Tak Sebebas Merpati

Beberapa hal hanya bisa dipahami lewat pengalaman. Misalnya momen-momen melahirkan, menjadi orangtua, dan berubahnya ritme kehidupan setelah menikah. Cerita orang kadang tak bisa dengan mudah kita terima kebenarannya. Begitu kita mengalaminya sendiri, barulah kita bisa memahami.

Ketika beberapa teman saya memutuskan untuk menikah, saya melihat ruang kebebasan mereka berkurang. Jarang mereka bisa keluar bersama sekedar untuk makan dan jalan-jalan bersama teman-teman. Walaupun saya tahu suami-suami mereka bukan pengekang kebebasan, tetap saja saya melihat mereka agak kesulitan untuk menentukan waktu agar bisa lagi melakukan apa-apa yang biasa mereka lakukan ketika mereka lajang. Mereka sering cerita panjang lebar mengapa kebebasan mereka berkurang, tapi saya masih selalu diliputi rasa heran. Saya masih tak percaya bahwa ketika saya menikah nanti, ruang kebebasan saya akan benar-benar menyempit dengan sendirinya.

Kemudian saya menikah. Karena saya masih harus menyelesaikan tesis (yang tak kunjung beres, hehe), setelah menikah saya dan suami pun harus berpisah. Saya di Bandung, suami di Kalimantan. Saya yakin, kehidupan saya tidak akan ada bedanya. Status saya memang sudah menikah, tetapi secara fisik saya tetap melajang seperti dulu. Saya yakin kebebasan saya tak akan tereliminir sepenuhnya. Sedikit mungkin, tapi tidak banyak.

Namun saya salah.

Saya lupa saya sudah memiliki kontrak seumur hidup dengan suami. Saya lupa bahwa saya sudah menyerahkan pertanggungjawaban atas diri saya kepada suami. Dan saya lupa bahwa merupakan kewajiban saya untuk ikut meringankan beban tanggung jawab suami atas diri saya.

Walaupun saya menjalani pernikahan jarak jauh, status saya tetaplah istri. Kemanapun saya pergi, harus atas sepengetahuan dan seijin suami. Suami saya memiliki tanggung jawab berat untuk membawa keluarganya ke surga, melalui jalan yang diridhoi Allah SWT. Oleh karena itu, apapun yang saya lakukan, suami saya berkewajiban untuk memastikan saya tetap berada di jalan yang tak akan melenceng dari jalan yang Dia sukai.

Sebaliknya, saya pun memiliki tanggung jawab yang juga tak ringan. Saya berkewajiban membantu suami saya untuk meringankan bebannya, meminimalisir kekhawatirannya. Selain itu bagi saya, sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam, suami adalah pemimpin saya dan keluarga. Saya berkewajiban menaatinya. Kalau menurut suami apa yang akan saya lakukan itu tidak baik atau tidak benar, maka saya berkewajiban untuk menuruti sarannya.

Buat saya, keputusan menjadikan laki-laki sebagai pemimpin atas perempuan hanyalah soal pembagian tugas semata. Bukan masalah pengistimewaan. Kesadaran inilah yang menjadikan saya tak keberatan sama sekali untuk taat sepenuhnya kepada pemimpin rumah tangga saya, suami saya. Seperti kata Daoed Joesoef, seorang pemimpin harus memiliki pandangan jauh ke depan. Dia harus tahu apa yang terbaik bagi yang dipimpinnya bahkan sebelum yang dipimpinnya tahu apa yang dibutuhkannya. Jadi, karena saya yakin suami saya bisa memimpin saya dan keluarga menuju surga, tak ada alasan saya untuk tidak taat kepadanya.

Menikah, memang telah merenggut kebebasan saya untuk memikirkan diri sendiri dan berbuat sesuka hati. Selain itu, saya juga harus rela dilimpahi berbagai tanggung jawab yang tidak ringan. Kebebasan saya berkurang, tanggung jawab saya bertambah, tapi saya bahagia. Kebahagiaan yang mungkin tak akan bisa dipahami, kecuali kalau dialami sendiri.

Tak percaya? Menikahlah.😀

One thought on “Tak Sebebas Merpati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s