Surga di Usia Senja

Besok, aku akan menikah. Lagi.

Rasanya aneh. Tak pernah aku berpikir bahwa aku akan mengalami dua kali pernikahan. Tapi inilah jalan Tuhan. Ia begitu misterius. Siapa yang menyangka aku akan dipertemukan kembali, bahkan menikah, dengan dia yang dulu begitu aku cintai, setelah 25 tahun. Sampai detik inipun, aku masih tak percaya dengan jalan hidupku sendiri, bahwa setelah 25 tahun, Allah menjodohkanku dengan cinta pertamaku, Mas Teguh.

“Bu?” Galuh tiba-tiba mengetuk pintu kamarku.

“Ya, Nduk?”

“Lagi apa?” tanyanya dari balik pintu.

“Siap-siap tidur. Sini.”

Galuh menghampiriku di kasur. Dengan manja ia merebahkan kepalanya di pangkuanku.

“Malam ini Galuh tidur di sini ya. Besok kan sudah tidak bisa.” Pintanya.

“Iya,” jawabku sambil mengusap kepalanya.

“Akhirnya Ibu akan punya suami lagi. Hihi.” Kata Galuh menggodaku.

“Bukankah ini yang kalian mau?” tanyaku sambil tersenyum.

Galuh bangkit, lalu menatapku agak lama.

“Ya. Kami ingin Ibu bahagia,” kata Galuh, tersenyum, kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Galuh senang Ibu akan punya teman lagi. Galuh senang Ibu menerima saran Galuh dan Mas Bagus.”

Aku tersenyum. “Kan Galuh yang mengingatkan Ibu dengan perkataan Masih Mau’ud as., ‘ Ambillah tiap-tiap jalan kebaikan, karena tidak diketahui dari jalan manakah kamu akan diterima.'”

“Ya.” Galuh menimpali. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menatapku. “Dan menikah juga adalah salah satu jalan kebaikan, ladang pahala, pula menjadi surga kita di dunia. Kalau kita masih mampu, dan Allah sudah membukakan jalan untuk itu, mengapa tidak kita ambil?” Lanjut Galuh sambil tersenyum.

Aku tersenyum. Lalu mencium kening putriku yang juga akan segera menikah ini. “Subhanallah sekali putri Ibu ini..”

Kami tertawa kecil.

“Bu?” tiba-tiba mimik Galuh berubah menjadi lebih serius.

“Hmm?”

“Apa.. Ibu menyesal.. karena butuh waktu 25 tahun.. untuk bisa menikah dengan cinta pertama Ibu?” tanya Galuh tiba-tiba.

Aku tersenyum. “Apa yang harus Ibu sesalkan? Walaupun dulu Ibu dijodohkan, kami bisa saling mencintai satu sama lain sepenuh hati. Ditambah lagi, dari Bapak, Ibu punya anak-anak yang sangat membanggakan seperti kalian,” jawabku.

Galuh tersenyum. Lalu memelukku dengan erat.

“Tak pernah terpikir untuk menyesal. Justru Ibu bersyukur pernah menikah dengan laki-laki sehebat almarhum Bapak.” Kataku lagi menegaskan.

Dan Galuh mendekapku semakin erat.

***

“Yah, sudah siap?” tanya Genta dari balik pintu.

“Sudah.” Jawabku.

Hari ini aku akan menikah. Lagi.

“Kita tunggu Aris dulu ya Yah.” Kata Genta lagi.

“Ya,” kataku.

Sambil menunggu supir yang belum tiba, aku memperhatikan persiapan yang sudah Genta lakukan. Pernikahan ini sebenarnya keinginannya. Beberapa kali dia berusaha menjodohkanku. Tapi aku terus menolak. Belum ada keinginanku untuk menikah lagi saat itu. Tapi entah kenapa, ketika Genta menyodorkan nama Widya, aku tak bisa menolak. Tepatnya, aku mendadak tak mau menolak.

Widya yang dulu aku harapkan untuk jadi istriku, kini dipertemukan lagi denganku. Dan seketika aku yakin untuk kembali menikah. Dan keyakinan itu muncul saat itu juga.

“Yah, Genta boleh tanya sesuatu?”

“Ya. Tanyalah,” jawabku.

“Apa.. selama menikah dengan almarhumah Bunda.. Ayah.. masih menyimpan cinta untuk Ibu?” tanya Genta agak perlahan, yang kini tanpa ragu memanggil Widya dengan panggilan Ibu.

Aku tersenyum. Kutatap dia dalam-dalam. Kudekap kedua bahunya.

“Genta, kau harus ingat perkataan Ayah ini. Menyimpan cinta untuk orang lain saat kita sudah menikah, adalah satu bentuk pengkhianatan. Coba bayangkan, bagaimana rasanya ketika kita mencintai pasangan kita, tetapi dia malah menyimpan cinta untuk orang lain? Pasti rasanya sakit bukan main. Karena itu, tak pernah sedikitpun Ayah menyimpan cinta untuk orang lain saat menikah dengan almarhumah Bunda. Walaupun kami dijodohkan, pada akhirnya kami bisa saling mencintai dengan tulus.”

“Cinta adalah pemberian Allah. Karena itu mintalah pada-Nya. Saat ini pun, Ayah meyakini, cinta Ayah pada Ibu, adalah juga karunia-Nya. Ia bukan cinta yang sengaja Ayah simpan sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan saat Bunda masih hidup.”

Genta tersenyum lebar. Tanpa ragu ia memelukku begitu erat.

“Genta akan selalu ingat nasehat Ayah.” Katanya begitu mantap.

2 thoughts on “Surga di Usia Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s