Anak

Sampai sekarang, setelah menikah pun, masih tak terbayang aku akan menjadi orangtua macam apa untuk anakku kelak. Bagaimana aku mendidiknya, walau aku tahu anak dengan pendidikan, akhlak, dan pola pikir macam apa yang ingin aku ciptakan. Tapi dalam hal menjadi orangtua, tentu aku ingin menjadi orangtua yang terbaik.

Aku tak hanya ingin menjadi seorang ibu yang selalu mereka sayangi dan hormati, yang selalu ada untuk membantu mereka menyambut hari-hari, tetapi juga menjadi seseorang yang bisa mereka banggakan. Aku ingin menjadi seorang teman dimana mereka bisa bebas bertukar pikiran, bertanya, berbagi cerita, apapun itu, bahkan tentang perasaan mereka sendiri terhadap lawan jenis. Yah sekali lagi, itu masih sekedar keinginan, yang aku masih tak tahu bagaimana nanti aku akan mengejawantahkannya.

Kadang aku sadar ketakutan ini menjadi alasan aku masih sangat santai soal anak. Diluar kesepakatanku dengan suami untuk menunda hamil karena aku masih harus tinggal jauh darinya demi menyelesaikan sekolah, sebenarnya aku juga tak terlalu membiarkan diri terdesak soal yang satu ini. Bagaimana mendidik anak tentu bukan perkara sepele. Seorang anak membutuhkan orangtua yang betul-betul siap untuk mendidiknya. Dan sayangnya, tak ada sekolah khusus yang mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang hebat.

Anies Baswedan pernah berkata (yang akan selalu melekat di ingatanku): Orangtua adalah pendidik utama. Dan sayangnya mereka adalah pendidik yang paling tidak siap.

Anies menyampaikan fakta, dan fakta itu sayangnya memangkas percaya diri aku (Anies Baswedan selalu bilang “Jangan kirimkan pesan yang memangkas percaya diri bangsa!” Memang agak ngga nyambung dengan masalah anak tapi kalaupun dikaitkan, pernyataan itu masih bisa diterima akal. Hehe) Aku takut aku menjadi pendidik utama yang tidak siap untuk anak-anakku. Dan aku takut mereka tidak menjadi pribadi yang tadinya aku rancang dan harapkan.

Masalah lain yang menjadi efek domino dari ketakutanku akan ketidakmampuanku mendidik anak adalah jumlah anak dalam keluargaku kelak. Karena aku takut tak cukup kuat mendidik anak, aku juga jadi khawatir kalau dianugerahi anak lebih dari dua. Walaupun aku ingin tiga anak.😀 Aku tahu pasti ada pendapat yang bilang bahwa ketakutanku berlebihan. Tapi memangnya ngga ada manusia yang ngga punya ketakutan berlebihan, minimal pada satu hal?

Tapi kemudian, seorang ibu bijaksana menasehatiku.

Beliau bilang bahwa mendidik anak pastilah membutuhkan bantuan Allah Ta’ala. Kita hanya bisa berusaha menjadi orangtua, pendidik yang terbaik. Selebihnya, serahkan pada Allah Ta’ala. Kita juga tak bisa menghakimi bahwa kegagalan seorang anak adalah hasil dari kegagalan orangtua dalam mendidiknya. Karena Allah sudah mencontohkan melalui keluarga Nabi Nuh dimana bahkan seorang nabi tak bisa menjamin bahwa seluruh keluarganya, dalam hal ini anak dan istrinya, bisa ia tuntun ke jalan yang lurus. Setiap keluarga memiliki ujiannya masing-masing dan selalu ada kemungkinan bahwa ujian itu muncul dari anaknya sendiri.

Nasehat ini harus aku akui memang meningkatkan rasa percaya diriku, sedikit atau banyak aku belum bisa memastikan. Tapi yang aku rasakan, ketakutanku sudah mulai berkurang. Mungkin aku memang lupa – atau mungkin sebenarnya aku ingat, hanya saja tanpa sadar aku mengesampingkannya – tak ada satupun langkah kita yang bisa lepas dari restu Allah Ta’ala. Begitupula dalam hal mendidik anak. Allah Ta’ala lewat firman-firmanNya dalam Al-Quran sudah memberi pengarahan bagaimana mendidik anak-anak kita. Kita hanya perlu mengikutinya. Setelah itu, ikhlaskan kekuasaan Allah untuk membimbing anak-anak kita, keturunan kita.

Jadi, sebelum anugerah itu hadir di hidupku dan suamiku, yang bisa aku lakukan adalah mempersiapkan diri menjadi orangtua yang baik. Aku dan suami harus siap menjadi pendidik utama anak-anak kami. Dan daripada terus terperangkap ketakutan yang berlebihan, aku seharusnya hanya fokus untuk meningkatkan kualitas diriku untuk siap menjadi pendidik utama anak-anakku.

Meningkatkan kualitas diri. Sounds familiar, huh? Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s