Dua Hari Untuk Selamanya :D

Datar. Itu yang aku rasakan ketika pertama kali sampai di Parung, Jumat 6 Januari 2012. Aku kesana dalam rangka untuk mengikuti pelatihan Early Warning System keesokan harinya, Sabtu 7 Januari 2012 sampai hari Minggu, 8 Januari 2012.

Ketika aku dipilih untuk mengikuti pelatihan tersebut, aku bingung. Aku ditunjuk untuk mewakili cabang Bandung Tengah, dimana aku sebenarnya bukan orang Bandung asli dan rencananya insya Allah akan segera meninggalkan Bandung di tahun ini juga. Tapi belakangan aku baru merasakan, ini sebuah karunia besar. Ilmunya sungguh tak bisa dibayar dengan uang. Dan aku terus menerus mengucap syukur untuk semua ini.

Sampai di gedung pelatihan, aku lihat persiapan sudah cukup matang. Meja dan kursi sudah disusun membentuk huruf U dengan tambahan beberapa meja dan kursi yang tersusun di belakang huruf U ini, namun besoknya susunan kursi dan meja berbentuk U ini disusun ulang, menjadi susunan meja dan kursi layaknya di sekolahan. Kamar-kamar juga sudah dilengkapi dengan kasur-kasur lipat yang telah tersusun rapi. Makan pun telah tersedia untuk peserta yang datang menginap di gedung pelatihan sehari sebelumnya. Intinya panitia terlihat benar-benar siap dengan acara tersebut.

Malam harinya, peserta dari berbagai daerah mulai ramai berdatangan. Aku juga senang bertemu dengan kawan-kawan lama dan kawan-kawan baru. Sayangnya pelatihan hanya berlangsung selama dua hari. Tak cukup banyak waktu untuk kami berinteraksi. Tapi tak apa. Sebuah komunitas akan lahir dari pelatihan ini. Waktu dan intensitas komunikasi akan mengakrabkan kami juga nanti. Insya Allah.

Sabtu 7 Januari 2012, pelatihan dimulai. Puri Kencana Putri, aktivis KontraS memberi pemaparan mengenai HAM. Menarik. Wawasan Puri, yang kami panggil dengan Mbak Puri, betul-betul luas. Tak hanya soal kasus-kasus pelanggaran HAM yang sudah jadi makanannya sehari-hari, tetapi juga mengenai apa-apa saja yang bisa dan harus kami lakukan ketika pelanggaran HAM itu sudah memperlihatkan tanda-tanda akan terjadi, entah pada diri kita atau di sekitar kita. Selain itu gaya bicara dan pembawaannya yang santai membuat kelas menjadi seru. Dan walaupun materi tampak begitu berat, tapi Mbak Puri bisa menjadikannya terasa lebih sederhana dan mudah untuk dicerna otak. Dan aku adalah penggemar berat mereka yang bisa membuat sesuatu yang rumit menjadi sederhana. Mbak Puri salah satunya.πŸ˜€

Sore harinya sekitar pukul 3 sore sampai pukul 6, giliran Firdaus Mubarik yang memberikan pemaparan mengenai dokumentasi. Dia seorang kawan yang aku kenal baik. Kami sama-sama mendapatkan beasiswa pelatihan Jurnalisme Sastrawi di tahun 2009. Bang Daus mengajarkan peserta pelatihan untuk peka dengan tindakan-tindakan, sekecil apapun, yang mengusik rasa aman kita. Lebih jauh dia juga mengajarkan bagaimana membuat dokumentasi yang baik, apa saja yang perlu kita lakukan untuk bisa membuat dokumentasi yang baik. Kuncinya adalah ketenangan. Ketika kita tenang, maka kita bisa membuat dokumentasi atas apa yang terjadi pada diri kita dengan baik.

Malam hari dilanjutkan dengan membuat tugas kelompok berupa menulis laporan untuk dikirimkan ke kantor PBB yang mengurusi soal HAM. Ada begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab sesuai dengan format laporan yang ditentukan oleh PBB. Dan ternyata mengisinya bukanlah hal mudah. Detil adalah kuncinya. Semakin detil semakin baik.

Aku kebagian kelompok wilayah Serang. Kasus yang kami laporkan adalah kasus pelanggaran HAM yang terjadi di wilayah Serang. Mengandalkan sisa-sisa ilmu menulis yang aku ingat, aku berusaha mengisi laporan tersebut dengan detil-detil yang aku rasa perlu. Walaupun sebenarnya aku adalah orang yang bermasalah dengan detil, tapi aku dan teman-teman satu kelompok berusaha mengerjakan laporan tersebut sebaik mungkin.

Keesokan harinya, Minggu 8 Januari 2012, tugas kami dievaluasi oleh Mbak Puri. Karena baru pertama kali mengisi laporan untuk PBB, maka ada banyak kekurangan. Tapi koreksi dan komentar dari Mbak Puri sangat membantu dalam memahami bagaimana menulis laporan yang baik supaya laporan kita benar-benar bisa dipercaya oleh PBB dan ditindaklanjuti. Benar-benar pengalaman yang unik dan menarik. Bahkan menulis laporan 3 lembar saja, yang bahkan sudah ada format di dalamnya, tidak mudah. Perlu dua hari pelatihan, kata Bang Daus. Hehe.

Pukul 3 siang, Mas Lexy Rambadeta yang sudah sangat berpengalaman sebagai jurnalis multimedia memberi pelatihan bagaimana membuat video yang baik. Jauh-jauh dia datang dari Jogjakarta dan menyetir sendiri pula, demi pelatihan ini. Luar biasa. Sebagai seorang jurnalis, Mas Lexy adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi independensi. Dan memang independensi inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh para jurnalis.

Mas Lexy menjelaskan bagaimana membuat video dengan peralatan yang sederhana, bagaimana menyiasatinya. Kami juga berlatih membuat video dengan durasi pendek 1-2 menit. Hasil rekaman kami diputar dan diperlihatkan di kelas. Menurut Mas Lexy, wajar kalau video yang kami buat masih banyak kekurangan. Tips-tips standar dalam membuat video pun belum bisa diterapkan sepenuhnya oleh peserta. Wajar, baru pertama kali. Perlu banyak latihan, katanya. Di sesi ini, saking asyiknya belajar, kami tidak ingat dengan waktu rehat kopi. Sampai akhir, kami masih asyik belajar.

Berakhirnya sesi ini, juga menandakan berakhirnya keseluruhan pelatihan selama dua hari itu. Sedih. Aku belum kenal dengan semua peserta, 41 perempuan pilihan dengan latar belakang beragam dan semuanya hebat. Dua hari tidak cukup untuk saling mengenal semuanya. Namun panitia berjanji akan diadakan pelatihan lagi setelah ini. Entah kapan. Dan entah bagaimana bentuknya nanti. Aku harap bentuknya sama dengan pelatihan ini, agar aku bisa mengenal lebih dalam semua peserta.

Dua hari di Parung kemarin adalah betul-betul karunia bagiku. Ada banyak ilmu, ada banyak wawasan baru, dan ada segudang pengalaman tak ternilai yang aku dapat. Bertemu orang-orang hebat, cerita-cerita kehidupan yang membuatku merasa cerita hidupku tidak ada apa-apanya dibanding mereka-mereka yang kuat ditempa ujian berat. Semoga dua hari kemarin tak hanya memperkaya pengalaman hidupku, tetapi juga menjadikanku pribadi yang lebih bijaksana. Aamiin.πŸ™‚

2 thoughts on “Dua Hari Untuk Selamanya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s