Keyakinan vs Cinta

Beberapa orang berpendapat bahwa untuk menikahi seseorang, mereka butuh cinta. Mereka butuh perasaan cinta ke orang yang ingin dinikahi. Makanya sebagian orang berdoa, “Ya Allah, nikahkanlah aku dengan orang yang aku cintai.”

Semakin banyak saya mendengar dan merenungi perjalanan hidup, baik saya maupun perjalanan hidup orang lain, saya meyakini bahwa sebenarnya yang kita butuhkan untuk memutuskan menikahi seseorang adalah KEYAKINAN.

Keyakinan apa? Keyakinan bahwa dengannya, kita bisa membangun rumah tangga seperti yang kita inginkan. Keyakinan bahwa dengannya, kita bisa mendidik dan membesarkan anak-anak seperti yang kita harapkan. Keyakinan bahwa dengannya, kita bisa menjadi rekan kerja sekaligus sahabat sejati yang akan saling menguatkan dan saling melengkapi dalam menjalani segala permasalahan yang akan mendera.

Ibarat tanaman, KEYAKINAN adalah akarnya, sementara CINTA adalah bunganya. Bagaimana bunga bisa hidup tanpa akar? Tapi akar bisa hidup tanpa bunga.

Yah, minimal itu pengalaman saya pribadi. Dengan suami, saya tidak cinta lebih dulu. Tapi yang hadir di hati saya adalah justru keyakinan. Dan betul, tak butuh waktu lama bagi saya untuk bisa mencintai suami saya dengan segala kelemahannya. Karena saya sudah memiliki akar untuk membangun rumah tangga dengan suami saya, yaitu keyakinan itu tadi. Sehingga saya tahu tak butuh lama untuk tumbuh bunga yang bernama cinta di antara kami.

Saya juga pernah terjebak perasaan cinta pada seseorang begitu lama. Tapi saya tahu tak ada keyakinan dalam diri saya sedikitpun untuk menikah dengannya. Karena memang prinsip kami berbeda. Apa yang saya dapatkan dari hubungan tanpa akar keyakinan semacam itu? Nihil. Hanya kesenangan dan kebahagiaan semu. Selebihnya, perasaan sakit, sedih, dan merana. Buang-buang waktu, tenaga, dan pikiran. Hehe.

Dalam Islam, untuk kasus perjodohan, diperkenalkan sistem ta’aruf. Dalam sistem ini, ketika kita mau mencari pasangan, waktu perkenalannya tak boleh lama-lama. Bahkan dalam beberapa kasus, ada yang bertemu dan berbincang sekali, langsung menikah. Bahkan ada yang baru bertemu di hari pernikahan. Dan apakah pernikahan mereka gagal karena mereka tak menjalani proses bikinan manusia bernama ‘pacaran’? Tidak. Mereka yang saya kenal menjalani proses ta’aruf ini, justru bisa bertahan lama.

Kok bisa? Apakah cinta bisa tumbuh secepat itu untuk bisa memutuskan kita ingin menikah dengan seseorang? Sekali lagi, bukan cinta yang dicari dalam proses ta’aruf, tapi keyakinan. Dan memang itu bisa muncul seketika.

Saya meyakini, entah salah atau benar, keyakinan adalah salah satu cara Allah Ta’ala berkomunikasi atau menuntun hidup kita. Karena memang entah bagaimana caranya, keyakinan bisa muncul begitu saja secara misterius. Bahkan dengan orang asing sekalipun, keyakinan bahwa ia adalah jodoh kita, bisa hadir begitu saja.

Dan hebatnya, keyakinan justru akan semakin kuat ketika dihampiri ujian. Sedangkan cinta? Belum tentu. Itulah mengapa keyakinan ibarat akar, karena tanaman yang kuat, pastilah ditopang akar yang kuat, bukan bunga yang indah.

Jadi, mulai sekarang, bukan cinta yang kita cari terlebih dahulu ketika mencari pasangan. Tapi keyakinan. Ketika keyakinan itu sudah didapat, maka insya Allah cinta bisa hadir dengan cepat. (*¯︶¯*)

5 thoughts on “Keyakinan vs Cinta

  1. Saat ini saya sedang mengalami “pertempuran” ini. Saya sudah lelah dengan pacaran dan berniat serius dengan salah seorang Lajnah, walau tidak ada cinta tapi hati ini selalu yakin dengan pilihan yang saya jatuhkan pada Lajnah tersebut dengan segala pertimbangannya.
    Mohon doanya yah Teh agar keyakinan ini semakin kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s