Menikah

Menikah. Sebuah isu yang kini bukan lagi misteri bagiku. Hehe. Jujur saja pernikahan, menemukan jodoh/pasangan hidup, adalah hal yang menurutku sering banget jadi pemicu kegalauan masal.😀 Ngga percaya? Di linimasa Twitter aku buktinya. :p

Semua orang rasanya pasti pernah bertanya “Siapa ya jodohku nanti?” Termasuk aku. Berbagai macam teori perjodohan pun kayaknya udah keluar masuk lemari otak. Tapi aku ngga sangka bahwa ketika waktunya tiba untuk menikah, jalannya begitu sederhana. Tanpa huru hara, tanpa perlu waktu lama.

Sabtu, 21 April 2012, aku resmi menjadi pasangan hidup seorang pria yang sebelumnya sangat asing bagiku, Anas Kurniawan. Aku resmi menyerahkan hidupku, hatiku, untuk seorang pria luar biasa di mataku. Aku resmi menjadikannya imam bagiku, pemimpin keluargaku, ayah bagi anak-anakku.

Asing. Aku tak pernah mengenal Aa’ sebelumnya. Aku bahkan tak pernah tahu ada pria bernama Anas Kurniawan. Sampai libur lebaran tahun lalu, ketika aku pulang ke Bontang, aku bertemu dengannya.

Ngga ada yang istimewa, cukup sama-sama tahu. Aku tahu dia seorang mubaligh muda, dia tahu aku bernama Lisa. :p Tak ada obrolan, hanya sesekali saling melempar perhatian.

Simpatiku baru muncul seminggu sebelum lebaran. Dalam sebuah acara kelas ta’lim anak-anak, aku lihat dia sosok yang kebapakan. Anak-anak suka padanya, dia pun begitu. Yak, meleleh hatiku dibuatnya. Hehe. Tapi aku masih trauma dengan rasa sakit, sakit karena mencintai orang yang salah. Aku ngga mau sakit lagi. Aku pun berdoa mati-matian, “Tuhan, bunuh perasaan ini kalau dia bukan yg Engkau ridhoi.”

Sampai suatu hari, ketika aku sudah kembali ke Bandung, ada sebuah sms (sok) nyasar ke hapeku. Mengaku bernama Anas Kurniawan. Aku ngga percaya. Aku pikir salah seorang dari tante-tanteku sedang mempermainkan aku. Kutelpon lah nomor asing itu. Dan ternyata benar, itu Aa’. Hehe. Saat itu juga, Aa’ menyatakan ingin punya hubungan serius denganku. Bagus, aku memang ngga suka sama basa-basi.😀

Aku ngga langsung menjawab iya. Walaupun aku senang bukan kepalang, tapi itu semua berusaha aku tahan. Hehe. Saat itu aku memang memegang prinsip, hanya ada dua pertimbangan dalam menerima lamaran: restu orangtua dan hasil istikharah. Walau hatiku sudah menjawab iya, tapi aku masih harus meyakinkan diri dulu. Karena itu aku bilang, “Saya mau istikharah dulu.” Kemudian dia bilang, “Oiya silakan. Saya sih sudah berdoa.” Aku tertohok, “Sudah? Emang sudah dapat jawabannya?” Dia jawab lagi, “Sudah. Insya Allah tambah yakin.” Yak, tambah meleleh! Haha. :p Menurutku, perlakuan paling manis yang bisa diberikan seorang pria terhadap wanita adalah ketika sang pria menyebut nama wanita yang disukai/dicintainya dalam doa. Dan dia melakukannya bahkan sebelum menghubungiku. ^^

Selama tiga hari setelah obrolan pertama itu, dia ngga menghubungiku sama sekali. Apa kabar hatiku? Gundah.😀 Pertanyaan “Dia serius ngga sih? Kenapa dia ngga hubungin lagi sih?” beredar terus di otak. Istikharah? Ngga aku lakukan.😀 Itulah anehnya. Otak bertanya-tanya, tapi di sisi lain aku sudah yakin begitu saja. Aku yakin dia adalah sosok yang tepat untuk mendukung visi rumah tanggaku. Dia sosok suami yang aku inginkan. Dia sosok ayah yang aku inginkan untuk anak-anakku kelak. Aku merasa tak perlu lagi istikharah. Aku hanya menguatkan doa dalam sujud-sujudku. Belakangan dia bilang kalau dia sengaja tak menghubungi selama 3 hari karena dia ingin hatiku tak terpengaruh ketika istikharah. Walau dia sendiri juga berusaha keras menahan diri untuk ngga cari tahu tentang kabarku. :p

Setelah tiga hari, dia sms lagi. Mempertegas lagi niatnya terhadapku dan minta jawaban atas sikapku. Ngga ada lagi keraguan, aku langsung jawab iya. Aku mau menemaninya seumur hidupku. Aku mau berjuang bersamanya mengkhidmati Islam agamaku. Dan sejak hari itu, kami sepakat melangkah bersama menuju sebuah pintu gerbang ibadah bernama pernikahan. ^^

Perjalanan menuju pernikahan alhamdulillah ngga ada rintangan sama sekali. Keluargaku sayang padanya, keluarganya sayang padaku. Begitupula dia pun sayang sekali dengan keluargaku, aku juga sayang sekali dengan keluarganya. Tadinya rencana pernikahan aku dan Aa’ sepakat untuk dilaksanakan bulan September, menunggu aku lulus. Tapi aku dan Aa’ kemudian berpikir ala JK, lebih cepat lebih baik.😀 Dan alhamdulillah lagi keluargaku dan keluarga Aa’ setuju. Jadilah pernikahan itu dilaksanakan di bulan April, di tanggal kelahiran RA. Kartini, 21 April 2012.

Aku bahagia. Hehe. Ngga ada deg-degan sama sekali. Ngga ada ketakutan ini itu yang menyerang. Entah kenapa, aku yakin saja semua akan berjalan lancar. Dan aku sendiri terlalu sibuk diliputi kebahagiaan akan menjadi halal bergandengan tangan dengan pria yang ku cintai.😀

Memang selalu ada resiko dari setiap pilihan. Karena pernikahan dilaksanakan sebelum aku lulus, aku harus rela meninggalkan Aa’ untuk kembali ke Bandung menyelesaikan tesisku. Dia juga harus ikhlas melepasku untuk menyelesaikan tanggung jawabku. Kami kembali lagi harus berjauhan, hanya sesekali bersama dan hanya untuk beberapa hari. Tapi tak apa, kami menikmati saja resiko ini. Ujian kesabaran juga. Hehe.

Menikah itu sederhana ya? Kalau sudah waktunya, Allah sendiri yang akan mempermudah jalannya. Aku yang dulu begitu ingin menikah dengan pria bukan Indonesia, mendadak pasrah begitu saja. Aku yang dulu yakin ngga ada seorang pun pria Indonesia yang bisa membuatku jatuh cinta, mendadak dianugerahi rasa cinta setengah mati pada seorang pria Indonesia. Bahkan pada seseorang yang tak kukenal sebelumnya. Buatku, ini mukjizat.

Tapi aku ingat, aku juga yang memohon pada-Nya agar jangan membutakan dan menulikan hatiku ketika hadiah (baca: jodoh) itu datang. Aku ingat, doaku yang terakhir terkait masalah jodoh ini, sangat sederhana. Aku cuma meminta, “Ya Allah, siapapun yang Engkau hadiahkan untuk menjadi jodohku, cintakanlah aku padanya.” Mungkin karena usia juga kali ya. Lelah dengan permintaan yang macam-macam, sadar akan banyaknya kekurangan dan kelemahan, akhirnya menyederhanakan permintaan.

Dan mungkin, ketika permintaan kita semakin sederhana kepada-Nya, di saat itulah kita dipandang siap menerima hadiah dari-Nya.

2 thoughts on “Menikah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s