Mengubah Ahmadiyah dari Korban Menjadi Pelaku Kejahatan

Ditulis oleh Ade Armando (di sini)

Pasca tragedi Cikeusik 6 Februari 2011 lalu, posisi Ahmadiyah semakin tersudut. Merekalah yang diserang, tapi mereka pula yang kini harus mengemban kesalahan.

Mereka yang menjadi korban, tapi mereka pula yang kini dkorbankan. Media berperan besar dalam proses pembusukan.

Perburuan Ahmadiyah berlangsung secara intensif. Sejumlah pemerintah daerah –setidaknya Jawa Timur, Jawa Barat dan DKI Jakarta– sudah menyatakan sikap akan melarang Ahmadiyah. Menteri Agama Suryadharma Ali kembali meminta Ahmadiyah dibubarkan. Sebuah apel akbar berlangsung pada 1 Maret 2011 untuk menuntut pembubaran Ahmadiyah.

Rizieq Shihab (Ketua FPI) dan Muhammad Al-Khathtath (Sekjen Forum Umat Islam) mengancam: “Bubarkan Ahmadiyah atau Revolusi!”. Bahkan para ulama yang terkenal moderat –seperti Hasyim Muzadi– juga menyuarakan seruan serupa: Bubarkan Ahmadiyah!

Dalam kasus pengadilan penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik itu sendiri, sudah terdapat 12 tersangka yang ditahan saat ini. Namun salah satu di antaranya adalah pria bernama Deden Sujana, yang disebut-sebut sebagai Ketua Keamanan Nasional Jemaat Ahmadiyah. Ia memang adalah salah satu dari belasan jemaat Ahmadiyah yang harus menghadapi serbuan massa di Cikeusik. Menurut polisi, ia diduga memprovokasi konflik.

Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan: mengapa ada kecenderungan untuk menjadikan Ahmadiyah sebagai pelaku kejahatan, dan bukan sebagai korban?

Rekaman tragedi Cikeusik yang dengan mudah disaksikan di Youtube sebenarnya menunjukkan bagaimana para warga Ahmadiyah itu menjadi korban kebuasan massa. Adegan bagaimana tiga pria telanjang anggota Ahmadiyah yang terus dihujani pukulan sampai mati lazimnya membuat orang merasa iba dan tergerak naluri kemanusiaannya untuk membela si korban. Tapi kenapa, justru yang terjadi sebaliknya: banyak pihak merasa nyaman untuk tak membicarakan kekerasan tak berperikemanusiaan itu, dan sebaliknya malah memusatkan perhatian pada ‘kejahatan Ahmadiyah’.

Salah satu jawabannya, saya rasa, adalah karena ada pihak-pihak yang dengan jeli membingkai peristiwa kebiadaban itu sebagai sesuatu yang memang sengaja direkayasa atau setidaknya dirangsang kaum Ahmadiyah sendiri.

Bila publik bisa dibuat percaya bahwa sebenarnya adalah Ahmadiyah yang mengundang penyerangan tersebut, publik tak akan memiliki rasa simpati lagi. Analoginya adalah seperti pengeroyokan pencopet. Banyak warga masyarakat merasa pencopet pantas digebuki sampai mati, karena ia adalah ‘sumber masalah’. Begitu juga dengan Ahmadiyah. Mereka pantas dibunuhi atau diusir, karena mereka adalah ‘biang masalah’.

Di bawah ini ada beberapa contoh penyudutan Ahmadiyah di media massa dan jejaring media sosial. Situs VOA-Islam (16 Februari 2011) menyajikan tulisan berjudul: “Skenario besar di Balik Kerusuhan Cikeusik dan Temanggung”.

Menurut VOA, kerusuhan di Cikeusik direkayasa oleh Ahmadiyah sendiri. Buktinya, kata VOA, pihak Ahmadiyah sudah mempersiapkan diri, antara lain, dengan sengaja mendatangkan bantuan tenaga dari Jakarta dan Bogor. Di rumah warga Ahmadiyah itu juga ditemukan banyak senjata tajam.

Tulis VOA: “Tampak jelas, pihak Ahmadiyah sudah mempersiapkan diri menyambut kerusuhan itu. Bahkan mereka sengaja melakukan provokasi dengan menantang warga. Artinya, pihak Ahmadiyah sangat membutuhkan terjadinya kerusuhan itu untuk mencapai tujuan-tujuan politik mereka.”

Cara penyudutan serupa disajikan situs Republika Online (18 Februari 2011) . Media berpengaruh itu membangun gambaran bahwa para korban memang dengan sengaja mengundang serangan.

Republika mengangkat penggalan pernyataan Deden Sudjana yang terekam dalam video saat ia sedang bicara dengan Kanit Intel Polsek Cikeusik. Deden adalah pimpinan 17 utusan Ahmadiyah Jakarta yang datang ke rumah Suparman, seorang jemaat Ahmadiyah di daerah tersebut, yang sedang diteror.

Dialog itu berlangsung sesaat sebelum terjadinya penyerbuan massa. Dalam cuplikan itu, Deden memang terekam mengatakan: “Seandainya polisi tidak mampu, sudah lepaskan saja, pak. Biar bentrok saja sekalian, pak. Biar seru. Asyik kan, pak (sambil mengangkat jempol).”

Republika menulis bahwa pernyataan Deden itu dikeluarkan setelah Intel Polsek meminta agar Deden meninggalkan rumah tersebut karena ada seribu orang sedang dalam perjalaan untuk menyerbu rumah milik Suparman.

Republika menggambarkan bahwa Deden ‘menolak mentah-mentah’ permintaan polisi tersebut. Tulis Republika, kemudian: “Kalimat seperti di awal tulisan inilah yang justru diucapkan Deden. Hingga kemudian bentrokan tak bisa dihindari dan membuat Deden terluka parah.”

Republika juga melukiskan Deden sebagai ‘pria misterius’. Menurut Republika, mereka berhasil mendapatkan nomor ponsel Deden, tapi, “Sayangnya, dia tak mau mengangkat ponselnya ketika dihubungi.” Republika bahkan juga mengutip pernyataan tokoh FPI Munarman, yang “mencium adanya keterkaitan Deden dengan intelijen asing”.

Gaya sejalan ditampilkan dalam tulisan seorang wartawan ANTV yang menyebar melalui jejaring media sosial. Si penulis dengan jeli menyajikan rangkaian kejanggalan dalam peristiwa Cikeusik tersebut. Namun si penulis juga secara jelas menyudutkan jemaat Ahmadiyah sebagai provokator.

Si wartawan menggambarkan bagaimana nampaknya ada yang janggal dengan kedatangan belasan warga Ahmadiyah ke Cikeusik. Polisi sudah meminta mereka agar meninggalkan rumah Suparman, tapi mereka tetap bertahan. Dengan dasar fakta itu si wartawan menyimpulkan: “Ada kesan mereka memang sengaja mempersiapkan diri untuk menjadi martir karena kedatangan mereka jelas bakal memprovokasi massa yang sudah terpancing emosinya sejak dua hari sebelumnya.”

Si wartawan lantas mengajukan serangkaian pertanyaan yang tendensius: “Apa tujuan mereka? Massa Ahmadiyah itu sempat mengatakan bahwa mereka ingin bertahan sampai titik darah penghabisan. Mengapa? Apakah mereka memang berharap agar kasus ini meledak dan kemudian menjadi perhatian masyarakat di dalam dan luar negeri? Ataukah mereka dikorbankan untuk skenario berdarah ini?”

Tiga tulisan itu secara jelas membingkai peristiwa penyerangan Cikeusik sebagai sesuatu yang merupakan hasil rekayasa Ahmadiyah sendiri. Tulisan-tulisan tersebut memang dengan sengaja mengarahkan pembaca untuk tiba pada kesimpulan bahwa Ahmadiyah adalah penyebab masalah.

Pertanyaan tentang mengapa di rumah warga Ahmadiyah tersebut ditemukan senjata, atau mengapa ada belasan warga Ahmadiyah Jakarta datang ke Cikeusik, atau mengapa mereka menolak untuk dievakuasi saat ada informasi bahwa ada seribu orang datang, adalah rangkaian pertanyaan yang tak harus membuat kita mendatangkan ahli intelijen untuk menjawabnya.

Salah satu jawaban sederhananya adalah: warga Ahmadiyah itu hendak membela keyakinan dari serangan para pemburu mereka. Serangan terhadap Ahmadiyah tidak berlangsung kali ini saja. Rangkaian serangan di berbagai wilayah cukup untuk menjadikan warga Ahmadiyah untuk bersikap, mereka harus bertahan. Senjata ada di sana untuk bertahan. Mereka ingin memberi pesan pada para penyerang: kami tak akan diam saja bila diserang. Kami akan melawan!

Agak mengherankan bahwa media dan wartawan menganggap sikap itu sebagai sebuah ‘tindakan provokatif’. Mengherankan, karena di dalam Islam, sikap mempertahankan keyakinan sampai mati, sampai mengorbankan nyawa, adalah kelaziman. Sejarah Islam penuh dengan cerita orang-orang yang mengorbankan nyawa untuk membela keyakinan atas agama. Kalau jemaat Ahmadiyah juga melakukannya, apa yang mencurigakan dari tindakan itu?

Sikap itu pula yang sebenanya bisa dibaca dalam dialog lengkap antara Deden Sudjana dengan Intel Polsek tersebut. Republika hanya mengutip kalimat-kalimat Deden yang seolah dengan sombong menantang para penyerang. Padahal ucapan-ucapan awal Deden menunjukkan bahwa ia berharap mereka tak diserang, mereka mengharapkan dialog, dan mereka mengharapkan pihak kepolisian melindungi mereka.

Sejumlah kalimat Deden yang bisa dikutip dalam pembicaraan tersebut adalah:
“Saya datang ke sini karena isunya rumah mau diobrak-abrik oleh sekelompok orang yang ingin merusak tatanan negara, organisasi berkedok agama yang tidak jelas maksudnya apa… Kalau Ahmadiyah sih bapak boleh lihat, kapan kita pernah bikin ribut, tapi bapak boleh lihat ulah mereka. Bagaimana mereka teriak Allahu Akbar, tapi menimpuk, bakar…”

“Kenapa sih harus membenci Ahmadiyah? Apa sih salahnya? Kalau tidak suka, bilang tidak suka. Jangan membakar, mengusik, memaki, menimpuk, melempar.. Ini negara hukum, bukan negara apa…”

“Marilah kita tegakkan hukum… Ibaratnya Pak Parman mau diterkam harimau, jangan Pak Parmannya yang ditembak, tapi harimaunya yang diusir…”

“Kalau kita bicara akidah, marilah kita dialog. Masalah multi-tafsir itu kan saling berbeda… Kayak Syiah dan Sunni yang saling bom-boman masjid. Kita juga sedih. Sesama Islam, masjid dibom. Malu kan kita, masak Indonesia mau seperti itu…”

“Kalau bapak (polisi) bisa berdiri di atas semua golongan, saya terimakasih sekali.. Karena kalau memang tidak cocok, jangan anarkis. Capeklah kita kalau anarkis. Bapak juga capek…”

“Sudah ada jembatannya. Mau jalur apa, ayo. Jalur hukum, ayo. Kita kan organisasi jelas juga, pak. Di Departemen Kehakiman, kita sudah terdaftar sejak 1959. Jangan hanya gara-gara beda tafsir, bakar, timpuk, bunuh, serem… Kadang-kadang kita kan di mata Allah kita tidak tahu mana yang paling benar…”

“Kedatangan kami ke sini ingin meninjau, bukan untuk melakukan pembalasan dendam. Tapi kalau kita diserang, masak kita dipukuli, kita diam saja? Masak saya dipukuli, mobil saya dihancurin, saya diam saja. Jadi, alhamdulillah, kalau bapak bisa berdiri di atas semua golongan. Bapak bisa menghalau mereka. Terimakasih sekali. Mudah-mudahan mereka tidak datang.”

Rangkaian pernyataan itu sangat jelas menunjukkan sikap Deden. Mereka tidak ingin konflik, mereka berharap ada dialog, mereka patuh pada hukum, mereka ingin membela hak mereka, dan mereka berharap pihak kepolisian bersikap netral serta mengusir para pelaku kekerasan.

Barulah di ujung dialog, Deden menyatakan: “Kalau bapak tidak mampu, lepaskan saja bentrokan. Kami siap, pak. Biar seru. Habis gimana? Masak mau diam saja? Kalau bapak bilang, kepolisian tidak sanggup, lepasin sajalah. Biar banjir darah. Seru ya kan, pak? Habis bagaimana?”

Pernyataan Deden tentu saja tak bisa ditafsirkan sebagai upaya sengaja menantang. Kalimat Deden adalah kalimat orang putus asa melihat bagaimana kepolisian sebagai aparat penegak hukum tak berdaya menghadapi ancaman massa. Itu yang diabaikan sama sekali oleh Republika.

Tulisan VOA, Republika, dan tulisan wartawan ANTV itu menyebar melalui beragam media. Yang mirip dengan itu pun mungkin banyak. Yang jelas, pembingkaian peristiwa semacam itu akan mengarahkan publik untuk percaya bahwa dalam tragedi Cikeusik, Ahmadiyah merupakan pelaku utama yang medorong kebiadaban. Ahmadiyah yang adalah korban, menjadi pelaku kejahatan. Betapa menyedihkannya. ***

4 thoughts on “Mengubah Ahmadiyah dari Korban Menjadi Pelaku Kejahatan

  1. Assalamualaikum, Jazakumullah atas Ulasanya, sungguh menjadi perhatian yang sangat mendalam atas pensyahidan mereka bertiga , insya Allah pengorbanan mereka tidak sia sia,dan Allah SWT beserta orang orang yang benar Amin

  2. aslm. sy spendapt dgn pak ade. brita dslm antv, republika, voe tdklah bohong akan fetapi dr pernyataan media tsb mrnyudutkan lslu dipukuli.sikorban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s