Berdamai dengan Masa Lalu

Kemarin tanpa diduga ketika saya online, pria masa lalu saya muncul dan menyapa saya. Yah, obrolan kami awalnya obrolan biasa. Basa basi menanyakan kabar terbaru masing-masing. Tadinya saya tidak punya niat untuk kembali ke masa lalu dan berusaha mencari jawaban atas prasangka buruk saya kepadanya selama ini. Saya pikir, saya mau tutup saja masa lalu itu dan memulai persahabatan kami dari awal.

Tapi saya tidak bisa tidak memikirkan masa lalu itu. Terlalu sakit ketika diingat. Dan saya sadar, saya perlu membahas masalah ini dengannya walau kami kini cuma bisa berteman. Saya sadar saya masih tersiksa prasangka itu, masih ada ruang kecil yg terisi dengan rasa benci di hati saya setiap kali dia menyebut-nyebut ‘masa lalu’.

Maka, saya beranikan diri untuk menanyakan semua prasangka saya, apakah benar dia melakukan itu, kenapa dia melakukan itu. Dan dia pun akhirnya menjelaskan semuanya. Semua, sejelas-jelasnya.

Dia menjelaskan dia sengaja membuat saya membencinya. Dia sengaja menciptakan skenario dan citra buruk tentang dirinya sendiri, membuat saya berpikir bahwa selama ini dia tak mencintai saya dan hanya memanfaatkan saya. Dia bilang dia terlalu mencintai saya tapi dia tahu dia tak punya kesempatan untuk memiliki saya seutuhnya. Dia putus asa. Dia ingin saya tak mengharapkannya. Dia ingin saya melanjutkan hidup dan menemukan orang lain yg bisa memberikan cinta dan kebahagiaan buat saya. Dan satu-satunya cara yg terpikirkan olehnya hanyalah dengan membuat saya membencinya. Membuat saya percaya bahwa dia pria jahat.

Tidak mungkin saya tidak menangis mendengar penjelasan ini semua. Tidak mungkin dada saya tidak sakit dan sesak. Semua tumpah tadi malam. Saya bilang betapa saya membencinya saat itu. Saya tidak bisa tidak sakit ketika dia menghapus saya dari daftar temannya di Facebook. Saya tidak bisa tidak menangis setiap kali saya melihat fotonya, apapun yg berhubungan dengannya.

Dia bilang berkali-kali dia pantas mendapatkan itu semua. Memang itulah yg dia inginkan. Karena dia ingin saya melanjutkan hidup saya tanpa dia.

Malam yg emosional. Tepat di hari ulangtahunnya. Dan sama-sama memakai kaos berwarna merah. Perasaan saya tumpah ruah, saya kangen masa-masa itu, seperti semalam. Duduk di depan laptop dan dia di depan komputernya. Menatap wajah dan memperhatikan sikap polosnya.

Dia masih seperti yg dulu. Polos, butuh perhatian, tersenyum malu, dan masih skeptis tentang kehidupan. Kenyataan bahwa dia tak bisa memiliki saya seperti yg dia inginkan, saya rasa membuatnya menjadi semakin skeptis akan hidup. Dan itu yg paling tidak saya suka dari dia. Terlalu keras batu dalam kepalanya, terlalu kuat pemikirannya untuk bisa dilunturkan.

Kalau saja saya tak membahas masalah-masalah di masa lalu, saya yakin sampai hari ini saya pasti masih akan tersiksa ketika menyebut namanya, ketika melihat foto-fotonya. Kalau saja saya tak menumpahkan perasaan saya di masa lalu itu tadi malam, saya yakin dada saya masih akan sesak sampai hari ini.

Cinta yg dulu sudah tak ada. Cinta saya untuknya sudah berubah, beralih bentuk menjadi cinta yg lain. Tak bisa saya gambarkan bagaimana bentuk cinta saya untuknya. Yg pasti prasangka itu sudah pergi, siksaan benci itu sudah hilang tak berbekas. Yg ada tinggal rasa cinta dan bahagia karena dia datang lagi dalam hidup saya, menawarkan persahabatan yg tulus. Dan saya ingin menjadi seseorang yg bisa membuat dia bahagia, mencerahkan hari-harinya, tanpa harus menjadi sosok yg bisa dia miliki.

2 thoughts on “Berdamai dengan Masa Lalu

  1. aku terharu membacanya bu… andai saat itu aku bisa menjadi saksi kebahagianmu yang telah berdamai dengan masa lalu,,,,
    aku ikut bahagia mengetahui smua itu… ^_^
    Menjalin persahabatan yang tulus dengan seseorang di masa lalu, it’s so sweet…🙂

    congrat ya ca,,,!! we must be survive… hehehe…

    1. iya.. makasih ya Ta.. seandainya dirimu ada di sini dan melihatku bisa berdamai dengan masa laluku.. halah.. hehehe

      iya Ta, bisa bersahabat dengan seseorang di masa lalu itu melegakan. Apalagi ketika kita sudah mendapatkan penjelasan dari dianya langsung tentang apa-apa yg menyebabkan putusnya hubungan kita. Lebih lega aja. Bebas dari prasangka pastinya. hehehe

      Semangat juga Ta..!! Definitely we must be strong women..!! haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s