Seorang Pengelana, Bukan Pengkhianat

Kemarin, 23 Juni 2011 di Facebook, seorang teman memberitahukan berita yang menyedihkan buatku. Dia menyatakan meninggalkan keyakinannya yang sama denganku. Ini pertama kalinya aku merasa sedih mendengar seorang teman baik, yang aku kenal karena kami memiliki keyakinan yang sama, memilih untuk meninggalkan keyakinannya dan memilih keyakinan baru. Buatku perasaan sedih ini manusiawi. Dan sialnya, perasaan sedih ini masih bersemayam sampai hari ini.

Kalau bisa aku jabarkan, mungkin rasanya seperti patah hati. Aneh ya? Mungkin itu sih yang lebih tepat untuk menggambarkan peristiwa ini. Kesedihan yang aku rasakan, ketika dia mengutarakan bahwa dia tak lagi meyakini kebenaran yang aku yakini, bisa dibilang seperti seseorang yang bilang, “Aku sudah tak mencintaimu lagi.” Sakit sekali. Dan sampai hari ini ternyata aku masih bisa menangis hanya karena teringat alasan-alasan yang dia ungkapkan padaku kemarin. Ternyata paru-paruku seperti langsung menyempit, membuat dada sesak kekurangan udara, bahkan dengan hanya mengingat namanya.

Aku jadi mengerti. Inilah yang dirasakan sebuah keluarga ketika mengetahui dari anggotanya ada yang berpindah agama atau keyakinan. Mengetahui seorang teman berpindah keyakinan saja sudah bisa membuat dada sakit, apalagi keluarga dekat. Namun keluasan hati untuk mau menerima keputusan orang yang kita sayangi, itu jauh lebih berarti.

Apapun pilihan dia, aku tetap akan mendukungnya dan menyayanginya apa adanya. Karena bagiku, apapun keyakinannya, dia masih orang yang sama. Dia tetap teman baikku.

***

Meninggalkan suatu agama untuk memilih agama yang lain, atau meninggalkan suatu keyakinan untuk memiliki keyakinan yang lain; adalah suatu perjalanan, bukan pengkhianatan. Bagiku, pelajaran yang aku dapat ketika kecil bahwa seseorang yang meninggalkan Islam adalah pengkhianat, merupakan pelajaran usang dan tak manusiawi. Bagiku, adalah keji menilai orang lain pengkhianat sementara yang dia jalani sebenarnya hanyalah proses pencarian kebenaran.

Tujuan kita hidup di dunia adalah menuju Tuhan. Jalannya ada banyak sekali. Dan Tuhan memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih jalannya masing-masing. Itulah mengapa setiap Rasul tidak diperkenankan memaksa umatnya untuk mengikuti kebenaran yang dia sampaikan, apalagi melalui cara-cara kekerasan. Rasul hanya diperkenankan untuk menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan kebenaran. Karena dengan kuasa Tuhan, jika Tuhan mau, maka benarlah seluruh umat manusia di dunia ini.

Berangkat dari kesadaran itulah, aku meyakini bahwa siapapun yang berpindah agama, bahkan memilih untuk tak beragama sekalipun, hanyalah seorang pengelana. Dia tak lebih dari seseorang yang sedang dalam perjalanan untuk mencari kebenaran. Pun, kalau dia tidak merasa ingin dan atau butuh dengan kebenaran, itu pilihannya. Kita, manusia, tak berhak sama sekali untuk mencapnya sebagai pengkhianat Tuhan. Sama sekali tidak berhak. Bagaimana bisa kita menyebutnya pengkhianat sementara yang dia lakukan justru adalah mencari Tuhan? Bagaimana bisa kita menganggapnya pengkhianat sementara yang dia cari adalah jalan yang Tuhan ridhoi? Atau bagaimana bisa kita menganggapnya pengkhianat Tuhan sementara dia bahkan tak yakin Tuhan itu ada?

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Itulah kenapa Tuhan hanya memberi kuasa manusia untuk saling mengingatkan satu sama lain, bukan memaksakan. Apalagi masalah keyakinan, yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun kecuali Dia Yang Maha Kuasa.

Karena itu bagiku, walaupun temanku itu sudah tak lagi meyakini kebenaran yang kuyakini, rasa sayangku tak bisa berkurang. Karena dia hanya pengelana, bukan pengkhianat. Sama seperti aku, dan kita semua, umat manusia.

*Gambar diambil dari sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s