Kau Lelaki

“Dia menghubungiku lagi, Gi.” Tiba-tiba Herman masuk ke kamarku yang tak kukunci, mengusikku yang tengah asik membaca sambil merebahkan kepala.

“Kau ini. Masuk kamar orang langsung bikin bingung. Bukannya ucapin salam dulu,” protesku.

Herman tak menjawab apa-apa. Tampangnya lusuh, bingung.

“Siapa yang menghubungimu lagi?” tanyaku.

“Latisha.”

“Ha? Latisha? Ngapain dia menghubungimu lagi? Ada urusan penting?” tanyaku lagi.

Herman diam. Matanya menerawang, ke lantai, kemudian ke sekeliling kamarku, tak bertujuan.

Latisha adalah perempuan yang sempat membuat Herman ingin melabuhkan hatinya. Sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi sayangnya, Latisha tak pernah memberi Herman jawaban pasti. Hingga akhirnya Herman menyerah.

Melihat Herman yang masih melamun, aku menduga kebimbingan tengah berkerumun. Ah, jangan bilang Herman menggalaukan perempuan yang sudah dilamar orang! Ya, Latisha sudah dilamar pria lain.

“Man!” panggilku. Herman menoleh. Lalu kembali menatap lantai.

“Dia bilang dia menyesal menerima lamaran itu, Gi.” Herman berkata lirih.

“Astaghfirullah! Jadi lamarannya dibatalkan?”

Herman menggeleng. “Belum.”

“Lha, jadi dia masih berstatus sudah dilamar dong,” kataku.

Herman menghela nafas. Berat dan perlahan. “Iya.”

“Terus? Kenapa kamu kayak galau begini?” tanyaku.

Herman kian menundukkan kepalanya. Lesu. “Dia bilang dia menyesal dulu menggantung aku.”

“Terus?”

“Aku bingung. Sepertinya.. aku masih menyukainya, Gi..” Herman menjawab begitu perlahan.

Aku menggelengkan kepala. Pernyataan Herman ini tak bisa kuterima. Aku tahu bagaimana Herman, terutama pemahaman agamanya. Dan dengan pemahaman agama yang ‘dalam’ menurutku, dia masih bisa bimbang oleh perempuan yang sudah dilamar orang?

“Man. Jangan seperti orang yang tak paham agama!” kataku. Agak kesal.

Kudiamkan Herman. Kubiarkan dia berpikir, atau melanjutkan lamunannya. Aku tak tahu mana yang tengah berkecamuk di otaknya.

“Gi. Aku harus bagaimana?” desaknya lagi.

Kutatap Herman. “Man.. Man.. Perkara macam begini masih juga kau tanya aku. Apa perlu aku ngomel-ngomel macam mamak-mamak?”

Herman tertunduk lesu.

“Tak pantas kau bimbang seperti ini, galau karena perempuan yang sudah dilamar orang. Mengganggu perempuan yang sedang ta’aruf dengan orang lain saja tidak dibolehkan dalam Islam, apalagi yang sudah dilamar! Jangan bilang kau tak paham konsep ini!

Lagipula, kau masih punya perasaan pada perempuan seperti dia? Dengan menghubungimu lagi, bilang dia menyesal menggantungmu, pula menyesal soal lamarannya, di saat dia masih berstatus sudah dilamar orang. Itu saja sudah menandakan dia perempuan yang tak paham bagaimana bersikap yang pantas untuk menjaga kehormatannya sendiri!”

Herman tak menjawab apa-apa. Aku tahu, dia sadar bahwa dia salah. Tapi dia terlalu lemah, membiarkan dirinya kalah.

Beginilah kalau laki-laki dan perempuan tak menerapkan batas yang jelas dalam komunikasi mereka. Silaturahmi yang kebablasan.

“Dan, Man, kau harus ingat. Kau sedang ta’aruf dengan Khadijah. Dia sudah kau beri pengharapan, dan dia pun sudah yakin padamu. Kebimbanganmu ini sangat mengecewakan. Tidak hanya buat Khadijah, tapi juga aku sebagai orang yang sudah lama mengenalmu. Aku kecewa kau tak bisa tegas sebagai laki-laki.

Maaf saja Man, mungkin perkataanku ini kejam. Tapi tetap akan kukatakan walau kamu sahabatku. Kau harus berpikir ulang, apakah kau pantas bersanding dengan perempuan semulia Khadijah karena perkara yang sangat tak perlu ini,” kataku lagi.

Herman terdiam lagi. Tak menjawab apa-apa. Tak pula ia membantah.

“Aku sudah katakan yang perlu aku katakan. Selebihnya, silakan kau berpikir sendiri.” Aku kembali membaca buku.

Herman masih tertunduk. Cukup lama. Sampai ia cukup kuat untuk mengangkat dirinya sendiri dan berjalan keluar kamarku.

One thought on “Kau Lelaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s