Kenapa Harus JuPe??

Semua warga Negara memang berhak untuk dipilih dan memilih, termasuk Julia Perez. Ia berhak untuk dipilih menjadi bupati Pacitan.

Masalahnya adalah kenapa harus Julia Perez? Tak adakah figur lain di kota Pacitan sendiri yg dinilai lebih pantas menjadi pemimpin di kota itu?

Masalah utama dalam pandangan saya adalah Julia Perez tinggal di Jakarta. Ia tak pernah tinggal di Pacitan. Ia jelas tak tahu apa-apa tentang kota itu. Ia tidak tahu potensi apa saja yg bisa dan belum tergali di kota itu. Ia tidak tahu masalah-masalah apa saja yg dihadapi kota itu dan program-program apa saja yg bisa membuat kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat Pacitan.

Masalah dia artis bahkan dengan citra seksi sekalipun, buat saya bukan masalah. Penampilan bisa diubah. Tapi kemampuan, perlu proses waktu yg tidak sebentar. Kalau dia punya kemampuan memimpin, dia tahu potensi kota Pacitan, dia tahu apa saja yg harus dilakukan untuk menyelesaikan segala permasalahannya, maka dia harus diterima. Tapi sejauh yg saya lihat, dia sama sekali tak punya kemampuan bahkan pengetahuan untuk itu.

Ini juga yg membuat saya, dan saya pikir masyarakat yg lain, memandang sebelah mata untuk pencalonan seorang artis sebagai pejabat negara. Kalau sang artis sudah lama berkecimpung dalam dunia politik, dia sangat peduli dengan permasalahan di suatu daerah dan tahu betul apa-apa saja yg harus dilakukan untuk menyelesaikannya, kita sebagai masyarakat tentu bisa berharap. Tapi dari kacamata saya sebagai orang awam yg hanya tahu sepak terjang para artis dari media, saya melihat kebanyakan artis yg dicalonkan menjadi pejabat Negara, sama sekali tak punya pengetahuan tentang daerah yg akan ia pimpin atau wakili. Bukankah itu bisa menjadi bumerang untuk masyarakat yg memilihnya?

Tapi memang tidak hanya artis. Pada pemilu tahun lalu, saya baru tahu kalau orang Depok bisa dicalonkan menjadi anggota DPRD mewakili kota Cimahi. Dalam pikiran dangkal saya, sekali lagi saya bertanya: tahu apa mereka tentang daerah yg diwakilinya? Mereka tidak tinggal di kota itu. Mereka tidak merasakan dan menghadapi langsung permasalahan yg ada di kota tersebut. Mereka sangat mungkin bahkan tidak kenal dengan masyarakat kota tersebut. Lalu bagaimana mereka bisa menjadi wakil kota tersebut dan diyakini bisa memajukan daerah yg mereka sendiri tak pernah tinggali?

Semua orang tentu bisa belajar. Para artis dan mereka yg dicalonkan sebagai pejabat Negara walau bukan berasal dan bahkan tak pernah tinggal di kota yg mereka akan pimpin, tentu bisa dan harus belajar mengenal daerahnya. Tapi semua tak bisa dilakukan dalam waktu instan. Sebulan dua bulan menghadapi pilkada, bukanlah momen untuk mempelajari dari awal mengenai apa-apa saja yg dibutuhkan masyarakat kota yg akan dipimpin oleh mereka. Tapi masa-masa pilkada adalah momen untuk memperkenalkan program-program yg telah mereka rencanakan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yg telah mereka pelajari selama bertahun-tahun.

Saya tahu, ketika kita sudah membicarakan politik, maka tulisan semacam ini, pemikiran semacam ini takkan ada gunanya. Karena dunia politik yg selama ini ditampilkan di Indonesia tak ubahnya bagaikan perdagangan. Di Indonesia, politik adalah soal untung-rugi. Kemampuan tak penting, yg penting adalah siapa figur yg bisa mendulang suara lebih banyak dan bisa mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan dengan mudah.

Namun, tujuan saya menulis ini adalah minimal mempersuasi masyarakat agar bisa lebih cermat dan cerdas dalam memilih calon pemimpinnya. Walau bagaimanapun, masyarakat lah pemegang kendali penuh dalam memilih pemimpinnya sendiri. Kalau sebagian besar masyarakat Indonesia satu pemikiran, maka kasus-kasus semacam ini takkan terulang lagi di masa yg akan datang. Memang terdengar utopis, tapi tak ada kata terlambat untuk sebuah usaha. Saya bukannya ingin terlihat sok pintar dengan menasehati masyarakat. Tapi kalau saya dikatakan provokator untuk hal ini, saya rela. Demi masyarakat Indonesia yg lebih maju dan lebih cerdas. Hehe.

(Gambar diambil dari sini)

4 thoughts on “Kenapa Harus JuPe??

    1. bagaimana dia bisa menegasi para politisi gagal di Pacitan kalau dia bahkan belum pernah ke Pacitan? berarti dia tidak kenal dengan masyarakat dan pemerintahan di sana..

  1. menurut pandangan (ngasal) saya, jupe punya daya tarik tersendiri. Oleh karena itu, dia diberdayakanlah sebagai daya tarik bagi pacitan, terutama bagi calon investor gitu. haha, ngasal (tapi ada benernya juga :D)

    Tapi jujur, saya lebih seneng liat dia maen iklan sutra dibanding maen politik:D (ehh.. ga seneng2 amat sih sebenernya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s