Menerima Kebenaran

Aliya dan Talitha sedang asyik berdiskusi ketika tiba-tiba Ulfa datang sambil merengut.

“Kenapa mukamu merengut begitu?” tanya Aliya.

“Barusan aku dapat sms dari Afia. Dia marah-marah karena katanya laporan yang aku buat ngga bener. Padahal kamu kan tau sendiri Al, kalo laporan itu kubuat berdasarkan data yang ada. Kok dia marah-marah. Ah jadi malas datang ke mesjid. Males ketemu dia.” Kata Ulfa.

Aliya tersenyum. Sementara Talitha termenung keheranan.

“Kenapa jadi males ke mesjid, Kak? Kalau menurut Litha ya, seharusnya Kakak menunjukkan bahwa Kakak berhati besar. Seharusnya ada atau tidak ada Kak Afia, Kakak tetap ke mesjid seperti biasa. Kan mesjid ngga ada hubungannya sama pertengkaran kalian.” Kata Talitha dengan polosnya.

Ulfa langsung menatap Talitha. Diam dan agak lama.

“Siapa elo?” jawab Ulfa setengah bercanda. Tapi tetap tak bisa menyembunyikan ketersinggungannya. Ulfa merasa tersinggung karena Talitha yang lebih muda darinya, menasehatinya. Walaupun sebenarnya suara dan pemilihan kata yang Talitha gunakan sudah selembut mungkin.

Talitha tersenyum. Tiba-tiba handphone nya berbunyi. Sms dari ibunya datang, menyuruhnya pulang segera. “Litha pulang duluan ya Kak Aliya, Kak Ulfa. Sampai ketemu besok. Assalamualaikum.” Pamitnya sambil menyalami tangan Aliya dan Ulfa satu per satu.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab Aliya dan Ulfa bersamaan.

Ketika Talitha sudah hilang dari pandangan, Aliya mengajak Ulfa pulang. Lalu mereka bersama-sama melangkah keluar dari mesjid. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan Amira.

“Kalian dari mesjid?” tanya Amira.

“Iya. Kamu dari mana?” tanya Ulfa.

“Biasalah. Abis kongkow sama anak-anak cowok.” Jawab Amira.

“Ya ampun.. kamu abis ngumpul sama cowok-cowok pakai celana seketat itu?” tanya Ulfa dengan suara agak tinggi.

“Ah udah biasa kali.” Jawab Amira santai.

“Kamu ngga risih diliatin laki-laki dengan pakaian seperti itu?” tanya Ulfa lagi.

“Aduh, Ulfa. Udah deh. Ngga usah sok ceramah sama gua. Lagian, emang pakaian lo udah bener?” kata Amira menyindir.

“Maksud kamu?” tanya Ulfa masih dengan suara tinggi.

“Lah, kalian itu berkerudung, tapi kerudungnya juga ngga menutupi dada gitu.” Kata Amira dengan begitu santainya.

Ulfa diam. Tampak jelas ketersinggungannya kali ini. Sementara Aliya tak mengucapkan apa-apa.

“Gua duluan yak. Dah!” kata Amira berpamitan.

Begitu Amira berlalu, Ulfa tak bisa menahan diri untuk ngga ngomel. “Sok bener banget sih tuh anak! Kamu juga Al, kok diem aja sih?”

Aliya membetulkan kerudungnya sehingga menutupi dada. “Aku harus bilang apa? Yang Amira bilang emang bener kan? Kerudung kita memang masih salah.”

“Iya tapi emangnya kamu ngga tersinggung? Cara nasehatinnya nyebelin banget. Udah gitu, emang kelakuan dia udah bener? Pakaian ketat begitu, suka ngumpul sama cowok lagi. Hih!” Ulfa masih mengomel.

“Tapi omongan dia bener, kan? Aku ingat kata Masih Mau’ud as. Setiap kebenaran, dari siapapun datangnya, dan bagaimanapun caranya, harus kita terima. Walaupun yang menyampaikannya adalah orang yang lebih muda, bahkan yang urakan sekalipun, selama apa yang dia sampaikan adalah kebenaran, maka tak boleh kita tolak.

Begitupula penyampaiannya. Sekasar apapun kebenaran itu disampaikan ke kita, tetap harus diterima. Kan semua kebenaran ini demi perbaikan diri kita sendiri, bukan demi siapa-siapa.” Jawab Aliya.

Ulfa tertegun.

“Tetapi di sisi lain, Masih Mau’ud as. juga selalu mengajarkan kita untuk selalu menyampaikan kebenaran dengan cara yang terbaik, yang terlembut. Seperti Rasulullah saw. Tak mungkin beliau bisa menyebarkan Islam hanya dalam waktu 20 tahun kalau caranya dengan kekerasan. Tak mungkin ada orang yang mau menjadi pengikut setia beliau kalau beliau menerapkan cara yang kasar dalam berdakwah atau menyampaikan kebenaran.” Kata Aliya lagi.

Ulfa terdiam. Tak bisa ia membantah kata-kata Aliya.

“Ayo jalan lagi. Sudah mau gelap.” Ajak Aliya lagi sambil menggandeng tangan Ulfa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s