Sang Pemilik Rasa

“Aku akan menikah. Ibuku sudah memilihkan calon untukku.”

Aku terdiam. Tenggorokanku tercekat. Sakit sekali. Aku tahu aku akan menangis. Tidak, aku sudah menangis. Airmataku sudah turun tanpa perintahku.

Pengakuanmu ini, yang aku inginkan sekaligus yang paling menyakitkan.

Aku ingin melihatmu bahagia, pasti. Tapi aku tak menyangka, kenyataan bahwa ‘kita’ sudah berakhir masih membuat hatiku nelangsa.

“Selamat. Aku bahagia doaku untukmu terkabul.”

Tak ada lagi yang bisa aku ucapkan. Aku pamit pergi. Aku harus pergi. Tak bisa aku bertahan lebih lama lagi.

Aku menyendiri di kamar. Kututup mukaku dengan bantal, agar ketika aku berteriak nanti, tak ada seorangpun yang mendengar. Tapi ternyata suaraku tak bisa keluar. Sakitku terlalu dalam. Tak ada yang bisa memberikanku pertolongan, kecuali Tuhanku. Aku tahu hanya Dia yang bisa menyembuhkan sakitku.

‘Ya Allah.. Ini terlalu sakit. Aku mohon cabut rasa sakitku. Engkau-lah yang sanggup mencabut rasa sakit ini. Aku terlalu lemah Ya Rabb.. Ini terlalu sakit..’

Sepanjang tangisanku, hanya ini yang bisa aku ucapkan, dalam hati. Hanya ini. Tak bisa yang lain.

***

“Apa kabar?” tiba-tiba kamu menyapaku ketika kita sama-sama sedang berselancar di dunia maya. Tepat seminggu setelah pernikahanmu.

“Baik. Kamu apa kabar?”

“Alhamdulillah.”

“Bagaimana pernikahannya?”

“Alhamdulillah lancar. Nanti aku kirimkan foto-foto pernikahanku ya.”

“Oke.”

Aku? Aku bilang oke? Aku.. sudah baik-baik saja? Aku sudah siap melihatmu tersenyum di pernikahanmu.. dengan orang lain? Aku sudah.. sembuh?

Dan, sampailah foto-foto itu di kotak surat elektronikku. Dan, aku tersenyum bahagia melihatmu bersamanya. Dan, aku bahagia karena Allah ternyata sudah mencabut rasa sakitku. Dan, lagi-lagi, doaku dikabulkan-Nya.

Dia menepati janji-Nya. Dia-lah Maha Pengabul Doa. Hanya ketika kita yakin bahwa Dia akan mengabulkan doa kita. Hanya ketika kita yakin bahwa Dia lah yang Paling Mampu mengabulkan keinginan kita.

Begitupula dengan perasaan sakit dan cinta. Dia akan memberi, ketika kita meminta. Aku meminta-Nya mencabut sakitku, dan Dia mengabulkan. Aku tahu Dia juga akan memberiku rasa cinta kepada siapapun yang Dia ridhoi untuk menjadi suamiku kelak. Tak perlu aku takut. Aku hanya perlu meminta kepada-Nya.

Karena tak terbantahkan lagi, Dia, Allah Ta’ala, adalah Sang Pemilik Rasa.

2 thoughts on “Sang Pemilik Rasa

  1. Turut merasakan bagaimana pahitnya menerima kenyataan yang diluar perhitungan kita. Saya pun memgalaminya meski berbeda case. Yang dapat kita lakukan adalah SABAR, bukankah Allah Ta’ala beserta orang orang yang sabar. Semua itu kita ambil hikmahNya. Wassalam

    1. Betul, Om. Dan kalaupun dalam proses bersabar itu kita masih merasa sakit, Allah selalu berkuasa untuk mencabut rasa sakit kita, ketika kita meminta. Hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s