(Lagi-Lagi) Tentang Jodoh

Ketika aku bertemu D terakhir kali itu, ada satu topik pembicaraan yang sangat menarik buatku. Jodoh. Ya, masalah yang aku bilang bisa menjadi pemicu kegalauan massal ini tentu saja menjadi menarik kan? Hehe.

D akhirnya bercerita bahwa dia sudah resmi putus dengan pacarnya yang berasal dari keluarga Arab. Mau bagaimana lagi, D orang Batak. Arab dan Batak adalah kedua suku yang bisa dibilang agak lebih ekstrim daripada suku yang lain dalam masalah jodoh. Sudah jadi rahasia umum bahwa keduanya sama-sama mengharuskan keluarganya untuk menikah dengan orang yang satu rumpun, satu suku.

Selain itu, agama keduanya juga berbeda. D beragama Kristen, dan mantannya beragama Islam. Sudah bisa dibayangkan bahwa akan sulit banget bagi keduanya bersatu. Keduanya tak bisa memenangkan ego masing-masing karena keduanya sama-sama orang yang cinta keluarga. Keduanya sama-sama tak bisa melepaskan diri dari kebutuhan akan keluarga besar mereka.

Dan akhirnya dengan perasaan sedih dan pastinya berat luar biasa, keduanya harus rela untuk mengakhiri hubungan cinta ini. Sedih? Pasti. Berat? Luar biasa. Tapi kalau harus diteruskan, hubungan ini ngga akan bisa kemana-mana. Hanya bisa diam di tempat. Dan mereka memilih untuk terus berjalan sendiri-sendiri walau dalam kesedihan, daripada berdiri bersama tapi tak bisa kemana-mana.

D kemudian memaknai pertemuannya dengan sang mantan sebagai masa-masa keajaiban. Sang mantan dianggapnya sebagai penolong yang dikirimkan Tuhan untuknya. Dia menemani D ketika D terpuruk, dan melepaskan D ketika D sudah siap untuk jalan sendiri.

Tak lama setelah putus, seorang teman kantor mendekati D. Dan D pun bisa membuka hati untuknya, untuk seorang pria kristen dan batak. Ini juga keajaiban. Dulu D beranggapan sepertinya dia tidak akan bisa mencintai pria yang seagama dan satu suku dengannya. Ternyata tidak. Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Dia kirimkan (mungkin) jodoh untuk D. Terlebih lagi, Dia kirimkan rasa cinta pula pada D. Minimal, D yang tadinya berpikir ia masih sangat jauh dari pemikiran soal menikah, kini mulai merasa pintu gerbang pemikiran akan menikah ini mulai terbuka.

Inilah yang ajaib menurutku. Sejauh yang aku tahu, D dan mantannya adalah pasangan yang sangat saling mencintai dan melengkapi. Mereka betul-betul seperti botol dan tutupnya. Keduanya membawa pengaruh kebaikan untuk satu sama lain. Tapi kemudian aku berpikir lagi, dengan perbedaan suku dan agama yang begitu kental, bagaimana mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan? Semua jalan rasanya menutup segala kemungkinan bagi mereka untuk membangun rumah tangga bahagia yang diliputi restu dan doa dari orangtua dan keluarga besar masing-masing. Dan mereka memilih untuk pasrah pada rencana Tuhan.

Jodoh itu tidak sempit dan dangkal. Tidak hanya berdasarkan apa yang kita (mau) yakini. Tapi ia lebih luas dan lebih dalam dari itu. Hanya karena kita mencintai seseorang, hanya karena kita yakin dia bisa sangat melengkapi kita, dia bisa menerima kita apa adanya, dan kita yakin dialah orang yang tepat dalam hidup kita dan kita tidak akan mungkin bisa mencintai orang lain lagi seperti kita mencintainya, maka orang itulah jodoh kita. Tak peduli keadaan sekitar tak mendukung perasaan kita, bahkan amat sangat menolak, maka kita harus bisa sekuat tenaga untuk menyatukan cinta kita dalam pernikahan. Tidak sesempit itu bagiku kini.

Ketika kita mencintai seseorang, namun keadaan kita tidak memungkinkan, terutama restu orangtua sangat mustahil untuk kita dapatkan, maka pasrah adalah jalan yang utama. Rasa cinta dan keyakinan itu anugerah, pemberian Tuhan. Dia sendiri yang akan menunjukkan jalan bahwa seseorang itu memang betul jodoh kita atau bukan. Dan perlu hati yang bersih dari segala keinginan dan ego untuk bisa melihat petunjuk dari Tuhan ini.

Ketika kita tahu bahwa orang tersebut bukan jodoh kita, Tuhan pasti akan menghadiahkan yang lain. Seseorang yang lebih baik, yang bisa kita cintai sepenuh hati, dan yang paling utama, yang akan mendapat restu dan doa sepenuh hati dari orangtua dan orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita.

Singkatnya, ketika kita terlahir dalam lingkungan, keluarga, dan keyakinan yang tak memberi kita kesempatan untuk menikah dengan orang yang berseberangan dengan lingkungan, keluarga, dan keyakinan kita, Tuhan akan kasih jalan. Dia akan menyiapkan jodoh untuk kita yang membuat kita tak perlu mengalami peperangan batin karena tak mendapat restu. Tetapi kuncinya kembali ke diri masing-masing. Karena kita pun diberikan keleluasaan oleh Tuhan untuk memilih. Kita bisa memilih, untuk tetap memenangkan ego kita atau pasrah membiarkan Tuhan menjalankan rencana-Nya dan memberikan kita hadiah terindah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s