Kesetiaan Rasulullah SAW

Kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi, mereka yang menggunakan dalil bahwa poligami adalah sunah nabi, tidak jeli dalam melihat arti sebuah pernikahan. Sudah jadi rahasia umum lah kalau poligami di jaman sekarang itu banyak disalah-artikan dan disalah-gunakan. Mereka yang kebanyakan melakukan poligami (atau bisa dibilang yang kebanyakan kelihatan) melakukan poligami, sebenarnya hanya menggunakan dalil ‘sunah nabi’ untuk menutupi ketidak-mampuan mereka menahan nafsu dan menjaga kesetiaan pada satu pasangan. Pada akhirnya, poligami yang mereka lakukan, memperburuk citra ajaran Islam dan sang pembawa ajaran itu sendiri, yaitu Rasulullah SAW. Karena sepertinya, sepanjang yang mereka ingat dan paham mengenai pernikahan Rasulullah SAW, hanya tentang poligaminya saja dan pernikahan beliau dengan gadis belia bernama Aisyah.

Mereka lupa total dengan kesetiaan Rasulullah ketika menikah dengan Khadijah, seorang janda yang usianya terpaut 15 tahun lebih tua darinya. Mereka betul-betul lupa bahwa selama menikah dengan Khadijah, istri pertamanya, Rasulullah tak pernah menikahi perempuan lain lagi. Tidak pernah. Sampai Khadijah meninggal pun, Rasulullah bahkan tak punya pikiran sama sekali untuk melakukan poligami. Dan mereka mungkin lupa selupa-lupanya, bahwa istri yang paling dicintai Rasulullah SAW, sang manusia sempurna, hanyalah Khadijah. Bahkan seorang perempuan semuda dan secerdas Aisyah, tak mampu menggantikan Khadijah di hati Rasulullah SAW. Kemuliaan akhlak Khadijah mampu menutupi perbedaan status dan usianya dengan Rasulullah SAW. Inilah yang utama, akhlak yang mulia. Bukan status dan usia.

Poligami memang hanya salah satu sunah Rasulullah SAW. Ia pun hanyalah obat untuk salah satu penyakit. Ketika sebuah pernikahan tidak sakit, kenapa harus minum obat? Lagipula, ada banyak jalan untuk mencapai surga, tidak harus melulu dengan poligami.

Dan, sebelum berniat untuk melaksanakan salah satu sunah nabi yang bernama poligami itu, sebaiknya pahami dulu sunah nabi yang lain: bahwa menikahi janda bahkan berusia jauh lebih tua, juga adalah sunahnya. Bahkan itu sunah yang pertama beliau laksanakan. Dan terbukti bahwa status, perbedaan usia, apalagi jumlah pasangan ternyata bukanlah penentu kebahagiaan seseorang dalam pernikahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s