Selamat Memilih, Jakarta! :D

Ini tulisan ngga penting. Cuma pengen ikut-ikutan aja kasih komentar mengenai mereka yang kini sedang berlaga di Ibukota untuk menjadi pejabat nomor satu di sana. Aku sih bukan warga Jakarta: ngga tinggal di Jakarta dan ngga punya KTP Jakarta. Tapi Jakarta adalah Ibukota Indonesia, ia milik seluruh warga Indonesia. Banyak urusan yang ngga bisa lepas dari Jakarta. Jadi wajar kalau seluruh warga Indonesia menaruh perhatian penting untuk urusan pada siapa Jakarta akan dipimpin. Termasuk aku. Hehe.

Buatku, dalam menentukan siapa yang bisa kita harapkan untuk menjadi pemimpin kita, ya kita harus kenal baik orangnya seperti apa, dan apakah program-programnya masuk akal dan betul-betul siap untuk dijalankan kalau nanti sudah terpilih. Urusan pilkada atau pemilu macam begini, aku memang hampir selalu keinget sama Mas Chris Komari. Hehe😀 Karena Mas Chris lah yang mengajarkan aku bagaimana mengetes kesiapan seorang calon pemimpin daerah.

Aku diajarin Mas Chris 5 pertanyaan penting yang harus ditujukan ke calon pemimpin daerah agar kita bisa melihat kesiapan dan kemantapan sang calon dalam menjalankan roda pembangunan di daerah kita. Garis besar pertanyaannya tuh begini:

  1. Menurut Anda, permasalahan apa saja yang ada di kota/daerah ini?
  2. Program-program apa saja yang sudah Anda susun untuk menyelesaikan permasalahan tersebut?
  3. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mewujudkan program-program tersebut?
  4. Berapa dana yang Anda butuhkan dan dari mana dana tersebut Anda dapatkan untuk menjalankan program-program tersebut?
  5. Apa standar yang Anda gunakan sebagai indikasi keberhasilan bagi program-program tersebut?

Dari pertanyaan-pertanyaan ini aku mengambil kesimpulan bahwa dalam membuat sebuah program saja, butuh pengamatan/observasi dan penelitian/research yang lama, detail, dan betul-betul teliti supaya programnya betul-betul efektif. Artinya, kalau mau menjadi pemimpin di suatu daerah, sebaiknya sih orang tersebut tinggal di daerah tersebut dalam jangka waktu yang lama. Dia perlu merasakan langsung apa yang dirasakan sama warganya, dia juga harus dekat sama warganya supaya bisa mendengar langsung keluhan-keluhan dari warganya. Untuk kriteria pertama ini, Jokowi, Alex Nurdin, dan Hidayat Nur Wahid sudah gugur di mataku.

Jokowi memang terbukti sudah berhasil menjadikan Solo sebagai kota yang pertumbuhan dan perkembangannya paling signifikan di antara kota-kota lain di Jawa. Kepemimpinannya memang bagus. Tapi satu kelemahan Jokowi menurutku adalah dia belum lama tinggal di Jakarta. Dapat KTP Jakarta aja setelah pencalonannya sebagai gubernur. Lalu bagaimana dia bisa tahu bahwa program-program yang dulu dia berhasil jalankan di Solo juga bisa efektif dijalankan di Jakarta? Ya ini pendapat dangkal aku ya. Hehe.

Terlebih lagi, Jokowi sebenarnya masih ada tanggung jawab untuk fokus memimpin Solo sampai 2015. Kasarnya, dia udah meninggalkan tanggung jawabnya. Dan aku ngga begitu suka dengan orang yang bisa seenaknya meninggalkan tanggung jawab padahal ada begitu banyak harapan yang selama ini ditumpukan ke bahunya untuk diselesaikan. Katakanlah seluruh warga Solo sudah mengikhlaskan, tapi bagiku Jokowi tetap aja sudah meninggalkan tanggung jawab.

Belum lagi sosok partai di belakang Jokowi adalah Gerindra, partainya Prabowo. Buat sebagian masyarakat Jakarta yang dulu terzalimi oleh tangan Prabowo, ini menyakitkan. Apalagi Prabowo ngga pernah disidang untuk kejahatan-kejahatan yang dia lakukan dulu.

Oiya, sangat disayangkan bahwa dari antara sekian visi misinya, Jokowi tidak berani menjamin kebebasan beragama dan berekspresi. Ketika dia ikut berkomentar yang cenderung tak menerima Lady Gaga saja, itu sudah menunjukkan ketidak-berpihakannya atas kebebasan berekspresi yang merupakan hak setiap manusia. Sayang sekali sih memang.

Alex Nurdin sama dengan Jokowi, bukan warga Jakarta dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Gubernur Sumatera Selatan. Dan partainya bisa dibilang aku kurang respek, Golkar. Pemimpinnya Aburizal Bakrie pula. Belum lagi isu-isu korupsi Alex yang berhembus dan belum ada penyelesaiannya hingga kini. Dan, kampanye-kampanyenya itu loh yang ngga dewasa menurutku, sindir-sindiran sama Foke. Kayak anak kecil aja. Hehe.

Hidayat Nur Wahid mungkin memang sosok yang terkenal relijius dan jujur. Tapi penunjukkannya itu di detik-detik terakhir pendaftaran. Artinya dia ditunjuk oleh partai hanya supaya PKS bisa memenangkan pilkada. Berarti sebelum-sebelumnya dia ngga niat dong jadi Gubernur. Kalau dia niat harusnya dari awal dia sudah ditunjuk partai dan dari awal dia udah siap dengan program-program yang berasal dari pengamatannya yang teliti sekian lama.

Soal kebebasan beragama, ah jangan ditanya deh. Hidayat Nur Wahid lah orang yang paling meragukan untuk bisa mewujudkan hal yang satu ini. Soal ini, aku sudah tahu sendiri. Panjang ya ceritanya. Tapi bisa googling sendiri gimana rekam jejak PKS soal isu kebebasan beragama dan berekspresi.

Fauzi Bowo itu sebenarnya punya modal kampanye, yaitu 5 tahun kepemimpinannya. Tapi kayaknya kampanyenya negatif ya kalau mengandalkan masa-masa kepemimpinannya. Aku inget banget dulu dia janji akan menyelesaikan kemacetan dan banjir dengan slogan “Serahkan pada ahlinya.” Eh atau jangan-jangan maksud dia ya bukan dia ahlinya. Makanya warga Jakarta waktu itu salah tafsir dan akhirnya salah pilih ya? Hehe. Tapi menurutku sih, masa 5 tahun kepemimpinannya udah cukup kok dijadikan pertimbangan apakah dia layak jadi gubernur lagi apa ngga. Mungkin memang seharusnya dia legowo membiarkan orang lain untuk bener-bener ngebenerin Jakarta. Hehe.

Hendardji Supandji entah kenapa sedari awal memang tak mendapat perhatian dariku. Walaupun sama-sama calon dari jalur independen seperti Faisal Basri, tapi aku rasa secara karakter dan program, ngga ada yang beda dengan calon-calon lainnya dari jalur partai. Jadi ngga ada yang bisa dibahas juga sih karena sedari awal aku juga ngga begitu perhatiin dia. Heu.

Kayaknya udah jelas ya aku cenderung memilih siapa kalau aku jadi warga Jakarta.😀 Menurutku memang sejauh ini, Faisal Basri adalah orang yang layak aku tumpukan harapanku ke bahunya untuk menjadikan Jakarta lebih baik. Program-programnya jelas dan dia bisa dengan mantap menjelaskan setiap programnya dengan rinci. Kelihatan kok di acara debat cagub-cawagub di TVOne. Faisal juga dengan besar hati mau mengakui kinerja bagus apa saja yang sudah dilakukan Foke. Ngga terus-terusan mengkritiknya. Dan terlebih lagi, hanya Faisal Basri yang dengan lantang menjamin kebebasan berekspresi setiap warganya. Sip.😀

Dan melihat siapa saja yang berdiri di belakangnya, siapa saja yang juga menaruh harapan padanya, makin yakin sih kalau Faisal Basri bisa jadi pemimpin yang oke. Hehe.

Oiya, tulisan Pandji Pragiwaksono tentang Faisal Basri dan Biem Benyamin juga bisa kasih pandangan lebih luas tentang siapa itu Faisal Basri dan Biem Benyamin. Yah, selebihnya, semoga siapapun yang menjadi pemimpin Jakarta, dia akan selalu ingat akan janji-janjinya.

Selamat memilih, Jakarta!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s