Lemah Iman? :)

Suatu kali, saya menyaksikan kisah BJ. Habibie di salah satu stasiun televisi nasional. Dalam salah satu segmen, dia bercerita bahwa dia menyelesaikan pendidikan SMA nya di sebuah sekolah Kristen di Bandung. Dia bilang dia memilih sekolah Kristen karena dia ingin mendapatkan pendidikan mengenai kedisplinan yang memang sangat terkenal selalu diterapkan pada sekolah-sekolah berbasis agama Kristen.

Habibie bercerita bahwa suatu kali, dia dipanggil kepala sekolah. Sang kepala sekolah menanyakan apakah orangtuanya mengijinkan Habibie untuk mengikuti pelajaran mengkaji Injil. Habibie diminta menanyakan hal itu kepada orangtuanya dan menandatangani surat persetujuan apabila orangtuanya berkenan Habibie mengikuti kelas tersebut. Tetapi tidak ada paksaan. Bila Habibie tidak mengikuti kelas tersebut, tidak akan berpengaruh pada nilai-nilai yang lain.

Habibie kemudian bertanya pada ibunya apakah dia boleh mengikuti kelas tersebut. Dan ternyata sang ibu mengijinkan. Alasannya sederhana, dia percaya anaknya Habibie sudah dibekali ilmu agama Islam dengan baik sejak usia yang masih amat kecil. Sebelum Habibie bisa membaca huruf latin, dia bahkan sudah bisa membaca Al-Quran. Sehingga sang ibu yakin Habibie tidak akan mudah mengubah keyakinannya begitu saja hanya karena mengikuti kelas pengkajian Injil. Lagipula, sang ibu juga menyatakan bahwa agama Kristen adalah salah satu agama samawi. Tidak ada salahnya mempelajari agama ini.

Maka Habibie pun tanpa ragu bersedia mengikuti kelas pengkajian Injil dengan berbekal surat persetujuan yang telah ditanda-tangani sang Ibu. Secara mengejutkan Habibie meraih nilai tertinggi untuk mata pelajaran pengkajian Injil tersebut dibandingkan teman-teman Kristen-nya yang lain. Dan apakah dia mengubah keyakinannya? Tidak.

Hal ini berbeda sekali dengan ajaran orangtua teman-teman saya dulu waktu kecil. Biasanya setiap hari minggu saya dan teman-teman sebaya bermain bersama-sama. Tapi beberapa teman yang beragama Kristen otomatis tidak bisa bergabung karena harus pergi ke gereja. Dalam salah satu obrolan kami, teman muslim saya tiba-tiba bilang begini, “Eh, si Andra (nama samaran) pernah ajak aku ke gerejanya. Tapi aku ngga mau. Kata orangtuaku kalau aku ikut Andra ke gereja, nanti aku jadi orang Kristen.” Pada saat itu aku diam saja. Sebagai anak kelas 5 SD logikaku sudah bekerja. Aku pikir, masa’ ke gereja saja sudah bisa dikatakan kita berpindah keimanan menjadi orang Kristen? Segampang itu kah? Dan kalau sekarang saya mengingat obrolan selintas masa kecil itu, saya jadi ketawa sendiri. Sang orangtua telah mengajarkan anaknya cara yang sangat dangkal untuk melindungi keimanannya sendiri. Kalau ngga mau jadi orang Kristen, ya jangan masuk ke gerejanya.

Sekarang saya jadi bertanya lagi, kenapa harus takut masuk ke tempat ibadah agama lain? Kenapa harus takut mempelajari agama lain? Kalau iman kita kuat, kenapa harus takut?🙂

Atau pertanyaannya dibalik, dari mana kita tahu keimanan kita kuat, kalau kita tidak mempelajari agama lain? Dari mana kita tahu ajaran agama yang kita yakini adalah yang benar dan baik, kalau kita tidak tahu bagaimana ajaran agama lain?

Kita diberi akal untuk berpikir. Kalau apa-apa sudah dilarang duluan, bagaimana kita bisa berpikir? Bagaimana kita bisa memaksimalkan kerja otak yang merupakan anugerah dari Tuhan? Dan perintah berpikir ini diberikan oleh Tuhan sendiri melalui firman-firmanNya!

Dan mengenai mereka yang kemudian berpindah keyakinan, itu urusan dia dan Tuhan. Kita tak pantas menghakimi. Itu adalah prosesnya mencari kebenaran, mencari sosok Tuhan. Setiap individu memiliki prosesnya masing-masing, pengalaman hidupnya masing-masing. Dan pengalaman adalah sesuatu yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun, kecuali Tuhan yang menjadi penentu segalanya.

Larangan-larangan hanya akan membuat orang lain justru semakin penasaran. Larangan-larangan tidak akan pernah mendidik masyarakat kalau mereka tak pernah diberikan kesempatan untuk berpikir mengapa larangan-larangan itu ada. Dan larangan-larangan pada akhirnya hanya akan menyuburkan kebodohan di kalangan umat.

2 thoughts on “Lemah Iman? :)

    1. Haha.. Entah kenapa lisa ngga begitu suka dengan ‘pepatah’ ini😛

      Tapi kalo untuk mencari kebenaran, larangan mempelajari agama lain kayaknya memang harus dilanggar😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s