Terjebak Gengsi di Kelas IPA

Ketika D (aku menulis tentangnya di sini) ke Bandung beberapa minggu yang lalu, salah satu pembicaraan kami adalah gengsi ketika di sekolah. Ternyata ketika SMA, kami sama-sama peduli dengan pandangan masyarakat bahwa masuk kelas IPA jauh lebih bergengsi dibanding masuk kelas IPS. Dan ketika kami sudah semakin dewasa, citra itu perlahan pudar dan menghilang. Kalau kami bisa kembali ke masa SMA, dengan membawa pemikiran yang saat ini kami miliki, kami yakin kami akan memilih menjadi anak IPS dibanding anak IPA. Karena memang itu yang menjadi ketertarikan kami selama ini. Tapi gengsi telah menjerumuskan kami ke neraka (ini agak berlebihan memang :P). Tapi aku sendiri memang merasa benar-benar tersiksa kala itu. Setiap momen pembagian rapor, nilai-nilai mata pelajaran IPA tak pernah memuaskan orangtuaku. Kalau aku pribadi sih puas, karena masih untung nilai-nilai itu tidak berwarna merah. Aku puas karena nilai-nilai itu masih bisa menyelamatkan aku dari ketertinggalan kelas😀

Semakin tua usiaku, semakin banyak orang yang aku temui dan dalami pemikirannya, semakin bertambah luas cara pandang aku. Aku tidak suka dengan parameter bodoh dan pintar berdasarkan ranking akademik di sekolah. Aku tidak suka dengan paradigma bahwa IPA lebih baik daripada IPS. Seandainya saja aku tidak dikuasai perasaan gengsi, aku akan memilih kelas IPS waktu SMA. Kalau masih ada kelas Bahasa, aku pasti akan masuk ke sana.

Aku masih ingat ketika aku mendapat kabar bahwa aku masuk kelas IPA, aku pikir aku telah memberikan kebanggaan pada orangtuaku. Aku tidak tahu pasti apakah mereka memang bangga atau tidak karena mereka tidak begitu mengekspresikannya. Yang pasti, mereka merespon biasa saja ketika aku memberi mereka kabar bahwa aku masuk kelas IPA.

Aku kecewa, jelas. Aku pikir mereka akan tersenyum bangga dan mengungkapkan kebanggaan mereka. Tapi tidak. Mereka biasa saja. Ternyata bagi mereka tidak begitu penting apakah aku masuk IPS atau IPA. Yang penting di kelas manapun aku berada, aku belajar dengan baik. Itu saja. Tapi aku masih bertahan berada di kelas IPA karena aku begitu peduli dengan pandangan orang lain padaku. Padahal ketika itu setiap anak diberikan kesempatan untuk pindah kelas dalam waktu seminggu. Aku memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu. Dan parahnya, aku (dengan segala kerendahan dan kedangkalanku dalam memandang dan berpikir ketika itu) heran dengan teman-teman yang memilih pindah kelas. Dalam pikiranku, ‘Masuk kelas IPA itu susah. Mereka yang di kelas IPS banyak yang iri sama kita yang terpilih di kelas IPA. Kok mereka malah mau pindah?’ Tapi aku yakin, mereka lebih menikmati sekolah dan masa-masa SMA dibandingkan aku. Bukan berarti aku tidak menikmati masa-masa SMA. Aku beruntung karena kelasku dipenuhi dengan anak-anak yang tidak begitu serius dalam belajar dan memiliki kekompakan yang sangat tinggi. Mereka tak pernah merendahkan siapapun, termasuk aku yang amat sangat pas-pasan dalam mata pelajaran IPA. Dan masuk di kelas IPA bersama mereka adalah anugerah buatku karena aku menjadi tidak benar-benar merasa seperti di neraka yang dipenuhi dengan anak-anak serius dan memang pintar di bidang IPA.😛

Tapi masalah belajar, aku yakin teman-temanku yang memilih untuk pindah ke kelas IPS jauh lebih menikmati masa-masa belajar mereka. Selain mereka menikmati pertemanan dan kekompakan di kelas, mereka juga menikmati kegiatan belajar mereka lebih daripada aku. Mereka tidak akan begitu membenci kegiatan belajar sampai-sampai ketika selesai UAN, langsung merobek jadwal pelajaran saking merasa muak melihatnya seperti yang aku lakukan.😀

Aku tidak begitu tahu dan kenal dengan pemikiran dan karakter anak jaman sekarang. Selain bahwa tulisan alay yang sedang marak di kalangan mereka, selebihnya aku tidak tahu apakah mereka peduli dengan penilaian orang lain mengenai diri dan kemampuan mereka. Aku tidak tahu apakah yang mereka pikirkan saat ini sama dengan apa yang aku pikirkan ketika aku seumuran mereka. Apakah mereka masih peduli dengan gengsi kalau masuk kelas IPA dibandingkan dengan masuk kelas IPS? Aku tidak tahu pasti. Tapi aku harap sih ngga ya. Jaman sudah berubah. Sudah seharusnya mereka mengubah paradigma mereka dalam melihat sesuatu. Sudah bukan jamannya lagi menyanjung-nyanjung anak IPA lebih daripada anak IPS. Apalagi merendahkan anak Bahasa (yang bahkan kelasnya sudah tidak ditemukan di sekolahku dan beberapa SMA lainnya). Sudah saatnya membuka pikiran lebih lebar. Setiap bidang ilmu pantas mendapatkan penghargaan dan penghormatan yang sama. Keduanya sama-sama penting dan dibutuhkan dalam kehidupan.

Orang IPA tidak akan bisa berpikir tanpa bahasa. Orang IPA tidak akan bisa memperkenalkan dan menjual hasil karyanya tanpa prinsip ekonomi yang dipelajari orang IPS. Bidang ilmu begitu luas dan tidak bisa menonjolkan salah satu dari mereka karena satu sama lain saling berkaitan. Adalah dangkal hanya mengandalkan satu bidang ilmu untuk diterapkan dalam berbagai sendi kehidupan, sama dangkalnya dengan hanya mengagungkan salah satu diantaranya.

Begitupula dengan bahasa yang selalu dipandang rendah. Orang-orang komputer membutuhkan orang-orang linguistik (bahasa) dalam membuat sebuah program. Sudah banyak bukti yang memperlihatkan keduanya saling membutuhkan dan kerjasama mereka berbuah manis untuk kehidupan. Orang-orang linguistik pun dibutuhkan oleh orang-orang marketing untuk memperkenalkan dan memasarkan produk-produknya. Bagaimana sebuah paduan kata yang menarik dalam menciptakan sebuah merek atau iklan, dapat menarik minat pembeli.

Semua orang punya keunikan dan kelebihan serta kemampuannya masing-masing. Pintar di salah satu bidang bukan berarti dia berhak merendahkan bidang ilmu lainnya. Tidak lihai di salah satu atau beberapa bidang bukan berarti dia tidak mampu dan menguasai bidang lainnya. Jaman sudah semakin maju, sejarah sudah semakin banyak menunjukkan bahwa orang-orang IPS dan bahasa sama hebatnya dengan orang-orang IPA dan ketiganya sama-sama saling membutuhkan.

Tapi tidak ada yang perlu disesali. Semua yang aku jalani adalah pengalaman berharga. Aku jadi tahu bagaimana tersiksanya ‘terpaksa’ mempelajari apa yang tidak pernah menjadi hasrat terkuatku. Aku pun jadi tahu pula bahwa paradigma bodoh dan pintar telah menjebak aku dalam perasaan rendah diri dan tidak bersyukur dengan kemampuan lain yang aku punya. Yang pada akhirnya menghambat kemajuanku dalam bidang lain yang aku kuasai. Dan setelah merasakannya, insya Allah aku tidak akan memaksa putra-putriku kelak untuk mendalami bidang ilmu yang mereka tidak suka. Mereka memiliki kebebasan dan kekuasaan penuh dalam menentukan bidang ilmu apa yang mereka ingin dalami. Aku hanya bertugas memberi masukan dan dukungan. Aku tidak punya hak menentukan masa depan mereka karena itu adalah kekuasaan penuh mereka.🙂

5 thoughts on “Terjebak Gengsi di Kelas IPA

  1. Wahahahaha…. Cerita itu aku bgt… Untung aku ga telat nyadarnya. Awalnya aku juga dikuasai gengsi yg sama, tapi waktu aku UAS Fisika Semester 1 (Aku skarang masih klas X), aku malah ga ngerti blas.. Sedangkan pelajaran Geografi, Ekonomi, Sosiologi, menurutku malah lebih gampang. Skarang aku sadar bahwa aku yg berhak menentukan jalan hidupku sendiri berdasarkan kemampuanku. Yahh… Karena aku pengen kuliah di Unpad jurusan Akuntansi, mending masuk IPS aja.. IPS tuh diam2 ga kalah bagusnya sama IPA. Doain ya, moga2 bulan Juni tahun ini aku bisa dinyatakan naik ke kelas 11 IPS tapi tetap pertahankan ranking 1 di klasku. Blogmu sukses…🙂

    1. Amin Allahumma Amiiiiiin ^_^ Man Jadda Wajada: Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil! Insya Allah sukses ya mempertahankan nilai dan menjadi yang terbaik di kelas. ^_^

      Makasih juga sudah berkunjung dan berkomentar ^_^

  2. wah bener banget, untung aku nemuin artikel ini sebelum penjurusan, jadi sadar aku kalo gengsi ke ipa belom ttntu mnjamin masa dpanku. bagus artikelnya sukses deh :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s