Saya dan Pengemis :)

Dalam buku Emak karangan Daoed Joesoef, ada satu bab yang saya tandai pertama kali. Bab itu berjudul Emak dan Pengemis. Dalam bab itu Daoed mengungkapkan bahwa Emaknya membenci pengemis. Dan itu mengejutkan saya karena sebenarnya saya pun memiliki pandangan yang sama terhadap pengemis. Saya tak menyukai mereka yang hidup dari mengemis. Alasannya sederhana, keberadaan mereka semata-mata karena mereka terlalu malas untuk mencari rejeki dengan kerja keras, yang tentunya halal dan baik. Dan di bab ini saya mendapatkan lebih banyak argumentasi kenapa pengemis selayaknya tak disukai.

Dalam bab ini, Daoed menuliskan beberapa tingkah laku pengemis yang Emak anggap sebagai tingkah laku yang ‘membencikan’. “Pertama, orang ini dengan sengaja menyalahgunakan ayat-ayat suci untuk membenarkan perbuatannya, seolah-olah ayat-ayat ini diturunkan memang demi membenarkan kepengemisan. Dengan begitu dia juga sebenarnya telah merendahkan derajat dan martabat agama kita.” [Emak, hal 62]

Sepakat. Buat saya, para pengemis yang berusaha menggelitik sifat kedermawanan kita dengan ‘menjual’ ayat-ayat suci sebenarnya telah menghina dirinya sendiri dan tentu saja menghina agamanya. Dan kalau kita terpancing dan memberi mereka uang, kita tidak hanya melestarikan keberadaannya tetapi juga menyuburkan jiwa-jiwa pemalas semacam ini.

“Kedua, dengan meminta-minta sambil berdoa itu, si pengemis mengutak-atik rasa keseagamaan dan kemanusiaan kita. Dia dan kita memang seagama, tetapi apa yang dilakukannya jelas bukan yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Kita memang harus berperikemanusiaan tetapi apa yang dilakukannya itu jelas tidak sejalan bahkan bertentangan dengan ketentuan budi dan akhlak manusia yang terpuji.” [Emak, hal 63]

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya bahwa para pengemis semacam ini menggelitik nurani dan keberagamaan kita. Padahal kalau mereka benar-benar membaca dan memahami pesan yang terkandung dalam ayat-ayat yang mereka jadikan dalil untuk membenarkan tingkah laku mereka, dengan sendirinya mereka tak punya alasan kuat untuk mengemis. Islam tak pernah mengajarkan mengemis untuk mendapatkan sesuatu bahkan dalam keadaan sangat miskin sekalipun.

“Ketiga, dengan meminta-minta itu, si pengemis tidak hanya menipu kita tetapi juga membohongi dirinya sendiri. Dia menipu kita karena telah menutup-nutupi kemalasannya. Dia pasti malas mengingat masih ada jerih payah lain yang merupakan sumber penghasilan yang halal. …. Dia membohongi dirinya sendiri dengan berbuat seakan-akan sudah tidak ada jalan lain untuk mencari duit selain dengan cara mengemis.” [Emak, hal 63-64]

Sudah sering saya dengar orang cerita bahwa sebagian besar para pengemis itu tak pernah mau bekerja. Mereka beranggapan bahwa penghasilan yang mereka dapatkan dari mengemis jauh lebih besar daripada yang mereka akan dapatkan kalau mereka bekerja. Apalagi ditambah fakta bahwa mengemis tak banyak mengeluarkan banyak tenaga dan pikiran. Dan ini bukan saja sekedar cerita, tetapi ini juga adalah fakta ketika saya mendapatkan seminar kecil dari wakil Departemen Sosial mengenai anak jalanan. Apa bedanya anak jalanan dan pengemis? Tidak ada. Anak jalanan dilatih untuk menjadi pengemis di masa depan.

Bagaimana dengan pengemis yang cacat? ““Barangkali cacat-cacat tersebut dapat merupakan pengecualian,” sahut Emak, “dapat dijadikan alasan untuk memohon belas kasihan. Namun orang cacat pun kalau mau dapat menghasilkan sesuatu sebagai sumber kehidupan.”” [Emak, hal 64]

Selama saya hidup, sudah banyak sekali inspirasi yang saya lihat baik di media-media ataupun dalam kehidupan nyata bagaimana orang-orang cacat mampu berkreasi dan menghasilkan sesuatu untuk mendapatkan uang. Bahkan kadang orang-orang dengan tubuh sempurna masih kalah dalam berkreasi dibandingkan dengan orang-orang cacat tersebut. Lalu, ini pertanda apa? Bahwa bagaimanapun bentuk tubuh kita, mau sempurna atau tidak, kita semua punya hak dan kemampuan yang sama dalam meraih rejeki yang halal dan thoyib. Tentu saja kalau kita ada kemauan.

Menurut Emak, sesungguhnya pengemis itu bukan miskin harta atau benda. “Sebenarnya mereka lebih banyak miskin dalam pikiran, gambaran dan lebih-lebih dalam kemauan.” [Emak, hal 64] Pendapat ini sangat sesuai menggambarkan kemiskinan para pengemis ini. Karena mereka sangat miskin dalam pikiran, gambaran, dan dalam kemauan, maka bukan materi yang selayaknya kita berikan. Tetapi tentu saja yang bisa memenuhi kebutuhan mereka akan pikiran yang lebih baik, gambaran bahwa mereka punya harga diri untuk bisa melakukan pekerjaan yang akan membuat mereka lebih terhormat, dan tentu saja kemauan untuk mau bekerja keras.

Saya dan Emak bersepakat dalam satu hal bahwa memberikan uang kepada pengemis adalah perbuatan yang tidak mendidik. Tetapi Emak sekali lagi menyentak pikiran saya ketika makna ‘tidak mendidik’ ini ternyata bukan untuk pengemis saja. “Maka kalau kita melayani kehendak pengemis begitu saja dengan dalih kemiskinan, kita tidak hanya tidak mendidik mereka, tetapi lebih-lebih juga tidak mendidik diri kita sendiri agar bisa lebih tepat dalam bertindak.” [Emak, hal 65]

Dan di akhir bab ini, satu kutipan lain dari Emak yang sepaham dengan pikiran saya. “Yang disebut kemujuran itu tidak ada, yang ada adalah kemauan berusaha yang tak kenal surut, pantang menyerah.” [Emak, hal 69]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s