Bukan (Beg)Itu

“Yakin dengan keputusanmu? Yakin kamu tak mau menikah denganku?” Randa bertanya untuk kesekian kalinya. Aku tahu dia memperhatikanku, menatapku lekat-lekat, berusaha meyakinkanku untuk mau menikah dengannya. Aku tak mau membalas pandangannya. Kutundukkan kepalaku sepanjang pertemuan kami. Selain dipenuhi rasa malu, buatku berpandangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim adalah tak pantas.

“Yakin. Maaf,” jawabku mantap.

Randa menghela nafas. Helaan kekecewaan, aku tahu. Tapi, aku tak mau membohongi diri sendiri. Tak ada keyakinan itu di hatiku. Tak ada keyakinan aku bisa berumah-tangga dengannya. Tak ada keyakinan bahwa dia akan menjadi ayah yang aku inginkan untuk anak-anakku kelak. Tak ada keyakinan, dengannya, aku bisa membangun keluarga dengan visi yang sejalan.

Sekalipun Randa menjelaskan panjang lebar bahwa ia akan mampu menghidupiku. Ia yakin bisa menyediakan materi yang lebih dari cukup untuk aku dan keluarga. Tapi, hatiku masih berkata tidak.

‘Bukan, Randa. Bukan materi yang meragukanku. Sedari awal aku tak pernah memikirkan itu. Tapi aku sendiri tak tahu.’ Penjelasanku berulang kali kepada Randa.

Sedari awal, jujur saja, aku memang tak suka dengan cara Randa berkenalan denganku. Aku tak pernah suka dengan konsep anak muda yang bernama pedekate. Penuh kata-kata manis dan perhatian-perhatian yang menurutku tak perlu. Karena sanjungan, kata-kata sayang dan perhatian-perhatian itu, justru hanya pantas dan perlu diumbar ketika kita sudah menjadi satu. Karena pardah bukan saja diterapkan dalam pandangan saja, tetapi juga kata-kata.

Walau begitu, tak kudengarkan kata hatiku. Kuterima saja perkenalan dengan Randa. Karena aku tak ingin menjadi orang yang tak adil, menilai dengan terburu-buru tanpa mengenal lebih dulu.

Namun, sekian lama waktu perkenalan kami, hatiku semakin berkata tidak. Dan aku semakin tersiksa setiap kali sms Randa datang. Apalagi ketika disisipkannya kata sayang. Begitu malu dan risih. Selain itu, dalam setiap obrolan kami, aku segera sadar ada jurang perbedaan yang sangat jauh dalam visi rumah tangga kami. Dia selalu membicarakan ambisi duniawinya. Sementara aku, tak pernah aku tertarik dengan dunia dan segala pesonanya.

Aku tak ingin menahannya lebih lama lagi. Aku tak ingin Randa terus berharap. Maka hari ini, aku putuskan untuk menolak pinangannya. Tak ada keyakinan yang tertanam dalam diriku. Tak ada alasan untuk menunggu keyakinan itu datang. Karena aku tak ingin berjudi dengan perasaan dan keyakinan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s