Mengungkapkan Kekaguman

Sebenarnya sangat sulit bagi saya untuk mengakui kejelekan diri sendiri. Tapi saya rasa, pengungkapan ini sekedar untuk mengingatkan diri saya pribadi bahwa saya punya niat untuk belajar. Belajar jujur, menerima kelebihan orang lain, dan ngga segan2 untuk mengungkapkan kekaguman kita akan kelebihan pribadi orang lain di depan si empunya kepribadian tanpa harus tercampuri perasaan dan pikiran2 negatif.

Saya mengaku bahwa saya adalah orang yg sangat sulit untuk mengeluarkan kata2 pujian dan kekaguman di depan orang yg memang saya kagumi. Dalam pikiran saya, saya tidak ingin membuat orang tersebut menjadi tinggi hati dan lantas menganggap dirinya lebih baik dari orang lain. Saya ngga ingin pujian saya bisa membuat saya menjadi semakin rendah diri di hadapan orang tersebut.

Bisa dibilang saya mengalami krisis percaya diri yg sangat parah. Dalam pikiran saya, saya adalah manusia yg sangat biasa, yg ngga punya kelebihan dan prestasi apapun yg bisa dibanggakan.

Secara fisik, bisa dikatakan saya ngga masuk dalam kategori ‘cantik’ menurut penilaian masyarakat Indonesia. Secara akademis, otak saya ngga masuk dalam kategori cerdas apalagi jenius. Sedangkan kepribadian dan sifat saya, saya merasa saya bukanlah manusia yg cukup baik dan menyenangkan bagi orang lain.

Kekurangan yg ada pada diri saya ini semakin membuat saya merasa rendah diri dan sensitif dengan penilaian orang lain pada saya. Dan semua ini menjadikan pengakuan akan eksistensi saya adalah hal penting dalam hidup saya. Dimanapun saya berada, saya ingin keberadaan saya diakui dan dianggap penting. Dan saya sadar, ego inilah yg menghalangi saya untuk mengeluarkan kata2 pujian dan kekaguman pada orang lain. Walaupun dalam hati, saya jelas sangat mengakui kelebihan orang tersebut dan sangat kagum pada kelebihan itu. Tapi kata2 pujian ini hanya akan membuat saya semakin terpuruk dalam ketidak-percayaan pada diri saya sendiri.

Saya sadar bahwa saya menjadi kurang percaya diri, karena saya jarang mendengar kata2 pujian yg tulus dari orang lain. Kata2 pujian yg bukan dengan niat basa basi apalagi menjilat. Tapi kata2 pujian yg memang datang dari hati dan merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan dan kelebihan yg saya miliki.

Tapi perlahan-lahan krisis percaya diri itu mulai mengikis seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan kedewasaan saya dalam berpikir dan bersikap. Saya merasa kebutuhan akan pengakuan keberadaan saya perlahan-lahan mulai meninggalkan posisinya sebagai tujuan utama dalam pikiran saya. Saya bisa lebih santai mengahadapi fenomena2 yg terjadi dalam hidup saya yg semakin berwarna, entah itu warna gelap atau warna cerah.

Selain itu, saya juga belajar banyak dari pria hati saya. Ketika pertama kali mengenal pria hati saya, saya risih dengan kata2 pujian yg ia ungkapkan. Saya menganggapnya hanyalah gombal belaka yg biasa dikeluarkan para pria sebagai jurus untuk menjatuhkan hati wanita. Saya sama sekali ngga bisa menemukan ketulusan dan kejujuran dalam setiap pujian yg saya dapatkan.

Tapi semakin saya mengenal pria hati saya, saya semakin sadar bahwa setiap pujian yg ia ungkapkan adalah kejujuran dan ketulusan yg keluar dari hatinya. Pujian2 itu pun akhirnya mengajarkan saya sesuatu. Bahwa saya adalah wanita yg sangat berarti dalam hidup pria hati saya. Bahwa keberadaan saya saja, sudah menjadi anugerah bagi pria hati saya. Dan saya merasa penghargaan ini sudah lebih dari cukup untuk membuat saya berpikir bahwa saya tak lagi membutuhkan pengakuan akan eksistensi saya dimanapun saya berada.

Saya juga belajar sesuatu. Bahwa pujian yg tulus, bisa membuat orang lain merasa yakin pada kemampuan dirinya sendiri. Bahwa pujian yg tulus, jujur, dan datang dari hati bisa membuat orang lain bahagia dan merasa punya arti dan guna dalam hidup orang lain. Dan perasaan itu tentunya sangat berharga.

Oleh karena itu saya ingin belajar untuk bisa mengungkapkan kekaguman saya dengan jujur dan tulus, tanpa harus merasa bahwa pujian itu akan semakin menjatuhkan kepercayaan dan keyakinan akan kemampuan dan kelebihan pribadi saya. Saya ingin meruntuhkan ego yg selama ini menghambat alur kata2 pujian dan kekaguman yg ingin saya keluarkan. Dan sepertinya saya harus mengawali proses pembelajaran ini dengan berusaha untuk bisa menerima kelebihan orang lain dan mengambilnya sebagai pelajaran untuk menjadi manusia yg lebih baik.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s