Belajar Untuk Merendah Diri

Kemarin adalah hari yg sangat emosional bagi saya. Saat saya baru pulang setelah lelah dari suatu tempat, seketika saya online, emosi jiwa langsung menyerang tatkala saya melihat komentar saya di sebuah diskusi langsung dicerca seseorang yg saya tahu betul bagaimana sifatnya dan bagaimana dia sangat tidak pantas dan cukup kompeten berbicara seperti itu kepada saya. Saya terlalu emosi, seluruh badan gemetar karena saya tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, dilahap emosi yg sedang liar membakar.

Saya hanya bisa menangis. Saya menelpon teman saya hanya untuk mengeluarkan emosi dan tangisan saya. Tapi emosi itu tak kunjung reda, tangis tak kunjung berakhir, dan tubuh tak kunjung berhenti bergetar, sementara saya benar2 sudah merasa lelah menjajah saya.

Akhirnya saya berbicara juga dengannya, pria di hati  saya. Kami bicara secara online dan menyalakan webcam. Dia melihat saya menangis sedemikian rupa. Dan dia pun butuh beberapa kali untuk meminta saya menghentikan tangisan saya. Saya butuh waktu lebih dari satu jam dihibur dengan gurauannya sampai emosi akhirnya benar2 mengabur.

Sayapun menceritakan apa yg terjadi, mengapa saya sampai menangis seperti itu. Dengan penuh kesabaran dia mendengarkan, memperhatikan saya berbicara walau kadang jaringan yg padat melambatkan jalannya sosok kami di kamera masing2.

Kemudian setelah saya puas mengeluarkan apa yg sudah membuat dada saya sesak, dia pun hanya mengatakan sedikit saja kalimat namun bisa membuat saya lega, tenang, dan benar2 nyaman. Dia bilang, “Sayang, kita harus jadi orang yg selalu merendah.. Don’t take deeply the words from people who never take your words deeply.. Remember that you have people who really care about you.. Especially me.. Just release it, Honey..”

Bang Opik, di saat yg sama ketika saya sedang berbicara dengan pria hati saya, juga memberikan saya jawaban yg sangat menenangkan saya. Dia bilang, “Kalo kata Masih Mau’ud, kalo perlu walau kita benar, kita harus bisa merendah diri, bahkan minta maaf.”

Ini dia pelajaran yg saya dapat kemarin, bersikap selalu merendah diri. Saya kemudian menyadari saya belum menguasai pelajaran yg satu ini. Dua orang mengatakan hal yg sama pada saya, bagaimana saya harus bisa menanggapi pendapat2 dari orang dengan sikap merendah. Bahkan kalau perlu sampai meminta maaf, walau apa yg kita ungkapkan adalah kebenaran. Sulit, saya sangat sadari itu. Tapi saya sangat bersedia untuk belajar dan terus belajar menguasai ilmu merendah diri ini.

Hari ini saya mencoba membuka kembali diskusi yg kemarin membuat saya sakit dan merasa kalah oleh strategi perang seseorang. Saya mencoba membaca kata demi kata. Dan alhamdulillah saya bisa tertawa membacanya. Ada juga perasaan tenang dan cukup puas ketika membaca komentar balasan Agan yg membela saya dan menyerang balik si seseorang tersebut.

Yah, tapi seperti kata Bang Opik, diskusi kadang ngga perlu melihat siapa yg kalah atau menang karena kita belum tentu menemukan kebenaran dari diskusi apalagi kalau pakai emosi. Tapi namanya juga saya masih belajar, jadi kadang masih ada perasaan2 yg mencampuri proses pembelajaran untuk merendah diri ini.. ^_^

Terima kasih untuk pria hati saya dan Bang Opik atas saran kalian yg langsung mencerahkan emosi saya.. Dan pastinya tak lupa untuk Dia Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan tentunya Maha Pemberi Petunjuk.. Karena atas kasih dan sayangNya, Dia memberikan petunjuk dan pelajaran berharga melalui hamba2nya kepada saya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s