Kekuatan Syukur

Aisyah ra. berkata, ” Jika Rasulullah SAW melaksanakan sholat, beliau berdiri (sangat lama) sampai kedua kaki (telapak) beliau pecah-pecah.
Aisyah bertanya, ” Wahai Rasulullah, kenapa Engkau berbuat seperti ini, padahal dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni?” Lalu beliau menjawab, ” Wahai Aisyah, apakah Aku tidak ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur?” (Imam Muslim)

Ya. Rasulullah saw begitu giat beribadah bukan hanya untuk meminta pertolongan. Bahkan untuk rasa syukurnya pun, beliau ungkapkan dalam bentuk ibadah tanpa lelah.

Aku pernah mendengar sebuah kutipan yang cukup membuka mata, pikiran, dan hatiku. Seorang Sufi mengatakan, “Rasa syukur memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kesabaran.” Tak ada penjelasan lebih lanjut mengenai kutipan ini. Tapi kata-kata ini cukup membangunkan kesadaranku yang selama ini mungkin tertidur.

Aku pikir, benar juga. Kesabaran memang memiliki kekuatan, tapi rasa syukur mungkin memang benar memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Ketika kita bersabar belum tentu kita juga bersyukur. Tetapi kalau kita bersyukur, secara otomatis kita juga akan bersabar.

Misalnya ketika kita ditimpa kemalangan, kadang tanpa kita sadar kita sedih dan berkeluh kesah, meluapkan emosi kita. Teorinya seharusnya kita bersabar dengan musibah yang kita terima. Apalagi sebuah hadits mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa “Sabar itu di awal.” Kalau kita sudah meluapkan emosi kita, dan setelah itu kita sadar bahwa kita seharusnya bersabar, maka ia tak lagi tergolong kesabaran.

Tetapi kalau kita bersyukur, untuk hal-hal kecil dan detail sekalipun, kita akan otomatis bersabar dengan musibah yang menimpa kita. Bahkan bisa jadi kita akan merasa bahwa musibah yang kita alami tidak ada apa-apanya dengan begitu banyaknya limpahan kenikmatan yang dianugerahkan dalam hidup kita.

Rasa syukur juga bisa dijadikan pemicu dan pemacu dalam meningkatkan ibadah kita. Terutama ketika keimanan kita sedang turun, mood kita untuk beribadah sedang buruk sekali. Kalau kesabaran dirasa sulit dan bahkan tak cukup untuk menjadikan kita ‘bangun’ dari kemalasan kita, maka aku pikir rasa syukur bisa dijadikan kunci utama.

Jadi, dalam keadaan bagaimanapun, mengingat dan mensyukuri setiap nikmat yang Allah telah limpahkan kepada kita bisa menjadi kekuatan kita dalam menjalani kehidupan. Dan salah satu cara sederhana untuk mengungkapkan rasa syukur kita, adalah dengan ibadah.

Mungkin aku terlambat menyadari hal sepenting ini. Tapi bagi aku, ngga ada kata terlambat untuk kebaikan. ∩__∩

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s