Ketika Kita Akhirnya Mengerti Bahwa Kita Tak Bisa Berteman Lagi

Di suatu hari di masa SMA, seorang teman bercerita “Lis, si D aneh banget deh. Masa dia bilang ke P kalo dia udah ngga bisa berteman lagi. D bilang, dia ngerasa ngga cocok berteman dengan P. Ada ya orang kayak gitu? Aneh banget.” “Hoo.. Pantes D ngga pernah jalan berdua lagi sama P..” jawabku.

Dulu, D dan P, keduanya perempuan, berkawan sangat baik. Mereka suka jalan-jalan berempat dengan dua orang teman laki-laki lainnya. Ke sekolah bersama, pulang bersama, pokoknya keempatnya nyaris selalu bersama seolah tak terpisahkan. Tapi tiba-tiba di suatu hari D terlihat berjalan sendiri, tanpa P dan kedua teman laki-lakinya. Ke sekolah sendiri, di kantin dan di kelas pun menyendiri saja. Namun dia seperti tidak terganggu atau sedih dengan kesendiriannya. Tanpa ragu dia juga suka bergabung dengan teman-teman yang lain.

Aku dan teman-teman dekatku bertanya-tanya kenapa. Ada masalah, itu pasti. Tapi masalah apa sih yang akhirnya membuat mereka tak dekat lagi? Aku terus penasaran sampai hari itu, ketika salah satu temanku menceritakan hal tersebut yang aku lupa dia tahu dari siapa. Tapi aku percaya berita itu, karena bertahun-tahun setelahnya, aku mengkonfirmasi hal itu ke D dan dia membenarkan.

Pada saat itu, aku pun terpengaruh. Konsep ketidak-cocokan dalam berkawan setelah menjalani hari-hari bersama, buatku aneh. Terlebih lagi, keberanian D mengungkapkan hal tersebut. Terlalu serius untuk seorang anak SMA. Dan pendapatku pun sejalan dengan teman-temanku, D terlalu serius dalam menyikapi pertemanan untuk seorang anak SMA.

Dan dia terlalu berani bagiku. Karena aku tak pernah punya keberanian macam itu. Ketika ketidak-nyamanan itu datang dalam pertemananku dengan seseorang, aku memilih untuk diam dan membiarkan saja perasaanku tersiksa. Aku pikir, aku tidak perlu berkata apapun. Aku pikir dalam pertemanan, semua harus diterima, termasuk ketidak-nyamanan yang dirasakan setelah berkawan beberapa lama.

Namun setelah kupikir kini, prinsip itu tidak selalu benar.

Bertahun-tahun setelahnya, ketika aku malah semakin dekat dengan D, semakin mengenal kepribadiannya yang luar biasa, aku berbalik arah. Aku mengagumi keputusannya kala itu. Ya, pertemanan memang hal yang serius. Bagi D, dia tak bisa nyaman berteman dengan orang yang dianggapnya tidak memberikan manfaat atau pengaruh baik baginya. Dan keputusannya untuk mengakhiri pertemanan dengan seseorang, setelah beberapa bulan dekat dan menjalani hari-hari bersama, bukanlah sesuatu yang mudah tapi memang harus diambil. D tidak merasakan kenyamanan sama sekali dalam berteman dengan P. Jadi, buat apa diperpanjang kalau nantinya efeknya tidak akan baik bagi keduanya? Mungkin terdengar ekstrim tapi pada saat itu, mungkin keputusan itulah yang terbaik.

Dan kini, bertahun-tahun setelah masa SMA itu, aku ternyata mengalami apa yang dialami D.

Aku tidak sampai memutuskan pertemanan. Aku tidak bilang bahwa aku tidak lagi merasa cocok dengan seseorang yang tadinya dekat. Tapi hubungan kami diputuskan oleh satu masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan baik kalau memang dia adalah orang yang bisa diajak bicara. Tapi aku cukup tahu masalah ini tak bisa diselesaikan dengan baik, apapun cara yang aku pilih. Hubungan yang buruk sudah aku bayangkan sebelumnya, pasti akan terjadi. Dan aku tidak keberatan sama sekali. Karena memang, aku tidak ingin lagi memiliki hubungan yang dekat dengannya seperti sebelumnya, kecuali kalau dia memang sudah berubah.

Secara drastis, kami yang tadinya begitu dekat, menjadi sepasang manusia yang jauh dan seperti saling menyakiti. Di mata dia, aku sudah menyakitinya. Dan di mataku, dia pun menyakiti aku. Tak apa. Akhirnya memang harus begini. Dan bagiku, ini pertama kalinya aku bermasalah dengan seorang teman (kalau masih bisa dikatakan teman), sampai hubungan kami putus. Dan aku mengerti, ini karena aku memang tak bisa lagi berteman dengannya, tak merasa cocok dengan kepribadiannya.

Mungkin dia tidak salah, mungkin aku yang salah. Atau sebaliknya. Tapi ketika kita akhirnya mengerti bahwa kita tak bisa berteman lagi dengan seseorang, aku tidak tahu apakah ada cara untuk mengakhiri pertemanan tersebut dengan baik-baik. Apalagi perasaan itu hanya berasal dari satu pihak, dan dalam kasusku, aku lah yang merasakan ketidak-cocokan. Aku rasa, apapun cara yang akan diambil, pada akhirnya akan selalu menyakiti.

Kini aku mengerti, bahwa ada hubungan-hubungan dimana perpisahan adalah satu-satunya jalan yang harus diambil demi kebaikan bersama. Apalagi ketika salah satu pihak tak bisa diajak bicara, maka tak ada jalan lain.

Untuk dia yang merasa tersakiti dengan caraku menyelesaikan masalah, aku minta maaf. Aku tahu itu sulit. Sekali lagi, maaf.

2 thoughts on “Ketika Kita Akhirnya Mengerti Bahwa Kita Tak Bisa Berteman Lagi

  1. hai, posting-an yang bagus. saya pun pernah mengalaminya setahun yang lalu dan kondisinya saya yang memutuskan pertemanan. memang saya terkesan jahat memutuskan pertemanan begitu saja. saya pun juga punya salah dengan orang itu, dan lebih parahnya lagi, ga dari awal saya ngejauh. langsung begitu aja saya menyudahi. sayangnya, saya ga tega block dia di medsos, paling2 hanya saya hide. tapi jujur, hidup saya menjadi lebih tenang ga ngeliat posting-an dia lagi. saya sudah meminta maaf tapi dia tak kunjung berhenti memaki-maki saya. baiklah saya pergi. saya tidak ingin lagi meminta maaf. tapi setidaknya saya senang kini dia sepertinya telah bertaubat – kini dia memakai hijab. saya berharap dia introspeksi diri, semakin memperbaiki dirinya dan caranya berteman dengan orang lain. tapi sayangnya saya tidak ingin lagi berteman dengannya.

  2. Hai juga.. 😊
    Terima kasih atas apresiasinya..
    Memang sulit ya menjauh dari orang yang selama ini kita pikir bisa cocok berteman dengan kita.. Terlebih lagi ketika kita sadar kalau semakin lama bergaul dengannya hanya akan memperburuk kualitas hidup dan diri kita sendiri..
    Memang keputusan sulit dan pasti pasti menyakitkan.. Tapi demi kebaikan masing-masing..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s