Kemana Toleransi dan Keramahan Bangsa Ini?

Saya sungguh tidak mengerti dengan bangsa ini, saat ini. Sejak kecil saya sudah disuguhi wawasan bahwasanya Indonesia terkenal dengan ciri khas masyarakatnya yang selalu penuh toleransi dan keramahan. Tapi fakta yang saya temui di lapangan, khususnya akhir-akhir ini, ciri khas itu perlahan-lahan mengabur layaknya kabut embun yang perlahan menghilang bersamaan dengan waktu. Bangsa ini tak lagi mengedepankan toleransi dan keramahan setidaknya dalam merespon dua kasus yang marak belakangan ini: keberadaan Ahmadiyah dan persinggungan dengan Malaysia.

Dengan saudara-saudara mereka sendiri, yang memiliki keyakinan berpayungkan nama Ahmadiyah, bangsa ini tampaknya seperti mengalami amnesia akut dengan sikap khasnya yang toleran, apalagi keramahan. Bangsa ini yang sejak awal sudah dibangun dalam keberagaman dan diperkuat dengan semangat menghormati perbedaan, seolah lupa sejarah bangsa dan tak lagi memandang saudara-saudara mereka yang Ahmadi sebagai manusia. Mereka tak bisa [atau memang tak mau] membuka mata, pikiran, dan hati nurani mereka sendiri sebagai manusia untuk berempati dan mencoba memposisikan diri mereka sendiri seperti kami, para muslim Ahmadi. Mereka dengan mudahnya serta merta menghakimi dan memandang rendah manusia lainnya hanya karena memiliki keyakinan yang berbeda. Okelah kalau Ahmadiyah dipandang sesat bahkan oleh seluruh dunia sekalipun, tapi apakah para penganutnya lantas bukan lagi manusia yang layak dihormati hak-haknya? Anda berhak tidak setuju atau tidak suka dengan keyakinan Ahmadiyah, tapi bukan berarti Anda punya hak untuk berbuat kekerasan dan merendahkan para penganutnya. Para Ahmadi, termasuk saya, tetap punya hak-hak yang sama dengan manusia lainnya di dunia ini yang sudah menjadi bawaan sejak dilahirkan. Kita semua punya hak untuk hidup, makan, bekerja, beribadah, dan lain sebagainya sepanjang hak-hak itu tak mengganggu hak-hak manusia lainnya. Hanya Tuhan yang berhak mencabut hak-hak itu dan itupun melalui kematian. Saya sangat menyayangkan hilangnya ciri khas bangsa yang telah mendunia ini seiring dengan semakin majunya teknologi, semakin terbukanya tabir-tabir ilmu, yang seharusnya diikuti pula dengan semakin terbukanya pikiran manusia. Tapi yang terjadi, justru kemunduran akhlak dan pemikiran lah yang dipertontonkan sebagian manusia di bumi ini.

Begitupula menghadapi persinggungan dengan Malaysia. Sebagian masyarakat terlalu berlebihan dalam menanggapi kasus ini. Bangsa ini seperti lupa bahwa mereka telah mengajarkan generasi-generasi mudanya untuk selalu menghormati dan memperlakukan tetangganya [apalagi tetangga dekat] dengan sebaik-baiknya. Tetapi ironisnya yang dipertontonkan justru sebaliknya. Bangsa ini seperti binatang buas yang begitu nafsu memerangi tetangga sendiri. Sebagian masyarakatnya tak mempertimbangkan betapa kompleksnya hubungan yang telah dibina kedua negara dengan sangat baik selama bertahun-tahun. Tak hanya hubungan ekonomi, tapi juga hubungan sosial bahkan hubungan individual yang dibangun oleh sebagian masyarakat kita dengan warga Malaysia melalui pernikahan. Sudah terbayangkah bagaimana suasana negara kita bila harus berperang dengan tetangga sendiri yang sangat dekat seperti Malaysia? Tak bisakah sebagian masyarakat Indonesia yang begitu nafsu berperang ini berpikir dengan lebih bijaksana?

Sebagian masyarakat ini, yang seharusnya pikirannya juga semakin cerdas dan luas, seolah seperti anak kecil yang tak tahu apa-apa namun begitu ngotot menuntut hanya karena tersulut emosi. Parahnya, hal ini didukung media-media kita yang tak berusaha meredam emosi dengan menyajikan berita-berita yang berimbang, tetapi malah mengompor-ngompori layaknya ini sebuah hiburan.

Bagaimana kita bisa dihormati kalau kita tak bisa menghormati orang/negara lain? Bagaimana kehormatan bangsa kita bisa diakui kalau kita bahkan tanpa sadar merendahkan martabat kita sendiri dengan menunjukkan kelakuan barbar? Bagaimana kita bisa dipandang sebagai negara yang berdaulat kalau kita sendiri tak bisa menghargai dan melindungi apa yang kita miliki? Bagaimana kita bisa dihargai dan dihormati pihak lain kalau saudara sendiri saja tidak dihargai dan dihormati?

Semoga kita semua menjadi masyarakat yang semakin terbuka dan cerdas dalam berpikir dan bersikap. Semoga kita tak sampai benar-benar kehilangan rasa toleransi dan sikap ramah baik kepada saudara sendiri ataupun kepada tetangga [dekat] kita. Amin.

One thought on “Kemana Toleransi dan Keramahan Bangsa Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s