Ketika Si ‘Bulan’ Pergi…

Tiap kali datang bulan mau udahan, aku sedih deh. Seneng sih karena udah bisa shalat lagi, ngaji lagi (kalo keimanan lagi bagus😀 Aamiin insya Allah terus bagus!). Tapi di sisi lain, dan ini yg paling bikin sedih, karena harus berpisah dengan saat-saat ternikmat dimana nafsu makan ngga ada dan pencernaan lancar luar biasa.

Aku sangat bersyukur dan sangat bangga ketika bisa ‘pamer’ sama teman-teman ketika datang bulan. Yang lain pada mengeluh banyak makan, aku malah ngga nafsu sama sekali. Kan hebat! Ahahaha😀

Tapi ya sudahlah. Sebenarnya lebih daripada ini, aku lebih senang ketika lagi ngga datang bulan. Kalo lagi datang bulan tuh mood dan emosi bisa naik turun secara radikal, fundamental, sadis, ngga sopan! Dicolek dikit aja kayaknya bisa bunuh singa (kenapa singa ya analoginya? Sieun ah kalo manusia, takut image aku rusak beneran dan dianggap barbar. hehe :D). Trus dikasih adegan sedih dikit aja bisa nangis-nangis kayak baru disakiti pria seganteng Eric Bana. Dan perubahan emosi itu bisa terjadi dalam sepersekian detik. Mengerikan!

Dan seringnya, ketika sedang datang bulan, toleransi aku terhadap kemalasan jauh lebih besar daripada toleransi pemerintah Pakistan terhadap ekstremis penganiaya kaum minoritas dan pluralis (terlalu serius nih analoginya! bae ah! Sekali-kali :D).

Jadi, intinya adalah, ketika si ‘bulan’ pergi, complicated feeling pun menghampiri.. Dan yang paling mendominasi adalah perasaan sedih karena harus ngucapin selamat jalan kepada pencernaan yang lancar, dan selamat datang buat nafsu makan.. Hhhh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s