Belokan Singapur

Jakarta. Panas, padat. Walau sudah berkali-kali saya ke Jakarta, pendapat saya tak juga berubah. Jakarta tetap panas dan padat. Namun, ketika saya mengawali kunjungan rutin saya ke Jakarta sejak Sabtu, 4 Juli 2009, saya menemukan sebuah tempat di kota Jakarta yang jauh dari kata panas dan padat. Sebuah belokan jalan dengan taman-taman rindang yang berada di kedua sisinya. Sebuah belokan jalan yang tiap kali saya melewatinya, saya merasa seperti sedang berada di Singapura. Oleh karena itu saya menamakan area ini Belokan Singapur.

Setiap hari Sabtu, selama dua setengah bulan, dari tanggal 4 Juli sampai 12 September, saya hampir selalu melewati Belokan Singapur ini. Area ini terletak di depan Balai Sarbini. Sebuah jalan melingkar dari arah Jalan Jenderal Gatot Subroto menuju Jalan Jenderal Sudirman. Alasan saya menamakan area ini Belokan Singapur, karena kawasannya yang rindang, bersih dan tertata rapi. Dari kawasan ini pula saya bisa melihat kumpulan gedung bertingkat yang seolah ‘dipimpin’ sebuah gedung tinggi dengan lambang negara Singapura pada bagian paling atas. Ada juga gedung Artha Graha di sebelahnya. Kalau dilihat di peta, kawasan kumpulan gedung ini terletak di kawasan Sudirman.

Saya akan bisa merasakan pemandangan Belokan Singapur ini kalau saya duduk di bangku sebelah kanan di samping jendela mobil travel yang biasa saya gunakan. Sebuah travel car bernama Baraya jurusan Cihampelas-Bandung menuju Sarinah-Jakarta.

Belokan Singapur membuat saya selalu terkenang akan perjalanan saya ke negeri itu pada bulan Mei 2006. Untuk pertama kalinya, saya yang lahir dan besar di kota kecil, menginjakkan kaki di negara lain. Dalam pandangan saya, Singapura seperti kota mainan. Semua bangunannya tertata rapi, bahkan ada yang berwarna-warni. Bersih, itu pasti. Walau tak sebersih bayangan saya dimana tak ada sampah sedikitpun. Namun jika dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia, jelas Singapura jauh lebih bersih dan rapi.

Ketika saya melakukan city tour di hari terakhir saya berada di Singapura, saya melewati kumpulan gedung bertingkat yang sangat mirip dengan kumpulan gedung di Belokan Singapur ini. Julukan Singapura sebagai Kota Bisnis sangat terasa ketika saya melewati area kumpulan gedung ini. Namun di sisi lain, penataan kota yang sangat apik dan bersih juga sangat berkesan bagi saya. Karenanya, begitu saya menemukan Belokan Singapur ini, saya merasa seperti tidak berada di Jakarta. Dan saya selalu gembira kalau sudah akan melewatinya. Bagian dari Jakarta inilah yang paling saya nikmati dan selalu saya nantikan tiap kali saya akan ke Jakarta pada hari Sabtu selama dua setengah bulan itu.

xxxxx

Saya lahir di kota Bontang, Kalimantan Timur, pada tanggal 25 September 1985. Sebuah kota kecil yang berstatus kota administratif. Sebagai kota kecil, pembangunan di kota Bontang jelas tak semeriah kota-kota besar lainnya. Tak ada gedung bertingkat. Tak ada tempat perbelanjaan moderen atau yang dinamakan mal. Tak ada tempat nongkrong yang memadai untuk remaja seusia saya pada waktu itu.

Begitupula dengan akses informasi. Tak ada internet di rumah. Sesekali berlangganan koran. Saya pun tak terlalu suka mendengarkan radio. Toko buku yang layak hanya satu. Hanya televisi media yang paling saya suka. Dan media televisi punya andil yang cukup besar dalam membentuk citra kota besar dalam benak saya.

Terbatasnya pengetahuan dan akses informasi dalam hidup saya sejak kecil hingga remaja, menjadikan saya ibarat orang yang tak tahu apa-apa. Satu hal yang tak akan saya sangkal, saya suka gedung-gedung bertingkat. Ini satu-satunya citra kota besar yang saya suka. Jalan-jalan besar dan gedung-gedung bertingkat yang megah dan indah. Makanya saya sangat terkesan ketika melewati kawasan kumpulan gedung bertingkat di Singapura. Ia menjadi berbeda dengan yang ada di Jakarta karena di saat yang sama, saya juga merasakan teduh dan nyamannya kota ini. Hampir tak ada kepadatan seperti yang saya rasakan ketika berada di Jakarta. Oleh karena itu, ketika menemukan pemandangan dan suasana yang sama di Jakarta, saya sangat terkesan dibuatnya.

Buat saya, Belokan Singapur ini menarik. Ia adalah sisi kontras dari panas dan padatnya citra kota Jakarta yang selama ini melekat. Megahnya gedung-gedung bertingkat bersanding dengan teduhnya taman dan bersihnya jalanan di hadapannya. Dan suasana ini menjadi salah satu alasan saya selalu bersemangat rutin ke Jakarta setiap Sabtu selama dua setengah bulan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s