Sekolah Bukan Perkara Pantas atau Tidak Pantas

Hari Minggu sore kemarin, aku ketemu Kang Daus, seorang teman yang biasa aku temui di acara bedah buku atau bedah film. Setelah sekian lama ngga ketemu, dia menanyakan kabar sekolah aku. Sebenarnya sudah jenuh aku menjawab sekian banyak pertanyaan yang sama. Tapi mau ngga mau aku harus hadapi semua itu. Walaupun sebenarnya jawabannya mudah: kalau aku masih di Bandung, artinya sekolah aku belum selesai. 

Aku pun berbincang sedikit dengan Kang Daus. Ceritanya curhat masalah sekolah. Sampai ketika aku mau berpamitan, Kang Daus bilang, “Segerakan sidangnya! Jadi Master di Jemaat itu hebat!” sambil mengacungkan jempol padaku.

Ngga tahu kenapa aku rasanya terharu sekali mendengar ini. heu.

Aku tahu aku banyak menghakimi diri sendiri akhir-akhir ini. Aku merasa tidak pantas menyandang gelar Master. Aku pemalas dan aku bodoh. Itu saja kata-kata yang memenuhi kepala. Tapi kemudian kata-kata Kang Daus sanggup memotivasi diri sendiri.

Sekolah, atau belajar, bukan perkara pantas atau tidak. Belajar adalah kewajiban bagi siapapun yang ingin maju, ingin terus memperbaiki kualitas dirinya. Tak peduli dia pintar atau bodoh dalam pandangan orang. Tak ada larangan belajar bagi mereka yang bodoh. Justru karena bodoh maka harus terus belajar, kasarnya begitu.

Sampai aku tiba di kosan, aku masih merenungkan kata-kata singkat yang motivatif dari Kang Daus. Selama ini aku berpikir, buat apa aku sekolah tinggi-tinggi kalau yang kudapat hanya lelah dan tekanan. Aku lupa bahwa sekolahku yang tinggi ini akan bermanfaat nantinya. Bukan hanya untukku, anak-anakku, tapi buat agamaku juga.

Aku lupa aku pernah bilang bahwa kita hidup di dunia ini untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Selain juga untuk memberi manfaat kepada sesama umat manusia. Maka seharusnya apapun yang kita dapatkan, rejeki, jodoh, termasuk pendidikan, mampu mendukung kita untuk meraih tujuan utama tersebut.

Dengan berpikir bahwa pendidikan yang tengah aku jalani ini untuk agamaku, untuk Jemaat, aku pun kembali termotivasi. Aku sadar kalaupun sekarang kemampuanku belum mumpuni, aku tidak perlu merasa malu atau rendah diri. Aku hanya perlu berdoa pada Allah Ta’ala sambil terus berusaha, belajar. Dia akan mengaruniakan ilmu-Nya padaku. Selama niatku baik, Dia pasti akan menolong.

Betapa ajaibnya dampak kata-kata positif dalam kehidupan kita. Aku yang tadinya ngga semangat sama sekali mengerjakan tesis, merasa buntu, mendadak mendapatkan sengatan listrik ‘semangat’ hanya dari kata-kata singkat Kang Daus. Begitu sederhananya sebuah kalimat positif, yang tanpa penghakiman, namun mampu memotivasi orang lain.

Saking semangatnya aku menyelesaikan revisi demi revisi, sampai-sampai aku merasa mengerjakan tesis ini dengan penuh passion. It feels like I’m in love with it. Hehe.

Aku tahu dan sangat sadar ilmuku sangat jauh dari sempurna dalam mengerjakan tesis ini. Tapi aku ngga akan menyerah. Insya Allah.

image

5 thoughts on “Sekolah Bukan Perkara Pantas atau Tidak Pantas

  1. I like this very much. Karena itu saya mau merencanakan sekolah s3 lagi. Ayo terus belajar🙂 Insya Allah. Biarkanlah Allah memberikan yang terbaik untuk kita setelahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s