Ketika Cinta Bertasbih yang Berakhir Tak Berkesan

kcb_wallpaper01

Segala sesuatu yang sudah digembar-gemborkan sebelumnya, biasanya di ujung tak berakhir sebagus seperti yang sudah digembar-gemborkan. Ini salah satu pelajaran berharga yang saya dapatkan akhir-akhir ini.

Berlebihan memang menjadikan kalimat di atas sebagai pembuka postingan saya yang akan berisi daftar kekecewaan saya atas film Ketika Cinta Bertasbih. Tapi memang itu lah hikmah yang saya ambil dari film ini.

Ketika film Ayat-Ayat Cinta muncul, promosi atau kabar pembuatannya hampir tak terdengar sama sekali (bahkan untuk saya pribadi, saya tak pernah mendengar berita pembuatannya). Tetapi kemunculannya langsung menjadi fenomena yang luar biasa. Cerita, pemain, suasana, semua terasa pas buat saya. Hanung Bramantyo berhasil menghadirkan suasana, aroma, dan udara negara Mesir walau pembuatannya di Indonesia.

Sedangkan ketika film Ketika Cinta Bertasbih muncul, segala hal tentang pembuatannya sudah menjadi fenomena. Dari mulai audisi di beberapa kota, pemilihan pemain yang harus memiliki pemahaman luas soal agama, pembuatan yang sebagian besar di Mesir, dan sebagainya. Hebohnya promosi mengenai film ini tentu saja membuat penasaran para pecinta film di Indonesia. Harapan begitu tinggi untuk mendapatkan kepuasan akan film ‘fenomenal’ ini.

Sebenarnya bisa dikatakan saya sudah mulai tidak suka dan memilih untuk skeptis mengenai film ini. Saya tidak suka kehebohan yang dibuat mengenai film ini. Karenanya saya bersikap skeptis dan memilih untuk tak berharap terlalu tinggi bahwa film ini akan bisa memuaskan dan melebihi fenomena Ayat-Ayat Cinta. Agar ketika nanti ternyata filmnya mengecewakan, paling tidak saya tidak terlalu kecewa dan menyesal mengeluarkan uang untuk menonton film ini.

Dan benar apa yang saya skeptis-kan, film ini saya katakan gagal. Para pemain pendatang baru dengan akting yang terkesan berlebihan, suasana Mesir yang sayangnya sangat tidak terasa (yang sangat berbeda jauh dengan Ayat-Ayat Cinta), dialog-dialog panjang nan membosankan dan tidak penting, promosi para sponsor yang menyebalkan, dan……. adanya tambahan “TO BE CONTINUED” lengkap dengan cuplikan tayangan film yang akan datang. Ke-skeptis-an saya bahkan sampai ke tahap yang kritis. Saya khawatir saya telah salah nonton. Apa saya nonton sinetron di bioskop?? Hahaha.

Akan tetapi, ada beberapa scene yang saya suka. Cuma dua sih yang saya ingat. Ketika Azzam dinyatakan lulus. Saya merasakan luapan emosi Azzam di sini. Dan scene ketika Anna bilang dia ingin seperti Fatimah yang seumur hidupnya tak pernah dimadu Ali bin Abi Thalib, ingin seperti Khadijah yang seumur hidupnya tak pernah dimadu oleh Rasulullah SAW. Cuma dua scene itu yang melekat di ingatan saya. Selebihnya, tak ada. Ow, saya juga masih bisa bersyukur atas kehadiran mahasiswa Al-Azhar asal Palembang yang saya lupa siapa namanya. Kehadirannya cukup menghibur di tengah-tengah pemain yang aktingnya tak natural. Hehehe.

Kesimpulannya, saya tak mengambil hikmah apapun dari film Ketika Cinta Bertasbih (paling tidak untuk saat ini), selain bahwa kehebohan di awal biasanya tak berlanjut sampai ke akhir. Semoga kita semua dihindarkan dari sikap takabur dan riya. Amin.

(gambar diculik dari sini)

6 thoughts on “Ketika Cinta Bertasbih yang Berakhir Tak Berkesan

  1. kan pengurus pramad… pastiY dah hapal dong jalan menuju keimanan… disana kan dah disebut dgn jelas masalah menonton di bioskop… g usah diinterpretasikan lagi. Ta’at itu kunci kemenangan Islam.

  2. tadi pas lagi blogwalking, ada yg komentar dengan beberapa scene.. (http://djengwidz.wordpress.com/2009/06/15/one-of-bunches-weirdness/)

    saya lupa ada scene bahwa adiknya Azzam bilang di suratnya bahwa dia sudah lulus S1 Psikologi dan udah boleh praktek. Wih, ini bisa diprotes sama mereka2 yg kuliah Psikologi beneran (dan emang diprotes beneran sama yg nulis postingan ini karena dia adalah lulusan S1 Psikologi dan sedang menjalani S2). Yg namanya praktek mah ijinnya keluar setelah S2 Profesi atuh..

    trus ada lagi yg scene dengan kata2..
    “Cinta.. mengubah setan menjadi nabi.. mengubah iblis menjadi malaikat..”
    Hm.. lebay juga sih.. secara yg namanya Nabi tidak mungkin terpilih setelah dulunya dia adalah setan.. walaupun ini ditujukan pada sikap, sifat, atau pikiran dan kata2, tetap saja perumpamaan ini tak bisa diterima..

    baru sadar.. hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s