Rejeki Setelah Menikah

Panggilannya Kiki. Sengaja tidak aku tulis nama lengkapnya karena yang menjadi fokus utamaku adalah salah satu episode dalam hidupnya yang mengandung pelajaran penting. Kiki dan suaminya adalah pengantin baru. Mereka menikah bulan Januari 2011 ini. Saat ini Kiki tengah mengandung 4 bulan.

Minggu ini Kiki ke Bandung, menginap di tempatku, dalam rangka merevisi skripsinya untuk mendapatkan ijazah. Suaminya tinggal dan bekerja di Depok. Dalam sebuah obrolan kami suatu hari, Kiki menceritakan pengalamannya dan suaminya yang ketika menikah belum mendapatkan pekerjaan tetap.

Sudah lama memang Kiki bertemu dan memutuskan serius dengan suaminya sebelum mereka menikah. Hanya saja kesempatan menikah itu baru menghampiri mereka di awal tahun ini, setelah keduanya resmi lulus dan menyandang gelar sarjana. Banyak orang yang memandang keinginan suami Kiki kala itu untuk segera menikah, adalah keputusan terburu-buru tanpa pikiran matang. Namun bagi pasangan ini, menikah tidak tabu. Mereka merasa siap secara mental. Sementara untuk kesiapan materi, mereka yakin Allah pasti akan membuka jalan bagi orang-orang yang berusaha.

Tadinya aku pun berpikir seperti itu. Tadinya menurutku, pasangan ini memang telah matang baik usia maupun mental untuk menikah. Namun seharusnya mereka pun sudah memikirkan masalah ekonomi, tak menggantungkan diri pada orangtua. Itu menurutku ya. Tapi kisah mereka membuka pikiranku.

Di awal pernikahan, pasangan ini memang menggantungkan hidup mereka pada usaha keluarga suami Kiki yang tengah dibangun perlahan. Namun suami Kiki ternyata berhasil menunjukkan bahwa dia bukanlah anak manja yang tanpa ragu dan malu menggantungkan hidupnya pada orangtua. Suami Kiki terus berusaha mencari kerja dengan tangannya sendiri. Dan usaha kerasnya ini berbuah rejeki tak terduga yang Allah berikan bersamaan dengan rejeki lainnya buat pasangan ini, kehamilan Kiki.

Bertepatan dengan kehamilan Kiki, suaminya diterima bekerja di sebuah perusahaan asing. Sebenarnya perusahaan ini tak mencari pegawai baru untuk bidang desain grafis. Namun Allah telah mengatur rejeki itu memang untuk suami Kiki. Satu pegawai yang membidangi desain grafis memilih keluar karena hamil dan ingin berkonsentrasi pada rumah tangga. Sehingga tersedia satu kursi kosong di bidang pekerjaan yang memang diminati suami Kiki. Dari 18 orang yang lulus tes wawancara, kursi pekerjaan itu akhirnya jatuh ke tangan suami Kiki. Dan perusahaan asal Spanyol ini juga tak keberatan dengan status pegawai barunya yang telah menikah, bahkan mereka telah menyiapkan tunjangan untuk istri dan biaya untuk Kiki melahirkan nanti. Subhanallah!

Selain itu, setelah dijalani, suami Kiki merasa tambah bersyukur lagi. Dia merasa sangat nyaman dan mendapatkan banyak pelajaran berharga di tempat kerjanya. Dia menyukai etos kerja dan persaingan sehat yang berlaku di kantornya. Dia juga merasa nyaman dengan peraturan kantor yang tak mengharuskannya berpakaian rapi dan berdasi. Dia belajar membangun jaringan di kantornya. Dia juga suka dengan prinsip yang diterapkan di kantornya, bahwa siapapun yang menunjukkan hasil kerja yang baik, maka siapapun berhak memperoleh penghasilan dan posisi yang lebih baik, tak peduli muda atau tua, junior atau senior.

Dari sini aku kemudian berkesimpulan, bahwa kemapanan finansial tidak harus selalu menjadi syarat utama yang menentukan kesiapan seseorang untuk menikah. Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa orangtua wajib menikahkan putra-putrinya apabila mereka sudah merasa siap dan meminta hal itu. Aku pun kemudian memiliki pemahaman baru. Rasulullah SAW mensyaratkan bahwa seseorang sebaiknya menikah kalau dia merasa mampu, mampu tidak selalu berkonotasi pada ekonomi. Memang sebaiknya kita pun memikirkan masalah kesiapan ekonomi ini, tapi hendaknya ini tidak menjadikan penghalang kita untuk menikah ketika hal-hal lainnya seperti kesiapan mental dan ketinggian akhlak sebagai syarat utama, sudah terpenuhi. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Ada 4 hal yang dipertimbangkan seseorang ketika ingin menikah: hartanya, agamanya, status sosialnya, dan keluarganya. Hendaknya agama menjadi pertimbangan utama.”

Pengalaman Kiki yang juga merupakan salah satu sahabat dekatku membuktikan bahwa rejeki setelah menikah itu memang ada. Allah SWT tak pernah tidur, pintu rejeki-Nya selalu terbuka lebar bagi siapapun yang mau bekerja keras dan tak pernah putus asa. Bahkan pernikahan ternyata tak menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Jadi, kalau kita merasa siap mental untuk menikah walaupun ekonomi belum begitu mapan, dengan memohon doa agar Allah merestui keputusan kita, sebaiknya kita jangan ragu untuk melangkahkan kaki ke sebuah jenjang kehidupan yang bernama pernikahan.😀

*Gambar diambil dari gettyimages.com

2 thoughts on “Rejeki Setelah Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s