Etika Berdakwah

Dalam salah satu khutbah Jumat, ada satu topik yang sampai hari ini masih cukup kuat di ingatan saya. Etika Bahasa dalam Berdakwah.

Jadi, dalam Alquran dijelaskan, ada tujuh etika bahasa dalam berdakwah:

1. Perkataan yang ma’ruf.
Maksud ma’ruf di sini adalah mengenal, pembiasaan. Jadi sebaiknya sebelum kita berdakwah, kita berusaha mengenal orang-orang di sekitar kita, di lingkungan kita berada. Membangun kedekatan personal lebih dulu dengan mereka. Bagaimana kebiasaan mereka, kebudayaan mereka, dan lain sebagainya. Bukanlah hal yang baik kalau kepada orang asing yang baru saja kita temui di jalan, tiba-tiba kita bicara masalah khilafah, syariat Islam dan sebagainya, tanpa kita tahu bagaimana karakter, pemahaman, atau pola pikir orang tersebut.

2. Perkataan yang benar.
Ini tidak perlu penjelasan lebih panjang. Sudah menjadi kewajiban kita untuk berbicara dengan kebenaran, kejujuran.

3. Perkataan yang baligh, fasih, dewasa, menyentuh kepada hati.
Menggunakan pilihan kata yang menyentuh kepada hati seseorang juga menjadi keutamaan. Karena dalam banyak kisah-kisah Islam kita temukan, seseorang menerima kebenaran Islam justru bukan dari perdebatan dalil-dalil, tetapi justru ketika hatinya tersentuh dengan kata-kata dan akhlak mulia Rasulullah saw dan para pengikutnya.

4. Perkataan yang karim, mulia, hormat, sopan.
Lagi-lagi, kesantunan juga harus tetap diutamakan. Pemilihan kata yang santun, menunjukkan rasa hormat pada lawan bicara. Ini juga akan menghadirkan respek dari lawan bicara kepada kita. Ketika mereka merasa dihargai, maka insya Allah, kebenaran yang ingin kita sampaikan akan lebih bisa diterima.

5. Perkataan yang memudahkan. Mudah dimengerti, mudah dipahami.
Allah swt. menurunkan perintah-perintahNya dalam Alquran menggunakan bahasa Arab agar bisa mudah dimengerti manusia. Apa gunanya menggunakan bahasa yang tinggi tapi tak bisa dipahami? Pesan kebenaran yang ingin kita sampaikan bukannya diterima, malah justru akan ditinggalkan.

6. Perkataan yang lembut.
Kelembutan selalu menjadi senjata yang ampuh dalam memenangkan hati yang keras. Bukan hal yang mudah saya sadar. Tapi bukan berarti kita harus menyerah untuk terus mencoba memperlembut bahasa kita. Karena keras lawan keras, hanya akan melahirkan kehancuran.

7. Perkataan yang berbobot.
Terus belajar dan membekali diri dengan pengetahuan. Shalat tahajud menjadi sarana ampuh agar kita terus berada dalam lindungan Allah Ta’ala, dan selalu mendapat karunia agar kita bisa menyampaikan kebenaran dengan elegan dan tentu saja sarat dengan ilmu. Banyak penelitian yang sudah mengemukakan manfaat dari bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajud.

Ketujuh etika ini mungkin bisa dikatakan sedikit dari segi kuantitas, tapi berat dari segi kualitas. Menerapkannya butuh doa dan usaha yang terus menerus. Dan saya rasa sih, ngga cuma untuk berdakwah saja etika bahasa ini harus diterapkan. Dalam keseharian kita berbicara dengan siapapun, kapanpun, dan membicarakan apapun, ketujuh etika bahasa ini harus diterapkan. Karena menurut saya, bahasa menunjukkan karakter kita sebagai manusia, pun sebagai bangsa. Kalau cara berbahasa kita baik, insya Allah karakter kita pun menjadi baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s