Tidak Ada Jaminan untuk Mendapat Jodoh yang Baik

Dulu, saya menganggap bahwa apabila saya terus memperbaiki diri, saya yakin Allah akan memasangkan saya, menjodohkan saya dengan seseorang yang baik pula. Hal ini saya dasarkan pada sebuah ayat yang sering (dengan salah) diartikan yaitu surat An-Nur 24: 26 (Alquran versi Depag). Dalam surat ini yang umum diketahui artinya adalah:

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Sementara kalau membandingkan dengan Alquran terjemahan versi  Jemaat Ahmadiyah Indonesia, saya menemukan arti yang sangat jauh berbeda, sangat jauh dari kaitannya dengan masalah jodoh. Dalam surat An-Nur 24: 27 tertulis:

“Hal-hal buruk untuk laki-laki buruk, dan laki-laki buruk untuk hal-hal yang buruk. Dan hal-hal baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki baik untuk hal-hal yang baik; mereka itu bersih dari segala yang dituduhkan. Bagi mereka adalah ampunan dan rezeki yang mulia.”

Tafsiran dari ayat ini adalah:
“Karena kata al-khabisat berarti perbuatan-perbuatan jahat atau perkataan-perkataan kotor, maka ayat ini hendak mengemukakan bahwa orang-orang jahat melakukan perbuatan-perbuatan jahat, atau biasa mengucapkan perkataan-perkataan kotor dan jijik, dan fitnah memfitnah, sedang yang keluar dari orang-orang baik dan muttaki tak lain kecuali amal perbuatan baik dan kata-kata yang suci dan mulia saja.”

Kalau diperhatikan, ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika Hadhrat Aisyah ra. mendapat fitnah keji ketika beliau ikut serta dengan Rasulullah saw. dalam gerakan militer terhadap Bani Mushthaliq pada tahun 5 Hijrah. Saat itu Rasulullah saw. dan rombongan harus menginap yang tidak jauh dari Medinah. Hadhrat Aisyah pun pergi agak jauh dari perkemahan untuk buang hajat. Begitu beliau kembali, beliau menyadari bahwa kalung yang beliau pinjam dari seorang teman hilang. Akhirnya beliau kembali lagi ke tempat beliau sebelumnya untuk mencari kalung tersebut. Ketika beliau kembali lagi ke perkemahan, ternyata beliau sudah ditinggal rombongan. Rombongan tidak menyadari dan mengira beliau sudah ada di dalam tandu karena saking ringannya berat tubuh beliau. Dalam keadaan tak berdaya, Hadhrat Aisyah ditemukan oleh Shafwan, seorang Muhajir yang saat itu datang dari arah belakang. Shafwan mempersilakan Hadhrat Aisyah ra. untuk naik untanya sementara Shafwan sendiri berjalan kaki di sampingnya. Namun tetap saja Hadhrat Aisyah ra. dan Shafwan tertinggal.

Sesampainya di Medinah, Melihat hal itu, kaum munafik pun menyebarkan fitnah keji kepada Hadhrat Aisyah ra. Fitnah ini pun menjadi sumber perpecahan di kalangan kaum Muslim sendiri saat itu. Ayat ini pun turun sebagai pembelaan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Aisyah ra. yang memang jelas-jelas bersih dari segala tuduhan keji itu.

Itulah maksud dari ayat dalam surat An-Nur ini. Bahwa perbuatan/amalan jahat, kotor, ucapan fitnah, keji biasa keluar dari orang-orang jahat. Sementara yang keluar dari orang-orang baik lagi muttaki adalah perbuatan baik dan kata-kata yang baik lagi suci.

Seperti bisa dilihat, tidak ada kaitan sama sekali ayat ini dengan perjodohan. Ternyata tidak ada jaminan dari Allah Ta’ala bahwa apabila kita baik, kita pun akan berjodoh dengan orang yang baik. Usaha untuk mendapatkan jodoh yang baik, tidak cukup hanya dengan memperbaiki diri sendiri saja. Tetapi juga kita sendiri lah yang harus baik-baik memilih jodoh disertai memohon petunjuk dari Allah Ta’ala.

Makanya kalau kita kembali pada sejarah, sudah ada beberapa contoh bahwa seorang baik lagi suci, bisa berjodoh dengan orang yang keji. Seperti yang terjadi pada Nabi Nuh as. yang memiliki istri yang mendustai Allah; juga seperti yang terjadi pada Fir’aun yang memiliki istri solehah, Siti Asiyah.

Tetap, perbaikan diri itu perlu, bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi juga menjadi bekal untuk mendidik keturunan kita nanti. Sementara dalam hal jodoh, pilihan kembali kepada diri kita masing-masing. Karena sekali lagi, tak ada jaminan dari Allah Ta’ala bahwa apabila kita baik, kita pun akan berjodoh dengan orang yang baik. Kita harus sangat berhati-hati dalam memilih.

Rasulullah saw. sendiri sudah menganjurkan mengenai empat perkara dalam mempertimbangkan sebuah pernikahan; yaitu agama, kecantikan, keluarga, dan kekayaan. Dan Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk memilih agamanya.

Juga dalam hadis lain dikatakan: “Rasulullah saw. bersabda: Hendaknya engkau selalu mengutamakan akhlak dan agama (wanita yang akan engkau kawini itu). Kalau tidak, tanganmu akan dikotori oleh lumpur.” (Bukhari, Muslim, dan Misykaat hal. 267)

Kedua hadis ini menunjukkan bahwa kita diberikan kebebasan dalam menentukan dan memilih pasangan. Walaupun ada anjurannya, tetapi sekali lagi, pilihan ada di tangan kita sendiri.

Jadi, jangan pernah lepas dari doa dalam menentukan pilihan seorang jodoh. Lepaskan diri dari nafsu duniawi agar kita memperoleh surga (ketenangan) tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Aamiin yarabbal aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s