(In)Toleransi

Saya masih ingat ketika saya duduk di bangku SD di tahun 90an, dimana teman-teman dan guru bahkan guru agama sekalipun yang tahu bahwa saya seorang Ahmadi, menganggap saya biasa dan bagian dari mereka. Guru agama saya memang hampir selalu menanyakan kegiatan saya dan keluarga yang berkaitan dengan keagamaan seperti pengajian atau shalat Jumat. Tetapi secara keseluruhan dia sama sekali tidak mengintimidasi atau bahkan mengajarkan kebencian kepada mereka, terutama saya, yang memiliki beberapa perbedaan dengan umat Islam mainstream.

Ketika SMP bahkan guru agama saya berdebat dengan ibu saya mengenai Ahmadiyah. Dalam sebuah forum pengajian ibu-ibu, guru agama saya yang saat itu diminta memberi ceramah, malah memberikan informasi-informasi palsu mengenai Ahmadiyah. Ibu saya tak terima. Dan berdebatlah mereka di forum tersebut. Namun ternyata, guru agama saya tidak melakukan apapun yang zalim terhadap saya. Bahkan beliau memberi saya nilai tertinggi di kelas dalam pelajaran agama.

Begitupula ketika saya menyaksikan kisah BJ. Habibie yang menyelesaikan pendidikan SMA nya di sebuah sekolah Kristen di Bandung. Dia bercerita pada seorang wartawan salah satu stasiun televisi nasional bahwa di sekolahnya ketika itu, dia dipanggil kepala sekolah. Sang kepala sekolah menanyakan apakah orangtuanya mengijinkan Habibie untuk mengikuti pelajaran mengkaji Injil. Habibie diminta menanyakan hal itu kepada orangtuanya dan menandatangani surat yang diminta apabila orangtuanya berkenan Habibie mengikuti kelas tersebut. Tetapi tidak ada paksaan. Bila Habibie tidak mengikuti kelas tersebut, tidak akan berpengaruh pada nilai-nilai yang lain.

Habibie kemudian bertanya pada ibunya apakah dia boleh mengikuti kelas tersebut. Dan ternyata sang ibu mengijinkan. Alasannya sederhana, dia percaya anaknya Habibie sudah dibekali ilmu agama Islam dengan baik sejak usia yang masih amat kecil. Sebelum Habibie bisa membaca huruf latin, dia bahkan sudah bisa membaca Al-Quran. Sehingga sang ibu yakin Habibie tidak akan mudah mengubah keyakinannya begitu saja hanya karena mengikuti kelas pengkajian Injil. Lagipula, sang ibu juga menyatakan bahwa agama Kristen adalah salah satu agama samawi. Tidak ada salahnya mempelajari agama ini.

Kisah ini sangat menginspirasi saya. Ibunda Habibie begitu yakin akan kemampuan dan keimanan sang anak sehingga dia tidak menghalangi putranya mempelajari agama lain. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa Habibie meraih nilai tertinggi untuk mata pelajaran pengkajian Injil tersebut. Dan apakah dia mengubah keyakinannya? Tidak.

Kalau mau membandingkan dengan keadaan sekarang, bisa jadi seorang ibu seperti ibunda Habibie dikatakan bodoh karena membiarkan anaknya terjun ke dalam sebuah misi kristenisasi. Memasukkan anaknya ke sekolah Kristen saja merupakan tindakan bodoh apalagi mempercayakan anaknya mengikuti kelas pengkajian Injil. Tapi buat saya pemikiran perempuan hebat seperti dia adalah harta sekaligus fondasi untuk terciptanya kerukunan dan toleransi antarumat beragama.

Bandingkan dengan keadaan sekarang dimana syiar-syiar kebencian menggema semakin keras dimana-mana. Tidak hanya di mesjid-mesjid yang seharusnya adalah pusat pengajaran kebaikan dan kedamaian sesuai dengan esensi ajaran Islam, tetapi juga di sekolah-sekolah yang seharusnya adalah pusat pencetakan manusia-manusia cerdas terdidik yang peka akan lingkungan sosial tak peduli apapun ras, suku, dan agama yang diyakini. Prihatin sekali mendengar kisah-kisah murid-murid SD yang bercerita bahwa guru agama di sekolah mereka menyatakan bahwa beberapa temannya adalah penganut ajaran sesat. Mereka harus dibenci dan kalau perlu dikerasi untuk segera meninggalkan keyakinannya. Sungguh lucu menyaksikan para guru, guru agama pula, yang tujuan utamanya adalah mendidik demi menghasilkan manusia-manusia beradab, malah mengobarkan api kebencian dan menjerumuskan anak-anak kecil ke jurang kebencian dan kekerasan. Tugas utama mereka tak lagi mendidik untuk menghasilkan manusia yang beradab, tapi justru mendidik manusia untuk kembali ke jaman primitif yang menyelesaikan segala sesuatunya dengan kekerasan. Ironis!

Kenapa pula harus membenci mereka yang meyakini ajaran yang berbeda? Tuhan saja tak pernah mengajarkan kita untuk membenci manusia, hanya membenci kelakuannya. Apakah mereka yang keyakinannya berbeda itu melakukan pembunuhan? Pencurian? Atau perbuatan lain yang merugikan? Kalau mereka melakukan hal tersebut, maka pelaku-pelakunya pantas untuk menerima hukuman. Namun bukan pula untuk dibenci. Sejarah mana yang mencatat bahwa kebencian membawa kedamaian untuk sebuah negeri? Yang tercatat dalam sejarah justru kebencianlah yang menggiring manusia ke dalam peperangan dan kemusnahan diri mereka sendiri.

Saya rasa apa yang ibunda Habibie terapkan pada Habibie muda, bisa menjadi inspirasi. Jaman terus maju bergerak, namun jangan sampai pola pikir kita justru bergerak mundur jauh lebih primitif daripada pola pikir seorang ibu yang hebat seperti ibunda Habibie yang memiliki pemikiran semaju itu di tahun 50an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s