk sebuah penjelasan panjang, sama dengan menyediakan diri kembali ke jaman romusha. Alias penyiksaan. Menyiksa tangan karena udah pasti pegelnya sampe ke tulang-tulang bahkan bisa berhari-hari sakitnya. Dan yakin deh tulisan juga akan semakin susah dibaca seiring dengan bertambah sakitnya tangan.

Keempat, menulis digital memiliki resiko kehilangan dan pengubahan lebih kecil dibandingkan dengan menulis di kertas. Catatan yang ditulis di laptop bisa langsung diubah formatnya ke pdf untuk mencegah pengubahan, dan bisa langsung disimpan di cloud untuk mencegah kehilangan.

Di jaman ketika teknologi sudah sedemikian maju, gadget akan lebih efektif digunakan untuk menulis dan mencatat dibandingkan kertas dan pulpen. Bukan karena ingin menjadi terdepan dalam penggunaan teknologi, tapi ya karena itu tuntutan.

Penelitian saat ini memang masih belum berpihak pada dunia digital. Misalnya, ditemukan bahwa menulis dengan tangan lebih bisa menjaga daya ingat karena gerakan tangan yang terlibat dalam penulisan itu menjadi simultan bagi otak untuk menjaga daya ingat [1]. Kita akan lebih ingat dengan apa yang kita tulis dengan tangan dibanding apa yang kita ketik.

Kemudian ada penelitian lagi yang mengatakan bahwa kita akan lebih mudah mengingat apa isi sebuah buku dalam bentuk cetak daripada bentuk digital [2]. Karena dalam bentuk cetak, tulisan-tulisan itu sudah terjejak dalam posisinya masing-masing sehingga posisi tulisan lah yang membuat kita lebih mudah mengingat isi sebuah buku dalam bentuk cetaknya. Sementara dalam ebook, posisi tulisan berubah-ubah sehingga otak kita belum terbiasa dengan itu.

Soal daya ingat ini, saya sendiri belum bisa membuktikan karena saya sendiri memang agak kurang daya ingatnya ๐Ÿ˜ Tapi yang sejauh saya bisa ingat dan rasakan, saya masih lumayan bisa mengingat sebagian isi buku digital yang pernah saya baca di masa yang lumayan lampau.

Jadi, menurut saya sih (atau sekedar usaha membela diri ๐Ÿ˜) itu hanya persoalan waktu. Kita manusia akan bisa beradaptasi dengan itu. Ini soal mengubah kebiasaan saja yang memang sudah terbentuk ribuan tahun. Dan memang dengan kemajuan teknologi yang hanya terjadi dalam jangka waktu beberapa dekade, kita memang sangat membutuhkan waktu untuk terbiasa. Tapi kita bisa.

Atau nantinya kita akan dipaksa untuk bisa ๐Ÿ˜

*Referensi:
[1] Studi Buktikan: Daripada Pakai Gadget, Menulis di Buku Bikin Kamu Gak Gampang Pikun! | IDNtimes.com https://science.idntimes.com/discovery/indra/studi-buktikan-daripada-pakai-gadget-menulis-di-buku-bikin-kamu-gak-gampang-pikun

[2] Do E-Books Make It Harder to Remember What You Just Read? | TIME.com http://healthland.time.com/2012/03/14/do-e-books-impair-memory/

Sanggah dengan Tulisan yang Baik

Beberapa hari yang lalu, saya baca tulisan bagus karya Mbak Nong Darol Mahmada. Judulnya Ahok Pemimpin Islami.

Di suasana pilkada yang panas seperti bara api ini, judul tulisan semacam ini sudah pasti kontroversial sekali.

Tapi karena saya suka dan saya setuju, maka saya bagi tulisan ini di Twitter saya, dan di-retweet pula sama Mbak Nong.

Ketika saya tahu bahwa tweet saya itu di-retweet Mbak Nong, saya tahu akan banyak respon yang dialamatkan ke saya. Respon positif, terlebih lagi respon negatif.

Dan bener, yang merespon negatif suaranya kenceng dan berisik. Berisik dengan caci maki.

Tapi entah karena saya udah menyiapkan mental atau mungkin udah punya pengalaman dalam hal-hal semacam ini, saya nggak kaget apalagi marah.

Ya biasa aja gitu.

Yang saya rasain justru sedih, miris, dan kasihan. Ya sedih dan miris aja gitu dengan ketidakmampuan mereka menjawab sanggahan dengan baik, benar, dan santun.

Kasihan karena daripada menyanggah dengan tulisan yang sama baiknya, mereka memilih untuk menonjolkan emosi. Padahal justru emosi ini memperjelas ketidakmampuan mereka dalam menyanggah. Apalagi menyanggah dalam tulisan yang sama baiknya.

Saya sih nggak terpikir sama sekali untuk membalas segala caci maki yang ditujukan ke saya dan Mbak Nong. Sia-sia dan buang-buang tenaga.

Orang-orang semacam itu memang nggak mau berusaha dengan hati dan pikiran terbuka memahami, apalagi menerima apapun yang kita katakan.

Saya memilih untuk mengabaikan. Senyumin aja walau mereka nggak bisa lihat senyum saya. Hehe.

Padahal Islam yang saya yakini dan sangat saya cintai ini menyediakan samudera ilmu yang dalamnya tak terhingga. Seandainya ilmu-ilmu ini bisa terjejak dalam tulisan yang baik dan santun oleh umatnya, akan banyak hati yang tergugah.

Sayangnya, dengan modal hanya disuapi oleh ulama yang malas belajar dan malas pula membuka hati dan pikirannya, orang-orang ini merasa ilmunya sudah sekelas profesor.

Prihatin sih.

Lari Sekencang-Kencangnya

Baca-baca diary, ternyata saya pernah menulis soal target.

Kalau tidak salah waktu saya SMA, saya pernah sengaja ikut tes minat dan bakat. Salah satu yang disarankan psikolog kepada saya adalah, saya perlu memasang target untuk melakukan berbagai hal.

Nah masalahnya sepertinya saya payah banget kalau sudah urusan pasang target. Lalu kemudian datanglah kutipan-kutipan nan inspiratif dari Iman Sjafei, Agnes Monica, dan Lukman Sardi.

Iman Sjafei (silakan googling ๐Ÿ˜) pernah ditanya soal target hidupnya. Dan dia menjawab sederhana saja, dia hanya ingin berlari sekencang-kencangnya. Targetnya cuma satu: SIAP.

Siap untuk membiayai sekolah anak yang mahal. Siap untuk membeli gadget apapun yang dia inginkan. Siap untuk membiayai kehidupan istri kapan aja. Dan siap untuk serangkaian tantangan di masa depan.

Agnes Monica targetnya juga sama: SIAP. Siap untuk segala kesempatan yang datang di masa depan. Apapun itu. Karena nggak ada gunanya kesempatan itu datang tapi diri sendiri nggak siap menyambutnya.

Lukman Sardi juga memiliki prinsip yang sama. Dia mengatakan bahwa kalau kita sebaiknya SIAP untuk segala naik turunnya keadaan dalam perjalanan menggapai cita-cita.

Sepertinya prinsip ini pas banget untuk saya yang memang punya masalah soal target. Daripada punya target banyak-banyak, mending mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Memang nggak gampang ya karena masalah kesiapan ini tolak ukurnya berbeda-beda pada diri setiap orang. Saya sendiri juga masih sangat jauh dari kata SIAP bahkan menurut tolak ukur saya sendiri.

Tapi, daripada saya bingung dan pasang target yang muluk-muluk yang entah bisa tercapai atau tidak, lebih baik saya bilang pada diri sendiri untuk pasang target sederhana saja. Yaitu lari sekencang-kencangnya.