Suara Radikal dari Bilik Sekolah

Saya tercengang ketika membaca sebuah twit dari seorang teman pada hari Selasa lalu, 26 April 2011. Dia menulis “koran tempo 26 april: 49% siswa setuju aksi radikal berlabel agama. Saya baru baca headline-nya. Yg udah baca, share dong. Gawat ya?”. Twit ini tentu mengejutkan. Namun saya tengah dalam perjalanan ke Jakarta dan baru bisa membaca berita mengenai hal ini keesokan harinya.

Tempo Interaktif memuat sebuah survey dari LaKIP (Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian) yang menunjukkan bahwa sebanyak 49% pelajar di Jakarta setuju dengan aksi radikal berlabel agama. Sikap radikal dan intoleran ini tak hanya dimiliki pelajar saja, tetapi juga guru agama. Fakta lain yang menyedihkan adalah sebanyak 63,8 persen siswa dan 41,8 persen juga bersedia terlibat dalam penyegelan rumah ibadat penganut agama lain (Tempo Interaktif, edisi Selasa 26 April 2011).

Membaca fakta-fakta ini tentu saja sangat mencengangkan, menyedihkan, dan mengkhawatirkan. Saya pribadi sering sekali mendengar cerita dari anak-anak sampai remaja yang mengeluhkan guru agama mereka yang tak hanya menyebarkan kebencian terhadap umat agama atau aliran lain, tetapi juga membolehkan tindakan radikal dalam agama Islam. Misalnya yang dialami seorang siswi SMP yang saya kenal. Dia bercerita kepada ibunya bahwa beberapa hari setelah video tragedi Cikeusik beredar di internet, guru agamanya menyatakan bahwa “dibolehkan membunuh untuk kebenaran.” Karenanya saya tidak begitu terkejut kalau sikap radikal ini dimiliki para guru agama. Namun saya masih amat sangat terkejut dan sangat tidak rela menemukan fakta bahwa sikap radikal ini ternyata sudah merasuk ke pikiran generasi muda kita.

Dalam artikel yang sama di Tempo, Bambang Pranowo, Direktur Lembaga Kajian ini berpendapat bahwa sikap ini muncul karena pengajaran agama Islam di sekolah sering dilakukan secara eksklusif. “Hanya 2 jam satu minggu, itu pun tanpa melibatkan sisi kecintaan terhadap tanah air” ujarnya. “Porsi minim dan eksklusif membuat mereka mencari jawaban moral dari luar sekolah”

Terhadap kecenderungan ini, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal memastikan akan melakukan pengawasan berjenjang terhadap para siswa dan guru. Termasuk mengubah pola pengajaran agama di sekolah. “ Kami akan bekerjasama dengan pemerintah daerah, dan kementerian agama karena merekalah yang akan membina para guru agama” ujarnya. (Tempo Interaktif, Selasa 26 April 2011)

Secara pribadi saya setuju dengan pendapat Bambang bahwa hal ini terjadi karena kurangnya pendidikan agama yang benar dan dengan proporsi yang pas bagi para pelajar. Tapi pendidikan agama tak pernah bisa lepas dari keterlibatan orangtua dan guru agama. Karenanya pendidikan agama yang benar memang sangat penting diberikan kepada para guru agama dulu di sekolah.

Mengenai jumlah jam pendidikan agama Islam, saya teringat dengan cerita Daoed Joesoef ketika kami bertemu pada Juni 2010 di Jakarta. Dia bercerita ketika dia menjabat sebagai Menteri Pendidikan pada tahun 1978, dia didatangi beberapa ulama yang memintanya menambah jumlah jam pelajaran agama Islam di sekolah. Jam pelajaran agama Islam yang hanya 2 jam seminggu dirasa kurang. Daoed menolak dengan alasan bahwa kalau jam pelajaran agama Islam ditambah, maka ada pelajaran lain yang harus dikorbankan. Ulama-ulama tersebut kemudian mengatakan bahwa pengurangan jam pelajaran lain bisa dilakukan pada pelajaran-pelajaran yang dianggap tidak penting. Dengan berani Daoed berkata justru pelajaran agama lah yang tidak penting diajarkan di sekolah. Daoed menyatakan ini bukan tanpa alasan atau karena dia merendahkan pelajaran agama. Tetapi justru menurutnya pendidikan agama harus disediakan waktu khusus di luar pelajaran sekolah. Daoed kemudian menceritakan pengalamannya waktu kecil. Setelah pulang sekolah di siang hari, dia harus mengikuti pendidikan agama di mesjid sampai sore hari. Kegiatan ini berlangsung setiap hari. Belum lagi pendidikan agama yang setiap detik diberikan oleh orangtuanya di rumah. Dan dia merasa metode pendidikan semacam inilah yang membuat agama menjadi sangat akrab dalam kehidupannya. Sebenarnya metode inilah yang ingin dia terapkan. Tetapi hal ini tak bisa dipahami para ulama tersebut. Apalagi penyampaian Daoed yang memang terus terang dan kurang berkenan bagi mereka yang kurang mengenalnya, membuatnya dipandang sebagai orang yang kurang peduli terhadap pendidikan agama.

Kalau saya sendiri, mengenai agama, orangtua saya lah yang memiliki peran yang paling besar. Sebelum saya masuk TK, ibu saya (biasa saya panggil Mama) mengajari saya mengaji lebih dulu. Dan beliau sangat keras dalam mendidik saya. Satu kenangan yang selalu lekat di ingatan saya adalah ketika Mama mengajari saya mengaji di belakang rumah malam-malam. Mama memang orang yang agak kurang sabar ketika itu. Melihat saya yang tak kunjung benar membaca Al-Quran, tak jarang emosinya pun lepas. Saya pun tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Tapi Mama tidak bergeming sedikitpun. Sampai akhirnya saya agak lebih benar membaca Al-Quran daripada sebelumnya, akhirnya beliau melepas saya untuk tidur.

Begitupula dalam ibadah-ibadah lainnya seperti shalat 5 waktu, puasa, dan tata cara berbusana. Mama lah yang paling kuat campur tangannya. Sengantuk apapun saya, semarah apapun saya, Mama tidak peduli dan tetap membangunkan untuk shalat subuh. Begitupula ketika bulan puasa tiba. Semakin bertambah usia saya, semakin keras Mama mendidik agar saya menjalankan puasa satu hari penuh. Dan mengenai tata busana, setiap baju yang Mama beli, sudah direncanakannya agar tak memperlihatkan lekuk tubuh saya. Terbiasa menggunakan baju yang longgar dan tertutup, akhirnya menjadikan saya lebih mudah memutuskan untuk menggunakan jilbab ketika SMA.

Sedangkan mengenai berbagai ajaran lain seperti harus ramah, baik, dan bersahabat dengan sesama, secara otomatis itu selalu diajarkan keluarga. Tak hanya Mama dan Papa, tetapi juga keluarga yang lain seperti Om dan Tante. Sumber informasi mengenai agama ini pun semakin bertambah tatkala Mbah Kakung dan Mbah Putri (orangtua dari Mama) tinggal dengan keluarga saya. Saya sering diajak berdiskusi oleh Mbah Kakung mengenai isu-isu agama menggunakan logika. Saya pun tidak merasa terdesak untuk mencari informasi mengenai agama di luar sehingga resiko untuk mendapatkan informasi yang ‘salah’ menjadi semakin kecil.

Kalau masalah kurangnya jumlah jam pelajaran agama Islam, tentu saja 2 jam seminggu sampai kapanpun tak akan pernah cukup. Oleh karena itu orangtua lah, menurut saya, juga harus bertanggungjawab dalam pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya. Tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pendidikan agama semacam ini kepada guru agama di sekolah. Apalagi anak-anaknya dididik oleh guru agama yang memiliki ‘persepsi salah’ soal agama. Sangat berbahaya. Dan terbukti dari hasil survey terbaru LaKIP!

Fakta-fakta yang saya tulis di awal tulisan ini hendaknya bisa membuka mata kita para orangtua dan juga calon orangtua di masa depan. Betapa semakin terdesaknya pendidikan toleransi dalam kehidupan keturunan kita nanti. Pendidikan toleransi ini semakin terpojok oleh para ‘pendidik’ itu sendiri. Karenanya sebaiknya mata dan pikiran kita awas dengan masalah ini.

Untuk Pemerintah

Maraknya terorisme di negeri kita tercinta ini sudah semakin terlihat akar-akarnya. Saya setuju dengan opini yang ditulis Majalah Tempo edisi 25 April-1 Mei 2011. Pemerintah tidak bisa lagi hanya bermain di pencarian ini kelompok mana, pemain lama atau baru, aksi individual atau kelompok, dan lain sebagainya. Setiap tindakan radikal semacam ini harus dilacak akar ideologinya dan proses kulminasinya hingga terjadi tindakan radikal macam terorisme seperti ini. Dan sebenarnya kalau pemerintah jeli, sudah mulai kelihatan bahwa penanaman ideologi radikal ini sudah mulai masuk ke sekolah-sekolah. Syiar-syiar kebencian tak lagi berteriak lantang hanya di mesjid-mesjid, tapi sudah mulai masuk ke bilik-bilik kelas yang penuh dengan anak-anak yang masih naif dan lugu. Hal inilah yang harusnya diwaspadai.

Sejauh ini saya masih belum menemukan solusi lain bagi pemerintah selain memberikan pendidikan bagi para guru dan calon guru agama. Mereka harus lebih dulu dididik, diajak diskusi, diberi pemahaman beragama yang lebih benar dan baik. Dan tentu saja tindakan tegas harus diberlakukan bagi para pelaku aksi radikal. Tidak hanya terorisme, tetapi juga mereka-mereka yang membakar, merusak, menyegel tempat ibadah umat agama/aliran lain yang jelas bukanlah wewenang mereka.

Lebih daripada semua yang saya tulis, saya ingin sekali kita semua membuka mata bahwa pemahaman radikal kini sudah masuk ke sekolah-sekolah. Kita wajib melindungi generasi muda kita dari pemahaman-pemahaman yang nantinya akan menghancurkan keharmonisan bangsa dan negara yang kita cintai. Pemahaman radikal jelas-jelas adalah ancaman bagi toleransi dimanapun. Dan ketika toleransi tak lagi bisa dipertahankan di negeri yang bhineka ini, maka saya tak yakin negara bernama Indonesia masih bisa pula dipertahankan.

Sumber-sumber:

–          http://www.tempointeraktif.com/hg/fokus/2011/04/26/fks,20110426-1855,id.html

–          Majalah Tempo edisi 25 April-1 Mei 2011, opini halaman 24

–          Catatan pribadi, pertemuan dengan Daoed Joesoef, Juni 2010

3 thoughts on “Suara Radikal dari Bilik Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s