Menulis dan Berbagi

Sebenarnya ada kerugian tersendiri dari tidak menulis. Ketika kita tidak menuliskan atau membagi ide atau kebijaksanaan yang kita dapatkan tentang sesuatu, bisa jadi orang lain yang akan melakukannya. Padahal kita sudah mendapatkan kesadaran atau kebijaksanaan tentang itu sejak lama, jauh sebelum mereka yang membahasnya.

Saya percaya Tuhan menciptakan ide dan kebijaksanaan dalam pikiran kita agar kita membaginya dengan orang lain. Kalau kita tidak melakukannya, maka orang lain yang akan melakukannya.

Itulah keuntungan menulis, untuk membagi ide dan kebijaksanaan dengan lebih banyak orang, bahkan dengan mereka yang tidak kita kenal. Kalau hanya disimpan untuk kita sendiri, lalu kita membaginya suatu hari nanti, dan hanya membaginya dengan orang-orang terdekat, efeknya terlalu sedikit. Selain itu, kalau ada orang yang sudah pernah menuliskan ide yang kita dapat, kita akan dianggap ‘mencontek’ kebijaksanaan orang lain. Orang lain akan menganggap bahwa semua ide dan kebijaksanaan itu bukan asli hasil pemikiran kita sendiri. Walaupun segala sesuatu itu datangnya memang dari Allah Ta’ala, tetapi dalam hal kebaikan, kita harus berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama.

Saya selalu ingat tujuan Mas Fahd Djibran menulis. Dia ingin anak cucunya bisa tahu apa saja ide-idenya semasa dia hidup. Ya itulah salah satu keuntungan menulis. Ia lebih abadi daripada kata-kata yang sekedar diucapkan.

Untuk mulai menulis sebenarnya mudah. Mas Andreas Harsono pernah bilang yang intinya, kalau kita terbiasa menulis diary, maka kita akan merasa lebih mudah untuk menulis. Karena kita sudah terbiasa.

Dan saya sudah merasakannya sendiri.

Sudah sebulan ini saya aktif menulis di diary saya sendiri. Apa aja saya tulis. Bahkan ketika saya marah atau kesal, saya tulis di diary. Yang kemudian di akhir tulisan tiba-tiba emosi saya luntur dan saya merasa kemarahan dan kekesalan saya ternyata sebenarnya tidak berguna.

Diary juga ternyata bisa menjadi penyaluran emosi yang lebih baik daripada ke orang lain. Apalagi di social media seperti Twitter atau Facebook.😀 Karena ketika kita sudah tidak marah lagi, kita bisa hapus tulisan kita yang penuh berisi amarah itu. Hehe. Sementara kalau ke orang lain, belum tentu dia bisa dengan mudah melupakan apa yang kita ucapkan dengan marah kepadanya. Apalagi di Twitter, kepada lebih banyak orang. (~_~メ)

Selain itu, dengan terbiasa menulis diary, kita bisa mendapatkan banyak inspirasi dari kejadian-kejadian kecil sehari-hari yang kita rekam di diary. Kita jadi bisa lebih produktif dalam menulis.

Jadi kesimpulannya, mari menulis. Berbagi kebijaksanaan dengan orang lain. Menyediakan warisan ide untuk anak cucu kita. ↖(^▽^)↗

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s