Memakai Cincin Kawin Bagi Mempelai Pria

Bulan puasa kemarin, ada perbincangan yang cukup menarik antara aku dan teman-teman sebaya di kota halamanku. Salah seorang teman yang akan menikah menanyakan sebaiknya calon mempelai pria menggunakan cincin yang terbuat dari apa karena emas tidak diperbolehkan dalam agama Islam. Aku lantas menjawab, “Perak boleh kok.” Tapi teman-teman yang lain sontak membantah bahwa perak pun tidak diperbolehkan. Alasannya seperti emas, perak pun berharga. Padahal sejauh yang aku tahu nilai perak selalu turun kalau dijual lagi, berbeda dengan emas. Dan selama ini yang diajarkan dalam keluargaku, perak dibolehkan dipakai oleh pria.

Teman-temanku berpendapat bahwa yang dibolehkan hanyalah platina. Aku berusaha menyampaikan argumenku tapi teman-temanku juga kekeh dengan argumen mereka. Oke, aku pikir sebaiknya aku diam dan mencari tahu.

Sekarang akan aku sampaikan sebuah tanya jawab antara seorang perempuan bernama Eno dengan Bapak M. Quraish Shihab mengenai hal ini.

 

“Awal tahun depan saya akan menikah. Saat ini saya dan calon suami sering mendiskusikan masalah cincin kawin. Menurut calon suami saya, nantinya dia tidak mau memakai cincin kawin karena laki-laki tidak boleh mengenakan logam mulia. Sementara saya tidak setuju karena dengan tidak memakai cincin kawin, maka ia tidak bisa menunjukkan kepada khalayak bahwa ia telah berkomitmen dalam sebuah pernikahan. Apakah betul Islam melarang laki-laki mengenakan cincin kawin? Apakah benar jika bukan logam mulia maka tidak haram?

Eno

Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Kebayoran Baru, Jakarta

 

Kalau alasan calon suami Anda enggan memakai cincin kawin karena menganggap emas adalah haram buat pria, maka memang demikian pendapat sementara ulama berdasar hadits Nabi saw. melalui Sayyidina Ali kw. yang menyatakan bahwa beliau melihat Nabi saw. memegang sutra dengan tangan kanannya dan emas di tangan kirinya, lalu bersabda: “Kedua ini haram buat pria umatku” (HR. Abu Daud dan an-Nasaiy). Tetapi sisi ini bukanlah alasan yang tepat untuk enggan memakai cincin kawin, karena bisa saja cincin tersebut terbuat dari perak, atau besi, atau bahkan platina. Di samping itu, ada juga ulama yang membolehkan pria memakai emas dan sutra. Larangan di atas menurut mereka bukan berarti haram, tetapi dia adalah petunjuk umum, atau itu ditujukan kepada orang-orang tertentu.

Kalau alasan keengganan itu adalah bahwa cincin kawin tidak dikenal pada masa Rasul saw., lalu itu diartikan bahwa itu terlarang, maka itu pun kurang tepat, karena sekian banyak hal yang belum dikenal pada masa Rasul, namun tidak terlarang dalam Islam. Hemat saya cincin kawin adalah produk budaya, yang tidak harus dipertentangkan dalam ajaran Islam, bahkan ia dapat merupakan “tanda” bagi yang memakainya sehingga pemakainya tidak diduga lain sebagai gadis/lajang sekaligus menjadi perisai buat mereka sehingga tidak diganggu atau mengganggu. Dalam pandangan Hukum Islam, ada rumus yang menyatakan: “Dalam konteks ibadah, semua tidak boleh selama tidak ada izin dari Allah atau Rasul-Nya, sedang dalam konteks non-ibadah, semua boleh selama tidak ada larangan agama.” Memakai cincin untuk hiasan dianjurkan, atau sedikitnya tidak terlarang dan cincin kawin dapat menjadi hiasan, sekaligus sebagai tanda telah terikatnya sang pemakai dalam ikatan perkawinan. Demikian, wa Allah A’lam.” 1

 

Aku harap cuplikan tulisan ini bisa membuka wawasan baru bagi mereka yang masih berpendapat bahwa perak tidak diperbolehkan untuk dijadikan cincin kawin bagi mempelai pria.🙂

 

1 M.Quraish Shihab Menjawab 101 Soal Perempuan Yang Patut Anda Ketahui. 2010. Halaman 70.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s