Review Filsafat Ajaran Islam: Keadaan Thabi’i (Alami) dan Keadaan Akhlaki

Beberapa hari ini mencoba lagi membaca dan memahami karya fenomenal Masih Mau’ud as. yang berjudul Filsafat Ajaran Islam. Saya ingat dulu waktu pertama kali membaca buku ini, bingung luar biasa dan mendadak dilanda rasa ngantuk. Saat itu saya berpikir bahwa buku ini sangat sulit untuk bisa saya pahami. Jadi saya berhenti membacanya.

Tapi tiba-tiba beberapa hari yang lalu saya tergerak untuk membacanya. Dan ternyata saya kemudian menyadari bahwa, memang bahasa yang digunakan beliau as. sangat tinggi, tapi sebenarnya bisa dipahami. Dan saya merasa takjub sendiri karena saya bisa menikmati dan alhamdulillah bisa memahami. Hehe.

Saya masih membaca buku ini. Tapi saya juga tertarik untuk bahas sedikit demi sedikit materi yang saya baca dan pemahaman yang saya dapatkan di blog ini. Sekalian untuk merapikan dan mengabadikan ingatan.😀

Saya berikan sedikit pengantar mengenai buku ini. Buku ini sebenarnya adalah pidato fenomenal Hadhrat Masih Mau’ud as. ketika dibacakan dalam Konferensi Agama-Agama yang diadakan oleh seorang Hindu bernama Swami Sadhu Shugan Chandra di Lahore, India, pada tahun 1896. Tujuan diadakannya konferensi ini adalah untuk menampilkan kelebihan-kelebihan serta keindahan-keindahan agama yang benar. Setiap agama mengirimkan perwakilannya satu orang. Dan Hadhrat Masih Mau’ud as. tampil sebagai perwakilan dari agama Islam.

Ada lima persoalan yang menjadi topik utama dalam konferensi ini.
1. Keadaan jasmani (thabi’i/alami), akhlaki, dan rohani manusia.
2. Keadaan manusia sesudah mati.
3. Tujuan sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
4. Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di Hari Kemudian.
5. Apa saja sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.

Untuk tulisan ini, saya hanya akan menyoroti apa itu keadaan jasmani (thabi’i/alami) manusia dan apa itu keadaan akhlak menurut buku ini yang berasal dari ajaran Islam di dalam kitab suci Al-Quran.

Masih Mau’ud as. menyatakan di halaman 22, bahwa ternyata “seseorang yang mengingkari adanya Wujud Allah Ta’ala sekalipun dapat memperlihatkan akhlak yang baik. Kerendahan hati, atau kehalusan budi, atau suka damai, meninggalkan kejahatan dan tidak mempedulikan orang-orang bejad, semua itu adalah keadaan-keadaan thabi’i (alami). Dan semua itu dapat juga dimiliki oleh seorang yang rendah, yang tidak mengenal Sumber Najat (keselamatan) yang sebenarnya.”
Ini menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akhir-akhir ini sering sekali berputar di otak. Mengapa mereka yang imannya tidak kuat, bahkan tidak beriman kepada Tuhan, bisa memiliki sifat-sifat yang baik? Lantas apa fungsi agama sebenarnya?

Nah penjelasan Masih Mau’ud as. ini cukup menjawab kegelisahan (hehe :D). Bahwa ternyata potensi untuk memiliki sifat-sifat baik dan luhur ternyata Allah sudah tanamkan kepada setiap makhluk. Artinya, ketika kita sudah merasa memiliki sifat-sifat baik, kita tidak bisa merasa cukup atau bahkan bangga. Jangan sampai kita merasa bahwa kita sudah menampilkan keluhuran budi sebagai manusia beragama, karena ternyata keluhuran budi yang kita miliki dan tampilkan, bisa juga dimiliki oleh manusia lain yang tidak beragama. Bahkan bisa dimiliki oleh hewan dan tumbuhan sekalipun.

Tertohok kan? Banget!😀 Apalagi ketika membaca pernyataan beliau as. selanjutnya yang memberi contoh bahwa kerendahan hati atau keluhuran budi yang kita miliki adalah keadaan thabi’i (alami) yang bahkan bisa ditampilkan lebih baik oleh hewan. Ini rasanya kayak ditampar.😀

Beliau as. selanjutnya menyatakan bahwa “Banyak juga binatang berkaki empat yang rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka cenderung menampakkan sikap damai. Jika mereka tidur, dipukuli dengan tongkat mereka tidak melawan.”
Memang benar kan? Contohnya kucing yang sedang tidur, kalau kita pukul untuk mengusirnya, apa dia melawan? Tidak. Pasti dia langsung pergi. Belum pernah saya lihat kucing yang dipukul melawan. Begitu juga dengan kuda yang tenaganya dipakai untuk menarik delman. Apa dia dendam sama majikannya karena sering mencambuknya? Inilah mengapa beliau as. menyatakan bahwa kerendah-hatian manusia tidak bisa begitu saja disebut akhlak karena binatang pun bisa memiliki sifat yang sama. Bahkan dalam penjelasan beliau as. lagi, binatang berkaki empat ini bisa lebih baik menampilkan kerendah-hatiannya. Hehe.

Lantas, apa yang disebut keadaan akhlaki itu?

Masih Mau’ud as. menyatakan bahwa keadaan akhlaki adalah ketika kita sebagai manusia bisa memilah kapan dan dimana setiap keadaan thabi’i (alami) tersebut perlu ditampilkan.

Penjelasan lebih dalam diberikan Masih Mau’ud as. ketika menggunakan contoh sifat amanah (dapat dipercaya) dan diyaanah (jujur). Kedua sifat itu maksudnya adalah ‘tidak suka merugikan orang lain dengan jalan merampas harta benda orang lain secara licik dan dengan niat jahat’ (halaman 37). Masih Mau’ud as. memberikan contoh bayi. Bayi, disebabkan usianya yang masih sangat dini, juga polos, sehingga ia belum tercemar dengan kebiasaan-kebiasaan buruk, memiliki sifat ‘tidak menyukai (apalagi menginginkan) barang milik orang lain’. Ia menolak untuk menyusu pada puting yang bukan puting ibunya, miliknya. Apakah kemudian ini bisa disebut akhlak? Tentu saja tidak.
Begitulah manusia, ia memiliki potensi untuk muncul dari dalam dirinya, yakni ketidak-sukaan atas benda milik orang lain. Keadaan ini masih keadaan thabi’i (alami). Untuk kemudian berubah menjadi akhlak jujur dan amanah, manusia perlu membuktikan bahwa ia bisa menampilkan sifat ini pada tempat dan waktu yang tepat. Masih Mau’ud as. pun memberi contoh ketika seorang manusia dewasa secara kebetulan diberi tanggung jawab sebagai wali dari anak-anak yatim piatu yang memiliki harta warisan, sementara anak-anak yatim ini belum cukup dewasa dan mampu secara akal untuk mengelola harta warisannya, maka disinilah manusia diuji sifat amanahnya. Walaupun manusia diberikan potensi keadaan thabi’i (alami) untuk tidak menyukai barang milik orang lain, namun menyerahkan harta warisan kepada anak-anak yatim yang masih belum cukup akal untuk mengelolanya, bukan sebuah keputusan tepat, tidak bisa dikatakan akhlak. Akan lebih tepat kalau sebagai wali, sebelum ia menyerahkan harta warisan itu pada mereka, ia memberi pelajaran bagaimana mengelola uang/harta kepada anak-anak yatim tersebut. Sehingga ketika mereka mencapai usia cukup dewasa, mereka sudah mampu secara akal untuk mengelola hartanya sendiri. Inilah yang dinamakan akhlak.

Ada lagi contoh bagus mengenai memelihara kesucian. Tapi akan saya bahas di tulisan tersendiri.😀

Contoh lainnya adalah pemberian maaf. Masih Mau’ud as. menjelaskan bahwa memaafkan adalah salah satu potensi thabi’i. Anak kecil pun selalu menampilkan potensi ini ketika bermain dengan teman-temannya. Apabila dua orang anak kecil bertengkar, tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa rukun dan bermain bersama lagi, seperti tak terjadi masalah sebelumnya. Inilah yang menjadi bukti bahwa sifat memaafkan adalah keadaan thabi’i yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri manusia.

Sifat memaafkan akan menjadi sebuah akhlak ketika ia diberikan pada waktu, tempat, keadaan yang tepat. Masih Mau’ud as. (hlm. 42) menjelaskan lebih detail makna yang terkandung dalam surat Ali Imran 3: 135, “orang-orang baik ialah yang menahan amarah pada saat kemarahan itu harus ditahan, dan memaafkan dosa pada saat harus dimaafkan.”
Juga dalam surat Asy-Syura: 41, Masih Mau’ud as. menjelaskan lebih dalam, “Balasan bagi kejahatan adalah setimpal dengan kejahatan yang dilakukan. Akan tetapi seseorang yang memaafkan suatu dosa – dan pemberian maaf itu dilakukan pada kesempatan yang dapat mendatangkan perbaikan dan tidak menimbulkan keburukan, yakni tepat pada kondisi ‘afw (pemberian maaf) serta bukan tidak pada tempatnya – maka ia akan memperoleh pahala.”
Disini intinya Masih Mau’ud as. menjelaskan bahwa memberikan maaf yang tidak melihat situasi dan kondisi, bukanlah sebuah akhlak. Pemberian maaf harus melihat dan mempertimbangkan apakah dengan memberi maaf kepada seorang pelaku kejahatan, akan membuatnya jera dan bertaubat atau malah membuatnya semakin menjadi-jadi dalam melakukan kejahatan.
Kalau sekiranya pemberian maaf malah mendatangkan keburukan, bahkan bisa jadi jauh lebih besar mudharatnya bagi manusia lainnya, tentu saja akan lebih baik kalau maaf tidak diberikan. Yang layak diberikan adalah hukuman.
Masih Mau’ud as. pun menegaskan, masih di halaman 42, bahwa, “Ringkasnya, Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah membiasakan diri memberi maaf secara membuta, melainkan pertimbangkanlah dengan seksama. Dimana terletak kebaikan yang sejati: apakah dalam sikap memaafkan atau dalam sikap memberi hukuman. Jadi, ambillah tindakan yang tepat menurut keadaan dan tempatnya.””

Ternyata, kita sebagai manusia diberikan ladang perbaikan diri yang begitu luas oleh Allah Ta’ala. Bahkan untuk memunculkan berbagai potensi baik yaitu sifat-sifat luhur seperti kejujuran, kerendahan hati, dan masih banyak lagi, kita pun masih harus berusaha untuk memunculkannya lagi. Masih panjang perjalanan untuk naik ke tahap berikutnya yaitu keadaan akhlaki dan keadaan rohani.

Jadi, jangan pernah merasa cukup apalagi bangga ketika kita sudah merasa mampu memunculkan sifat-sifat luhur tersebut dalam diri kita. Karena kalaupun memang sifat-sifat itu bisa muncul sepenuhnya dalam diri kita, di mata Allah Ta’ala kita masih berada di level terendah. Karena semua sifat-sifat itu adalah keadaan thabi’i (alami) manusia yang bahkan hewan pun bisa memilikinya, bahkan lebih baik dalam menampilkannya.

2 thoughts on “Review Filsafat Ajaran Islam: Keadaan Thabi’i (Alami) dan Keadaan Akhlaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s