Sugar Queen yang Manis

Liburan tiba, tugas tak ada, waktu banyak tersedia. Aku memilih Sugar Queen sebagai pencerah liburan. Dan ternyata Sugar Queen memang pilihan tepat. Ia manis dan ringan, seperti marshmallow.😛

Aku memilih buku ini dengan alasan yang tak bisa dianggap cerdas. Aku tertarik dengan sampulnya. Ada pepatah berkata, Dont judge a book by its cover. Well, kadang itu ada benarnya. Tapi bagai pisau bermata dua, sampul adalah juga penentu berhasil tidaknya sebuah buku ‘dilirik’ orang. Kalau ia berpenampilan jelek, maka ia tidak akan dibeli. Kalau ia berpenampilan menarik, besar sekali kesempatannya untuk dinikmati lebih banyak orang. Dan, penampilan sampul sebuah buku juga bisa mengungkapkan kualitas isi buku. So, sometimes we do need to judge a book by its cover.

Menurutku, sang desainer cover novel ini berhasil menunjukkan kualitas isi buku. Sampulnya yang berwarna ungu, dengan gambar beberapa cemilan manis semacam kue dan permen yang teronggok menggoda, sedikit memunculkan dirinya dari sebuah pintu lemari berwarna putih, memang terlihat manis dan renyah. Dan setelah dibaca, akan terasa sekali manis dan renyahnya cerita yang dihadirkan. Bahkan, menurutku sampul versi Indonesia lebih indah daripada sampul versi aslinya.🙂

Sesuai dengan kemasan dan ceritanya yang manis dan renyah, bisa ditebak novel ini adalah novel romantis. Tak lepas dari intrik-intrik yang mengejutkan namun asiknya, bisa dikemas tanpa dramatisasi berlebihan. Setiap tokoh saling terkait satu sama lain, setiap tokoh memiliki rahasia dan intriknya masing-masing. Tapi sekali lagi, Sarah Addison Allen sang penulis berhasil meramunya dengan ringan.

Ada banyak keajaiban yang diluar nalar. Misalnya bagaimana seorang Della Lee bisa tiba-tiba muncul di balik lemari Josey. Atau misalnya bagaimana buku-buku bermunculan begitu saja dalam hidup Chloe di saat yang tepat dengan judul yang juga tepat yang memang dibutuhkan Chloe. Awalnya kening pasti berkerut ketika keajaiban-keajaiban ini terjadi. Apalagi ini cerita soal manusia normal, bukan kisah romantis dalam dunia penyihir macam Sabrina. Tapi ikuti saja alurnya. Karena kalau kita sudah menghakimi ceritanya dari awal, tidak akan terasa lagi manisnya. Dan kadang memang itu yang dibutuhkan. Menikmati saja alurnya, prosesnya, tanpa perlu banyak bertanya kenapa ini begini, dan kenapa itu begitu. Karena itu semua akan terjawab dengan sendirinya di akhir cerita. Sounds familiar ya? Seperti filosofi kehidupan.😀

Ketika sudah mencapai lembar-lembar terakhir, dramatisasi terjadi pada diriku sendiri. Akhirnya sedih sekali, seperti ada palu besar yang tiba-tiba menghantam dada. Sakit sekali. Beberapa tebakan mengenai misteri-misteri yang terjadi memang terbukti, tapi kebanyakannya adalah salah. Dan keajaiban-keajaiban dalam cerita ternyata tak pernah mendapat penjelasan hingga di akhir novel ini. Tapi anehnya, ini menjadi salah satu daya tarik dan kekhasan di buku ini.

Aku tak pernah ingat novel mana saja yang bisa aku tuntaskan dalam waktu intensif 3 hari. Tapi yang pasti Sugar Queen adalah salah satunya. Bukannya berlebihan, tapi kalau bisa aku gambarkan, novel ini seperti permen atau cemilan manis yang entah kenapa tak bisa membuat kita berhenti menikmatinya. Dan ketika sampai pada bungkus atau kepingan terakhir, rasanya sedih sekali. Namun kelebihan Sugar Queen adalah, aku selalu bisa mengulang dan mengingat kembali rasa yang ditimbulkan hanya dengan membuka lembaran-lembaran yang berisi adegan-adegan favoritku. Dan rasa bahagia dan manis yang pernah aku rasakan ketika membacanya, akan kembali lagi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s