Suami Bukan Diktator

Dalam pernikahan, di mana posisi seorang istri di mata suaminya? Manakah yang harus diutamakan? Istri, atau keluarganya? Tapi bukankah istri dan anak adalah keluarga juga? Bukankah harus ada keadilan dalam melihat setiap masalah yg terjadi? Khususnya ketika masalah itu terjadi antara istri dan adik sendiri misalnya.

Sang suami sebagai pemimpin, harus bisa menunjukkan keadilan dan keluasan pandangannya dalam melihat setiap masalah yang terjadi. Bukan lantas posisi pemimpin menjadikannya sebagai seorang diktator dalam sebuah keluarga, dimana setiap keinginannya adalah titah yg harus dilaksanakan dan harus dituruti, dimana setiap kesalahan ditentukan dengan kacamata subjektifnya.

Kediktatoran seorang pemimpin, bahkan dalam keluarga, hanya akan menghasilkan pembangkangan dan kehancuran. Kesuksesan yang terlihat tidak akan bertahan lama. Sejarah sudah banyak memberikan bukti. Cukup kita jadikan pelajaran, bukan lantas menambah sejarah kediktatoran baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s