Pagi ini saya menghadapi ujian kesabaran

Dari seorang pria muda yg tiba-tiba menyapa saya dengan cara yg kasar lewat FB. Saya marah, sangat marah. Dan saya terkejut setengah mati dengan pilihan katanya yg sangat tidak Islami.

Tapi saya mencoba bertahan. Karena kemudian sebuah kesadaran datang dalam pikiran saya bahwa saya ingin menjadi guru di masa depan. Dan ini bisa menjadi latihan bagi saya dalam menghadapi murid-murid saya nanti, kalau memang saya harus mengajar anak-anak remaja.

Tidak mudah. Setengah mati saya berusaha mengendalikan amarah. Dan saya mencoba memilih kata yg bernada tegas. Tapi ya itu tadi, yg saya dapatkan adalah kekasaran-kekasaran lain.

Kemudian saya berpikir, tidak ada gunanya marah sama anak kecil semacam ini. Itu hanya sebuah penyiksaan lain. Tapi saya juga tidak sanggup menaklukannya. Terutama setelah dia dengan sangat tidak sopan mengajak saya menikah. Astaghfirullah..!! Istighfar berkali-kali.

Akhirnya saya memilih mundur dan menghapus dia dari daftar teman saya. Saya juga mem-block dia. Saya tidak bisa lagi bertemu atau bicara dengan makhluk semacam itu.

Sedih sih, berarti saya belum siap menjadi pendidik yg terdidik. Terutama terdidik emosinya. Saya masih harus berusaha lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s