Cuma Ingin Belajar

Oleh: Lisa Aviatun Nahar

 

“Kalau pasanganmu punya pendidikan lebih tinggi, emang kamu ngga suka?”

“Iyalah, Cha! Dimana pride gue? Susah nanti ngejarnya.”

Ini pembicaraan saya dan seorang teman kampus berjenis kelamin laki-laki, yang terjadi di Ciwalk kemarin, Selasa 21 Juni 2011.

 

“Pa, kayaknya Teteh lebih realistis kalo ambil S2-nya di kampus ini, kampus ini, kampus ini.”

“Boleh boleh. Tapi Teteh ngga akan langsung ambil S2 kan setelah lulus nanti?”

Ini pembicaraan salah seorang teman perempuan saya dengan ayahnya yang dia ceritakan pada saya kemarin juga, Selasa 21 Juni 2011.

 

“Iya Teh. Mereka bilang saya terlalu pintar untuk mereka.”

Ini pernyataan seorang teman perempuan saya ketika kami saling bertukar pengalaman mengenai mental laki-laki Indonesia. Terjadi pada hari Sabtu malam, 18 Juni 2011, di tempat tinggal saya.

***

Masalah perempuan yang punya gelar pendidikan lebih tinggi, pernah saya coba buka di sebuah forum. Hasilnya lumayan melegakan. Sebagian besar laki-laki yang memberi komentar, tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi tidak dipungkiri bahwa ada juga laki-laki yang tidak bisa mentolerir gelar pendidikan pasangannya yang lebih tinggi darinya. Alasan klise, masalah gengsi, takut mereka tidak dihormati pasangan. Tapi itu pilihan. Sama halnya dengan kita, perempuan, yang tetap punya pilihan untuk mau meneruskan keinginan belajar kita, atau memilih untuk berhenti sejenak atau bahkan berhenti sama sekali, hanya karena tekanan stigma masyarakat bahwa perempuan dengan gelar pendidikan lebih tinggi akan susah mendapatkan pasangan.

Saya punya pengalaman lucu. Sekitar 3 hari lalu, pemilik kontrakan mendatangi saya untuk memberitahukan masalah perpanjangan kontrakan. Selesai dengan urusannya, dia bertanya pada saya, “Udah lulus, Neng?” Saya menjawab, “Alhamdulillah sudah, Pak. Tapi sekarang sedang lanjut lagi sekolahnya.” Dia terdiam sedetik. “Kapan nikah, Neng?” Saya kaget, benar-benar kaget. Saya ngga nyangka aja kalau si Bapak akan menanyakan masalah nikah. Agak tergagap saya jawab, “Ya kapan aja kalau sudah ada calonnya.” Dalam hati tertawa juga sih, kenapa ngga nyambung ya? Tapi kemudian saya berpikir lagi

Saya akui dan saya mengalami, belajar S2 ketika masih lajang begini, pikiran akan tekanan untuk menikah itu benar-benar teralihkan. Saya tidak lagi fokus mencari pasangan. Fokus saya saat ini, saya cuma ingin belajar, segera lulus, dan mencari kesempatan untuk belajar di luar negeri insya Allah. Saya ketagihan. Saya ingin melanjutkan pendidikan saya di S3 nanti.

Bukan berarti saya tidak mau menikah. Saya masih mau, alhamdulillah. Karena saya tahu, pernikahan bukan beban, ia adalah media pembelajaran baru. Seorang teman laki-laki pernah berkata pada saya, “Menikah mengajarkan saya banyak hal yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain. Saya belajar menjadi pemimpin, karena tanggung-jawab saya adalah mengantarkan keluarga saya ke surga.” Itu sebagian kecil di antara banyak pelajaran lain yang saya dapat dari beberapa teman yang sudah menikah dan punya anak. Menikah memang sebuah tanggung jawab, tapi bukan berarti saya tidak mau diserahi tanggung-jawab  itu.

Yang saya tolak adalah halangan dari siapapun terhadap keinginan saya untuk terus belajar hanya karena khawatir saya tidak mendapat pasangan karena gelar pendidikan saya terlalu tinggi. Saya tidak terima stigma ini menghalangi jalan saya yang ingin terus belajar. Saya tidak akan pernah ikhlas pendapat ini menghalangi kaki saya yang ingin terus berlari untuk meningkatkan kualitas diri saya, seperti amanat almarhum Mbah Kakung saya.

Buat saya, yang namanya jodoh, itu akan datang dengan sendirinya ketika kita sudah dipandang siap oleh Allah. Yang saya perlukan cuma membuka diri kok. Saya membuka diri pada siapapun yang ingin membangun istana pernikahan dengan saya, dengan jalur yang benar tentu saja. Saya tidak menutup pintu sama sekali. Tapi buat saya, saya akan terus belajar. Dan saya harap, perempuan lain juga tidak membiarkan dirinya terjebak dalam stigma semacam ini, yang akhirnya akan menghentikan langkahnya untuk bisa meningkatkan kualitas dirinya.

Tidak boleh. Karena Allah sudah menjanjikan, Dia memasangkan manusia yang kualitasnya sama tingkatannya. Ketika kita berbicara masalah kualitas diri, itu tidak menyangkut masalah pendidikan akademik semata, tapi juga pendidikan akhlak. Pendeknya, kalau ingin mendapatkan pasangan dengan kualitas yang terbaik, tingkatkan juga kualitas diri kita. Dalam segala hal: jasmani dan rohani. Insya Allah, sesuai janji-Nya, dan beriringan dengan keikhlasan serta ketakwaan, kita akan mendapatkan pasangan terbaik yang akan melengkapi perjalanan kita menuju Allah Ta’ala. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s