(Bukan) Kajian Feminisme

Sabtu 30 April 2011, pukul 7.30 pagi, saya bangun dengan agak malas. Ini akhir pekan dan sebenarnya saya berharap bisa menikmatinya di rumah saja. Tapi saya terlanjur mendaftar untuk sebuah kajian diskusi Islami yang membahas feminisme dalam perspektif Islam di kampus Unpad di Dipati Ukur. Saya mengetahui akan diadakan kajian ini ketika hari Selasa sebelumnya, dua orang panitia kajian diskusi ini mempromosikannya ke kelas saya. Awalnya saya tidak begitu antusias. Tapi kajian mengenai perempuan selalu menarik untuk saya. Namun terkadang, dan terbukti nanti, kajian diskusi mengenai feminisme menurut Islam yang diadakan sebagian besar lembaga, tidaklah menyeluruh dan cenderung tak mau netral dengan menghadirkan pula narasumber yang feminis. Tapi saya coba khusnuzon, mungkin kajian ini akan berbeda.

Saya tiba ketika acara akan dimulai beberapa detik kemudian. Ketika saya masuk ruangan, puluhan perempuan muda berhijab sudah hampir memenuhi ruangan. Saya mencari tempat di baris-baris depan. Ada satu baris meja dan kursi, kedua dari depan dan terletak di tengah, tak terisi sama sekali. Agak aneh juga tapi akhirnya saya pun memutuskan untuk duduk di situ saja. Hingga akhir acara, hanya saya yang duduk di baris kedua tengah tersebut.

Kajian dimulai dengan salam, pembacaan Al-Quran, sambutan, penayangan video beberapa menit mengenai keadaan perempuan yang ‘dianggap’ tengah berada di titik nol. Maksudnya perempuan dalam keadaan yang terpinggirkan, sulit meraih kesuksesan, dan lain sebagainya. Kemudian dimulailah sesi perkenalan dengan tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Eryanti Nurmala Dewi, seorang jurnalis yang aktif menulis masalah perempuan. Narasumber kedua adalah Antik Bintari, Sekretaris Puslitbang Gender dan Anak. Dan narasumber ketiga adalah Ummu Salamah, seorang pemerhati masalah perempuan yang juga adalah mubalighoh. Pertanyaan pertama saya muncul, kenapa kajian ini tidak mengundang seorang feminis? Saya rasa ini adalah PR utama panitia.

Bagaimana kita bisa memahami apa itu feminisme? Kesetaraan apa yang para feminis ini perjuangkan? Sejauh mana kesetaraan gender tersebut menurut perspektif mereka? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini hanya bisa dijawab tentunya oleh para feminis itu sendiri. Selain itu, bagaimana kita bisa membahas feminisme kalau kita hanya tahu gerakan feminisme dari apa yang selalu terlihat dari permukaan saja. Orang hanya tahu feminisme adalah sebuah gerakan yang menginginkan kesetaraan gender yang pada akhirnya malah mengaburkan peran dan kewajiban perempuan. Malah menurut sebagian besar narasumber, yang bukan feminis, bahwa gerakan ini berbahaya karena berujung pada keinginan untuk menjadi lebih daripada pria. Sementara sejauh yang saya tahu, tidak selalu seperti itu. Tapi pembahasan ini akan saya utarakan setelah saya selesai membahas apa saja yang diutarakan semua narasumber.

Eryanti bercerita bagaimana peran perempuan di politik dan media. Dia menyatakan bahwa kuota 30% perempuan yang pemerintah tetapkan untuk ada di daftar calon dewan tidak efektif. Karena kalaupun terpenuhi, suara perempuan adalah lagi-lagi suara parpol. Mereka tak bisa diharapkan bisa memperjuangkan perempuan. Di bidang media pula, sedikit sekali perempuan yang bersedia untuk berkecimpung di bidang jurnalistik dan memegang kendali dalam media. Padahal kalau wanita bisa menduduki posisi-posisi yang menentukan keputusan, banyak isu perempuan yang bisa diangkat dan bisa menjadi jendela untuk menyadarkan masyarakat mengenai kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Antik sendiri kemudian menjelaskan teori-teori feminisme, sejarah perkembangan feminisme, jenis-jenis feminisme, dan feminisme seperti apa yang sekarang tengah berkembang. Menurutnya, justru awalnya feminisme ini idenya datang dari seorang pria. Adalah kemudian salah kalau banyak yang beranggapan bahwa ide tentang feminisme ini muncul dari kalangan perempuan. Dan pada perkembangannya, masih menurut Antik, gerakan ini menjadi berlebihan karena muncul keinginan untuk menjadikan pria di bawah wanita. Antik juga tidak setuju kalau ide feminisme ini ada dalam agama Islam. Karena istilah itu tidak dikenal dalam literatur-literatur Islam manapun baik Al-Quran dan hadits.

Ummu Salamah yang seorang mubalighoh dan aktif di Hizbut Tahrir Indonesia mengemukakan pandangannya mengenai feminisme dalam perspektif Islam. Dia pun setuju dalam Islam tidak ada feminisme. Kedatangan Islam justru telah menyelamatkan perempuan dari tindakan-tindakan tidak berperikemanusiaan yang pada jaman jahiliyah ditunjukkan oleh bangsa Arab. Adalah salah kalau menyatakan bahwa justru Islam lah yang menjadikan gerakan feminisme ini muncul. Menurut Ummu, Islam seringkali dipojokkan karena adanya beberapa pembatasan bagi perempuan. Sementara sebenarnya, Islam mengatur peran laki-laki dan perempuan agar keduanya bisa hidup berdampingan dan harmonis. Bukan berarti Islam merendahkan peran perempuan. Menurut Ummu lagi, yang menyebabkan keterpurukan-keterpurukan ini adalah justru sistem liberal dan kapitalis yang kini diterapkan Indonesia. Berkali-kali Ummu memojokkan sistem kapitalis ini sebagai ‘biang kerok’ dari segala masalah kemiskinan, kebodohan, dan lain-lainnya yang tidak hanya menimpa kaum perempuan tetapi juga kaum laki-laki. Tentu saja sikap ini bisa dipahami mengingat dia adalah aktivis HTI yang berambisi mendirikan negara Islam di bawah pemerintahan seorang Khalifah.

Setelah ketiga narasumber memberikan materi, dimulailah sesi tanya jawab. Sesi pertama ini moderator membolehkan tiga orang bertanya kepada narasumber. Saya agak menyesal juga tidak memanfaatkan momen ini karena untuk mencapai tiga orang, ternyata peserta masih malu-malu sekali. Ketika sesi kedua dibuka, peserta yang ingin bertanya langsung bertambah. Sayang hanya dibolehkan dua orang yang bertanya, itupun masing-masing satu pertanyaan saja. Dan saya tak mendapat kesempatan itu.

Agak panjang kiranya kalau saya bahas apa saja pertanyaan dari peserta dan bagaimana jawaban dari narasumber. Namun yang bisa saya simpulkan adalah bahwa sebagian besar pertanyaan adalah pengalaman pribadi peserta dan mereka mengharapkan solusi dari narasumber. Ada yang bercerita bagaimana ibunya melarangnya untuk menikah sebelum dia sukses. Ada yang bercerita bagaimana suaminya menikah lagi dan seperti ‘menggantung’ statusnya. Kisah-kisah mereka memang mengharukan. Terlihat sekali bagaimana mereka seperti tidak berdaya menghadapi permasalahan mereka.

Di akhir kajian, panitia memutar sebuah video lagi, yang mendukung sikap Ummu bahwa sistem kapitalis lah yang telah menyebabkan keterpurukan perempuan masa kini. Video menampilkan bagaimana nasib feminisme di tanah kelahirannya, yang mulai ditinggalkan wanita-wanita barat. Memang fakta yang membanggakan ketika sekarang kita tahu bahwa mulai banyak orang-orang di tanah Eropa yang menjadi muslim, dan kebanyakan dari mereka adalah perempuan.

Mengenai feminisme itu sendiri, saya meragukan definisi feminisme yang diutarakan narasumber. Pertama, mereka bukan feminis. Kedua, tidak ada feminis yang diundang menjadi narasumber, sehingga peserta tidak bisa mendapatkan gambaran mengenai feminisme yang ‘lebih benar’ dari narasumbernya langsung. Ketiga, pengalaman saya menunjukkan tidak semua penganut paham feminisme sedangkal itu dalam berpikir.

Saya pun sebelumnya memiliki pemahaman yang sama dengan orang kebanyakan berkaitan dengan feminisme ini. Saya pikir, gerakan ini adalah untuk menyamakan perempuan dan laki-laki. Banyak gosip yang beredar bahwa seorang feminis tidak mau menikah, tidak mau melahirkan, tidak mau diam di rumah, mereka memilih untuk bebas mengaktualisasikan dirinya di luar. Tapi sekali lagi, itu hanya ‘katanya’. Mungkin memang ada feminis-feminis yang memilih seperti itu. Tetapi ternyata tidak semuanya seperti itu.

Dalam salah satu diskusi yang tanpa sengaja terjadi di salah satu akun facebook teman saya, saya memperoleh gambaran apa itu kesetaraan gender menurut beberapa feminis. Di masa kini, para feminis tidak lagi berjuang untuk kesetaraan gender hanya antara perempuan dan laki-laki. Tetapi mereka juga ternyata berjuang untuk kesetaraan bagi kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisex, Transgender). Dan apa yang mereka perjuangkan adalah kesamaan hak manusia secara global. Jadi ketika kita bicara mengenai gender, seharusnya kita memiliki persepsi yang sama mengenai gender itu sendiri. Kalau kita tidak sepakat mengenai hal ini, maka diskusi kemudian menjadi sia-sia saja. Inilah yang tidak muncul dalam kajian diskusi ini.

Kemudian masalah seorang feminis tidak mau menikah dan lain sebagainya, saya ingin menceritakan dosen perempuan saya yang adalah feminis. Dia menikah. Dan ketika di depan penghulu, ketika ayahnya menyatakan kerelaannya menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga sang putri kepada pria lain, dosen saya ini tidak keberatan. Bahkan dia jelas-jelas mengatakan bahwa pada momen ini dia masih percaya bahwa ketika sebelum menikah, dia adalah tanggung jawab ayahnya. Dan ketika menikah, tanggung jawab itu telah berpindah ke suaminya. Saya menyimpulkan bahwa dia tidak menolak suaminya bertanggung jawab atas dirinya. Dia tidak menolak sebuah konsep dimana dia tak sepenuhnya sendiri dan bebas memutuskan tanpa diskusi dengan suaminya. Sejauh yang saya pahami, dalam pernikahan, kaum feminis ini menghendaki kesetaraan peran antara suami dan istri. Istri bukan pelayan suami, tapi suami istri adalah partner dalam rumah tangga. Suami hendaknya tidak boleh mengabaikan istri ketika ingin memutuskan apapun yang berkaitan dengan rumah tangga. Dalam pembagian peran juga, feminis tidak sepakat kalau hanya suami saja lah yang boleh bekerja sementara istri tidak. Selama mereka bisa membagi peran dan waktu untuk rumah tangga, siapa yang bekerja dan siapa yang di rumah bukanlah masalah besar. Jadi tidak benar bahwa kaum feminis menginginkan status perempuan lebih tinggi daripada laki-laki.

Akan tetapi dari kajian ini saya bisa mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, kebanyakan yang terlibat dalam kajian ini masih mengandalkan ‘katanya’ dalam mencari informasi. Semua narasumber yang dihadirkan tidak bisa dijadikan sumber ‘shahih’ dalam menerangkan apa itu feminisme dan peserta seperti ‘mengangguk-angguk’ saja ketika mereka menjelaskan mengenai feminisme ‘versi mereka’ panjang lebar. Ini seharusnya bukan sikap seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa yang pastinya sudah lebih daripada siswa SD,SMP, SMA, harus mulai berani untuk bersikap kritis dan tidak puas dengan informasi ‘sekilas’ seperti ini.

Hanya Antik yang menurut saya lebih baik dalam menyikapi masalah perempuan yang dibahas dalam kajian ini karena dia pun menyarankan agar sebaiknya feminis diundang. Antik juga menyatakan bahwa dalam mencari ilmu, kita tidak boleh takut untuk melihat dari berbagai sisi. Ya, ketakutan ini pula yang saya tangkap dari sebagian besar orang yang tak mau membuka pikirannya lebih luas dengan menerima pengetahuan dari sisi lain, sekalipun itu negatif. Saya sangat sepakat dengan Antik bahwa keterbukaan pikiran itu perlu, kita harus mau dan berani mempelajari apa saja agar kita bisa membandingkan. Itulah yang menjadikan kita semakin cerdas.

Sebelum acara kajian ini sepenuhnya selesai, saya putuskan untuk pulang lebih dulu setelah para narasumber meninggalkan ruangan. Saya memang agak kecewa dengan kajian yang sebenarnya menarik ini karena panitia kurang netral dan terbuka untuk mau menghadirkan pula seorang feminis sebagai narasumber. Tapi saya tidak mau menyesal. Bagi saya, walaupun nyaris tak tampak, setiap peristiwa pasti mengandung hikmah dan pelajaran. Dan sejauh yang saya tangkap, hikmah yang saya dapatkan adalah apa yang saya tulis ini. Dalam perjalanan saya berharap, semoga lain kali saya bisa menghadiri kajian-kajian tentang perempuan yang lebih terbuka. Tidak hanya dari perspektif Islam, tapi agama lainnya atau yang lebih bersifat global. Semoga.🙂

2 thoughts on “(Bukan) Kajian Feminisme

  1. tq for commentnya, sy sgt welcome utk semua kritikan dan masukan..jangan ragu untuk main ke puslitbang Gender dan Anak Unpad..bersama mengkaji tanpa membuat justifikasi sebelum mengetahui apa yang sesungguhnya..tetaplah berpikir merdeka untuk sebuah kemajuan positif🙂

    Salam
    Antik Bintari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s