Membalas Salam dari Orang Asing

Dulu saya pernah menyatakan bahwa ketika ada orang asing yg menggoda saya dengan salam, saya tak akan membalasnya. Argumentasi saya adalah bahwa saya tak tahu bagaimana menyikapi salam tersebut. Karena ketika harus membalas salam dari orang lain, saya merasa saya harus melihat wajahnya. Dan dapat dipastikan bahwa saya akan menjadi kikuk kalau harus melakukannya.

Lalu, saya mendapat pencerahan tentang masalah ini. Sekitar beberapa bulan yg lalu, ketika Teh Resmi belum ‘resmi’ menikah, saya dan dia berkunjung ke rumah seorang teman. Selesai berkunjung, kami pulang bersama. Dalam perjalanan, kami melewati sekelompok pekerja bangunan. Mereka pun menggoda kami dengan salam karena saya dan T’Resmi sama-sama memakai jilbab. Dapat ditebak kalau saya hanya diam membisu karena saya memegang prinsip yg lama bahwa saya tak akan membalas salam dari orang asing yg hanya berniat menggoda saya. Tapi Teh Resmi menjawab salam itu tanpa melihat wajah dari kerumunan pria-pria genit itu. Dia menjawab “Wa’alaikumsalam” dengan kepala menghadap ke bawah karena memang saat itu dia tengah memperhatikan jalanan sambil mengobrol dengan saya.

Di situlah saya sadar bahwa membalas salam tak perlu dengan menatap wajah kepada yg mengucapkan salam. Cukup dengan menjawab dan berjalan biasa, tak akan membuat kita menjadi kikuk.

Sejak itu, saya menerapkan apa yg telah tanpa sengaja diajarkan oleh Teh Resmi. Setiap kali ada orang asing yg menggoda saya dengan salam, saya akan membalasnya. Tapi saya tidak akan menatap wajahnya. Saya akan terus berjalan seolah tak ada apa-apa. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s