Ketagihan Menggendong

Udah lama banget nggak nulis apapun, dan sebenarnya draft tulisan soal menggendong ini udah ada dari bulan Januari. Tapi karena satu dan lain hal (serangan malas salah satunya 😁), akhirnya ketahan hingga hari ini.

Baiklah, mari kita mulai!

Saya ketagihan menggendong 😁 Nggak nyangka banget kalau ternyata menggendong itu bakal semenyenangkan ini 😁

Jadi ceritanya, sejak anak saya baru lahir, memang dia udah sering digendong. Saya dan Mbah Utinya seneng sekali gendong dia. Apalagi ini anak yang kami tunggu-tunggu. Walau diomongin keluarga dan orang-orang untuk jangan digendong terus nanti bau tangan, kita nggak peduli. Gendong tetap jalan.

Kemudian saya mau cari gendongan kaos supaya bahu nggak pegel kalau gendong anak bayik ini. Dari pencarian gendongan kaos, malah ketemu sama ilmu pergendongan. Menggendong ternyata ada ilmunya πŸ˜€ dan sangat ilmiah. Bisa dicari di mbah google.

Saya baru tahu bahwa menggendong ala kangguru itu ternyata cara menggendong yang paling baik, aman dan nyaman untuk bayi, juga untuk si penggendong.

Udah gitu, semua artikel yang saya temukan soal menggendong justru mengungkapkan banyaknya manfaat dan hal-hal positif mengenai menggendong ini. Tambah seneng aja.

Kata orang, kalau anak sering digendong nanti bau tangan, manja, cengeng. Tapi menurut penelitian, anak yang sering digendong akan lebih merasa nyaman dan aman karena mereka senantiasa didekap orangtuanya. Menggendong menumbuhkan bonding yang kuat antara orangtua dan anak, membuat anak lebih percaya diri dan mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan lebih baik.

Lalu kata orang, kalo anak sering digendong, nanti kita yang repot, pekerjaan rumah terbengkalai dll. Namanya pekerjaan rumah, ya akan ada terus. Nggak akan habis-habis. Tapi momen kebersamaan sama anak nggak akan bisa diulang. Nggak akan selamanya juga mereka minta gendong.

Lagipula sekarang cara menggendong juga udah beragam. Kita bisa tetap mengerjakan pekerjaan rumah sambil menggendong.

Berbekal pengetahuan itu, saya mulai menggendong anak saya dengan gendongan ala kangguru atau front carry, sejak usia dua bulan lebih. Patokannya setelah lehernya bisa tegak.

Yang nanya, yang kontra, ada banget 😁 Tapi saya cuek aja. Saya udah dapat ilmunya. Saya juga udah tanya ke dokter. Jadi saya punya landasan.

Sebenarnya anak saya juga bukan anak yang sering minta gendong. Dia tergolong anak yang nggak rewel. Cuma di saat-saat tertentu aja dia minta gendong. Bahkan ada saat-saat di mana dia nggak mau/bosan digendong πŸ˜…

Awalnya juga dia kurang suka digendong depan begini karena wajahnya nggak menghadap keluar. Padahal dia lagi suka-sukanya digendong menghadap luar. Tapi saya baca kurang bagus ya menggendong dengan muka hadap keluar. Jadi saya tetep coba gendong facing in.

Alhamdulillaah sekarang dia nyaman digendong front carry yang facing in. Saya juga merasa lebih nyaman 😁 Tangan masih bisa ngerjain apa-apa.

Momen-momen dia minta gendong ini nggak akan selamanya. Begitu dia bisa jalan dan lari, permintaan digendong akan berkurang dengan sendirinya.

Anak adalah yang utama. Pekerjaan rumah bisa dikerjakan nanti. Tumbuh kembang anak adalah prioritas. Ketika mereka menginginkan perhatian kita, maka berikan sebanyak-banyaknya, sebaik-baiknya.

Kalau cuma sekedar menggendong aja bisa bikin mereka merasa lebih bahagia, merasa lebih baik, lebih nyaman, lebih aman, kenapa nggak? 😊

Advertisements

Anak Sufor

Tulisan kali ini sepertinya akan lebih panjang. πŸ˜€

Beberapa saat setelah anak saya dilahirkan, dokter anak datang untuk memeriksa kondisinya. Pada saat itu dokter sudah menjelaskan kepada suami bahwa ada membran di bawah lidah anak saya. 

Membran ini bisa membuat anak saya kesulitan dalam menyusu ASI langsung dari puting ibunya. Tapi dokter anak masih ingin mengobservasi dulu apakah anak saya kesulitan menyusu ASI langsung.

Dan Alhamdulillaah nya selama 2 hari 2 malam di rumah sakit, nggak ada masalah yang dihadapi anak saya dalam menyusu ASI. Sehingga dokter anak pun tak menganjurkan tindakan lanjut untuk lidahnya.

Masalah mulai timbul ketika sudah sampai di rumah. Setiap kali mau menyusu, anak saya menangis. Tangisannya kencang sekali. Sehingga membuat kami sekeluarga khawatir. 

Belum lagi melihat badan anak saya yang kecil dan rasanya semakin kecil, membuat hati seperti teriris.

Dan ketika kami kontrol ke dokter anak seminggu setelah kelahirannya, beliau menyatakan bahwa membran di bawah lidah anak saya harus digunting. Alhamdulillaah nya ini hanya tindakan yang ringan dan anak saya nggak seberapa rewel setelahnya.

Tapi selanjutnya, tangisan setiap kali mau menyusu masih terjadi. Seminggu kemudian kami periksakan lagi ke dokter. Dan di sinilah tangis saya dan Mama saya pecah.

Kata dokter, lidah anak saya mengalami pelengketan di sisi kanan dan kiri bagian tengah sampai ke belakang. Makanya pergerakannya terbatas dan dia kesulitan mengunci puting ibunya. Dampaknya, dia tidak bisa kenyang dan selalu merasa kelaparan. Makanya dia selalu menangis.

Pantas saja setiap kali dia menyusu, durasinya bisa berjam-jam lamanya. Ternyata ini karena dia tidak merasa kenyang-kenyang.

Dokter pun menyarankan bahwa anak saya harus dibedah lidahnya. Inilah yang membuat saya dan Mama saya menangis.

Membayangkan anak sekecil itu, yang baru berusia dua minggu harus menjalani operasi, rasanya tak sanggup. Setelah dari dokter pun kami masih menangis. 

Tapi suami saya yang saat itu sudah kembali bertugas, berusaha menenangkan dan membesarkan hati kami. Sebelum bertemu langsung dengan dokter bedahnya, kami tak boleh patah semangat. Siapa tahu ada jalan lain.

Besoknya kami pun bertemu dokter bedah. Kebetulan beliau seorang perempuan dan seorang ibu tiga anak. Beliau juga sudah berpengalaman membedah mulut anak-anak dari yang usia 5 hari sampai yang usia 10 tahun. 

Beliau mengatakan bahwa kasus anak saya adalah kasus yang memang tidak ringan, tapi juga tidak berat. Insya Allah dia bisa menyembuhkan anak saya. 

Tapi karena berat badan anak saya di bawah 3 kg, akan berat bagi dokter anestesinya. Sarannya, lebih baik berat badan anak saya dinaikkan dulu.

Beliau pun menyarankan supaya anak saya dikasih sufor saja daripada dia kelaparan. Apalagi ASI saya tak bisa keluar bila dipompa. 

Mendengar hal itu, hati kami jadi tenang dan lega. Selain bahwa dokter bedahnya sendiri sudah punya cukup banyak pengalaman, beliau pun orang yang cukup terbuka dan tidak kaku dalam hal ASI. Beliau paham kondisi saya dan saya merasa sangat dimengerti.

Akhirnya sepulang dari rumah sakit, kami membeli sufor. 

Sebenarnya saya sangat menikmati saat-saat ketika menyusui anak saya. Saya bahagia melihat anak saya begitu semangat menyusu. Tapi saya juga sedih melihatnya menangis karena kelaparan dan kesal karena kesulitan menyusu ke saya. 

Belum lagi melihat badannya yang semakin kecil, perih hati saya. Karenanya suka tidak suka, mau tidak mau, sufor menjadi pilihan saya untuknya.

Alhamdulillaah anak saya suka dan cocok dengan sufornya. Dia bisa nyusu menggunakan dot dengan kuat. Dua minggu kemudian berat badan anak saya berhasil naik 500 gr. Perlahan-lahan badannya mulai berisi. Dia bisa lebih tenang, lebih jarang menangis karena sudah bisa merasa kenyang. 

Setelah saya dan keluarga pikir-pikir lagi, sepertinya kami tidak akan mengoperasi anak kami. Karena ternyata kondisi lidah anak saya mirip dengan kondisi lidah ayahnya. Insya Allah ke depannya tidak ada masalah berarti yang akan dihadapi anak saya berkaitan dengan lidahnya. Aamiin, insya Allah!

Biarlah anak kami tercukupi dengan sufor. Yang penting dia tumbuh sehat, aktif dan tak ada masalah dalam perkembangannya.

Kadang memang ada kesedihan dalam hati karena nggak bisa memberikan ASI untuk anak saya. Makanan terbaik yang disediakan Allah Ta’ala untuknya. Tapi dengan segala drama dan kondisi yang ada, saya rasa saat ini sufor pilihan terbaik. 

Saya pun masih menyimpan harap bahwa suatu hari saya diberi kesempatan untuk bisa memberi anak saya ASI. Bila Allah Ta’ala ridho, saya yakin hal itu bisa terjadi. 

Tapi apapun pilihannya, anak yang sehat adalah segalanya. Melihatnya sehat, aktif dan ceria itu benar-benar pengalaman berharga yang nggak bisa tergantikan dengan apapun.

Cerita Melahirkan

Langsung lompat ke cerita melahirkan ya, karena secara keseluruhan Alhamdulillaah masa kehamilan dilewati dengan aman dan nyaman. Paling lemes-lemes dan nyeri-nyeri yang biasa dirasakan ibu hamil. Jadi bisa dibilang nggak ada hal berkesan untuk diceritakan. 😁

Di pemeriksaan terakhir ke dokter, beliau mengatakan bahwa kalau sampai tanggal 23 September saya belum melahirkan juga, maka saya diminta periksa lagi ke beliau. Dan betul saja, sampai tanggal 23 saya nggak merasakan kontraksi sama sekali. 

Saya harus ke dokter. Maka saya pun prepared, bawa koper berisi pakaian saya dan calon anak saya. Dan ketika di USG, air ketuban saya sudah mulai berkurang. Dokter langsung meminta saya masuk malam itu juga. 

Mendekati hari persalinan, beberapa teman bertanya apa saya merasa deg-degan. Saya jawab biasa saja. Lebih tepatnya sih saya berusaha membuat diri saya merasa biasa saja. 

Saya nggak mau membayangkan yang buruk-buruk. Ini kan pertama kalinya saya hamil dan akan melahirkan. Saya belum tahu bagaimana sakitnya melahirkan. Bagaimanapun sakitnya dalam bayangan saya, nggak akan sama dengan mengalaminya langsung.

Daripada saya stres membayangkan sakit yang saya tak tahu bagaimana rasa yang sebenarnya, lebih baik saya santaikan diri saya aja. Saya tanamkan terus dalam benak saya, apa yang akan terjadi terjadilah. Perbanyak doa saja.

Begitu masuk rumah sakit di hari Sabtu malam tanggal 23 September, saya diinduksi untuk merangsang kontraksi. Sempat ada kontraksi hingga saya sulit tidur. Walau bidan mengingatkan agar saya memaksakan tidur supaya ada tenaga untuk melahirkan nanti, tetap saja sulit. Bagaimana enak tidur kalau rasa sakit mendera perut setiap beberapa menit.

Tapi kontraksi itu berlangsung sampai kira-kira jam 3 pagi saja. Setelahnya saya bisa tidur.

Minggu pagi, 24 September pukul 9, saya diinduksi lagi. Saya juga meminum homeopathy supaya bukaan segera lengkap. Dan kali ini kontraksi semakin intense munculnya. Rasanya sakit. Banget.

Saya nggak bisa menggambarkan secara rinci bagaimana sakitnya kontraksi. Pokoknya sakit. Banget. Titik. Menahan sakitnya sangat menguras tenaga saya. Untunglah suami selalu ada di samping saya. Memegang tangannya membuat saya merasa lebih kuat bertahan.

Dan sekitar jam setengah 11 kurang, ketuban saya pecah. Terasa sekali ada banjir air yang keluar dari perut. Tapi kata bidan, bukaan saya belum lengkap. Saya harus berusaha untuk tidak mengejan. Yang mana susahnya bukan main. 

Setengah mati saya berusaha menahan diri untuk nggak ngejan tapi setiap rasa sakit itu datang, rasanya tubuh secara otomatis mengejan. Hingga akhirnya saya bilang saya sudah tidak tahan, bidan memeriksa bukaan saya yang ternyata sudah lengkap.

Tapi tenaga saya sudah lumayan terkuras untuk menahan kontraksi. Sehingga nafas saya pendek-pendek setiap mengejan. Kepala bayi nyaris keluar tapi kemudian masuk lagi karena saya berhenti mengejan. 

Dan di sisa tenaga terakhir, barulah kepala bayi saya akhirnya keluar. Saya mendengar tangisannya. Kata suami yang selalu mendampingi saya, kepala bayi saya bisa keluar karena bidan pada akhirnya menggunting jalan lahirnya. Karenanya saya harus mendapat jahitan yang lumayan banyak.

Rasa sakit melahirkan ternyata belum ada apa-apanya bila dibandingkan sakitnya dijahit. Selama proses melahirkan, saya bisa menahan teriakan dan tangisan. Tapi ketika dijahit, saya nggak bisa menahan tangisan saya. Karena ternyata sakitnya luar biasa.

Tapi memang semua rasa sakit dan drama selama proses persalinan itu menjadi terbayar begitu melihat wajah bayi saya. Rasa bahagia yang tak terkira langsung menutupi semuanya. 

Di tangan saya, di pelukan saya, kini ada seorang manusia mungil. Yang di dalam tubuhnya mengalir darah saya dan darah suami saya. Anak kami, cinta kami.

Tepat di tanggal 24 September 2017, sehari sebelum saya berusia 32 tahun, Allah Ta’ala memberi saya dan suami hadiah terindah. Anak kami, keturunan kami.

Semoga Allah Ta’ala tak pernah luput dalam menuntun dan memampukan kami menjadi orangtua yang baik. Yang mampu membimbing anak-anak kami agar menjadi manusia yang senantiasa dekat dengan Allah Ta’ala. Aamiin Allaahummaa Aamiin.

Takut Kehilangan

Di usia kehamilan 5 bulan, saya sempat panik luar biasa. 

Ceritanya saya makan mie pangsit di warung langganan. Nggak seperti biasanya, tubuh saya langsung bereaksi nggak enak setelah makan mie pangsit ini. 

Perut terasa panas, nggak enak banget. Badan juga nggak enak, seperti mau demam. Kemudian lemes luar biasa.

Besok sorenya, saya lihat bercak darah di celana. Hati sih bilang nggak papa. Apalagi saya merasa gerakan si bayi malah tambah aktif. 

Tapi setelah selesai shalat Ashar saya browsing, kok pada nyaranin ke dokter. Soalnya ada yang sampe keguguran dan kehilangan bayinya. Langsung panik luar biasa. Saya pun langsung minta suami untuk antar ke bidan. 

Sepanjang jalan hingga menunggu giliran di bidan, saya nangis. Takut sekali kalau ada apa-apa dengan bayi saya. Suami selalu berusaha membesarkan hati. Tapi nggak tahu kenapa air mata tetap nggak bisa berhenti mengalir. 

Di situ saya merasakan pertama kali betapa sedihnya kalau kita kehilangan janin, berapapun usianya dalam kandungan kita. Saya nggak bisa membayangkan betapa menyesalnya kalau sampai saya kehilangan anak saya, apalagi karena kecerobohan dan kekuranghati-hatian saya.

Dulu ketika seorang kawan mencurahkan kesedihannya pada saya karena kehilangan janin yang belum lama ada di rahimnya, saya turut sedih. Tapi karena belum pernah merasakan hamil, kesedihan saya hanya dalam bayang-bayang saja. Kini setelah mengalami hamil, saya menjadi sangat paham betapa sedihnya kehilangan janin, apalagi yang begitu lama dinanti.

Tapi Alhamdulillaah janin saya sehat. Bidan meminta saya untuk banyak istirahat saja dan menjaga makanan yang masuk ke tubuh. Yang pedas-pedas untuk sementara dilarang.

Luar biasa leganya hati saya saat itu. Ketakutan saya tak terjadi. Alhamdulillaah janin saya sehat selamat dalam rahim saya.

Dan Alhamdulillaah janin saya itu kini sudah berwujud bayi mungil cantik yang kini tengah terlelap di pelukan saya.

Semoga Istiqomah

Udah lama banget ya nggak cerita apapun di sini. Semenjak hamil entah kenapa mood menulis mendadak hilang. Pas tahu hamil aja yang semangat diceritakan. Proses selanjutnya lebih senang dinikmati sendiri.

Intinya malas aja gitu cerita soal kehamilan ketika masih hamil.

Begitupun setelah melahirkan, kesibukan dan pengalaman baru sebagai ibu sangat menyita emosi dan tenaga sehingga tak tersisa semangat untuk bercerita. Padahal sebenarnya ada lumayan banyak hal menarik untuk diceritakan, atau sekedar diabadikan di blog ini.

Dan akhirnya, malam ini tiba-tiba kepikiran untuk mulai mengabadikan satu demi satu hal-hal yang selama ini dialami dan dipikirkan. Sayang banget rasanya kalau nggak ada jejaknya dalam bentuk kata-kata yang bisa dibaca.

Jadi, mulai malam ini berusaha menancapkan komitmen dalam hati untuk menuliskan satu demi satu pengalaman dan nilai-nilai apa saja yang saya alami dan temukan selama proses kehamilan, melahirkan, dan membesarkan si buah hati.

Semoga istiqomah! Aamiin! 😁

​[Copas] SUDUT PANDANG PERASAAN

Untukmu yang selalu gelisah setiap kali kita berpisah, untuk sementara waktu…

Apa bedanya meninggalkan dan ditinggalkan? Apa bedanya mengucap “sampai jumpa” dan berkata “selamat jalan”? Apa bedanya menoleh ke arah seseorang saat kita melangkah menjauh dan menatap punggung seseorang terus menjauh dari tempat kita berdiri?

Bagi sebagian orang, barangkali keduanya bermakna sama: Perpisahan. Baik untuk waktu singkat atau masa yang lama–atau barangkali teramat lama. Tetapi, ternyata kedua hal itu berbeda. Kedua hal itu berbeda dalam sudut pandang perasaan.

Bagi yang meninggalkan, fokusnya berada pada masa depan: Perjalanan yang panjang, waktu yang harus ditempuh, dan aneka hal lain yang akan ditemui di depan. Sementara bagi yang ditinggalkan: Fokusnya ada pada diri orang yang meninggalkan… yang pergi darinya untuk sementara waktu, yang tiba-tiba menebalkan rasa rindu, yang membuat semua waktu tunggu tak bisa diringkas dan jarak tak bisa diringkus.

Kini, rasanya aku mengerti mengapa kamu sering mengirim pesan “I miss you” padahal aku hanya meninggalkanmu ke kantor saja. Kini aku paham mengapa kau begitu sering meneleponku padal aku cuma ke luar kota semalam saja. Sekarang aku tahu rasa gelisahmu tentang semua perpisahan kita yang sementara itu, ternyata tidak berlebihan, justru mungkin aku yang kurang peka dan mengerti, sebab kita ternyata berbeda sudut pandang perasaan saja.

Jika saatnya tiba, ketika giliran kamu yang meninggalkanku dan aku yang melambaikan tangan dari muka pintu: Entah apakah aku akan kuat atau tidak untuk tidak gelisah dan buru-buru mengirimimu pesan pendek “Cepat-cepat pulang”, “Sudah di mana?”, atau “Jangan lama-lama”, atau “Aku kangen kamu!”

Namun, aku tahu, jika saat itu tiba kita akan baik-baik saja. Karena kini aku sudah mengerti.
Lombok, 22 Mei 2017

FAHD PAHDEPIE

Ini mewakili perasaan sekali. Semenjak menjalani LDM (Long Distance Marriage) hingga kini, setiap ditinggal walaupun sebentar (yang hitungannya menit sekalipun), pasti ada rasa rindu dan gelisah pada suami. 

Sehingga seperti sudah menjadi kebiasaan, setiap suami mau pergi apalagi kalau akan dalam waktu yang cukup lama, ada air mata yang rasanya sulit ditahan.

Sebentar lagi akan mengalami lagi LDM. Semoga senantiasa dikuatkan. Aamiin YRA.

Berjuang Sendiri

Kemarin, Bunda melihatmu untuk pertama kalinya. Dalam rahim Bunda, melalui monitor USG. Ayah dan Bunda kira, kamu masih berupa seonggok daging. Ternyata, kamu sudah besar. Sudah terlihat bentuk kepalamu, kakimu, tulang punggungmu, bahkan jantungmu. Kata dokter, kamu sudah berusia 16 minggu. Sudah 4 bulan!

Ya Allah.. Bunda rasanya ingin menangis, bahagia lihat kamu bergerak. Keajaiban dalam tubuh Bunda. Kamu ada di rahim Bunda. Sehat. Aktif. Rasanya Bunda nggak mau berhenti lihatin kamu di USG. Kalau bisa, inginnya tiap detik bisa lihat kamu bergerak di rahim Bunda. 

Tapi, Bunda merasa bersalah.. Selama 4 bulan ini, ternyata kamu berjuang sendirian ya Nak. 😭 Berjuang bertahan dari segala goncangan dalam perjalanan jauh yang Bunda lakukan bersama Ayah. Berjuang bertahan menangkis serangan makanan dan jajanan tak sehat yang Bunda makan. Berjuang bertahan membentengi diri dari tekanan ketika Bunda dengan santainya berbaring tengkurep ketika nonton tipi.

Duh, maafkan Bunda ya Nak.. Kali ini Ayah dan Bunda akan sekuat tenaga menjagamu. Bunda akan benar-benar menjaga kesehatan Bunda dan juga kesehatanmu. Tetap kuat dan sehat ya, Sayangku. Cintaku. ❀❀❀