Kesempurnaan Tak Membuatku Nyaman

Kesempurnaan itu sangat relatif. Tapi dalam beberapa hal, bisa jadi semua orang menyepakati kriteria2 apa saja yg masuk dalam kategori sempurna.

Saya ingat ketika saya ditawari seorang pria yg orang2 pikir pantas jadi pendamping hidup saya, testimoni orang2 mengenai pria tersebut benar2 sempurna buat saya. Dan bagi kebanyakan orang, saya yakin dia adalah sosok yg nyaris tak ada cela. Setiap hari saya disuguhkan cerita betapa perilakunya tak pernah ada noda bagi siapapun yg melihatnya.

Tapi saya malah merasa tidak nyaman. Saya ngga bisa berhenti bertanya, benarkah dia nyaris sempurna seperti yg orang2 bilang? Ngga. Dia pasti punya kekurangan. Ngga ada manusia yg sempurna. Sangat mustahil. Dan selama cerita2 mengenai ‘kesempurnaan’ itu disuguhkan kepada saya, saya terus berusaha mencari celah dan noda dari manusia yg satu ini. Tapi saya ngga bisa menemukannya.

Ketika akhirnya saya menemukan kekurangannya, saya menjadi sangat bersyukur karena Allah menunjukkan pada saya kekuranganya sebelum saya ‘jatuh’. Seketika, sosok yg begitu nyaris sempurna bagi orang2, menjadi sosok yg berwarna kelabu dan nyaris hitam bagi saya. Dan saya tahu, saya harus bersyukur karena akhirnya saya menemukan apa yg selama ini saya cari.

Kemudian saya kembali dekat dengan seseorang. Dan saya langsung disajikan kekurangannya di hari pertama obrolan kami. Entah kenapa, kekurangan itu terungkap dengan sendirinya dan saya bisa menangkap hanya dari obrolan saja. Tapi anehnya, saya merasa nyaman dengan itu. Saya merasa nyaman karena saya sedang berhubungan dengan pria yg tidak sempurna, dan ketidak-sempurnaan itu nyata adanya di hadapan saya. Saya tidak perlu lagi mencari dan bertanya-tanya. Semakin saya kenal, semakin saya tahu dimana letak kekurangannya dan dimana saya bisa menutupi kelemahannya itu. Saya benar2 merasa nyaman dan bahagia. Walau saya tahu, waktu yg saya butuhkan untuk hubungan ini masih amat panjang..

Tapi satu hal yg saya sadari disini adalah, ternyata kesempurnaan malah membuat saya tidak nyaman. Ketika seseorang terlihat sempurna di mata saya dan juga banyak orang, saya sadar seketika saya takut. Saya takut kalau nanti saya menemukan fakta bahwa kekurangannya justru tidak bisa membuat kesempurnaannya menang di mata saya. Saya takut, saya tidak bisa mentolerir kekurangannya walau di banyak sisi dia adalah sosok yg nyaris sempurna.

Ternyata bagi saya, ketidak-sempurnaan justru bisa membuat saya merasa bahagia, bisa membuat saya merasa berarti dan sosok yg penting bagi kehidupan orang lain. Dan perasaan itu benar2 tidak ternilai harganya.

4 thoughts on “Kesempurnaan Tak Membuatku Nyaman

  1. Lis, kayakanya kita lagi ngalamin hal yang sama…
    tapi kayaknya, gw ga bisa berfikir kayak lo…
    gw merasa bahwa gw berarti dan merupakan sosok yang penting bagi kehidupan seseorang tersebut tapi…
    gw masih ragu menjalani semuanya…

  2. Kalau masih ragu, mending biarin waktu yg menentukan.. Biarkan saja semua berjalan apa adanya.. Karena hati ngga bisa dipaksa dan dicampuri oleh siapapun..

    Walau kita dianggap berarti dan berharga oleh orang lain, tapi hati kita ngga bisa menjalani hubungan dengan orang tersebut, ya ngga bisa dipaksa.. Takutnya malah akan jadi sakit buat kita dan orang tersebut..

    Gw juga tadinya ragu dan membiarkan semuanya berjalan sesuai alur ajah.. Tapi makin lama gw sadar rasa itu ada, hati juga mulai condong ke dia.. Jadi sekarang bisa jalanin dengan nyaman.. ^_^

  3. WAH bener juga tuh buuu bair waktu yang menentukan,”Biarkan saja semua berjalan apa adanya.. Karena hati ngga bisa dipaksa dan dicampuri oleh siapapun..”
    Tapi makin lama gw sadar rasa itu ada, hati juga mulai condong ke dia.. Jadi sekarang bisa jalanin dengan nyaman.. ^_^

    tapi bedanya makin lama makin gw sadar gw ga suka ma dia , gw makin ga nyaman ma dia
    dan anehnya sekarang gw kadang kadang kangen ma dia
    gimana tuh buuu
    wasalam

  4. Yah, saya cuma bisa bilang, tanyain lagi sama kata hati Iyo.. Karena kata hati itu, menurut temen saya, paling jujur dengan apa yg kita rasakan.. Dan saya udah membuktikannya..

    Soal kangen.. bisa jadi rasa itu muncul karena terbiasa saja.. walau merasa ngga nyaman, tapi kalau terbiasa dengan keberadaannya, kangen juga bisa muncul kalau dia ngga ada..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s