Melamar Pria

“Perempuan kan hanya bisa menunggu.”

Sering sekali kalimat ini saya dengar kalau sedang membicarakan masalah lamaran. Kalau buat saya sih, kalimat ini terlalu diskriminatif. Kenapa perempuan hanya bisa menunggu lamaran? Kenapa perempuan tak bisa bertanya kapan dia dilamar? Atau bahkan kenapa perempuan tidak bisa menjadi pihak yang menentukan siapa yang ingin dia nikahi, sekaligus dia menjadi pihak yang melamar?

Pemikiran bahwa “perempuan hanya bisa menunggu” adalah pemikiran budaya, bukan pemikiran syariah. Jelas bahwa di dalam Islam, laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan hak, termasuk hak dalam menentukan siapa yang ingin dinikahi. Tentunya juga dalam menjadi pihak yang melamar.

Budaya lah yang telah membatasi hak-hak perempuan, sehingga fatwa “perempuan hanya bisa menunggu” ditelan saja mentah-mentah tanpa dikritisi keadilannya. Perempuan jelas sangat bisa menentukan nasibnya berkaitan dengan pernikahan. Bukanlah sebuah aib apalagi dosa bagi perempuan untuk bertanya “Kapan kita menikah?” atau bahkan melamar laki-laki yang disukainya. Karena ingatlah, Khadijah ra. pun melakukannya pada Rasulullah saw.

“Tapi kebanyakan laki-laki tidak suka pada perempuan yang agresif.”

Apa sih definisi agresif? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresif memiliki arti:

1. Bersifat atau bernafsu menyerang;
2. Cenderung (ingin) menyerang sesuatu yang dipandang sebagai hal atau situasi yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat;

Kalau perempuan menyatakan bahwa dia menyukai seorang laki-laki, bahkan melamar laki-laki tersebut, apakah itu bisa masuk kategori agresif? Kalau ada laki-laki yang beranggapan begitu, maka kerangka berpikirnya masih terjebak budaya yang diskriminatif. Bahkan Rasulullah saw. yang tak bisa membaca dan menulis saja, tak masalah dirinya dilamar Khadijah ra.

Mengungkapkan perasaan atau menyatakan lamaran, bagi perempuan bukanlah suatu aib atau hal yang tak pantas. Itu adalah hak. Sama seperti mengungkapkan pikiran kita. Itu hak dasar kita sebagai manusia. Bukan monopoli kaum pria saja. Jadi ngga perlu malu bahkan untuk melamar laki-laki. Karena sekali lagi, melamar, bukan monopoli kaum pria.

Akan tetapi, saya juga tidak setuju kalau perempuan tak menjaga rasa malunya ketika menyatakan perasaannya atau keinginannya untuk melamar seorang laki-laki. Perempuan, ketika ingin melamar seorang laki-laki, perlu memperhatikan bahwa dirinya harus menjaga harga dirinya, kehormatannya. Terlebih lagi perempuan, pun laki-laki, harus bisa menjaga pardah ketika melamar. Jangan mengabaikan rasa malu. Jangan melakukan tindakan yang tak pantas secara syariah. Seperti kata Huzur V dalam khutbahnya: mengekspresikan perasaan-perasaan tertentu di hadapan publik adalah kehancuran akhlak. Tak perlu mengumbar-umbar perasaan kita secara berlebihan di muka umum. Bukan tempatnya. Pernikahan adalah perkara syariah. Ia bernilai ibadah. Seharusnya diawali dengan kesucian yang terjaga.

Dalam hal ini, kita bisa mencontoh metode yang diambil Hadhrat Khadijah ra. yang menjadikan Maesaroh sebagai perantara untuk menyampaikan maksudnya pada Rasulullah saw. ketika itu. Khadijah ra. tidak menyatakan langsung maksudnya pada Rasulullah saw. berdua saja, bertatap muka. Tentu saja ini dalam rangka menjaga pardah itu sendiri. Dan ini sangat menjaga harga dirinya dan nilainya sebagai perempuan mulia lagi tinggi akhlak. Cara ini adalah contoh lamaran yang sangat elegan bagi perempuan pada laki-laki yang disukainya.

Kisah lain, suatu hari di jaman Rasulullah saw. ada sahabat yang hendak melamar seorang perempuan. Sahabat ini meminta kawannya untuk menemani. Sayangnya, lamaran sahabat ini ditolak perempuan tersebut. Namun sang perempuan malah berkata, “Kalau kawan Anda yang melamar saya, saya tidak akan menolak.” Ternyata, sang perempuan ini sudah menyimpan perasaan pada kawannya. Mendengar ini Rasulullah saw. tidak menyalahkan sikap sang perempuan. Artinya, sah-sah saja bagi perempuan untuk menyatakan perasaannya.

Jadi intinya, untuk kebahagiaan kita sendiri, dan juga dalam rangka menjemput jodoh yang sudah disediakan Allah Ta’ala, ngga ada salahnya kok kalau perempuan yang melamar laki-laki. Ngga perlu malu hanya karena kebudayaan kita menganggapnya bukan hal yang pantas. Melamar laki-laki bukan sebuah dosa atau aib kok. Atau bagi orangtua yang tengah mencari jodoh bagi putrinya, tidak masalah untuk melamar anak laki-laki untuk menjadi imam putrinya. Jangan mau terjebak pemikiran terbelakang “perempuan hanya bisa menunggu.”

Hanya saja harus diingat bagi perempuan, bahwa kita harus sebisa mungkin untuk menjaga kesucian, pardah, dan harga diri kita. Jangan mengabaikan semua itu ketika kita menyatakan perasaan dan melamar laki-laki yang kita inginkan menjadi imam kita. Karena kita menikah untuk meraih ridho Allah Ta’ala. Pernikahan adalah untuk melengkapi setengah ibadah kita di dunia. Kalau diawali dengan ketidaksucian, maka akan sia-sia belaka.

4 thoughts on “Melamar Pria

  1. Menurut saya, kita tidak bisa menjustifikasi perbuatan masa kini hanya karena Khadijah a.s. dan Rasulullah saw. berbuat demikian, melihat konteks tempat dan waktunya. Sehingga bagaimana cara kita menjaga kesucian dan harga diri, menurut saya, juga bergantung bagaimana sebuah lingkungan memiliki normanya sendiri-sendiri.

    1. Setiap tempat bisa jadi memiliki konsep yang berbeda mengenai bagaimana menjaga kesucian dan harga diri. Tapi bagi saya, cara-cara yang ditawarkan Islam itu cukup.

      Dan kalau masih bingung, tanyakan saja pada hati nurani kita. Karena di sanalah kebenaran bersuara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s