‘Dipaksa’ Mengecek Kepadatan Tulang

Hari ini saya ke Ciwalk sama Ata. Beli bahan2 buat spagheti. Tadinya mau ke Superindo. Tapi pengen ke Jogja juga. Udah bosen dengan Jogja BIP, kami berdua memutuskan ke Jogja Ciwalk.

Begitu kami masuk, ada seorang wanita muda tiba2 menghampiri kami. Wanita muda ini berpakaian rapi dan seragam dengan logo Anlene. Hm.. promosi.. Tapi dia ngga bilang “Maaf mengganggu sebentar Mba.. Kami mau menawarkan bla bla bla..” seperti yg biasa diucapkan orang2 yg sedang mempromosikan suatu produk. Si wanita ini mendekati saya (padahal saya udah siap2 buat nolak halus promosi si wanita ini) dan langsung menanyakan nama dan umur saya. Dia langsung menulis di selembar kertas kecil kayak kartu nama, kemudian dia meminta saya antri untuk ngecek kepadatan tulang saya selama satu menit ajah.

Saya pun menurut menunggu giliran mengecek tulang kaki saya. Selanjutnya ya tulang kaki saya diperiksa di sebuah alat ukur osteoporosis gitu selama beberapa detik. Kemudian pria yg duduk di hadapan alat ukur itu menulis hasilnya di sebuah kertas, kemudian kertas hasil tersebut diserahkan ke wanita ahli gizi yg duduk di sebelah si pria. Si ahli gizi menerangkan pada saya bahwa tulang saya masih bagus dan saya harus mempertahankannya dengan memakan makanan kalsium seperti susu dan kacang2an. Selesai cek, saya dikasih segelas kecil susu Anlene. Yah, dengan promosi juga pastinya.

Ata yg tadinya juga berusaha menghindar, akhirnya ngikutin saya dicek juga kepadatan tulangnya. Setelah selesai diuji, kita bahas deh ‘pemaksaan’ yg halus ini. hehehe..

Tampaknya metode ‘pemaksaan halus’ dalam promosi ini cukup berhasil karena kita ngga bisa menghindar atau bisa dikatakan ngga bisa menolak walaupun dengan cara yg halus. Saya sebut pemaksaan karena saya kan ngga berniat sama sekali untuk ngecek tulang saya. Emang sih berguna, tapi tetep ajah saya ngga ada niat. Dan kalo saya diburu waktu, gimana??

Udah gitu pria yg ngukur tulang kaki saya ngga ada ramah2nya sama sekali. Boro2 senyum, nyuruh saya naruh kaki di alat ajah pake isyarat dengan tangan. Menyebalkan..!!

Untungnya metode semacam ini saya alami untuk hal yg memang berguna untuk saya. Walau saya ngga beli produknya which means that promosinya ngga terlalu berhasil buat saya, tetep ajah metode ini cukup berhasil membuat saya terbungkam untuk menolak secara halus tawaran mereka. Yg saya bayangin, gimana kalo metode ini dipake sama perusahaan yg produknya ngga berguna buat saya?? Gimana menolak promosi semacam itu dengan halus?? Hm.. mudah2an saya bisa mengatasinya.. hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s